Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Kehancuran Nikmah


__ADS_3

Author_PoV


*


" Waalaikum salam, Eh—Abang sudah datang?" Sapa Anni yang baru saja membuka pintu depan dan terlihat suaminya sudah berdiri di hadapannya. Namun ada yang berbeda kali ini.


Jika biasanya Aziz datang dengan senyum tampannya, sekarang justru datang tanpa senyum dan terlihat sedang bersedih. Belum sempat bertanya kembali, suaminya sudah melenggang masuk lebih dulu sembari menenteng tas berisi pakaiannya di tangan sebelah kanan, sementara tangan kirinya meneteng kantong kresek yang isinya adalah makanan pesanan dari istrinya semalam.


Tak menunggu lagi, Anni segera menyusul ke dalam setelah menutup pintu kembali, ia semakin penasaran saat melihat tas yang di bawa oleh suaminya. Sebab sejauh ini Aziz tidak pernah membawa banyak barang jika baru datang dari rumahnya.


" Ini pesanan Adek, di habisin ya?" Ujar Aziz sembari mengulurkan kantong kresek tersebut pada istrinya. Ia hampir saja melupakan pesanan Anni saat dalam perjalanan ke kost tadi, namun saat aka. sampai ke gang depan, ia putar balik dan mencari penjual dua makanan tersebut. Makanan itu langsung di terima Anni dengan wajah antara senang dan juga bingung. Ingin bertanya, tetapi ia takut juga tidak siap mendengarnya.


Entah mengapa di pikiran Anni saat ini, adalah pasti masalah yang membuat suaminya seperi itu tidak jauh dari masalah rumah tangga antara suami dan Kakak madunya. Tidak mungkin 'kan , kalau tidak ada masalah, tiba-tiba begini.


" Terima kasih Bang—kirain Abang lupa. Hmmm—Bang apa ada masalah?" Tanyanya dengan hati-hati sambil meletakkan bungkusan bubur dan nasi kuning di atas karpet.


Aziz mendesah panjang, entah sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan pada Anni, ataukah nanti saja. Akan tetapi rasa ini tidak mungkin ia terus pendam sendirian.


" Abang tadi menalak Nikmah sayang." Jawab Aziz yang pada akhirnya harus jujur. Seketika Anni tercengang tidak menyangka akan mendengar jawaban yang membuatnya terkejut.


"Ta-tapi kenapa Bang? Apa ada masalah besar? Hingga sampai Abang memutuskan untuk menceraikannya?" Tanya Anni lagi, seolah ingin suaminya itu menceritakan masalah yang menimpa mereka.

__ADS_1


Akhirnya Aziz menceritakan semua hal tentang apa yang di lakukan istri pertamanya dengan sepupunya sendiri, bahkan ia menceritakan kejadian puasa Ramadhan waktu itu, tidak ada yang ia tutup-tutupi lagi,, semua di beberkan pada istri kecilnya.


" Astagfirullah, bagaimana bisa terjadi Bang? Lalu sekarang bagaimana dengan Neng Nikmah? Pasti sulit untuk menjalani ini semua sendirian Bang, apalagi_"


Belum selesai Anni berkata mengeluarkan semua uneg-unegnya, suaminya sudah mencela ucapannya. Membuatnya terdiam, mendengarkan apa yang suaminya akan katakan.


" Iya Abang tahu, Abang tetap akan bertanggung jawab pada anak-anak Abang hingga mereka semua menikah. Maafkan Abang, pikiran Abang sudah sangat kalut, hingga tidak bisa berpikir jernih lagi saat menalaknya. Tapi mungkin itu semua sudah di atur oleh yang di atas, maja jalan satu-satumya haris menerimanya dengan ikhlas." Potong Aziz menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin Anni mengecapnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab.


*


Setelah cukup lama mereka memilih untuk berdiam diri dalam pikiran masing-masing, kini Anni baru saja selesai mandi setelah tadi juga sudah membersihkan rumah, halaman dan mencuci pakaian, ia tidak lagi bertanya dan memberikan waktu sendiri untuk suaminya . Saat ini ia berjalan ke arah kasur, suaminya sedanh berbaring di atasnya.


