Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Menjadi Ibu Muda


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Ketika seseorang telah menikah dan melepas masa lajangnya, kehidupan sehari-hari yang biasanya dilalui sendiri akan selalu dijalani bersama pasangan. Rasa cinta kepada pasangan kita akan membuat kehidupan setiap hari tidak akan pernah lengkap jika tidak ada satu di antaranya.


Akan tetapi, biasanya pekerjaan atau hal lain dapat memisahkan pasangan untuk sementara waktu. Apa lagi suami adalah tulang punggung keluarga. Ada kalanya pekerjaan harus menuntut suami kita untuk pergi keluar kota atau bahkan bekerja di kota, di pulau berlainan, bahkan negara lain sehingga tidak bisa pulang selama beberapa waktu lamanya. Pada saat itu, biasanya rasa rindu akan menyelimuti sang istri.


Begitu pun yang aku rasakan, walau kemarin sudah di pertemukan oleh suamiku, namun tetap saja itu tidak akan cukup, mengingat ia hanya beberapa jam saja menemaniku. Kini rinduku semakin menjadi, namun aku sadar jika saat ini bukan waktu yang tepat untukku bersikap egois, Ibu mertuaku baru saja menerima panggilanNya. Dan aku bisa merasakan rasa kehilangan yang amat dalam yang tengah suamiku rasakan, sebagaimana kebanyakan seorang anak yang kehilangan seorang Ibu yang telah melahirkan kita ke dunia ini.


Begitu terdengar ada seseorang yang datang, rasa bahagia langsung menyelimutiku. Aku pun segera keluar kamar untuk menyambut tamu yang aku yakini adalah suamiku. Namun aku terkejut dan mematung di depan pintu begitu melihat siapa yang datang, seorang pria berperawakan sedikit arab, dan asing bagiku.


Aku lupa jika sekarang masih lima harian setelah aku melahirkan, tentu saja yang datang bukanlah Bang Aziz. Sebab dia mengatakan akan pulang setelah tujuh harinya Almarhumah Umma mertua, bodohnya aku yang terlalu berharap kepulangannya, mungkin ini efek rindu yang sudah menumpuk, kemarin belum sempat melepas rindu, Bang Aziz sudah langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan kabar dari Cak Arga. Tentu saja ia panik, siapa yang tidak panik jika mendapatkan kabar tentang salah satu dari orangtua kita pergi untuk selamanya.


" Oh ini Mbak, kenalkan pacarku namanya Kolil." Ujar Anna mengenalkan pria yang duduk di sofa ruang tamu. Aku langsung mengatupkan kedua telapak tanganku di depan d**a, sedikit mengangguk.


" Oh, ya salam kenal. Ya sudah Mbak tinggal dulu. Titip Zia di kamar ya." Kulihat Anna mengacungkan Ibu jarinya padaku sebelum aku melangkah ke belakang untuk membuatkan minuman untuk mereka. Ku tinggalkan saja mereka berdua, mereka tidak akan mungkin macem-macem 'kan di depan sana?


" Ada apa Niyah? Kamu buat minuman buat siapa? Ada tamu?" Tanya Ibuku yang sudah berdiri di sampingku.


" Oh, ada temannya Anna Bu datang." Jawabku tanpa menatap ke arah Ibu.


" Tamu siapa? Laki-laki apa perempuan?" Tanya Ibuku lagi, yang mulai kepo. Aku hanya bisa mendesah pelan.

__ADS_1


" Laki-laki Bu."


" Laki-laki? Siapa? Pasti pacar Adikmu ya? Ah, anak itu!" Omel Ibuku yang kembali berjalan untuk melanjutkan memasaknya.


Aku tak lagi menanggapi beliau, dan berjalan kembali ke depan dan meletakkan dua gelas teh untuk Anna dan pacarnya. " Ayo silahkan di minum." Ujarku berbasa-basi.


" Makasih Mbak." Sahut Anna dan pacarnya bersamaan. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, lalu kembali masuk ke dalam kamar.


" Owh,, sayang cantiknya Ami. Jadi gemes sekali. " Ku ciumi seluruh wajah mungilnya. Zia juga baru saja mandi, di mandiin sama Neneknya.


Beberapa saat kemudian acara selamatan pun di mulai, acara ini sekalian untuk pemberian nama untuk putri kecilku. Anna mengeluarkan semua kursi ke depan teras di bantu oleh pacarnya dan juga Bapak. Tadi Bapak juga sedikit terkejut melihat ada laki-laki asing di dalam rumahnya, setelah di jelaskan oleh Anna, bahwa ia yang mengundangnya ke rumah, akhirnya Bapak pun tak banyak bertanya lebih jauh lagi.


