Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Part 36 - Honeymoon


__ADS_3

Seperti janjinya, Wirra kembali mengunjungi Anna. Pria itu bahkan sudah tiba di sana tepat pukul 10:00 WIB. Anna pun begitu terkejut karenanya. Untung saja wanita itu meminta sang asisten rumah tangga untuk datang di sore hari. Karena kemarin dirinya tak sanggup lagi membersihkan bekas makan siang mereka sebab Wirra membuatnya terlalu lelah.


“Mas, kok cepat sekali datangnya?” tanya Anna heran.


Wirra tak langsung menjawabnya. Pria itu mendekap sang istri terlebih dulu, “kangen,” bisiknya. Anna kembali tersipu mendengarnya.


“Tapi aku belum selesai masak. Aku bahkan baru ingin mulai memasak,” jawab Anna.


Wirra pun melepaskan dekapannya dan menutup pintu rumah, lalu berjalan ke balik tubuh Anna dan mendekap wanita itu dari belakang.


“Biar aku bantu,” lirih Wirra.


Sembari memeluk Anna dari belakang, Wirra menggiring wanita itu menuju dapur. Sembari tersipu-sipu Anna menyesuaikan langkahnya dengan desakan Wirra dari belakang tubuhnya.


Anna merasa begitu berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Sang suami tak pernah bersikap begitu romantis seperti ini padanya. Ini adalah kali pertama.


Anna bahkan merasa jika mereka tengah dalam masa berbulan madu.


Anna tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika mereka tiba di meja makan. “Mas tunggu di sini saja. Biar aku saja yang memasak. Aku sudah siapkan bahan-bahannya dari tadi malam. Aku masak tidak akan lama kok,” ucap Anna. Tapi Wirra yang tengah dimabukkan oleh cinta sang istri pertama, tentu saja tak menuruti perintah itu.


Wirra kembali menggiring Anna menuju dapur.


“Bagaimana aku mau memasak jika Mas peluk terus seperti ini?” keluh Anna begitu mereka tiba di dapur.


Namun Wirra masih tak mau melepaskan pelukannya. Pria itu malah memberikan sebuah kecupan tepat di leher Anna. Anna pun kembali tersipu. Memasak bersama suami yang dicintainya juga merupakan salah satu impiannya. Memasak bersama disertai canda tawa dan kecupan mesra.


Jantung Anna berdetak lebih kencang hanya dengan membayangkan saja.


Namun, impian Anna tampaknya tak akan menjadi kenyataan. Alih-alih akan membantu Anna memasak, pria itu malah menyusupkan tangannya ke balik daster yang dikenakan Anna.

__ADS_1


Mata Anna membulat saat jemari Wirra perlahan-lahan merayap ke pangkal pahanya. Dan mulut Anna seketika menganga kala jemari nakal pria itu pun mulai membelai celah lembut miliknya hingga membuat Anna tak berdaya.


Dan Anna semakin tak berdaya saat jemari-jemari itu mulai memasuki tubuhnya dan menari-nari di dalam sana sampai tubuh Anna menggelinjang.


Padahal acara masak memasak tak jadi dilakukan. Kompor pun belum dinyalakan. Tapi udara di dapur terasa sangat panas.


Udara pun semakin terasa panas.


Pagi itu, Wirra menelungkupkan sebagian tubuh Anna di atas meja makan. Saat sang istri sudah menggapai sisi-sisi meja makan dan menggenggamnya dengar erat, Wirra pun mulai menunggangi Anna sampai dirinya merasa puas.


Dan hari-hari berikutnya, Wirra dan Anna kembali melakukannya lagi dan lagi. Hari kerja menjadi hari yang dinantikan oleh Wirra karena dia dapat mengeksplorasi Anna.


Hal itu mengakibatkan Wirra kerap pulang terlambat. Meyta tentu saja merasa kesal karenanya.


“Kerjaan aku sangat banyak, Mey.”


“Kan bisa pekerjaannya di bawa pulang ke rumah. Sewaktu aku hamil, kamu bisa tuh bawa pulang pekerjaan ke rumah. Kenapa sekarang tidak bisa?!” ketus Meyta.


