Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Pulang Kampung Kembali


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


Anniyah_PoV


*


Suara ayam jantan berkokok begitu nyaring terdengar di belakang rumah, bertanda hari sudah pagi. Walau keadaan di luar masih sangat gelap, namun aku harus bangun sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Aku segera beranjang bangun dari atas dipan tempat tidurku, berjalan menuju kamar mandi.


" Ibu sudah bangun?" Tanyaku menatap wanita yang telah melahirkanku tujuh belas yang lalu sudah berkutat di dapur. Ya bulan kemarin umurku bertambah satu tahun yang artinya aku semakin tua, hehe, tidak apa-apa begitulah hidup semakin bertambah umur semakin banyak pula pengalaman hidupku di dunia ini.


Bulan kemarin pula aku di pulangkan oleh suamiku tercinta, namun bukan karena sebab pernikahan kami dalam ambang kehancuran dan berakhir perpisahan melainkan, karena dalam waktu beberapa minggu lagi aku akan segera melahirkan, maka dari itu aku memilih untuk pulang ke rumah daripada di kota tidak ada siapapun yang akan membantu pasca aku melahirkan, itu pun karena permintaan dari Ibuku juga, maklum aku belum berpengalaman.


" Iya Nduk, Ibu mau masak dulu. Perutmu gimana? Masih mules ndak?" Tanyanya dengan raut khawatir. Ya aku baru inget kalau tadi malam perutku sedikit mules, tidurku pun jadi tidak tenang, berganti posisi miring ke kanan dan ke kiri rasanya sungguh tidak nyaman sekali, jadi aku memilih tidur dalam posisi berjongkok, tepatnya seperti orang sedang bersujud, walau terlihat tidak nyaman, namun bagiku cukup nyaman jika dalam posisi tersebut.


Aku tersenyum menghampiri Ibuku yang sedang memotong jantung pisang, yang sepertinya akan menjadi menu majan hari ini. " Sudah mendingan kok Bu, hanya saja susah tidur." Jelasku dengan nada manja. Hmm,, kapan aku terakhir bermanja pada Ibuku? Sepertinya tidak pernah.


Tepatnya tidak ada waktu, Ibuku dulu setiap hari sibuk bekerja jadi buruh pabrik berangkat sesudah Subuh pulang sebelum Dzuhur. Dan aku sendiri, pulang sekolah ke kebun nyari sayur atau apapun yang bisa di jual bersama temanku Tini. Miris sekali hidup kami sewaktu aku masih kecil.


" Memang begitu kalau usia kehamilan sudah semakin tua, tidur sudah tidak nyenyak, bolak-balik ke kamar mandi, cepat sekali lelah. Tapi jangan terlalu di manja buat malas-malasan, nanti anakmu juga jadi anak yang pemalas. Apalagi kata bidan anakmu perempuan 'kan? Ajari dia mulai sejak dalam kandungan." Cecar Ibuku seperti biasa menunjukkan sifat aslinya. Ya sebenarnya Ibuku ini sangat cerewet sekali, ya tapi bagaimana lagi Beliau tetaplah Ibu kandungku.


" Nggeh Bu, ya sudah Niyah mau ke kamar mandi dulu." Aku langsung melangkah ke kamar mandi menunaikan hajatku. Tak lama aku keluar dan langsung berwudhu di pancuran dekat kamar mandi.


Setelah selesai sholat aku kembali ke dapur ingin membantu Ibuku. Aroma rasa masakan yang khas langsung menusuk indra penciumanku, harum sekali. Rasanya aku sudah sangat lapar ingin makan.


" Hmm, enak sekali Bu baunya, nasi sisa tadi malam masih ada nggak? Niyah sepertinya sudah lapar, sudah lama juga tidak makan jantung pisang, pasti enak sekali rasanya." Ujarku sembari mengambil sebuah piring kosong di rak dekat meja besar.


" Masih ada sisa sedikit. Eh, tapi kamu ndak boleh makan sayur ini lho, kalau perempuan yang sedang hamil ndak boleh makan sayur jantung pisang, pamali." Seru Ibuku dengan sedikit keras, yang membuatku terkejut.

__ADS_1


" Memang kenapa Bu, nggak boleh makan? 'Kan itu enak, nanti kalau cucu Ibu ileran gimana?" Tanyaku yang sengaja menggoda. Aneh sekali sayur enak kok nggak boleh di makan. Kemarin-kemarin ngelarang aku makan buah nanas, lalu besoknya siput, ada saja tidak boleh inilah, itulah, banyak sekali larangan untuk Ibu hamil.


" Sudah pokoknya ndak boleh makan, ya ndak boleh Niyah, dengar Ibu ndak? Mau nanti anakmu di dalam perut itu ukurannya berubah-rubah, sudah besar, lalu mengecil lagi? Sudah pk


okoknya dengerin saja apa kata orangtua." Cecar Ibuku lagi. Yang membuatku terdiam, ya sudahlah daripada pagi-pagi buta ribut cuma gara-gara makanan. Aku pun melangkah akan pergi ke belakang, kebetulan tadi aku lihat pakaian kotor juga sangat banyak, padahal kami hanya bertiga saja di rumah ini.


