
Najwa_PoV
*
Setelah mendengar penjelasan dari Mas Anton aku semakin was-was, tak di sangka ternyata Bapak mertuaku sebelumnya sudah memiliki tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan yang hingga saat ini belum menikah.
Aku harus bergerak cepat, sebelum semuanya di miliki oleh saudara Mas Anton yang lain. Jika memang suamiku sudah tidak mau tinggal di kota lagi dan akan menetap di kampung halamannya ini, kamu harus mempunyai rumah sendiri, aku juga tidak mau satu rumah dengan mertua, yang banyak orang bilang mertua itu jahat, tidak adil kepada kita yang hanya anak menantunya di rumah.
Ya aku harus bisa berbicara dan membujuk Mas Anton untuk pindah rumah, atau kalau tidak kami tinggal di rumah Nenek saja, biarkan Anniyah yang tinggal bersama Ibunya. Sebab rumah Nenek jauh lebih besar dan lebih luas di bandingkan rumah mertuaku yang kami tinggali ini.
Kami juga tidak mungkin kembali ke desaku, di samping aku memang yang tidak ingin lagi kembali tinggal di desaku, disana juga tidak ada pekerjaan yang cocok untuk Mas Anton. Ya aku harus secepatnya bicara dengannya mumpung Ibu mertuaku belum belum dari bekerja.
" Mas, gimana kalau kita saja yang tinggal di rumah Nenek, biar Anniyah kembali tinggal disini, toch ini 'kan rumah Ibu kandungya. Sementara disini aku hanyalah menantu, mau melakukan apapun bingung, ada rasa tidak enak hati juga canggung Mas. Pasti Ibu dan Bapak juga jadi serba salah mau bertindak apapun karena ada aku di rumah ini, gimana Mas, aku juga mau punya rumah sendiri. Mau belajar mandiri juga Mas seperti Anniyah yang bisa mengurus anak-anak juga bersihin rumah. Disana 'kan hanya ada Nenek, apalagi kami sesama wanita pasti tidak terlalu canggung, gimana mau ya Mas?" Bujukku yang mencoba mengeluarkan rayuan mautku, biarlah aku di anggap wanita centil juga nakal, toch kepada suamiku sendiri sah-sah saja bukan.
" Mas bukannya tidak mau Dek, tapi Anniyah sudah lebih dulu tinggal disana, Mas juga tidak tegalah harus memintanya kembali tinggal disini. Kita disini sajalah, mungkin kamu dan Ibu masih belum terlalu dekat karena memang selama ini kita tinggal di kota. Perlahan kalian pasti akan semakin dekat kok, ini hanya masalah waktu saja." Jelas Mas Anton yang secara tidak langsung menolak permintaanku.
" Ya sudahlah terserah Mas saja, yang penting aku sudah ingatkan sebelumnya." Sahutku kesal, ya siapa juga yang tidak kesal jika suami sendiri tidak mau mendengarkan permintaan dari istrinya sendiri.
__ADS_1
" Jangan ngambek gitu dong, nanti perlahan-lahan kita pasti punya rumah sendiri kok insya Allah, Adek cukup doakan suamimu ini saja agar rejekinya di limpahkan oleh Allah, Aamiin." Bujuknya yang tentunya tidak akan mempan, karena aku sungguh masih sangat kesal padanya.
Seminggu kemudian pasca pertingkaian kecil dengan suamiku, saat ini Mas Anton mendpatakan apa yang ia inginkan. Ya Anniyah akhirnya mengalah dan memberikan ladang itu kepada suamiku untuk di kelolanya.
Ya setidaknya Mas Anton sekarang punya pekerjaan tambahan walau hasilnya harus menunggu beberapa bulan lagi baru kelihatan. Dan itu selain pekerjaan berjualannya di pasar tentunya untuk makan kami sehari-hari juga di simpan untuk membeli susu Nino nantinya.
