
Anniyah_PoV
*
Sudah seminggu ini Anna Adikku pulang ke rumah, dan ternyata sepulang dari menginap di rumah kami waktu itu, tak lama Adikku langsung mengandung, dan tinggal menunggu detik-detik saja.
" Semoga laki-laki ya?" Seru Anna sembari mengelus perut buncitnya.
" Memangnya tidak di lakukan usg?" Tanyaku dengan heran.
" Sudah Mbak, tapi Dokter mengatakan jika bayiku perempuan, namun tidak ada salahnya bukan kita berharap, banyak kok yang di cek awalnya perempuan tapi pas lahiran yang keluar laki-laki." Cetusnya yang seolah percaya dengan yang seperti itu.
" Ya boleh saja berharap, tapi jangan berlebihan takutnya nanti kamu malah strees saat hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu." Ujarku mengingatkannya.
Memang yang namanya kuasa Allah tidak ada yang tahu bisa jadi apa yang Anna tadi katakan sebagian orang ada yang mengalaminya. Namun kembali lagi jika memang sudah di gariskan demikian ya kita harus mensyukurinya.
Hingga tiba-tiba saja aku melihat Anna merintih dengan memegangi perutnya, jangan-jangan dia mengalami kontraksi. " An kamu kenapa?" Tanyaku dengan panik.
" Nggak tahu ini Mbak, perutku terasa mulas sekali, aduh aku nggak tahan lagi Mbak, sakit.." Rintuh Anna yang semakin menjadi-menjadi. Ya kurasa dia mau melahirkan, padahal beberapa menit sebelumnya tidak ada tanda-tanda apapun.
Aku segera berjalan masuk le adalm rumah untuk memanggil Kholil suaminya agar segera membawa istrinya ke Bidan. Kholil langsung berlari ke depan begitu mendengar istrinya kesakitan.
" Sayang, kamu mau melahirkan ayo kita ke Bidan." Ajaknya yang langsung menggendong Anna untuk di masukkan ke dalam mobil." Mabk tolong ambilkan kunci mobil." Teriaknya padaku.
Tak lama aku kembali ke depan sembari menyodorkan kuncinya kepada Kholil. " Terima kasih Mbak, kami pergi dulu." Pamitnya yang segara masuk ke dalam mobil.
Dari arah belakang terdengar langkah seseorang bersamaan mobil Kholil yang kelaura halaman rumah." Ada apa ini Niyah? Kenapa pada ribut-ribut, la itu si Kholil mau kemana?" Tanya Ibu yang tergopoh-gopoh keluar rumah.
" Itu Anna mau melahirkan Bu. Sebaiknya Ibu sama Bapak menyusulnya sekalian bawakan pakaian untuk Anna dan bayinya yang sudah di siapkan di tas." Titahku yang berjalan masuk ke dalam kamar Anna untuk mengambil tas berukuran sedang yang di simpan di dalam lemari pakaian.
" Ya sudah kamu disini saja, kasihan itu Zaheer sudah mengantuk, Zia juga sudah tertidur di kamar Ibu." Setelahnya Ibu pergi ke arah belakang untuk memanggil Bapak.
Setelah kepergian Ibu dan Bapak aku masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Zaheer, terlihat ia terus mengusap-isap kedua matanya. Ih luci sekali sih kamu nak, walau kulitnya tidak seputih Zia Kakaknya, namun dia terlihat hitam manis, sama sepertiku.
__ADS_1
Malam menjelang, aku masih di rumah Ibu, menonton televisi sembari menyuapi Zia, sedangkan Zaheer aku letakkan di karpet bawah. Terdengar pintu depan di ketuk dari luar, aku pun segera beranjak bangun dan membuka pintunya.
" Nenek?" Seruku yang terkejut dengan kedatangannya malam-malam begini.
" Kamu ini, Nenek tungguin nggak pulang-pulang, mana yang lain kok sepi?" Tanyanya sembari melangakh masuk dan menghampiri kedua anakku.
" Mereka semua sedang ke rumah Bidan Nek, Anna mau melahirkan, tadi siang berangkatnya, maaf Anni lupa memberi kabar, soalnya tadi siang anak-anak pada tidur." Tentu saja aku lupa jika Nenek pasti menungguku di rumah.
