Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Ajakan pulang.


__ADS_3

Anniyah_PoV


" Amii,, Ayo Ami kita ke rumah Nenek, Zia kangen Nenek." Sudah hampir setengah jam Zia terus saja merengek padaku ingin berkunjung ke rumah orangtuaku.


Bukannya aku tidak ingin mengantarkannya, hanya saja hari sudah sore. Entah ada apa dengan Zia yang tiba tiba terus memaksa ingin kesana.


Jika saja siang tadi dia mengatakannya padaku, sudah pasti aku tidak akan berpikir dua kali, terlebih besok adalah hari minggu, bisa menginap sekalian disana dan juga aku bisa meminjam motor Totok.


Dan lihatlah sekarang aku di buat pusing sendiri oleh putri sulungku. Ku lirik Zaheera yang sedari tadi hanya diam saja sembari melihat Kakaknya yang terus saja merengek.


Sedangkan Zefa sudah terlelap didalam gendonganku tanpa terganggu sama sekali dengan suara berisik dari Kakaknya.


Aku menghela nafas panjang lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan. " Baiklah, tapi janji ya nurut apa kata Ami nanti saat kita di jalan." Tegasku.


Dan ya pada akhirnya aku pun menuruti permintaannya itu, daripada terus mendengar rengekannya yang tentu saja membuat kepalaku sakit.


" Baiklah Ami, Zia mau ganti baju dulu dan bersiap ayo Dek." Zia melangkah masuk ke dalam kamar menggandeng Adiknya, bisa ku lihat binar wajahnya yang terlihat sangat bersemangat dan juga senang sekali.


Tak lama kami pun sudah dalam perjalanan menuju desa kedua orangtuaku, ya walau jaraknya sedikit jauh tapi kedua anakku terlihat bersemangat sekali sambil bergandengan tangan.


Mungkin sekitar setengah jam kami baru akan sampai disana sebab kami memutuskan untuk berjalan kaki.


" Ami di belakang kita ada siapa?" Tiba tiba Zaheera bertanya padaku saat kami sudah hampir memasuki gapura kampung halamanku.


Seketika aku menoleh kebelakang untuk melihat dan memastikannya, namun tidak ada siapapun di belakang kami. Siapa yang di maksud Zaheera?


" Nggak ada siapa siapa sayang, memangnya Zaheera melihat apa, heum?" Aku mencoba berpikir positif, aku tahu putri keduaku ini memiliki kelebihan. Seketika bulu kudukku meremang sekujur tubuhku.


Aku semakin mempercepat langkahku sembari menggandeng kedua putriku, sebab sebentar lagi Adzan Maghrib berkumandang. Untung Zefa masih terlelap dalam gendonganku.


Begitu sampai di rumah Ibu, aku mengajak anak anak untuk membasuh kedua kaki dan juga muka kami. Lalu setelahnya baru masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


" Assalamualaikum,, " Seru kami bersamaan sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu aku menutup pintu depan.


" Wa'alaikumusalam.. Lho cucu cucu Nenek pada datang toch, sini sini gendong, Nenek kangen sekali." Ibu baru datang dari belakang dengan Erika, aku pun memberikan Zefa padanya yang baru bangun mengeliat.


" Nenek aku juga minta gendong.. " Rengek Zaheera yang merebutkan Neneknya.


" Zaheera mau gendong jugabaiklah gantian ya, tapi sekarang main dulu sama Adek Erika. Zia mau di gendong Nenek juga?" Lalu pandangan kami mengarah pada Zia yang entah sejak kapan sudah duduk berdua bersama Erika di karpet bawah depan televisi dan mulai ikutan bermain.


Mendengar pertanyaan dari Neneknya, seketika membuat putriku Zia langsung menoleh ke arahnya." Tidak Nenek, Zia kan sudah besar, malu kalau masih di gendong." Jawabnya yang sok sudah dewasa sekali.


" Wah, cucu Nenek ternyata sudah besar ya, semoga menjadi anak yabg sholehah ya, Aamiin.." Ibu menatap bangga dan juga kagum pada cucu pertamanya itu.


" Aamiin.." Sahut kami semua.