Belakangan, Wirra memang kerap membandingkan Anna dan Meyta. Terkadang, pria itu juga sering merasa menyesal karena telah menduakan Anna. Andai dirinya berbicara terbuka pada sang istri tentang keinginannya yang liar, tentu dia bisa membuka hati pada Anna dan tak lagi mengingat cintanya pada Meyta.


Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Memiliki dua istri sudah menjadi jalan hidupnya, sekarang.


“Aku tidak ingin memikirkan urusan pekerjaan lagi kalau di rumah. Aku ini fokus pada Arkana,” jawab Wirra enggan.


Meyta tentu saja tak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh sang suami. Meyta merasa ada yang mengganjal di hatinya. Perasaannya tak tenang. Wanita itu curiga jika Wirra pulang terlambat karena mengunjungi Anna sebelum kembali.


“Kamu pulang terlambat bukan karena mampir ke rumah wanita itu kan?!” ketus Meyta. Dahi Wirra berkerut. Wirra yang tadinya tengah menggendong sang anak, seketika meletakkan kembali Arkana ke dalam box bayi.


“Wanita itu?” tanya Wirra dengan dahi berkerut. “Maksud kamu Anna?”

__ADS_1


Meyta mendengus kesal. Wanita itu memang selalu kesal setiap Wirra menyebutkan nama madunya itu.


“Wanita mana lagi? Ya sudah pasti dia wanita yang aku maksud. Memangnya kamu ada wanita lain lagi?!”


Wirra menghela napas panjang. Pria itu bahkan memijat pelipisnya karena merasa pusing melihat tingkah laku Meyta. Wanita itu bukan seperti wanita yang dulu dikenalnya. Semakin lama, sikap Meyta semakin buruk. Wanita itu bertambah egois dari hari ke hari.


Namun, Wirra tak bisa memungkiri, walau kerap merasa kesal, Meyta masih menempati tempat tersendiri di hatinya. Terlebih wanita itu telah memberinya seorang penerus.


Wirra melangkah menghampiri Meyta dan menggenggam jemari wanita itu. “Tidak akan pernah ada wanita lain, Mey,” ucap Wirra seraya menatap lembut pada netra kecoklatan milik Meyta.


“Dan aku mohon, jangan memanggil Anna dengan sebutan wanita itu. Dia itu istri pertamaku. Tanpa izin darinya, pernikahan kita tidak akan pernah diakui negara. Tolong berikan sedikit rasa hormat padanya,” lirih Wirra.


Deg!


Meyta merasakan dadanya sedikit sesak. “Kamu mencintai dia, Wir?” tanya Meyta dengan bibir bergetar.


“Dia juga istriku, Mey.”


Walau Wirra tak berbicara secara gamblang, namun, dari ucapan pria itu tersirat dengan jelas, bahwa Wirra mencintai Anna.


Tapi sejak kapan? Bukankah hanya dirinya wanita yang dicintai Wirra? Pria itu bahkan berulang kali menyatakan jika dia tak pernah mencintai Anna.


Wirra berubah sejak wanita itu jatuh sakit. Dia tidak pernah menjawab panggilan telepon ataupun video sejak mengurusi sewaktu wanita itu sakit!


Meyta merasa geram. Wanita itu menghempaskan tangan Wirra. Meyta merasa semua pengorbanan yang dia lakukan menjadi sia-sia.


Harusnya dia tak perlu menuruti kemauan Wirra untuk berhenti bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Harusnya dia tak perlu memberikan Wirra seorang keturunan. Harusnya dia tak menerima lamaran pria itu sebelum Wirra menceraikan Anna.


Meyta menyesalinya.

__ADS_1


Padahal, sewaktu menerima lamaran Wirra, Meyta begitu percaya diri jika pria itu akan segera melepaskan istri pertamanya setelah mereka menikah. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Wirra malah jatuh cinta pada istri pertama itu.


Meyta merasa dikhianati sang suami.


__ADS_2