
Aziz_PoV
*
Aku baru terjaga dari tidur panjangku, namun tak kudengar suara Adzan berkumandang, entah pukul berapa sekarang ini. Rasa sakit di kepalaku juga masih sangat terasa, aku segera beringsut duduk sembari mengedarkan pandangan, dan tak lama aku sangat terkejut bahkan jantungku seakan lepas dari penyangganya saat melihat pemandangan yang ada di hadapanku ini.
" Astagfirullah..!!!" Teriakku secara spontan dan secara tidak langsung telah membangunkan seseorang yang masih terlelap di sampingku. Yang mulai ikut terjaga, dan begitu pandangan kami bertemu, ia pun tak kalah terkejutnya denganku.
" Bang! Apa yang kamu lakukan disini, di kamarku!!" Teriaknya yang lebih keras dariku. Ia segera menutupi tubuhnya yang entah di balik selimut itu masih mengenakan pakaian atau tidak.
Sungguh rasanya jiwaku tercabut dari ragaku saat ini, aku langsung tersadar dan semakin frustasi saat melihat tubuhku dalam keadaan polos hanya memakai cellana dalam saja di balik selimut tebal ini.
Aku segera menyingkap selimut dan tergesa turun dari ranjang, bisa kulihat pakaianku yang tergeletak di bawah lantai sana. Aku juga dengar Nikmah yang tengah menangis saat ini. Sungguh aku masih belum bisa berpikir jernih, apa yang telah terjadi malam tadi.
" Astagfirullah apa yang terjadi? Apa yang telah kita lakukan semalam?" Bukan jawaban yang keluar dari mulutku, melainkan aku justru melontarkan pertanyaan balik kepadanya.
" Seharusnya aku yang bertanya itu Bang, bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku, dan,, Dan dalam keadaan kamu yang seperti ini, Ya Allah..." Lirihnnya yang terlihat juga sama frustasinya sama denganku.
" A-aku sungguh tidak ingat. Aku tidak ingat sama sekali demi Allah.. " Lirihku dengan tak kalah bingungnya.
" Tapi kenyataannya, lihatlah Bang apa yang sudah kamu lakukan padaku?!" Teriaknya panik seraya kembali terisak.
" Tapi aku tidak melakukan apapun padamu Nikmah! Ini salah, ini seharusnya tidak terjadi lagi pada kita!" Bentakku yang tanpa sadar sudah berteriak kencang. Aku dengan terburu kembali memakai pakaianku yang tercecer di lantai kamar.
YA ALLAH,, SEBENARNYA APA YANG SUDAH TERJADI???
Malam tadi terakhir yang aku ingat, aku sudah akan pulang. Namun kepalaku tiba-tiba sakit lalu ada seseorang yang memanggilku, aku tidak tahu siapa itu sebab suaranya terdengar samar-samar.. Lalu setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi..
Disaat kami berdua masih dalam keadaan sama-sama panik juga bingung, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar, dan muncullah Neng Atin dan juga Abah...
Ya Allah duniaku seakan runtuh seketika, aku semakin panik juga bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Dan lihatlah keluargaku sendiri yang telah memergoki kami yang sedang berduaan di dalam ruangan yang sama dan dalam keadaan sangat kacau balau.
" Ya Allah! Apa yang terjadi disini!" Teriak Neng Atin tiba-tiba dengan wajah yang terlihat sangat kaget melihat keadaan kami berdua.
__ADS_1
" Ya Allah, Aziz! Ada apa ini? Apa yang terjadi? Dan kamu apa yang lakukan disini! " Bentak Abah tak kalah terkejutnya dari Neng Atin.
Aku berjalan menghampiri Abah dan Neng Atin yang masih berdiri terpaku di ambang pintu setelah selesai memakai pakaianku kembali. Terlihat wajah Abah tegang dan menatapku nyalang layaknya melihat maling yang tertangkap basah telah mencuri barang miliknya.
" Abah, Neng Atin! I-ini semua tidak seperti yang kalian lihat dan pikirkan. Sungguh kami tidak melakukan apapun disini, percaya padaku. Aziz berani besumpah Bah.!!" Seruku yang mencoba menjelaskan agar Abah dan Neng Atin tidak salah paham dengan ini semua.
" Neng, lihatlah apa yang sudah Adikmu lakukan padaku, hiks..!" Adu Nikmah yang kembali menangis di hadapan kami bertiga.
