
Anna_PoV
*
Sudah seminggu lebih aku menginap di rumah Mbak Anniyah, ya pada akhirnya aku ikut bersama Mbak Anniyah sepulang dari Swalayan itu. Dan untungnya Mbak Anniyah serta suaminya mengerti dengan keadaannku, untuk menenangkan diri.
Walau setiap hari sepulang bekerja Bang Kholil selalu datang untuk sekedar menjengukku, namun aku belum ingin menemuinya. Hatiku masih terasa sakit atas ketidak kejujurannya padaku. Walau Mbak Anniyah selalu memberikan nasehatnya padaku, namun tetap saja seolah telingaku ini tertutup.
Sore ini aku hanya berdua saja dengan Zia keponakanku di rumah ini, sebab Bang Aziz sedang mengantarkan Mbak Anniyah ke Dokter, untuk mengecek kehamilannya. Jika benar hamil lagi tentu saja aku turut senang, sebenarnya aku pun juga ingin hamil, namun rasanya aku masih takut.
" Alhamdulillah, Zia akan punya Adik, senang nggak sayang?" Tanyaku pada keponakan kecilku, yang sebenarnya belum mengerti apa yang tengah aku katakan padanya.
Zia hanya tersenyum sembari bermain sendiri dengan bonekanya. Aku juga berdoa semoga Mas Anton juga akan segera memiliki keturunan, Aamiin. Apa aku sebaiknya juga begitu? Apa ini karma untukku, yang menolak untuk hamil anak dari suamiku sendiri?
Ya Allah, aku jadi merindukannya. Sebab kemarin suamiku tidak datang ke sini. Sebenarnya dua hari kemarinnya, Bang Kholil datang bersama seorang wanita yang aku tahu dia adalah wanita yang sama waktu itu bersamanya. Hanya saja aku tidak ingin menemuinya, rasanya masih sangat kesal juga marah pada pelakor itu.
Namun saat suamiku sudah pulang bersama wanita bernama Fera itu. Mbak Anniyah memberitahuku jika wanita tersebut datang ingin meminta maaf padaku, karena telah membuatku marah dan salah paham pada suamiku sendiri, bagaimana tidak marah coba, suamiku sendiri pergi bersama wanita lain tanpa sepengetahuan istrinya.
Saat masih melamun larut memikirkan tentang hal itu, terdengar suara bel pintu, aku meninggalkan Zia yang sedang asik bermain di atas karpet berbulu lembut lalu berjalan ke arah depan untuk membukakan pintu, ku tarik salah satu handle pintu anpa mengintip terlebih dahulu siapa orang yang datang.
Begitu pintu itu terkuak, aku sedikit terkejut ternyata yang datang adalah Bang Kholil suamiku sendiri.
" Assalamualikum sayang, akhirnya kamu keluar juga. Abang sangat merindukamu An." Sapa suamiku dengan wajah berbinar ketika kami sudah bersitatap muka.
__ADS_1
" Waalaikumsalam." Jawabku singkat dan datar, tanpa ekspresi.
Karena sudah tidak mungkin aku kabur lagi darinya, ku buka lebar daun pintu dan tanpa menyuruhnya masuk aku sudah lebih dulu berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam.
" Sayang ayo kita pulang, Ayah dan Ibu terus menanyakan tentangmu. Aku benar-bernar meminta maaf. Maaf karena sejak awal aku tidak jujur padamu, namun semua kulakukan agar kamu tidak salah paham, namun dugaanku salah, semua menjadi rumit begini. Sungguh, aku tidak ada hubungan apapun dengan Fera, kami hanya berteman, dia sudah membantuku waktu itu, dan aku hanya membalas membantunya, tidak lebih sayang, please percaya padaku." Terang Bang Kholil panjang lebar dan terus mengikuti langkahku dari belakang.
Aku sedikit percaya padanya, apalagi sudah di jelaskan juga oleh Mbak Anniyah kemarin-kemarin, aku juga tersentuh dengannya, walau rasa kesal itu masih ada. Tentu saja wanita pasti mengingat ketika ia di sakiti walau beberapa puluh tahun kemudian, pasti kenangan pahit itu masih ingat dengan jelas.
