
~Season_02
Beberapa bulan kemudian...
Aziz_PoV
*
Sudah beberapa bulan ini aku ikut serta tinggal di kampung halaman istriku Anni. Rumah kontarakan juga sudah aku selesaikan kepada Cak Di beberapa bulan yang lalu. Ya walaupun aku masih tetap bekerja pulang pergi ke kota karena sebuah pekerjaan.
Setiap beberapa hari aku tinggal di rumah menemani istriku, dan beberapa hari lainnya aku berada di kota. Dan alhamdulillah putriku yang kedua sudah lahir ke dunia dan kini sudah berumur lima bulan. Aku sangat kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa di menemaninya waktu melahirkan putriku. Walau pada waktu itu aku juga sangat terkejut mendapati beberapa pesan dari Anni sebelum dan sesudah lahiran, jika ia mengajak serta anak-anak pulang ke kampung halaman dengan alasan ia merasa tidak mampu harus mengurus dua bayi sekaligus.
Dan yang membuatku semakin terkejut saat membaca pesannya yang isinya adalah sebuah tuduhan yang tidak berarti untukku. Bagaimana bisa ia menuduhku mempunyai wanita lain, di saat aku hanya memikirkan dirinya seorang, Astagfirullahaladzim..
Ya aku akui aku memang merasa sangat kasihan melihat istriku kesusahan seperti itu, sungguh aku melupakan ponselku yang kehabisan baterai, dan aku juga lupa mengabarinya jika aku harus pergi ke luar kota pada saat itu, sehingga besoknya aku baru bisa pulang.
Dan setibanya di rumah, aku benar-benar tidak mendapati istriku. Dan akhirnyan aku langsung meluncur ke kota kelahiran istriku, setelah Neng Kar juga memberitahuku jika Anni pulang kemarin. Ya seperti inilah aku pun menuruti keinginannya untuk tinggal di kampung halamannya. Karena memang saat ini kondisiku harus mulai dari nol kembali.
Saat baru tiba, istriku tidak mau menemuiku, bahkan aku tidak di perbolehkan melihat putri keduaku yang baru lahir. Hanya karena berita hoax yang tak jelas itu. Entah dari mana dia mendengar berita palsu itu. Hingga karena aku terus berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepadanya, akhirnya Anni kembali menerimaku kembali.
Dan kami tidak tinggal di rumah Bapak dan Ibu, melainkan tinggal di rumah Nenek, karena beliau yang meminta kami untuk tinggal disana dan sekalian menemaninya yang hanya tinggal sendirian di rumah yang ukurannya lumayan besar bagi seseorang yang hanya tinggal seorang diri saja.
" Bi tolong ajak Zia keluar dulu, ini aku mau menidurkan Zaheer tapi Kakaknya ganggu terus ini lho." Pinta Anni istriku yang sedang berada di dalam kamar, sementara aku tengah duduk di ruang tengah sembari menonton televisi bersama dengan Nenek.
" Sudah sana bantu dulu istrimu, Nenek juga mau tidur. Besok harus bangun pagi dan berjualan." Pamit Nenek yang juga akan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Dan aku pun juga beranjak masuk ke dalam kamar kami. Nenek memang setiap harinya berjualan makanan kecil, seperti jajanan, snack atau yang lainnya di sekolahan anak TK. Walau Bapak mertua sudah sering memperingatinya, tetap saja keinginannya itu tidak bisa di ganggu gugat.
Alasannya katanya beliau sangat menyukai anak kecil, bahkan sepulang dari sekolah Nenek pasti ikut membantu Anni untuk mengasuh Zia yang semakin aktif saja, sebenarnya aku maupun Anni sudah melarang beliau tapi tetap saja, susah tidak mau di bilangin, akhirnya kami semua pun pasrah dan mengikuti keinginnanya itu. Terlepas dari itu Nenek juga hanya mempunyai seorang putra yaitu Bapak mertua seorang, jadilah seperti itu.
" Zia kenapa ganggu Adek hemm? Ayo ikut Abi saja, kita jalan-jalan ke depan ya." Ajakku yang langsung menggendong tubuh kecilnya ke dalam gendonganku.
Aku juga gemas sekali pada Zaheer bayiku itu, setiap memminum asi saat akan tidur, lalu tiba-tiba ia mendengar suara sedikit saja pasti langsung melepas nippl3 Aminya itu dan mencari sumber suara, kepo sekali memang si mungilku ini.
Zaheer bayiku tidak mempunyai kulit putih seperti diriku ataupun Zia ,kulitnya sedikit hitam, dan aku memanggilnya si hitam manis, ya sama seperti kulit Aminya.
" Jangan jauh-jauah Bi, sudah malam ini. Sebentar saja ini Zaheer pasti sudah terlelap kok. " Tegur Anni mengingatkanku.
" Iya Mi, di gang sini saja kok, mudah-mudahan Zia juga bisa cepat langsung tertidur." Sahutku yang kemudian langsung berjalan keluar rumah, berjalan-jalan sekitar gang depan sini saja hingga sampai ke pangkal jalan besar.
Ada apa ini?
Aku pun baru tersadar jika sedari tadi ada yang melempari kami dengan sesuatu, tanpa menimang aku segera membungkuk untuk mengambil benda yang di lempar ke arah kami tadi. Yang ternyata adalah bunga dari buah sirsak, seketika aku mendongak melihat ke atas guna memastikan.
" Astagfirullah.." Desisku sedikit tertahan, saat melihat ada sesuatu di atas sana.
Bukannya takut, melainkan aku sedikit terkejut saja. Ya aku akui di kampung ini aura mistisnya sangat kuat, mungkin karen dulunya daerah ini di tempati oleh jaman belanda, sehingga banyak sekali yang meninggal akibat kerja paksa dari mereka.
" Kenapa harus jahil sih! Tolong jangan ganggu putriku, sedari tadi aku tidak mengganggumu Ti." Ujarku menatap tajam ke arahnya.
Sungguh jahil sekali makhluk satu ini, memang aku tahu jika makhluk seperti mereka tugasnya memang mengganggu manusia, akan tetapi tida perlu juga membuat anak kecil menangis kencang seperti ini.
__ADS_1
Yang di ajak bicara justru tertawa memgejek tanpa merasa bersalah sama sekali. Ya Allah ada-ada saja.. Tanpa banyak bicara aku pun kembali berjalan untuk pulang ke rumah setelah berusaha membuat Zia tenang kembali.
Tak lama aku sampai dan langsung masuk ke dalam kamar untuk membaringkan tubuh putriku Zia yang sudah terlelap. " Kok lama Bi? Sini biar Ami saja yang meletakkan posisi Zia." Pinta istriku yang dengan sigap menerima tubuh kecil putri kami.
" Ya sudah Abi mau ke depan sebentar sayang." Pamitku yang ingin duduk di teras depan.
" Mau kemana Bi? Ini sudah malam lho." Tegurnya yang seajan takut aku pergi tidak jelas.
" Mau cari angin di luar Mi, sebentar saja tidak lama kok." Ujarku sedikit berdusta dan mencoba meyakinkannya. Karena selain cari angin aku memang sedang di tunggu oleh seseorang di luar sana.
" Cari angin kok sampai di luar? Di dalam juga anginnya tetap bisa masuk Bi." Sahutnya yang terus saja tidak percaya kepada suaminya ini, akhirnya aku pun menemani istriku hingga ia terlelap.
Setelah beberapa menit kemudian aku bisa keluar menemuinya di luar. " Maaf sudah lama membuatmu menunggu." Ujarku yang merasa tidak enak pada tamu yang tidak di undang malam-malam begini.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1