
Beberapa hari kemudain. Aira kembali lagi bekerja di perusahaan. Hampir semua orang berkasak kusuk tentang hubungan antara asisten dan atasan yang menurut mereka tidak sewajarnya. Tidak akan mungkin bos mereka mau mempekerjakan kembali seorang pegawai kalau dia sudah lama tidak masuk kerja. Bahkan, kalau ada salah satu dari mereka ijin sehari saja pasti besoknya langsung dapat surat pemecatan. Dan ketika Aira kembali bekerja tanpa beban sama sekali, banyak orang percaya bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Akhirmya seisi kantor meledak. Namun, siapa yang berani menanyakan perihal kembalinya Aira. Mereka pun hanyut dalam pemikiran masing masing.
"Sayang, hari ini saya ada sesuatu untuk kamu" Ujar David ketika mereka berada di dalam life. Pagi itu mereka sengaja berangkat agak siang, sebab malamnya menghabiskan malam kerinduan bersama. Senyum merekah terlihat di wajah keduanya. Setelah sekian lama terpisah, akhirnya mereka bisa kembali lagi. Hubungan sempat di ujung duri kini mulai menemukan kembali kebahagiaan.
"Sesuatu? apa itu?"
Merogoh saku jas lalu meraih sesuatu dari dalamnya.
Melihat hadiah di tangan sang kekasih membuat kedua bola mata Aira membulat "Waw....indah sekali" Raut wajah kebahagiaan tidak bisa membohongi wajah Aira ketika mendapat hadian yang begitu berharga. Satu set perhiasan termahal yang hanya di desain satu set oleh desain perhiasan ternama. Di dalam salah satu perhiasan terukir nama mereka berdua sebagai lambang cinta.
"Ini sungguh untuk ku?"
"Tentu saja. Dalam hidup ini tidak ada yang lebih berharga dari pada kamu, sayang. Kalau pun kamu mau saya bisa membeli apa saja asal kamu bahagia" menyentuh dagu sang kekasih lalu sedikit mendongakkan kepala "Dunia ini pun bisa saya beli untuk kamu seorang"
Tiba tiba saja ucapan David membuat kebahagiaan Aira sedikit meredup (Aku tidak hanya ingin hidup bergelimang harta, tapi gue mau status yang jelas dalam hubungan ini. Kapan kamu mengerti apa yang ku inginkan?)
"Lho, sayang. Kamu kenapa? apa saya salah bicara atau kamu tidak begitu suka sama hadiah ini. Kalau begitu biar kita cari yang lain saja" Menggapai tangan sang kekasih.
"Bukan aku tidak suka sama hadiah ini. Tapi...." Ucapannya terhenti ketika pintu life terbuka lebar. Segera Aira menjauhkan diri dari David. Tapi sayangnya ada sepasang mata melihat ke arah mereka. Secara kebetulan Nyonya Nickolas baru saja keluar dari ruangan David ketika putranya tidak berada di tempat "Kalian?" Tentu saja beliau terkejut melihat mereka bermesraan "Apa apaan ini?" Jari telunjuk mengarah tepat ke wajah Aira "Dasar ya kamu pelakor. Pantas saja anak saya sudah berhari hari tidak pulang, ternyata kamu biar keladinya" Ketika sebuah tangan hendak melayang ke wajah Aira, seketika itu David menangkisnya "Stop! jangan pernah angkat tangan anda pada orang yang saya cintai"
"Apa? kamu bicara apa barusan?"
Aira hanya terdiam seribu bahasa. Hubungan gelap mereka selama ini akhirnya berbongkar sudah.
David tidak mau ada yang melihat pertengkaran mereka. Sigap ia menelepon seseorang untuk memblokir sementara ruang kerjanya.
David berjalan sambil menggenggam tangan Aira "Sudah saatnya dunia tau kebenarannya" lirih David seraya melihat wajah ketakutan Aira.
"Anda ikut saya" Titah David pada sang ibu. Rasa hormat seorang anak sirna kala kebahagiaan menjadi korban perjodohan.
"Cukup, David! mama tidak mengerti sama kamu. Bisa bisanya kamu selingkuh sama wanita tidak berpendidikan seperti dia (Tatapan kebencian terpancar dari mata sang ibu). Wanita rendahan beda kasta, tidak pantas masuk ke dalam keluarga kita"
Betapa sakit hati Aira di rendahkan sedemikian rupa. Tapi, mamang benar dia bersalah telah lama menjalin kisah dengan lelaki tanpa sebuah restu.
__ADS_1
"Sudah cukup anda mengatur kehidupan saya. Anda ingat beberapa bulan lalu, saya pernah membicarakan wanita yang ingin saya nikahi? dan dialah orangnya. Wanita ini hadir dalam hidup saya sebelum anda menjodohkan saya dengan wanita berpendidikan tapi saya tidak menyukainya, bahkan seujung kuku pun."
"Jadi dia wanita itu?" Menggeleng kepala sembari memperlihatkan ketidak sukaannya terhadap Aira "Dasar wanita murahan kamu" Mendekat perlahan kemudian
Plak....