" Bapak dimana Bu? Kok nggak kelihatan?" Aku baru saja kembali dari belakang, berniat mencari Bapak tapi tidak kutemukan dimanapun berada.


" Baru saja berangkat ke Mushola Nduk, kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi kemarin di rumahmu? Apa kamu di ganggu terus sama para penunggu disana? Coba sini cerita ke Ibu, jangan ada yang di tutup tutupin."


Aku masih bergeming, bingung juga mau mulai dari mana. Aku takut nanti Ibu menyuruhku untuk kembali pulang, sementara aku sudah berniat sekali ingin pergi dari rumah ini agar tidak terusan di omeli Ibu. Terlepas dari apa yang terjadi aku memang ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilku.


" Nduk gimana kalau kamu pulang saja kesini." Tuh 'kan benar, baru saja aku pikirkan. " Bapak dan Ibu ada rencana bulan depan insya Allah mau membangun rumah ini. Di kamar dan juga di dapur atapnya sudah rusak parah, dari pada di ganti lebih baik kan di bangun saja sekalian." Jelas Ibuku seraya menatapku.


Sedangkan aku masih bergeming, tak tahu harus menjawab apa.' Gimana Nduk? Kalau kamu mau, kita bangun rumah bergandengan saja kembar gitu." Tambah Ibuku yang nampak sekali berharap padaku.


Mendengar usulan Ibuku bahwa rumahnya di bangun kembar membuatku seketika bimbang. Itu berarti rumah kami sendiri nanti, hanya saja menyatu di tengah tengahnya.


" Anniyah sih ingin Bu kalau di bangunnya seperti itu, jadi Niyah tetap bisa belajar mandiri 'kan? Tapi Niyah harus rundingan dulu sama Bang Aziz Bu." Tentu saja aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri.


" Ya sudah baiklah, sana sholat dulu gantian. Biar anak anak Ibu yang jagain. Eh ya kalian tadi kesini jalan kaki?" Ibu bangkit dan berjalan ke arah karpet dan ikutan duduk disana.


" Iya Bu, benar. Ya mau gimana lagi Zia merengek mau main kesini. Ya sudah, toch besok hari libur dia sekolah." Aku berjalan menuju ke belakang meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


Setelah menunaikan holat Magrib, aku menyuapi ketiga putriku, tak lama terdengar suara Bapak yang baru pulang dari Mushola.


" Wa'alaikumusalam.. " Jawab kami serentak menoleh ke arah pintu.


" Wah cucu cucu Kakek ada di rumah ternyata. Ayo siapa yang mau gendong?" Mendengar itu Zaheera dan Erika langsung berhambur ke arah Kakeknya.


" Kakeeek...."


" Kakek dari mana, kenapa Zaheera tidak di ajak sih?" Todong Zaheera yang langsung memprotes dengan lucunya.


" Maaf ya sayang, Kakek pulang dari Mushola cantik." Bapak mencoba menjelaskan pada Zaheera yang sedang merajuk. Kalau Zia adalah kesayangan Neneknya, Zaheera adalah kesayangan Kakeknya.


" Oh Kakek habis sholat di Mushola ya. Ya udah nggak apa apa, tapi besok besok Zaheera ikut ya Kek." Celoteh bocah itu kembali.


" Tentu saja Kakek akan mengajak Zaheera, Erika dan juga Kakak Zia. Ayo habiskan dulu makanan kalian." Bapak langsung menggendong keduanya kembali ke karpet.


Beberapa saat kemudian kami bersiap untuk tidur karena malam semakin larut, aku beranjak akan berjalan ke arah kamar meletakkan Zefa yang sudah terlelap.


Namun belum juga sampai kamar, ucapan Zia membuat langkahku berhenti." Zia mau tidur sama Nenek Ami, boleh?"


" Iya Zaheera juga Ami." Sahut Zaheera ikut ikutan.


Aku pun berjalan kembali ke arah mereka." Nenek pasti lelah sayang, besok saja ya." Bujukku, aku tahu pasti Ibu lelah membantu Bapak dan juga mengasuh Erika yang sangat aktif.


" Nggak apa apa, kalau begitu biar Bapak tidur di kamarmu saja Nduk kalian semua bisa tidur bersama." Itu Bapak yang langsung menjawabnya.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2