
Aziz_PoV
*
" Hati-hati di jalan." Seruku kepada salah seorang temanku yang baru pulang, dan ikut dalam perjalanan keluar kota kemarin itu.
Ya ini tinggal aku dan Roni yang baru akan pulang ke kampung halaman istri kami masing-masing. Ya selama tinggal di kota aku tinggal bersama Roni di salah satu kontrakan milik Saiful.
Kami baru tiba sekitar pukul dua siang, dan niatnya mau istirahat dulu sebelum nanti sore pergi mengajar. Namun baru akan memejam terdengar suara dering ponselku yang baru saja aku letakkan di nakas samping tempat tidur.
" Nikmah? Berani dia menghubungiku?" Gumamku lirih juga heran, karena biasanya Mus putri sulungku-lah yang selalu menghubungiku, hanya sekedar memberi kabar mengenai keadaan Adik-adiknya.
Walau aku sudah tidak menyimpan nomor mantan istriku, akan tetapi nomornya yang memang sudah aku hafal di luar kepala membuatku lamgsung tahu siapa yang menghubungiku.
Karena aku mikirnya mungkin itu panggilan penting, sehingga pada panggilan kedua barulah aku angkat telepon darinya.
" Assalamualaikum, ada apa?" Tanyanya to the poin tanpa ingin berbasa-basi lagi dengannya.
Aku tidak membencinya, walau bagaimana pun juga dia akan tetap menjadi Ibu dari anak-anakku, wanita yang telah melahirkan mereka berempat. Hanya saja ini untuk menjaga jarak, juga menjaga hati istriku. Pastilah di dalam hati dan pikiran istriku Anni ada pemikiran negatif jika aku kembali dekat terhadap mantan istriku, hanya saja ia tidak memperlihatkannya padaku.
" Waalaikumsalam, Bang Zikri masuk rumah sakit, saat ini keadaannya sedang kritis di dalam." Sahutnya di seberang sana dengan nada yang terdengar begitu panik juga gelisah.
" Innalillahi.. apa yang terjadi!! Zikri sakit apa?? Baiklah Abi akan segera kesana. Tolong kamu kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang juga." Sehutku yang tak kalah panik.
Aku sungguh terkejut anakku Zikri kembali masuk ke rumah sakit walau ini sudah cukup lama, yang entah sakit apa lagi ini sekarang. Mudah-mudahan tidak parah, dan hanya sakit demam saja.
Aku segera bersih-bersih diri dan bersiap untuk pergi, tak lupa barang penting milikku semua aku bawa. Begitu keluar kamar terlihat Roni yang sedang membuat sesuatu di dapur, sepertinya dia belum menyadariku, aku pun berjalan menghampirinya akan berpamitan.
__ADS_1
" Lho kamu mau pulang siang ini Ziz? Buru-buru amat, katanya mau mengajar dulu nanti sore, mau aku buatkan kopi sekalian?" Tawarnya saat menoleh menatap kehadiranku.
" Oh, nggak terima kasih. Aku buru-buru dan ini aku mau pergi ke rumah sakit dulu Ron, anakku Zikri tiba-tiba sakit dan di bawa kesana dan sepertinya aku tunda untuk pulang ke kampung." Jelasku seraya membetulkan tas slempangku.
" Anakmu sakit apa? Ya Allah,, ada sajalah. Ya sudah pergilah, semoga putramu lekas sembuh, dan maaf aku belum bisa ikut kesana, setelah ini mungkin aku akan langsung pulang ke JG karena sedari tadi istriku sudah terus menghubungi, mau ngopi dululah biar nggak mengantuk di perjalanan." Ujarnya menujukkan secangkir kopi yang dia pegang dan terlihat asapnya terus mengepul ke udara.
" Aku belum tahu putraku sakit apa, mudah-mudahan saja hanya demam biasa dan tidak terlalu parah, Aamiin. Ya sudah aku pergi dulu, kamu hati-hati di jalan." Pamitku yang akan melangkah pergi.
" Aamiin, iya kamu juga hati-hati."