" Tidak! Ini semua tidak benar!" Ujarku berusaha membela diri.
" Ziz kamu diam dulu!" Bentak Neng Atin menatapku tajam.
Dan kini Neng Atin berjalan mendekati Nikmah yang masih setia di atas ranjang tanpa ingin berrepot-repot beranjak dari sana. Keduanya langsung berpelukan erat layaknya Adik dan Kakak, tangis Nikmah juga semakin menjadi dalam pelukan Neng Atin.
" Sudah jangan menangis lagi, nanti bagaimana kalau anak-anak dengar!" Ujar Neng Atin mencoba menenangkan Nikmah, dan memberinya pengertian.
Entah mengapa aku justru menahan rasa kesal melihat Nikmah, sudah seperti gadis remaja saja yang baru di leceehkan, heran sekali dengannya! Emosiku benar-benar sedang di uji saat ini.
" Neng, Bah. Tolong percaya padaku, Aziz berani bersumpah tidak melakukan hal sekeji itu.!!" Ujarku kembali saat semuanya terfokus ke arah Nikmah.
Plaakk!!..
Bukan pembelaan yang aku dengar dari keluargaku sendiri melainkan tamparan keras di sebelah pipiku. Ya Neng Atin-lah yang melakukannya, aku tidak menyangka Nengku sendiri menamparku alih-alih mendengarkan dulu penjelasan dariku, namun seolah ia membenarkan kejadian memalukan tersebut, yang bahkan aku sama sekali tidak mengingatnya.
" Neng, kenapa kamu menamparku?" Protesku menatap nanar ke arahnya, lalu beralih menatap Abah yang sedari tadi terdiam melihat kami.
" Karena kamu pantas mendapatkannya, dan Mbak ingin kamu bertanggung jawab." Serunya yang membuatku mengkerutkan kening bingung.
" Tanggung jawab!? Apa yang harus aku pertanggung jawabkan, sedangkan aku sama sekali tidak melakukan apapun padanya Neng! Bah, tolong percaya pada Aziz. Aziz sungguh tidak melakukannya!" Ujarku yang terus mengiba, berharap mereka berdua percaya padaku.
" Kamu—
Belum sempat Abah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba beliau meringis sembari memegang d**anya sendiri, dan itu membuatku sangat terkejut juga panik. Aku segera memegangi tubuh rentanya, membawanya duduk di sofa di dalam kamar ini.
__ADS_1
" Abaahh!! Ya Allah Abah kenapa?" Teriaku begitu panik, membuat Neng Atin juga langsung menghampiri kami berdua.
" Bah, Abah kenapa.?" Teriak Neng Atin tak kalah paniknya denganku. " Aku akan panggil Ali di kamarnya." Lanjutnya yang langsung melenggang pergi.
Sementara dari ekor mataku, aku bisa melihat Nikmah yang berjalan menuju kamar mandi, mungkin dia mau berganti pakaian. Kenapa baru sekarang dia bergerak, huh! Aku terus saja menghela napas panjang.
Hingga tak lama Neng Atin masuk kembali ke dalam kamar bersama dengan pemuda yang bernama Ali supirnya Kak Arga.
" Ayo kita bawa Abah ke rumah sakit saja sekarang, buruan Ziz!" Bentaknya saat aku masih mengamati apa yang Nikmah lakukan di dalam sana, kenapa lama sekali tidak kunjung keluar.
" Oh, iya ayo Neng."
" Tolong dibantu Ali." Titahnya ke arah pemuda itu.
Aku dan Ali bergegas membawa Abah keluar rumah dan memasukannya ke dalam mobil. Ya Allah hari sudah semakin terang, aku bahkan belum sempat beribadah tadi. Namun keadaan Abah yang seperti sekarang juga tidak mungkin aku tinggal begitu saja.
Lebih baik aku segera pergi membawa Abah ke rumah sakit sekarang, barulah nanti aku beribadah disana. " Biar saya saja yang menyetirnya Gus." Ujar Ali menyadarkanku dari lamunan.
" Ya biar Ali saja, nanti kamu tidak fokus nyetirnya." Timpal Neng Atin membenarkan.
Kami bertiga pun segera menuju ke rumah sakit terdekat, aku ikut mengusap d**a Abah, yang entah kenapa? Ap mungkin jantungnya bermasalah?
Ya Allah lindungi Abahku..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.