
Aziz_PoV
*
Hidup ini selamanya indah kalau kita pandai bersyukur. Kalau kita ikhlas menerima skenario dari Tuhan, apa pun bentuknya. 'Kan kadang yang menurut kita baik, belum tentu baik menurutNya.
Alhamdulillah, tentu saja aku sangat bersyukur kini hari-hari yang kujalani semakin bertambah berbahagia, di tambah kini istri kecilku kembali mengandung calon anak kedua kami. Walau awalnya Anni belum ingin hamil lagi dengan alasan putri pertama kami yang masih kecil, namun aku tak henti-hentinya mengingatkannya untuk selalu bersyukur.
Bahwa semua ini adalah rejeki dariNya yang sudah sepatutnya harus kita syukuri, sebab masih banyak orang di luar sana yang menginginkan kehadiran dari sang buah hati, namun hanya saja mereka belum di kasih oleh yang Maha Kuasa, walau mereka terus saja berusaha, tak sedikit dari mereka hampir putus asa.
Oleh sebab itu kita yang di beri rejeki dengan cepat dan mudah, jangan pernah menyesal ataupun mengeluh, tapi kita harus selalu syukuri atas apa karunia yang telah Tuhan berikan pada kita sekarang ini.
Kandungan istriku sudah mulai memasuki usia tiga bulan, aku berusaha menjadi suami yang siaga tentunya. Namun walau demikian aku juga kerap mendatangani ke empat anakku yang lain, tak jarang aku mengajak mereka bergantian datang ke rumah, dengan cara aku mengirim pesan atau menghubungi lebih dulu Muslimah putri pertamaku, sebab jika aku yang menghubungi Nikmah, aku merasa akan ada timbul kesalahpahaman di antara aku dan juga Anni, itulah sebabnya aku lebih memilih berkomunikasi lewat putriku saja untuk bisa berbicara kepada ketiga anakku yang lain.
Sebab aku sadar bagaimana perasaan seorang istri, karena Nikmah pun dulunya lebih parah dari Anni. Terlebih aku juga tidak ingin bertengkar dengan istriku. Ya lebih baik menghindari daripada mencari keributan yang mungkin tidak akan ada habisnya bagi kaum hawa.
Sekitar pukul dua siang lebih aku bersiap akan pulang ke rumah dan juga untuk makan siang, itu sebabnya tadi sekalian mencatat semua pembukuan dan juga stok barang karena niat tidak kembali ke bengkel lagi. Satu hal yang belum aku ceritakan pada kalian semua, bahwa tempat tinggalku yang sekarang ini jaraknya sangat amat dekat dengan pasar, tepatnya bengkel tempat kerjaku, mungkin sekitar lima ratus meter dari sini. Itulah sebabnya setiap hari aku selalu menyempatkan pulang hanya untuk sekedar makan siang di rumah.
" Yon, Wo, Budi, duluan ya. Nanti aku nggak kembali lagi, karena ada keperluan, jika sudah waktunya pulang, kalian pulang saja, tidak perlu lembur, kunci kamu yang bawa ya Wo." Pamitku kepada ketiga pegawaiku, dan berpesan kepada pegawai terlamaku.
" Siap Cak." Jawab mereka secara bersamaan dengan penuh semangat.
Budi adalah pegawai baruku, baru sekitar semingguan yang lalu dia bekerja disini. Sebenarnya Yono dan Bowo saja sudah cukup bagiku, namun aku merasa kasihan pada mereka berdua jika bengkel tengah ramai-ramainya. Bahkan keduanya pun keberatan aku menerima Budi, katanya mereka berdua saja bisa menghandle semua pekerjaan. Ya walau pada dasarnya aku tidak pernah meragukan kemampuan mereka berdua, hanya saja aku tetap merasa kasihan, biarlah agar ada yang membantu mereka. Gaji yang mereka berdua terima pun juga cukup lumayan banyak jika di bandingkan dengan bengkel-bengkel lainnya. Sedangkan untuk Budi sendiri tidak ada serepatnya dari mereka, tentu saja karena dia masih baru, aku juga belum terlalu mengenalnya dengan baik.
__ADS_1
Aku merekrut Bowo dan Yono dulu saat keduanya terkena pemecatan pegawai di sebuah dealer ternama di kota ini. Karena melihat skil juga kemampuan mereka berdua yang tak kaleng-kaleng, dan tentu saja membuatku cukup puas, pada akhirnya aku pun langsung setuju saat si Bowo melamar pekerjaan di bengkelku yang waktu itu baru saja buka, hingga seminggu kemudian dia merekrut Yono temannya yang saat itu masih jadi pengangguran.