Ya pada akhirnya Adikku Anna sudah bekerja di kota bersama temannya masih satu kampung ini, tepatnya ia bekerja jadi karyawan buruh di pabrik rambut. Dan kabar baiknya Mas Anton juga sudah bekerja namun di kota lain di ajak oleh temannya dari kampung ini juga.


" Lho kamu mau ngapain Niyah di kamar mandi? Mau mandi? Katanya tadi mau makan?" Tanya Ibuku bingung menatapku menyelidik.


Dan aku langsung menggeleng lemah, ya tadinya aku lapar ingin makan, namun karena kena ultimatum nggak boleh makan jantung pisang, rasa laparku langsung hilang begitu saja. Kesal? Tentu saja, aku sudah membayangkan rasa sayur jantung pisang itu pasti sangat enak di lidah, namun Ibu mematahkan semangatku tanpa rasa bersalah sedikit pun.


" Nggak jadi lapar. Aku mau nyuci baju saja, baju kotornya sudah banyak di kamar mandi." Tanpa menunggu jawaban dari Ibu, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan mulai mengisi air ke dalam ember-ember kosong.


" Nanti sisa air bilasan jangan kamu siramkan di kakimu lho Niyah, ingat ndak boleh lho ya.!" Teriak Ibuku mengingatkanku kembali. Ini sudah yang kesekian kalinya, hampir setiap hari aku dengar Ibu mengatakan hal ini setiap mau cuci baju. Katanya nanti biar tidak kembar banyu (air) waktu lahiran, walau aku tidak mengerti, tatap saja aku menuruti kata Ibu.


Setelah selesai mencuci, aku berjalan kaki di depan gang rumah, tanpa menggunakan alas kaki, kata Ibu supaya membantu proses melahirkan, supaya lancar dan gangsar. Begitupun kata Bu Bidan yang sering ku kunjungi setiap memeriksakan kandunganku setiap bulan.


" Eh Mbak Niyah jalan-jalan ya, itu perutnya kok besar sekali, apa isi dalamnya?" Aku menoleh dan mendapati Yudha anak tetanggaku yang usianya lima tahun tengah berdiri di depan rumahnya. Yudha ini anaknya Pak Sarojan dan Bu Warsinah depan rumah.


" Eh, Yudha, sini ikut Mbak jalan-jalan. Kamu tahu nggak kalau dalam sini ada dedeknya lho." Sahutku sembari mengusap perutku yang sudah membesar.


" Benaran Mbak? Kok bisa dedeknya masuk ke dalam perut, lewat mana?" Tanyanya yang begitu polosnya. Aku menghela napas panjang sejenak, bagaimana aku akan menjelaskannya kalau begini.


" Iya, karena Allah yang memasukkannya ke dalam perut Mbak, jadinya Dedeknya ada di dalam sini." Jawabku dengan bingung. Kulihat ia mencuri-curi pandang ke arah perutku terus sedari tadi, lalu kemudian bergantian menatapku." Nanti kalau dedeknya sudah lahir, Yudha mau 'kan main sama dedeknya?" Tanyaku yang mencoba mengalihkan pembicaraan kami, aku juga sih kenapa tadi bilang begitu sih pada anak kecil. Kami terus berjalan bolak-balik di gang ini sembari terus mengobrol.


" Yeey,, Yudha mau, Yudha mau. Mbak nanti Dedeknya perempuan apa laki-laki?" Tanyanya lagi dengan begitu antusiasnya, membuatku tersenyum dan juga lega, sebab ia tidak lagi bertanya mengenai yang tadi.

__ADS_1


" Perempuan dong, yang pasti cantik seperti Mbak. Hehe,, Yudha nggak kepengen punya Adik perempuan?" Tanyaku yang memang mengetahui bahwa Yudha anak bungsu, dan dia mempunyai tiga saudara semuanya laki-laki, jadi belum mempunyai Adik perempuan. Siapa tahu Ibu Warsinah ingin memiliki anak perempuan 'kan.


" Pengen dong Mbak, tapi gimana caranya?" Tanyanya dengan begitu polosnya, membuatku gemas saja.


" Itu gampang banget, Yudha tinggal bilang pada Ibu Yudha, kalau kepengen Adik perempuan gitu." Ujarku mulai memprovokatornya, jahil sekali aku ini ya.


" Oh begitu ya Mbak. Ya sudah kalau begitu—


Belum sempat Yudha menyelesaikan ucapannya, terdengar suara teriakan dari arah samping kiri kami berdua, yang membuatku langsung terkesiap.


" YUDHA?!!" Panggilnya, namun pandangannya menatapku tajam, seolah ingin menerkamku hidup-hidup.


Matilah aku..


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2