Tamparan keras mendarat di wajah Aira. Sontak saja kotak perhiasan yang Aira genggam jatuh dan terbuka "Oh jadi itu yang kamu mau dari anak saya. Oke, kamu minta berapa? biar saya beri. Asal kamu lanyap dari kehidupan anak saya" mengeluarkan secarik kertas beserta pena dsri dalam tas mewahnya.
Sungguh tamparan menyakitkan luar dalam. Hati wanita mana tidak sakit jika harga diri di rendahkan oleh selembar kertas putih "Kamu bisa tulis berapa pun yang kamu mau, asal kamu pergi jauh dari kehidupan anak saya"
Aira berjongkok memungut perhiasan itu kembali dan juga mengambil cek yang di berikan Nyonya Nickolas "Maaf, saya tidak mengharapkan semua ini" Semua pembarian David beserta selembar cek ia kembalikan kepada Nyonya Nickolas "Saya tulus mencintai David, tanpa pamrih sedikit pun"
"Halah....omong kosong. Kamu kira saya ini bodoh? wanita seperti kamu ini pasti mengincar harta anak saya, bukan? nggak usah nyangkal. Dasar pelakor"
David mulai tidak terima dengan kata kata sang ibu "Stop! sudah cukup anda bicara. Sekarang silahkan keluar dari ruangan saya"
Entah kenapa tiba tiba saja Aira merasa pusing dan sedikit mual sehingga dia menutup mulut dan memegang perut. Segera ia berlari ke arah kamar mandi "Huek......"
"Sayang, kamu kenapa?"
"Lebay emang wanita itu. Pasti dia itu lagi acting. Emang dia iti sengaja sok muntah nanti bilangnya masuk angin biar dapat simpati dari kamu. Emang dasar palakor murahan" Nyonya Nickolas terus saja mengeluarkan kalimat hinaan kepada Aira.
"Anda bisa diam tidak? atau anda boleh keluar sekarang juga" David marah besar sampai menyeret sang ibu keluar dari ruangan.
"Hey, apa apaan kamu ini. Hanya demi wanita murahan itu sampai kamu tega memperlakukan mama seperti ini. Dasar anak durhaka kamu"
David semakin mengeratkan genggaman tangan "Sudah cukup anda bicara hari ini. Pergi dari sini sebelum emosi saya meledak"
"Aw....sakit Vid. Tangan mama sakit" Merintih keskitan kala David mencengkeram tangannya dengan sangat kuat.
"Sebaiknya anda pulang saja. Urus menantu kesayangan anda itu...." Setelah mengeluarkan sang ibu dari ruangan, ia pun kembali ke dalam.
"Dasar anak tidak tau di untung. Awas kamu mama aduin sama papa"
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian, Aira keluar dari kamar mandi "Sayang, kamu kenapa? kita ke rumah sakit yuk" Wajah Aira nampak pucat pasuh. Dan tiba tiba saja dia jatuh pingsan "Sayang, kaamu kenapa? bangun, jangam buat saya cemas...." tanpa tunggu lama David menelepon ambulance. Setelah beberapa saat ia memapah Aira keluar ruangan.
"Lho Pak, bu Aira kenapa?" Salah satu pegawai bertanya pada David kala melihat Aira tidak sadarkan diri.
"Tidak usah banyak tanya, bantu saya" Ketus David sembari berlari kecil memapah Aira.
"Eh itu bu Aira kenapa ya? bukannya tadi masih baik baik saja, kok sekarang jadi kaya begitu...." Beberapa orang berkumpul melihat ke arah pintu keluar.
"Beruntung sekali ya jadi bu Aira. Udah cantik di sayang pak bos lagi" Celetuk salah satu karyawan.
"Kalau menurut gue nih pasti mereka itu ada susuatu" Desas desus perselingkuhan mulai tercium oleh mereka.
"Pasti mereka itu selingkuh. Sekarang mana mungkin bos begitu oerhatian sama bawahannya, iya nggak sih?"
"Benar kata kamu. Kemarin saja si Bagus minta ijin pulang karena nggak enak badan, eh malah si bos bilang besok nggak usah masuk sekalian hari ini ambil gaji terakhir. Tapi ini malah beda kalau sama bu Aira. Udah jelas banget mereka itu pasti ada main"
"Kasihan bu Dian, udah cantik baik hati masih aja di selingkuhin"
"Ayo cepat bantu saya" Karena terlalu la menunggu ambulance tak kunjung datang, akhirnya David membawa Aira ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil pribadinya "Kamu yang nyetir, biar saya di belakang jaga dia" Titah David pada seorang pria yang tadi membantunya.
"Baik, pak" segera mereka menuju runah sakit terdekat.
"Sayang, bangun. Jangan buat saya khawatir seperti ini" Menghuyung badan Aira berulang kali tapi tidak ada respon.
"Sayang? apa gue salah dengar?" Lirih pria tadi.
"Ayo jalan. Malah bengong" bentak David.
"Oh, iya pak. Maaf" Segera mobil melaju ke rumah skait terdekat.
"Lebih cepat lagi...."
"Tapi, pak...."
__ADS_1
"Nggak usah tapi tapian. Saya tidak mau terjadi apa apa dengannya" Kecemasan terlihat jelas di wajah David.