Keduanya sudah sama-sama berumah tangga dan juga memilki beberapa anak yang lucu-lucu, sebab jika lebaran tiba, aku selalu meminta mereka semua untuk datang ke rumah mengajak serta istri dan juga anak-anak mereka. Jadilah kami terlihat begitu dekat, tak seperti pegawai dengan bosnya.
Aku pun segera melajukan motorku ke arah rumah meninggalkan ketiga pegawaiku, namun saat di tengah jalan aku menghentikan laju motorku tepat di depan rumah makan, aku baru ingat kalau pagi tadi Anni berpesan menyuruhku membelikan sambal ijo padang, beserta lauk, aku hanya geleng-gelang, ada-ada saja bumil satu ini.
Setelah membeli sambal dan juga lauk-pauk aku segera menjalankan kembali motorku ke arah jalan pulang, tak begitu lama aku sudah sampai di depan rumah. Setelah memakirkan motorku di carport aku segera berjalan masuk dan mengetuk pintu depan, tak lama pintu pun terbuka dari dalam dan muncullah wajah lelah istriku.
" Assalamuaikum,," Sapaku seperti biasa, Anni langsung menyambut hangat serta menyalimiku tak lupa mencium punggung tangan kananku.
" Ada apa sayang? Wajahmu kelihatan lelah sekali?" Tanyaku menatapnya iba sembari melangkah masuk di ikuti istriku dari belakang.
" Tidak apa-apa Bi. Hanya agak lemas saja. Oh, iya mana sambal pesananku? " Tanyanya sembari menyodorkan sebelah tangannya.
Anni mengangguk dengan bibir sedikit di majukan beberapa senti, lucu sekali jika merajuk seperti ini. " Jangan di manyuin begitu dong bibirnya, nanti Abang makan lho!" Ancamku sengaja menggodanya.
" Ishhh!! Cukup, jangan macam-macam, katanya kita harus buru-buru." Tegur istriku yang berjalan ke arah lemari kaca untuk mengambil dua mangkok dan dua piring kosong untuk kita makan.
" Siapa juga yang mau macam-macam, satu macam saja sudah cukup kok." Godaku kembali sembari duduk di karpet bawah.
" Nggak ada satu macam, atau pun macam-macam. Aku sangat lapar dan juga letih Bi." Keluh Anni yang mengambil duduk agak jauh dariku.
Aku tahu dia sengaja agar aku tidak kembali menggodanya. Sungguh meggemaskan sekali istriku ini. " Baiklah ayo cepat kita makan, lalu beribadah." Ujarku yang kali ini serius.
__ADS_1
Namun saat akan mengambil lauk, sekilas aku melirik Anni yang sedang menatapku penuh selidik." Ada apa sayang?" Tanyaku sedikit heran menatapnya sembari mulai menyuap nasi.
" Pasti ibadah yang Abi maksud lain bukan?" Tudingnya menatap sedikit horor padaku, membuatku sedikit mengernyit.
Oh aku baru ngeh, jika sebenarnya istriku sendiri yang tengah salah mengartikan arti dari kata ibadah yang biasa aku ucapkan saat mengajaknya berperang. Padahal ibadah versiku saat inu benar-benar ibadah sebab sebentar lagi pasti sudah waktunya sholat Ashar.
Ah, memiliki istri belia yang usianya terpaut jauh dari kita rupanya mampu membuat diri kita kembali berjiwa muda. Kebahagiaan itu seolah berlipat-lipat bagiku. Menggodanya adalah jurus terjitu. Tak segera meresponnya dengan menghendikkan bahu dan aku segera menyelesaikan makanku. Setelah selesai aku beranjak dan berjalan ke arah wastafel untuk meletakkan piring kotor bekasku.
Setelahnya aku pun berjalan ke arah kamar." Zia masih tidur ya?" Tanyaku padanya, yang entah istriku mendengarnya ataukah tidak.
" Ish, Abi bukannya di jawab malah kabur!" Desisnya kesal, aku tentu saja mendengarnya, namun pura-pura tidak dengar dan masuk ke dalam kamar, menunggu mangsa yang siap di terkam sebentar lagi.
Subhanallah.. Ingat umur Ziz!
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.