
Anniyah_PoV
*
Tak lama setelah kepulangan Ibu dan Bapak, aku segera mengajak anak-anak untuk istirahat karena memang malam semakin larut. Zefa si kecil yang sudah lebih dulu bermimpi, dan tak menunggu lama kedua Kakaknya pun juga sudah ikut terlelap.
Sedangkan aku, sedari tadi mataku sama sekali belum mau terpejam, bukan karena apa, aku terus kepikiran dengan cerita Totok tadi yang mengatakan dirinya mengalami kejadian aneh di dapur.
Pantas saja dia seperti orang yang mau manjat ke tumpukan kayu bakar, ternyata dia berusaha turun dari sana.
Tapi apa iya barang begituan bisa berbuat yang sedemikian rupa? Namun tidak ada yang tidak mungkin bukan di dunia ini.
Saat aku hampir saja masuk ke alam mimpi, aku terkejut dan tubuhku seketika tersentak saat mendengar suara pintu pagar samping rumah seperti ada yang membukanya walaupun suaranya begitu pelan tapi, tetap saja kedengeran jika malam hari apalagi tengah malam begini.
Aku tak langsung duduk karena jujur saja aku sedikit merasa ketakutan, gelisah dan juga waspada. Tak lama di susul dengan suara ketukan terdengar dari samping rumah, dan aku sama sekali tidak menyahut atau pun merespon hanya diam pura-pura tidur tidak mendengar.
Hingga tiba-tiba terdengar suara Zia putriku yang kembali mengejutkanku." Ami itu Abi datang kenapa tidak di bukakan pintunya?" Tangannya mengucek sebelah matanya, sembari duduk menatapku heran.
" Sstttt,,, itu bukan Abi sayang. Sudah kamu tidur lagi saja ya, besok sekolah lho." Sahutku yang justru memintanya untuk tidur kembali.
" Tapi itu beneran Abi Ami, coba Ami_
" Assalamualaikum..."
Ucapan Zia langsung terpotong saat ada suara seseorang yang mengucapkan salam dari samping rumah di barengi dengan suara ketukan kembali. Dan tentunya suara itu terdengar tidak asing di telinga kami berdua
" Tuh kan, itu suara Abi Ami. Wa'alaikumsalam Abiii..." Zia langsung menyahut dengan suara agak sedikit keras sembari beringsut bangun ingin turun dari atas ranjang, namun segera aku tahan.
__ADS_1
" Jangan turun sayang. Sudah Zia tunggu di sini saja, biar Ami yang ke belakang bukain pintu buat Abi. Suaranya juga di kecilin ini masih malam." Ucapku mengingatkan juga memintanya tetap berada di atas ranjang, dan Zia pun mengangguk mengerti.
Aku segera berjalan ke arah dapur dan membuka pintu samping, dan terlihatlah suamiku sudah berdiri di depan pintu sembari tersenyum, mengucapkan salam kembali, yang langsung aku jawab dan mencium punggung itangan kanannya.
" Kok malam banget pulangnya Bi?" Tanyaku seraya membawakan barang bawaannya yang telah di sodorkan padaku. Kulihat suamiku sepertinya baru saja dari kamar mandi untuk membasuh muka, tangan dan juga kakinya.
" Iya maaf Abang lupa ngabarin kalau tadi sore mampir dulu ke rumah Neng Delisha karena 'kan hari ini ada acara peringatan kematian Abah dan Cacak yang di selenggarakan bersamaan disana tadi. Itu Abang bawain makanan untuk kalian semua, anak-anak pasti sudah pada tidur ya, kamu makan saja sayang, tadi seperti mendengar ada suara Zia sayang?" Sahutnya sembari memasukkan motornya ke dapur.
" Iya tadi Zia kebangun saat Abang datang. Jadi hari ini acara peringatan Abah dan Cacak ya? Maaf aku belum bisa bantu-bantu disana Bang. Dan ini banyak sekali Bang makanannya, di simpan saja buat besok ya, tadi aku sudah makan banyak sama Bapak dan Ibu." Ujarku sembari membuatkan minuman hangat untuk suamiku.
" Sudah nggak usah di pikirin soal itu, kamu juga pasti sangat kerepotan mengurus anak-anak di rumah. Tadi Bapak dan Ibu datang kesini? Pantes kayu bakarnya menumpuk banyak sekali, pasti merepotkan Bapak dan Ibu jadinya bawa-bawa kayu dari rumah kesini." Ucapnya yang merasa tidak enak pada kedua orantuaku.
" Ya wajarlah, mereka kan kedua orangtuaku Bang, pasti kepikiran pada anaknya, ini di minum dulu tehnya." Ucapku sembari menyodorkan segelas air garam hangat seperti biasa.
