Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Bang Toyib Kembali


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Aku baru saja pukang dari luar kota dan tengah memarkirkan motorku di garasi samping, dengan langkah gontai aku berjalan memasuki rumah yang sebenarnya tidak ingin aku singgahi ataupun aku tinggali lagi, kecuali hanya ingin menemui anak-anakku saja.


Sudah satu bulan lebih ini aku kembali menjadi kepala rumah tangga di rumah ini. Sehingga aku harus pintar-pintar membagi waktuku. Hanya saja kali ini berbeda tidak sama seperti dulu lagi, aku tidak menyangka takdirku akan kembali menjadi bang Toyib, ya aku mengakui itu.


Namun apalah daya nasi telah menjadi bubur, aku juga tidak bisa berbuat banyak sekarang, sadar aku tidak mungkin lari dari tanggung jawabku lagi karena sudah menikahi Nikmah kembali dan tidak etis rasanya jika aku masih memilih tinggal di tempat kontrakan bersama teman-temanku.


Dan sudah menjadi kewajibanku untuk kembali menafkahi Nikmah walau sebenarnya ia sama sekali tidak kekurangan uang, sebab Restoran milik mendiang keluarganya sudah lebih dari cukup untuk bisa menghidupi sehari-hari bahkan hanya untuk sekedar bersenang-senang bersama keempat anak-anak, aku rasa tidak akan ada habisnya.


Sedangkan aku pertama kali kesini dulu hanya seorang diri tanpa membawa apapun kecuali motor kesayanganku, namun keluarganya menerimaku apa adanya.


Sebenarnya Ayah Nikmah menginginkan aku untuk meneruskan bisnis kulinernya, namun aku sama sekali tidak mempunyai skil dalam bidang tataboga. Untuk itulah aku memilih terjun membuka usaha bengkelku sendiri, di samping itu juga aku sangat menguasai skil perbengkelan.


Untungnya Ayah mertua dulu tidak memaksakan kehendaknya, justru memahamiku dan tidak mempermasalahkannya, sebab mau di paksa pun percuma jika kita tidak memiliki skil maupun niat sama sekali.


Dan selama ini Nikmah-lah yang mengelola kedua Restoran miliknya sendiri di bantu oleh orang kepercayaan Ayahnya, yakni Bapak Susilo bersama sang istri, mereka adalah pegawai yang paling lama ikut Ayah mertua, bahkan keduanya dulu Ayah mertua-lah yang menikahkan mereka juga.


Jika aku mau, Abah sudah menyiapkan sebidang sawah untuk aku kelola sendiri, akan tetapi seperti yang aku katakan tadi aku juga tidak mempunyai skil pertanian. Jangankan mengelola, mencangkul saja tidak begitu ahli. Sudah sering melihat orang bertani, namun aku sama sekali tidak bisa mempraktekannya dulu sewaktu baru lulus ponpes, semua tanaman yang aku tanam mati tidak tumbuh seperti yang kita harapkan.


Entahlah payah sekali aku memang, tapi jika itu menyangkut otak-atik motor aku akan berdiri paling depan untuk melakukannya. Awalnya dulu aku juga tidak bisa membengkel, namun karena bertekad dan juga sering mengotak-atik motorku sendiri, sehingga lama-lama aku pun mahir dengan skil tersebut.


Apa aku harus belajar bertani dengan sungguh-sungguh dulu ya agar bisa menjadi seorang petani yang handal? Sebab Anniyah ingin menjadi seorang petani saja di kampung sana, ia sudah tidak ingin kembali lagi ke kota.

__ADS_1


Sebenarnya aku masih warga kota dan ktp ku juga masih penduduk asli sini. Karena aku lebih sering berada di kota ini di bandingkan di kampung halaman istriku Anniyah, lalu sekarang dengan statusku yang sudah kembali menikah dengan Nikmah itu membuatku dilema sekarang.


" Assalamualikum.." Sapaku lesu saat memasuki ruang makan.


" Waalaikumsalam,."


" Yey,, Abi sudah pulang, Abi ayo kita makan bersama." Ajak Zikri menatapku girang, aku hanya bisa tersenyum membalasnya.


" Zikri biarkan Abi mandi dulu, kalian semua lanjutkan makannya." Sahut Nikmah yang langsung berdiri dari duduknya, sepertinya dia berniat akan menyambut dan membantuku.


