Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Kondisi Yang Sama.


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Tak terasa hari cepat berlalu, aku menyibukkan hariku di bengkel setiap harinya, kadang aku juga meluangkan waktu untuk sekedar jalan-jalan bersama dengan anak-anakku beserta Anni, syukurnya Anak-anak semuanya menerima Anni sebagai Ibu kedua bagi mereka, ya walau terlihat dari mereka salah satu yang tidak menerima itu, yaitu putriku Hilda yang mempunyai sifat keras seperti Nikmah.


Aku lebih bersyukur lagi mempunyai Anni di sampingku, walau terlihat jika Hilda tidak menyukainya, aka tetapi Anni berusaha mencuri hatinya, tak hanya pada Hilda tapi semuanya. Sosoknya yang sabarlah yang membuatku selalu cinta dengannya.


Saat tengah sibuk di bengkel, tiba-tiba ponselku berdering, ada panggilan masuk dari Cacakku Arga. Tak lama aku pun mengangkatnya di panggilannya ke tiga, karena benar-benar rame.


" Halo, Assalamualaikum ada apa Cak?" Sapaku ketika sambungan telepon sudah tersambung.


" Walaikumsalam, kamu dimana Ziz? Bisa pulang sebentar, Umma barusan masuk ke RSU saat ini beliau masih di periksa di IGD, nanti aku ceritakan semuanya, yang penting kamu kesini dulu." Sahut Cak Arga memberitahuku.


Seketika aku tersentak apa, Umma di bawa ke rumah sakit? Ada apa, kenapa tiba-tiba seperti ini. Pantas saja sejak tadi perasaannku tidak tenang. Kalau sudah begini, aku harus cepat bergegas. Aku langsung memberitahu kedua karyawanku akan pulang ebih awal. Karena kemungkinan besok aku tidak bisa datang, jadi kunci ruko kuaserahkan pada mereka berdua, agar besok tetap buka tanpaku, sebenarnya juga aku akan pulang ke kampung Anni besok, karena sebentar lagi ia akan segera melahirkan. Biar biarlah sekalian dari RS aku bisa langsung menyusul istriku.


Saat baru akan menyalahkan mesin motorku, tiba-tiba Nikmah mantan istriku datang ke ruko, membuat dahiku mengkerut bingung. Tidak biasanya dia datang kemari, Ia turun dari mobilnya langsung berjalan mendekatiku.


" Ada apa?" Tanyaku langsung tanpa ingin berbasa-basi.


" Bang maaf, tolong ke rumah sebentar. Zikri langsung sakit sewaktu Abang pulang semalam, sedari tadi terus memanggil Abang, aku bingung." Jawabnya sedikit panik.


Astagfirullah, cobaan apalagi ini. Kenapa bisa barengan begini. Tapi aku juga takut terjadi apa-apa pada Anakku Zikri, begitu pula pada Ummaku. Sebaiknya aku lihat putraku lebih dulu, baru pulang ke JG.

__ADS_1


" Ayo pulang." Hanya itu yang aku katakan padanya dan langsung menyalahkan motor dan kulajukan meninggalkan bengkel tanpa menunggunya lagi.


Tak lama aju sudah sampai di rumah, aku segera turun dan berlari masuk berjalan menuju ke kamar Zikri berada, namun tidak ada anaknya. Aku pun bergegas ke kamar belakang, kamarku dan Nikmah dulu dan benar saja P Putraku sedang terbaring lemah di atas ranjang di sampingnya ada Mbak asistentnya Nikmah.


" Sayang, ada apa? Zikri sakit apa Nak?" Tanyaku begitu sudah ada di sampingnya, duduk di tepi ranjang. Sementara Mbaknya tadi sudah mundur menjauh di dekat pintu kamar.


" Abi... Zikri takut.." Racaunya dengan kedua mata terpejam.


Kuulurkan tangan kananku untuk menyentuh dahinya, rasa panas langsung menyengat kulutku seketika, aku langsung menoleh ke belakang dan Nikmah baru saja masuk, " Sepanas ini kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?!" Bentakku secara tidak sadar.


" Maaf, tadinya aku mau bawa Bang tapi_


" Sudah, ayo cepat kita bawa dia ke RS. " Selaku yang langsung mengangkat tubuh Putraku membawanya keluar rumah dan memasukkannya ke dalam mobilnya Nikmah yang pintu belakang sudah di buka olehnya. Nikmah pun segera ikut masuk dan memangku putra kami.