" Terima kasih sayang. Maaf ya Abang baru bisa pulang sekarang karena banyak sekali pesanan barang orang saat di luar kota, jadi Abang baru pulang pagi tadi, maaf juga karena tidak bisa menemani kamu setiap hari di rumah." Sesalnya sembari memelukku setelah meletakkan gelas di meja.
" Aamiin, terima kasih sayang doa-doamulah yang selalu aku harapkan. Oh iya gimana kondisi Zia, katanya habis kesrempet mobil di depan sekolahnya?" Tanyanya yang terlihat penasaran.
Ku ajak ia masuk ke dalam kamar agar melihat sendiri kondisi putrinya, dan ternyata saat kami berdua masuk, Zia langsung menoleh ke arah pintu dan segera beranjak bangun dari tidurnya. Ternyata dia tak langsung tidur kembali, mungkin menunggu Abinya.
" Abi, Zia kangen sama Abi.." Ucapnya pelan karena mungkin takut mengganggu tidur kedua Adik-adiknya.
" Hei sayang, Abi juga kangen sekali sama putri besar Abi ini. Gimana kakinya sayang, sudah baikan belum?" Tanya Abinya sembari mendudukkan Zia di atas ranjang dengan pelan-pelan.
" Alhamdulillah sudah sembuh Abi, Zia juga sudah bisa pergi ke sekolah. Abi bawa oleh-oleh apa?" Tanya Zia dengan antusiasnya namun tetap dengan suara yang pelan.
" Abi tadi bawa kue yang banyak, Zia mau memakannya sekarang?"
__ADS_1
" Mau Abi." Tanpa menunda lagi aku segera beranjak ke dapur untuk mengambilkan kue yang suamiku bawa tadi.
Setelah mencicipi beberapa kue, aku pum menyuruh Zia untuk kembali tidur karena hari masih gelap, takut besok dia mengantuk saat di sekolahnya, Zia pun langsung menurut dan kembali berbaring di samping Adiknya Zefa.
Setelah memastikan Zia benar-benar terlelap, dan ketiganya merasa aman. Kami berdua pun beralih ke ranjang depannya yang biasa di tiduri Zia dan Zaheera, berbaring berdampingan bersama saling memeluk melepas rindu.
" Sayang kamu kenapa? Kok sepertinya sedikit gelisah begitu? Ada apa, ada masalah apa. Coba ceritakan ke Abi." Pintanya yang sepertinya sedikit peka dengan apa yang tengah aku rasakan.
Aku pun menceritakan kejadian yang menimpa Totok tadi di dapur, dan aku juga mengatakan jika kami sudah memagari rumah ini kembali karena memang sering di ganggu oleh barang-barang yang tak kasat mata.
" Astaghfirullah, kok sampai segitunya ya, kasihan Totok. Perasaan saat Abi datang tadi sepi aman-aman saja, tidak ada tanda-tanda mereka muncul atau untuk mengganggu. Kalau hanya menganggu biasa, biarkan saja. Tapi ini sudah kelewatan sekali mereka, padahal kita disini tidak ada niatan kita untuk mengganggu mereka, tetapi justru mereka yang mengganggu kita. Kalau kamu merasa tidak nyaman tinggal disini, apa sebaiknya kita pindah rumah saja sayang?" Ujarnya ikutan cemas sembari mengusap puncak kepalaku.
" Ya Allah Bi, bukan apa. Aku terlalu capek jika kita harus pindah rumah lagi, padahal kita baru menempati rumah ini belum ada sebulan, masa sudah mau pindah lagi. Tunggu saja lah bagaimana setelah ini, jujur aku meeasa nyaman sebenarnya tinggal disini, hanya gangguan itu saja yang membuatku kepikiran." Sahutku tidak menurutinya.
" Ya sudahlah, sebaiknya kita tidur. Apa Ami mau beribadah lebih dulu agar tidurnya nyenyak, sudah hampir dua minggu lho kita tidak bertemu." Ujarnya yang ketara sekali menggodaku.
" Abi nih besok kan bisa, Abi baru pulang lho apa nggak capek. Ami yang di rumah saja capek ini, sudah sebaiknya kita istirahat saja." Usulku yang tidak merespon godaannya.
" Ya sudah kalau gitu Ami diam saja, biar Abi yang bekerja keras. Abi tuh sangat merindukan Ami, apalagi sama ini." Rayunya seraya meremas barang favoritnya, yang tentunya membuatku menahan nafas di buatnya.
Kalau sudah begini, aku pun hanya bisa pasrah menurutunya, apalagi saat kedua tangan kekarnya mulai bekerja aktif menjelajahi seluruh tubuh yang berpasrah ini.
~tbc
Maaf ya baru up, harap memaklumi bumil muda ini. Terima kasih yang sudah berkenan menunggu cerita up selanjutnya...
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.