Anni sangat mengerti, ini adalah keputusan yang sangat berat bagi mereka yang sudah mempunyai anak. Tetapi ia juga tidak bisa memberikan solusi apa-apa, walau itu sebuah saran. Sebab ia sadar diri, dia hanya istri yang masih kecil dan belum mempunyai pikiran matang, ia sendiri masih labil, tidak etis rasanya jika ia memberikan saran atau hal semacamnya pada suami atau mantan Kakak madunya yang sudah dewasa dan tentu mempunyai pikiran yang lebih matang darinya. Jika jalan ini yang di tempuh oleh suaminya, itu berarti sudah menjadi keputusannya yang terbaik, ia yakin pasti sebelumnya suaminya itu sudah memikirkan dengan sangat matang, yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah terus bisa memberikan dukungnya dan semangat padanya.


Ia sangat tahu pasti suaminya saat ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Suaminya bahkan tidak pergi ke bengkel, ia mengatakan pada kedua karyawannya bengkel tutup satu hari lagi.


" Hmmm, pukul berapa sekarang sayang?" Tanya Aziz dengan suara seraknya, kedua matanya terbuka secara perlahan. Sebenarnya sedari tadi Aziz tidak benar-benar tidur, ia hanya memejamkan mata, berusaha menjernihkan pikirannya saat ini. Ia bahkan tak mampu berpikir, otaknya sedikit buntu, bagaimana kedepannya nanti?


Bagaimana jika Abah dan Ummanya bertanya perihal perceraiannya dengan Nikmah. Ia tidak mungkin berkata jujur dan membuka aib mantan istrinya, walau bukan lagi menjadi suaminya, namun ia tidak berpikir untuk membeberkan masalah rumah tangganya kepada kedua orantuanya, ya sedari dulu Aziz tidak pernah menceritakan masalah yang menimpa keluarganya. Hanya saat tengah berbahagia saja ia akan membagi rasa bahagianya itu pada mereka. Mereka takut akan menjadi beban jika sampai menceritakan permasalahan dalam rumah tangganya, biar saja seperti ini, saat sudah waktunya tiba barulah ia akan berkata terus terang, lambat laun pasti semua akan baik-baik saja.


" Sudah pukul sepuluh Bang, ayo kita sarapan dulu." Ajak Anni yang berjalan ke dapur untuk mengambil nasi kuning yang sudah di belikan Aziz tadi sebelum datang. Aziz pun beranjak bangun dan mengikuti langkah sang istri.

__ADS_1


*****


Di tempat lain tepatnya di kediaman Nikmah, wanita itu mengurung diri di dalam kamar, sehabis mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, beruntung sekolahnya menjadi satu dalam satu area, jadi tidak perlu berpindah tempat. Sekolah Paud Zikri pun ada di dalam gedung area sekolah Kakak-kakaknya.


" Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Lirihnya dengan berlinang air mata, ia memeluk kedua lututnya dusuk di atas sofa. Rasanya air matanya tak kunjung mereda, bahkan saat berada di mobil tadi, ia sengaja memakai kaca mata hitam, biarlah dia di anggap aneh oleh anak-anaknya atau bahkan orang lain, sebab saat ini tengah musim hujan, pasti gayanya tidak cocok. Baginya tidak masalah daripada harus memperlihatkan wajah jeleknya pada keempat anaknya, yang pasti akan mengajukan berbagai macam pertanyaan.


Mungkin nanti ia akan menjawab semua pertanyaan dari mereka, walau bagaimana pun ia tetap harus menjawab, ia tidak mungkin terus-menerus menutupinya. Ya ia harus belajar menjadi wanita yang kuat. Dimana-mana pasti pelakor yang menang, ia akan membuktikan jika dia bisa lebuh baik dari Anni sang pelakor kecil itu.


Nikmah tidak sadar jika sebenarnya dirinyalah yang menciptakan masalah yang memimpa rumah tangganya sendiri. Ya, bukankah perkataan adalah doa, itulah yang dulu selalu ia katakan pada sang mantan suami, yang selalu saja menuduh tanpa bukti.


" Aaaarrghhh...Kenapa rumah tanggaku jadi hancur seperti ini?!!!"


.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2