Aku segera melajukan motorku dengan sedikit cepat setelah membaca sebuah pesan yang di kirim Nikmah padaku. Hingga tak lama aku pun sampai ke tempat tujuanku yaitu rumah sakit anak dan Ibu yang cukup besar di kota ini.
Setelah membayar juru parkir, aku segera memakirkan motorku dengan aman. Dan segera berjalan setengah berlari menuju ke tempat pendaftaran untuk mempertanyakan dimana ruang igd yang di maksud oleh mantan istriku tadi di isi pesannya.
Setelah di beritahu oleh salah seorang dari mereka, aku segera berjalan tergesa menuju ruangan itu dan dari kejauhan aku bisa melihat Nikmah dan Aidan yang sedang duduk di bangku panjang ruang tunggu yang di sediakan di depan ruangan tertutup itu.
" Waalaikumsalam."
" Abi!!"
Aidan putraku langsung berdiri saat melihat kedatanganku lalu menyalami dan langsung memeluk tubuhku. " Abang Aidan sehat 'kan? Ayo kembali duduk sama Abi." Ajakku, kami pun duduk bertiga Aidan sebagai pembatas di tengah-tengah kami berdua.
Melihatku Nikmah terus saja menyeka wajahnya, yang terlihat air matanya terus bercucuran bahkan lebih deras dari sebelumnya. Namun aku hanya bisa diam, tanpa bisa berbuat apa-apa.
" Kami belum tahu lagi, tadi Dokter sempat keluar tapi masuk kembali ke dalam setelah memberitahu jika Zikri sedang mengalami gejala DBD." Pungkas Nikmah menjelaskan padaku.
" Astagfirullah,, apa kamu tidak mengetahuinya sedari awal?" Tanyaku dengan sedikit kesal padanya. Bagaimana dia tidak mengetahui ciri-ciri anak yang terkena gejala DBD, apa saja yang ia lakukan?
__ADS_1
Namun seketika aku sadar, jika aku tidak berhak memarahi juga membentaknya sebab dialah yang selama ini telah merawat dan menjaga anak-anak kami. Sementara aku hanya sekedar membantu saja selain mencari nafkah untuk istriku Anni dan juga keenam anakku.
" Maafkan Umi Bi. Sungguh aku tidak mengetahui hal itu, semalam aku hanya menduga dia hanya demam biasa saja, lalu pagi tadi demamnya semakin bertambah, dan juga mulai muntah-muntah. Aku takut sehingga langsung aku bawa ke bidan dekat rumah, tapi bidan menyarankan untuk membawa Zikri ke rumah sakit ini, sebab sakitnya sudah parah." Jelasnya panjang lebar dan sudah kambali terisak, aku tidak mampu menatapnya, bahkan mendengarnya menangis saja membuatku tidak tega. Toch aku juga tidak mampu menghiburnya, sebab kami sudah tidak memiliki ikatan apapun lagi.
Aku hanya bisa terdiam lalu taka lama menarik napas dalam-dalam. Aku layaknya seorang pria yang gagal, tak hanya gagal dalam berumah tangga, akan tetapi juga gagal sebagai seorang Ayah yang gagal untuk anak-anaknya, lalai dalam menjaga dan melindungi juga bertanggung jawab kepada titipanNya.
Ya Allah,, aku serahkan semuanya padaMu Ya Robbi, lindungi dan sembuhkanlah sakit yang di derita putraku .. Aku langsung bangkit berdiri membuat keduanya menatapku terheran.
" Abi mau kemana?" Tanya Aidan dengan penasaran.
" Oh, Abi mau pergi ke Mushola dulu Nak, sebantar lagi 'kan sudah waktunya Ashar, Abang disini dulu ya temani Umi." Titahku yang segera di angguki olehnya.
Sebenarnya aku tahu Aidan ingin ikut, namun karena aku menyuruhnya untuk tinggal ia pun tidak mungkin membantah. Terlebih kasihan Nikmah sendirian jika Aidan ikut bersamaku.
Aku pun berjalan gontai dan terlihat lesu sekali menyusuri setiap lorong-lorong panjang rumah sakit. Bagaimana tidak lesu jika mendapati kabar putra kandung kita sedang sakit dan sedang dalam keadaan kritis saat ini?
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1