" Anna mau melahirkan? Semoga gangsar lahirannya." Ujar Nenek memanjatkan doa.
" Aamiin, kita tidur di sini saja ya Nek. Sekalian menunggu kabar dari semuanya.
Akhirnya aku tidur di kamarku yang dulu bersama Nenek, sebab Bang Aziz belum pulang dari luar kota. Tapi seharian ini dia sudah memberikan kabar sedang mengantarkan barang pesanan orang.
***
Aku terbangun karena mendengar suara deru motor di depan rumah, itu pasti motornya Bapak. Aku segera bangun dan berjalan ke depan untuk membuka pintunya.
" Assalamulaikum."
" Alhamdulillah, keponakanmu sudah lahir perempuan juga biar bisa main dengan Kakak-kakaknya nanti." Sahut Bapak sembari berjalan ke arah belakang dengan sebelah tangannya menenteng kantong kresek besar yang mungkin isinya adalah pakaian kotornya Anna.
Aku mengikuti Bapak yang juga ingin memasak air untuk mandi. " Pukul berapa tadi lahirnya Pak?"
" Pukul berapa ya, sepertinya pukul satu malam. Yang lama itu mengeluarkan ari-ari bayinya sama di jahit karena robeknya panjang." Bapak terus menjelaskan dan mengambil duduk di kursi bambu panjang.
" Wah lama juga ya Pak keluarnya, jadi ikut ngilu ngebayanginnya." Ujarku sembari membuatkan Bapak kopi yang biasa beliau minum.
" Ya setiap Ibu yang melahirkan itu berbeda-beda, ada yang susah ada pula yang cepat. Oh iya, itu nanti baju kotornya Adikmu biarkan saja. Biar Kholil sendiri yang mencucinya ya Nak." Pinta Bapak mengingatkanku.
" Iya, Niyah masih ingat kok Pak, Bapak tenang saja. Ini di minum kopinya Pak. Mungkin nanti sore sudah pulang ya Anna-nya." Aku segera meletakkan segelas kopi di dekat tempat duduk Bapak.
" Gimana Nal, cicitku sudah lahir?" Tanya Nenek yanh tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
__ADS_1
" Alhamdulillah sudah Bu. Perempuan lagi cicit Ibu."
" Lalu gimana keadaan Anna cucuku? Dia baik-baik saja bukan?" Nenek duduk di samping Bapak, dan aku segera membuatkan teh jahe kesukaan Nenek.
" Alhamdulillah, semua sehat dan baik Bu. Kapan Ibu kemari?" Bapak terlihat heran pagi-pagi Nenek sudah muncul saja di dalam rumah.
" Nenek datang tadi malam Pak, lalu Anniyah ajak nginep dan tidur kamarku." Aku segera menjawab pertanyaan Bapak sebab Nenek sedang menikmati teh jahenya.
" Oh begitu, syukurlah tadi malam kamu tidak sendirian di rumah. Ya sudah Napak mau mandi dulu, airnya sudah panas belum Nak?" Tanya Bapak sembari bangkit dari duduknya.
" Ya sudah Bapak mandi saja dulu, itu air hangatnya sudah siap." Sahutku yang akan membantu menuangkan airnya ke ember.
" Sudah kamu duduk saja biar Bapak sendiri yang mengangkatnya."
Tak terasa hari sudah sore, aku sempat pulang bersama Nenek tadi pagi dan kini kami sudah berada di rumah orangtuaku lagi. Dan secara bersamaan mobil Kholil juga baru saja datang, membuatku tak sabar ingin melihat keponakanku yang cantik.
" Assalamulaikum,," Seru Kholil sembari membukakan pintu untuk istrinya. Aku segera mendekat dan membukakan pintu belakang untuk Ibu.
" Wa'alaikumsalam, Mana keponakan cantik budhe." Ibu segera turun dari mobil seraya menggendong cucunya yang masih merah. Duh gemes sekali rasanya seperti Zia saat saat masih bayi.
" Pelan-pelan saja jalannya." Seru Ibu yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu.
" Kuat nggak? Sini aku gendong." Mesra sekali mereka berdua, terlihat Kholil sangat mencintai Anna. Aku pun ikut tersenyum seraya menutup pintu mobil.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.