Akhirnya acara berjalan dengan lancar, semua para tetangga yang di undang juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini tinggallah kami sekeluarga di ruang tamu. Di dapur juga sudah selesai, semua peralatan sudah di bereskan sebelum acara tadi di mulai.


Aku duduk di dipan bersama Ibu, sedangkan yang lainnya duduk di kursi. Ibu yang menggendong Zia di atas pangkuannya, kulihat Ibu begitu bahagia, mengingat putriku adalah cucu pertama di keluarga ini.


" Setelah tujuh harinya Umma Bu." Jawabku sambil menatap ke depan, dimana suasana menjadi tegang dan kaku, di antara Bapak, Anna, dan pacarnya Anna. Seolah sedang mengerjakan soal ujian sekolah.


" Jadi Nak Kolil ini teman kerjanya Anton?" Tanya Bapak menatap ke arah pria yang sedang menundukkan kepalanya sedari tadi, entah karena takut atau sopan. Aku justru melihatnya seperti orang yang tengah di wawancari oleh calon mertua.


" Be-benar Pak." Jawabnya kaku begitu, ingin tertawa takut dosa. Ya Allah..


Bapak mangut-mangut setelah mendengar jawaban dari Kolil. " Asli orang mana?" Tanya Bapak lagi.

__ADS_1


" Saya asli orang PK Pak. Hanya saja saya sudah lama merantau di kota besar." Sahut Kolil sembari melirik sedikit ke arah Bapak.


Bapak kembali mangut-mangut, entah apa yang tengah beliau pikirkan saat ini, kami tidak tahu. Namun sepertinya ada hal yang menganggunya.


Bapak menyuruh Anna mengajak Kolil untuk makan di belakang. Sementara aku sudah makan tadi, lalu sekarang aku masuk ke dalam kamar untuk mulai bertapa. Ternyata obrolan itu masih terus berlanjut.


" Anna bersihkan kamar tidurmu, biar Nak Kolil yang menempatinya. Kamu bisa tidur di kamar Mbakmu Niyah atau tidur sama Ibu." Ku dengar Bapak memberi titah pada Anna dari dalam kamarku, sebab saat ini aku masih terjaga setelah menyusui Zia yang kembali terlelap.


Ternyata menjadi seorang Ibu muda tidaklah mudah, tidur malam tidak lagi nyenyak, sebab Zia sering terjaga di tengah malam, hingga kadang dua kali, yang merasa haus-lah, atau ganti popoknya yang sudah penuh. Walau tubuhku tidak menjadi gemuk, namun anehnya nafs* makanku jadi bertambah, kata Ibu itu wajar bagi seorang Ibu yang menyusui.


Lalu aku harus bertapa sampai selesai masa nifas, tidur setengah duduk tiap malam, bisa kalian bayangkan. Tapi kata Ibu ini di lakukan jika wanita yang melahirkan untuk pertama kalinya, saat kita melahirkan kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak perlu melakukannya. Sebab semua tulang kita kembali muda lagi layaknya bayi yang baru di lahirkan, jadi masih bisa di perbaiki ulang, jika ada yang salah. Entahlah aku hanya menuruti Ibu saja. Kaki juga harus lurus tidak boleh di tekuk saat kita tidur, agar peredaran darahnya lancar.


Terus kita tidak boleh tidur di waktu pagi hari agar darah putih tidak naik hingga ke mata, kata Ibu bisa mengurangi kadar penglihatan mata kita. Terus setiap pagi saat kita mandi, juga harus melakukan mandi wuwung, agar ASI kita bisa lancar setelah melahirkan. Mandi Wuwung itu adalah dengan cara membasahi rambut hingga ke wajah kita, dan keadaan kedua mata kita harus melihat ke atas, hingga mata kita terasa perih dan berwarna sedikit merah barulah kita menyudahinya. Dan itu dilakukan setiap hari pagi dan sore.


Makan juga tidak boleh dalam keadaan panas, semua harus dalam keadaan dingin, agar bayi kita tidak sering gumoh, gitu kata Ibuku. Dan banyak lagi yang harus di lakukan oleh Ibu yang baru melahirkan, dan aku pun harus menjalaninya, jika tidak ingin mendengar Ibu mengomel sepanjang waktu. Namun aku tahu Ibu bersikap demikian karena beliau sayang terhadapku, terhadap anak-anaknya, walau dengan cara yang berbeda dari Ibu yang lain.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2