" Ada apa ini Pak?" Tanya seorang perawat padaku yang langsung aku jawab jika tubuh Putraku sangatlah panas. Aku langsung di giring menuju ke ruang IGD. Dan Zikri langsung segera di periksa oleh Dokter, sementara aku berjalan ke depan untuk mengisi formulir pendaftaran pasien.


Setelah selesai aku segera kembali melangkah ke ruangan tadi, duduk di bangku tunggu di depannya. Tak lama Nikmah muncul dan berdiri di dekat pintu yang tertutup itu. Aku sama sekali tidak ingin mengajaknya mengobrol, walau hanya sekedar bertanya, sebenarnya apa yang terjadi hingga Zikri bisa demam tinggi begitu. Ya semalam aku berkunjung untul melihat anak-anak. Padahal semalam saat akan pulang, keadaannya masih baik-baik saja, tidak ada yang mengganjal.


Tak lama pintu pun terbuka, dan kekuarlah sosok Dokter muda berjas putih khas seorang Dokter, aku pun beranjak bangun dan berjalan mendekatinya." Bagaimana keadaan Putra saya Dok? Apa baik-baik saja?" Tanyaku tidak sabaran, e


terus menatapnya. Sementara Nikmah hanya terdiam berdiri di samping kirinya, sedangkan aku berdiri di samping kanan Dokter.


" Alhamdulillah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Putra Bapak dan Ibu sepertinya hanya kelelahan saja, atau bisa jadi karena kemarin habis kehujanan. Tapi tidak apa-apa saya sudah memberikan obat penurun demamnya, jika nanti sore demamnya sudah turun, malam sudah bisa pulang, pasien sebentar lagi akan di pindahan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi dulu " Jelas Dokter panjang lebar pada kami, seketika perasaanku lega mendengarnya, namun aku juga kesal bagaimana Nikmah menjaganya, sampai bisa kehujanan.

__ADS_1


Setelah aku mengucapkan terima kasih Dokter pun pergi meninggalkan kami. Tak lama pintu ruangan terbuka, dimana Zikri akan di pindahkan ke ruangan perawatan, aku berjalan mengikuti dari belakang, begitupun dengan Nikmah.


Sesampainya di dalam ruangan, kulihat Zikri masih terlelap, dan aku langsung menatap Nikmah dengan kesal, ." Maaf Bang, aku benar-benar tidak tahu jika kemarin dia hujan-hujanan." Cicitnya berjalan mendakati ranjang kecil pasien, dan menggenggam sebelah tangan kecil Zikri.


Aku hanya bisa menghela napas panjang. " Mah, sebentar lagi aku tinggal nggak apa-apa ya, aku harus pulang je JG, Umma masuk ke RS juga tadi pagi, jadi aku tidak bisa berlama-lama disini, nggak -apa-apa 'kan aku tinggal?" Tanyaku dengan hati-hati agar ia tidak tersinggung, masalahnya saat ini aku sedang dilema, Putra dan Ibu kandungku sama-sama membutuhkanku.


" Subhanallah, sakit apa Bang? Ya sudah Abang pergilah, biar Umi yang jaga Zikri, tidak apa-apa." Sahutnya, yang langsung menyuruhku pergi, tak kusangka ia mengatakan hal itu. Tadinya aku pikir ia akan menahanku pergi karena alasan anak, sepertinya tidak ia sudah berubah, aku ikut senang melihatnya.


" Baiklah, aku pergi dulu, nanti kalau ada apa-apa kabari saja. Assalamualaikum.." Pamitku yang langsung beranjak bangun, namun sebelumnya aku mencium puncak kepala Putraku sebelum melangkah keluar ruangan.


" Waalaikumsalam, hati-hati di jalan Bang." Ujarnya menatapku, aku hanya mengangguk dan melipir pergi.


Berjalan keluar RS, aku mencari ojek untuk mengantarkanku ke rumah Nikmah mengambil motorku, setelah sampai aku bergegas melajukan motorku membelah jalanan menuju ke kota JG, sepanjang perjalanan aku tak hentinya terus berdoa semoga Putraku segera membaik, dan Umma keadaannya tidak parah, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Bagaimana bisa kondisinya bisa sama-sama masuk RS. Ya Allah permudahkanlah segala urusanku hari ini.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2