Pagi ini aku ingin mencuci baju di belakang lalu menitipkan Nino kepada Ibu mertua, sebab Mas Anton pun sudah kini mulai sibuk dengan pekerjaan taninya. Dan sudah dua hari pakaian kami belum di cuci, Mas Anton sudah membuatkan aku meja untuk mencuci, sebab aku masih belum bisa duduk berjongkok di bawah.
Saat sedang membilas pakaian ke dalam air baik berisi pewangi, terdengar Nino menangis dengan kencang aku pun segera membilas kedua tangan dan berjalan ke arah depan untuk melihat apa ada dengan putraku sampai menangis sekencang itu, pasti terjadi apa-apa dengannya.
" Ada apa Bu, kok Nino menangis sekencang itu?" Aku melihat Ibu sedang duduk di amben kedua kakinya di selonjorkan, lalu Nino di letakkan di atas kaki beliau, namun yang menbuatku heran, kemapa kedua tangan Nino di sembunyikan di dalam jarit gendongannya.
" Apa? Ibu menyuapi Nino dengan pisang? Bagaimana bisa Bu, Nino 'kan masih bayi, mana boleh di beri makan pisang, ini belum waktunya Bu." Keluhku dengan kesal yang tentunya juga sangat shock atas tindakan yang Ibu mertuaku lakukan kepada putraku yang belum genap berumur satu bulan ini. Dengan cepat aku meraih Nino yang masih menangis sesenggukan, membuatku tidak tega dengannya.
" Lho memangnya kenapa, apa salahnya, Ibu dulu juga menyuapi ketiga anak Ibu dengan pisang bahkan usia mereka baru sepasar. Zia juga Zaheera juga Ibu suapi dengan ini, dan mereka baik-baik saja, kenapa kamu justru marah sama Ibu." Desisnya yang ikut kesal denganku.
Mertua aneh! Seharusnya akulah yang kesal karena anakku yang masih bayi sudah di cekoki dengan pisang walau kulihat pisang itu sudah di ***** agak lembut di dalam piring kecil, namun tetap saja aku kesal atas perbuatan Ibu metuaku ini.
__ADS_1
" Bu, semua anak itu berbeda-beda, jangan samakan Nino dengan Zia ataupun Zaheera yang mungkin daya tahan tubuh mereka berbeda bandingkan dengan Nino, Ibu 'kan tahu sendiri jika Nino tidak meminum asi dariku sejak lahir dan hanya minum susu formula saja, seharusnya Ibu bisa mikir itu!" Sarkasku yang melupakan bahwa beliau adalah Ibu mertuaku yang seharusnya aku hormati sama seperti Ibu kandungku, namun saking kesalnya aku seakan lupa akan hal penting itu.
" Astagfirullah, cara bicaramu sudah seperti bicara dengan musuhmu saja Nduk, jika memang bayimu tidak boleh di suapi kamu tinggal bilang saja gampang 'kan tidak perlu memaki Ibu seperti itu, Ibu yakin Anton akan lebih paham dari dirimu, hanya karena masalah kecil seperti itu saja kamu sampai membentak Ibu Nduk, luar biasa." Sahut Ibu mertuaku yang sepertinya kecewa denganku, salahkan saja tindakan konyolnya itu, bagaimana bisa bayi di suapi pisang?
" Aku yakin Mas Anton lebih membela aku selaku istrinya Bu, orangtua mana yang ingin anaknya celaka, apalagi di celakai oleh Neneknya sendiri." Aku sungguh semakin kesal pada Ibu mertuaku ini, dengan gampangnya menyepelekan masalah serius seperti ini.
" Anton itu anak Ibu, akulah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Sedangkan kamu bisa apa, yang hanya wanita yang di nikahi oleh putraku?" Tanya Ibu yang seolah menantangku.
" Jangan panggil aku Najwa Bu jika aku tidak bisa meluluhkan hati dan juga mengendalikan Mas Antoni!" Seruku yang aku yakin membuat Ibu shock berat, terlihat dari wajahnya yang langsung tegang.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.