
Nanda_PoV
*
Sepulang dari rumah Mbak Anna aku terus saja senyum sendiri, bayangan wajah manis gadis itu terus saja terbayang di benakku. Ya siapa lagi jika bukan gadis yang bernama Lasmi, gadis yang baru aku temui di rumah Mbak Anna, entah mengapa terus saja menghantuiku, gadis yang sudah menyita perhatianku sejak pertama kali bertemu, apalagi senyumnya itu Ya Allah manis sekali..
Apa ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Wah kalau memang benar ternyata begini rasanya, sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, antara senang, bahagia, terharu, juga emosi bercampur menjadi satu.
" Kenapa kamu Dek? Senyum-senyum sendiri begitu!?" Celetuk Mbak Najwa yang tiba-tiba mengagetkanku dari arah belakang, tentu saja membuatku terhenyak.
" Ah, Mbak ini ngagetin aku aja! Jangan kepo deh!" Protesku yang belum ingin jujur dulu dengannya, apalagj kenyataannya ini belum pasti.
" Dih di tanya baik-baik juga, hati-hati lho kesambet ntar malam-malam cengar-cengir sendirian. Oh iya Mbak minta tolong dong, tolong beliin bubur kacang ijo ya, warungnya ada di ujung sana." Ujarnya sedikit memohon seraya menyodorkan selembar uang kertas pecahan lima puluh ribuan padaku.
" Bubur kacang ijo? Dimana aki belinya Mbak, Mbak 'kan tahu sendiri aku bukan orang sini, mana aku ngerti daerah sini pun dimana warung yang jualan itu!" Sahutku protes. Ngadi-ngadi aja Mbakku satu ini, sudah tahu kita ini orang pendatang malah di suruh beli ini itu lagi di kampung orang, iya kalau dia yang sudah menjadi warga kampung sini, sedangkan aku bukan siapa-siapa hanya sebatas Adiknya saja.
" Oh iya ya Mbak lupa Nda, kalau gitu kamu suruh ngantetin Anna aja gantian. Ya tolong lah Mbak kepengen banget makan itu lho Nda." Rengeknya yang mulai membuatku kesal.
Pahadal aku datang kesini karena ingin menghindari seseorang yang terus saja menempel padaku, eh, nggk tahunya disini justru di manfaatin oleh Mbakku sendiri, memang bener-bener apes dah!!.
" Sudah cepatlah, keburu malam ini." Titahnya, sudah seperti mandor saja, sudah meminta tolong memaksa lagi, kalau bukan Mbakku mana mau aku.
" Memang Mas Anton kemana sih Mbak? Suruh saja suamimu itu!" Tolakku yang masih terus berusaha agar tidak jadi pergi keluar rumah.
" Mas Anton itu lagi ke rumah temannya, kalau ada Masmu juga nggak mungkin Mbak nyuruh kamu! Sudahlah kamu aja yang beliin, kelamaan kalau harus nunggu Mas Anton pulang keburu tutup itu warungnya, sudah sana!" Ujarnya yang kini seolah mengusirku.
" Iya-iya bawel banget, sudah ngalah-ngalahin orang yang lagi ngidam aja kamu tuh Mbak-Mbak!" Gerutuku seraya melangkah keluar rumah.
" Ya Alhamdulillah dong kalau Mbakmu ini ngidam, itu berarti kamu akan mempunyai keponakan lagi. Kamu kalau mau juga beli saja Nda apa yang kamu ingin.!" Teriaknya saat aku sudah bersiap di atas kuda besi milikku dan akan menyalakan mesinnya.
__ADS_1
" Ampun dah Mbak, anak satu aja sudah kerepotan begitu sudah mau nambah lagi. Nantilah tunggu dia besar dulu, dan aku lagi nggak minat beli apa-apa, misal mau beli juga aku punya uang sendiri kok, ya udah aku pergi dulu." Sahutku sebelum melenggang pergi.
Selama setahun terakhir ini aku memang bekerja di pabrik plastik yang ada di kotaku sendiri, ya walau belum masuk ke PT, tapi lumayanlah gajinya daripada bekerja di sawah orang, mau ke kota tapi tidak ada teman yang mau ngajak kerja. Dulu sudah sempat mau ikut Mbak Najwa bekerja di pabrik tempatnya bekerja, tapi aku bingung mau tidur dimana, masa iya aku ikut tidur di kost putri.
Sebelumnya setelah lulus sekolah aliyah aku ikut teman merantau ke luar pulau. Bekerja apa saja yang penting halal dan bisa buat makan sendiri, jadi tida membebani kedua orangtuaku lagi.