Namun sebelum itu terjadi aku segera berujar, yang membuatnya menghentikan niatnya itu." Umi lanjut makan saja bersama anak-anak, Abi ke kamar dulu. Anak-anak makan yang banyak ya, Abi mau bersih-bersih dulu." Pamitku yang ingin segera masuk ke dalam kamar dan tidak ingin di ganggu dulu.


Aku mendengar Nikmah mendesah, namun aku tidak memperdulikannya dan terus melangkah, lagi pula aku sudah makan tadi di jalan sebelum pulang bersama teman-teman setelah selesai beribadah. Dan aku juga merasa sangat lelah ingin segera beristirahat agar besok pagi aku bisa pulang ke kampung halaman istri kecilku.


Hampir seminggu aku tidak pulang ke rumah, rasanya aku sangat merindukannya. Sedang apa Anni sekarang? Apa aku telfon saja ya, mengkabarkan bahwa besok pagi aku akan pulang, ya setelah aku bersih-bersih aku akan menghubungi Anniyah istriku.


Saat serius menatap ponsel seraya berjalan menuju sofa, sekilas aku melihat ke depan dan langsung di buat terhenyak saat melihat penampilan Nikmah yang sangat mencolok.


" Astagfirullah.. apa yang kamu lakukan disini?" Tanyaku yang berdiri agak jauh dari sofa.


" Memangnya apa yang aku lakukan? Ini kamarku juga jika kamu lupa." Sahutnya yang justru menyindirku.


Tidak perlu di perjelas aku juga tahu ini adalah kamarnya, rumahnya. Namun sebenarnya bukan itu yang aku tanyakan, melainkan dengan penampilannya malam ini yang tak biasa, dulu ia memang sering bahkan hampir setiap malam memakai pakaian dinasnya.


Namun itu dulu, sekarang sudah berbeda, tidak lagi sama. Dan lagi seharusnya ia tidak berpakaian yang kurang bahan seperti ini, dimana-mana bolong dan memperlihatkan kulit tubuhnya yang... Ya Allah ini cobaan apa musibah...??

__ADS_1


Aku tahu dan sadar diri jika dia halal bagiku begitupun sebaliknya. Namun aku sungguh belum siap melakukan hal itu kembali dengannya. Rasa kesal sebenarnya masih ada, aku masih menduga malam itu adalah perbuatannya, entah bagaimana caranya dia menjebakku, namun terbukti aku kini sudah menjadi suaminya kembali.


" Bi, kok malah bengong di tanyain?!" Celetuk Nikmah yang membuatku kembali sadar dari lamunanku.


" Maaf aku sangat lelah hari ini, ingin segera beristirahat." Ujarku yang secara terus terang menolak ajakannya untuk beribadah malam.


Walau dia tidak mengatakannya, tapi kode dari pakaian yang ia pakai sudah menjelaskan itu. Namun hal yang tidak terduga justru terjadi saat aku akan melangkah melewatinya, tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku hingga membuatku tidak bisa terhuyung ke samping dan kehilangan keseimbangan tubuh dan aku pun terjatuh menindih tubuhnya.


" Astagfirullah maaf..." Aku buru-buru ingin beranjak bangun, namun tanpa di duga Nikmah justru lebih menarik tubuhku hingga tubuh kami kembali menempel di atas sofa." Apa yang kamu lakukan!" Bentakku tidak sadar sudah berkata kasar kepadanya.


Namun detik berikutnya aku menyesalinya, saat melihat wajah sedihnya itu. " Maaf bukan maksud ingin membentakmu tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini padaku." Jelasku yang langsung beringsut berdiri, berusaha menjauhinya.


" Memang salah yang aku lakukan tadi? Aku ini istri kamu lho, apa aku tidak berhak menginginkan itu lagi." Ujarnya lirih bahkan aku bisa mendengar suaranya yang parau karena tengah menangis.


Ya Allah apa yang aku lakukan tadi, aku telah menyakiti hati wanita yang telah melahirkan keempat anakku. Aku sadar dia meminta haknya, dan aku tahu aku berdosa jika tidak memberikan halnya, namun sungguh aku belum siap Ya Allah...


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2