" Baiklah, tapi Abang janji tidak akan mengulanginya kembali, dan Abang harus jujur sama aku mulai sekarang apapun yang terjadi kita sama-sama saling jujur, janji?" Desakku, agar ia bisa lebih mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku kembali duduk di karpet bawah menemani Zia Bang Kholil pun mengikuti dan duduk di smapingku.
" Baiklah, insya Allah Abang berjanji mulai detik ini Abang akan berusaha bicara jujur sama kamu. Kita pulang sekarang ya?" Tanyanya, aku menoleh padanya, raut wajah yang tadinya sendu kini berubah menjadi ceria, bergembira.
" Tunggu Mbak Anniyah dan Bang Aziz pulang dulu." Jawabku masih yang menatapnya.
Detik berikutnya Bang Kholil mengikis jarak di antara kami, yang tiba-tiba saja ia langsung menciumku, melum*tnya pelan bahkan juga menghisapnya, membuatku terhenyak dengan manik yang membulat, segera ku dorong d**anya sedikit kuat.
" Astagfirullah, maaf sayang. Abang khilaf saking senangnya Abang nggak lihat ada keponakan Om yang cantik ini." Sesalnya yang langsung menggendong Zia di atas pangkuannya." Hmmm, Om kangen banget sama kamu cantik, ikut Om dan Tante pulang ya, satu dua hari saja di rumah nggak aoa-apa. Aaah,, seandainya kita sudah punya pasti secantik Zia ya sayang?" Tanyanya tanpa melepas pandangannya ke arah Zia.
Seketika aku berdenyut perih, sepertinya Bang Kholil benar-benar menginginkan kehadiran buah hati dalam pernikahan kami. Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau aku pun harus siap.
" Sayang? Kamu kenapa?" Tanya suamiku yang membuatku tersadar.
" Eh, nggak apa-apa sayang. Maafin aku ya, belum bisa memberikanmu seorang anak." Sesalku menatap bersalah padanya.
__ADS_1
" Ssstt, iya nggak apa-apa, Abang ngerti kok kalau kamu belim siap, Abang akan menunggu sampai kamu siap mengandung anaku, darah dagingku. Senyum dong, jangan cemberut nanti cantiknya hilang." Celetuknya yang mau tidak mau membuatku langsung tersebut, ada saja yang bisa membuatku tersenyum.
Mendengar ucapannya barusan justru membuatku semakin bersalah." Sayang, sepertinya aku sudah siap." Ucapku memberitahu padanya, bahwa mulai malam ini aku akan berhenti mengkonsumsi pil pencegah kehamilan itu lagi, semua demi cintanya yang tulus padaku. aku pun akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
" Siap? Siap untuk?" Tanyanya yang terlihat bingung mencerna ucapanku barusan. Dan detik berikutnya wajahnya langsung terhenyak tak percaya." Maksudnya kamu sudah siap untuk mengandung sayang? Kamu serius, kamu tidak sedang bercanda 'kan?" Tanyanya dengan begitu antusias.
Aku segera mengangguk cepat, " Iya, Insya Allah aku siap Bang. Kita belajar sama-sama ya." Ujarku yang masih takut dan belum siap.
Bang Aziz merengkuh tubuhku dari samping, menghujami banyak kecupan di puncak kepala juga keningku, lalu menyandarkan kepalaku di bahunya." Terima kasih sayang mulai malam ini kita harus fokus untuk olah raga malam, Abang akan selalu ada disisimu, nggak akan pernah meninggalkanmu sendirian." Ujarnya kembali mengecup keningku sedikit lama, membuatku langsung memejamkan kedua netra dan meresapi rasa yang tidak ingin pudar ini.
Hingga tak lama terdengar suara deru mobil di depan sana, seoertinya itu Mbak Anniyah dan suaminya sidah pulang, hingga membuatku reflek menjauhkan tubuhku dari suamiku, membuatnya terkekeh geli.
" Kamu ini lucu banget sayang, kita 'kan suami istri. Mereka pasti juga memakluminya, terlebih kita baru saja berbaikan." Seloroh Bang Kholil yang sengaja menggodaku, memang dasar tidak punya malu! Pekikku dalam hati.
Beberapa saat kemudian terdengar suara-suara langkah kaki yang memasuki rumah." Assalamulaikum, wah ada tamu ya..?!" Sapa Mbak Anniyah tersenyum menatap kami berdua.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.