Tapi gara-gara ada masalah kecil, aku jadi terpaksa mengambil cutiku yang selama ini belum pernah aku ambil, dan disinilah aku berakhir. Di kampung halaman Mas iparku, untung saja Mas Anton dan Neneknya mau menerimaku, kalau tidak
Tapi aku senang juga sih di suruh keluar, bisa jadi nanti ketemu lagi dengan Lasmi, kira-kira dia sedang apa ya? Apa dia sudah tidur jam segini? Tapi kayaknya sih belum ya secara ini masih tebilang sore!" Monologku di sepanjang perjalanan.
Tak lama aku sudah sampai di depan halaman rumah orangtua Mas Anton iparku. Kelihatannya di dalam rumah sedang ramai orang, segera kuparkirkan motorku di depan lalu berjalan mengucapkan salam.
" Assalamualaikum.."
Bak pucuk ulam pun tiba, sungguh wajahku berbinar saat melihat wajah cantik itu lagi malam ini. Apa setiap malamnya dia datang ke rumah ini? Ah sungguh makin betah aku berkunjung kemari.
" Eh Nanda, baru aja di omongin udah nongol aja orangnya, sini-sini ada Lasmi juga lho." Sahut Mbak Anna yang terlihat sangat bersemangat sekali menyambut kedatanganku. Aku pun mengatakan maksud kedatanganku kepada semua orang yang kini tengah berkumpul di ruang tamu.
***
Anna_PoV
Sekitar pukul setengah delapan malam, Lasmi tetanggaku datang ke rumah untuk mengembalikan alat pasrahan juga sekalian mengantarkan sayur lodehnya yang sudah matang, pas sekali saat aku sedang makan.
Alhasil aku suruh dia jagain Zia yang sedang bermain sendiri di karpet, sedangkan Erika tengah di nina bobokan oleh Ibu. Hitung-hitung belajarlah jika nanti aku sudah bekerja jadi Erika tidak ketergantungan terus padaku dan tidak terus mencariku.
Saat tengah bersenda gurau dengan Mbak Anniyah, Zia juga Lasmi tiba-tiba Nanda datang malam-malam ke rumah. Tidak heran sih pasti pemuda satu ini sudah tidak tahan merindukan gadis cantik yang ada di rumah ini, siapa lagi jika bukan Lasmi.
Dan ternyata dia datang kemari hanya karena ingin di antarkan ke warung untuk membeli bubur kacang ijo permintaan dari Mbaknya itu. Tapi yang kulihat, dia ini niatnya sambil berenang minum air. Ya nggak sih, pasti benar tebakanku kali ini.
__ADS_1
Akhirnya aku mengiyakan permintaannya itu namun ada syaratnya yaitu dengan berjalan kaki. Aku pun mengajak Zia dan juga Lasmi mengantarkan Nanda ke warungnya Mbok Inah, memang disana terkenal ramai warungnya kalau malam-malam begini.
" Sini mana uangnya, biar aku yang belikan, pasti kamu malu 'kan masuk ke dakam warungnya." Pintaku menengadahkan sebelah tanganku padanya.
Nanda mengangguk dan memberikan selembar uang kertas padaku, aku pun segera berjalan paling depan dengan menggandeng Zia ponakanku. Entah apa semua anak muda memang seperti jalannya kalau sedang kasmaran, jalannya ngalah-ngalahin siput.
Dan pada akhirnya aku tinggalkan mereka berdua di belang sana, setelah selesai membeli beberapa bungkus kacang hijau aku pun pulang bersama Zia lewat jaoan satunya agar keduanya tidak sadar aku sudah pulang, ya anggap saja sebagai bayaran telah membuat keduanya semakin dekat, haha.
Sepertinya rencanaku kali ini berhasil, pasti tidak akan lama lagi mereka berdua akan segera menikah itulah keyakinanku setelah melihat gelagat mereka sejak tadi. Memang kalau sudah berjodoh tidak akan kemana.
" Lho kok kalian hanya berdua saja, mana Lasmi dan Nandanya?" Tanya Mbak Anniyah heran menatapku karena hanya pulang berdua saja dengan putrinya.
" Aku tinggal di ujung jalan mau ke rumah Mbok Inah sana, biar saja mereka pasti juga tidak sadar kalau aku sudah pulang, susah memang kalau sudah berurusan dengan orang yang kasmaran." Sahutku seraya meletakkan kantong kresek berisi bubur itu di atas meja.
" Kasmaran? Siapa yang sedang kasmaran? Lasmi sama Nanda maksud kamu? Jangan mengada-ngada deh!" Timpal Mbak Anniyah yang ternyata tidak percaya, ternyata dia tidak peka.
" Ya terserah Mbak kalau tidak percaya, tapi aku bisa buktiin kalau tidak lama lagi pasti Nanda akan melamar Lasmi, aku sangat yakin itu. Aku tinggal dulu ya Mbak, mau nganterin bubur ini ke rumah Nenek, pasti Mbaknya Nanda sudah nungguin sedari tadi." Ujarku dan setelah itu melenggang pergi dengan mengendarai sepeda milik Ibu.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1