Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Teror Dini Hari!!


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Begitu sampai di rumah, aku menyuruh dua putriku untuk segera berganti pakaian dengan baju santai mereka.


" Ami Kakak sebenarnya kenapa? Kenapa tangan dan kakinya di plester?" Tanya Zaheera yang menagih jawaban. Sudah sedari tadi ia bertanya, namun aku jawab nanti saja jika sudah sampai di rumah.


Ya seperti itulah anak kecil keingintahuannya sangat tinggi dan akan terus bertanya pada orang dewasa sampai ia mendapatkan jawabannya.


" Kakak tadi cuma jatuh kok sayang, tapi nggak apa-apa. Buktinya Kakak bisa berjalan lagi 'kan. Ya udah yuk makan kita makan dulu." Ajakku seraya menggandeng Zaheera ke belakang.


Sementara Zia sedang ke kamar mandi saat ini yang memang letaknya ada di belakang luar samping dapur. Setelah Zia selesai aku segera mengajaknya makan bersama berempat.


Kami semua duduk di karpet depan, Zefa juga aku turunkan karena dia sudah bisa duduk sendiri jadi aku kasih dia mainan sembari aku suapinya.


" Setelah kita makan, biarkan Kakak istirahat dulu ya, Zaheer main sama Ami dan Adek dulu." Ujarku menatap putri keduaku yang tengah menatap ke arah Kakaknya.


" Iya Ami." Jawab Zaheera lirih menatapku.


Sore harinya aku segera menutup pintu depan, walau hari masih pukul lima sore, mamun aku merasa auranya sangat mencekam di sekitar rumah kami. Hingga aku baru sadar jika malam ini adalah malam jum'at.


Aku segera mengajak anak-anak ke kamar mandi lebih dulu sebelum hari mulai gelap, dan anak-anakku pun langsung menurut mengikutiku.


Selesai beribadah kami semua berdiam diri di dalam kamar sembari menonton acara televisi anak-anak. Zefa sudah mulai terlelap, tingga dua Kakaknya yang masih asik menonton.

__ADS_1


" Duk..Duk.."


Saat semua fokus menonton tiba-tiba terdengar suara di samping rumah, membuat kami semua sedikit terkejut dan saling pandang.


" Ami itu suara apa?" Tanya Zaheera yang sepertinya penasaran, begitu pun denganku dan Zia.


" Mungkin kucing sayang.." Jawabku, aku selalu berpikir positif mungkin itu kucing atau anjing yang sedang ada di luar pagar rumah. Memang aku juga kerap sekali mendengar suara seperti ada seseorang yang mengetuk pintu samping atau hal lainnya pada saat pukul segini, namun aku tepis pemikiran yang negatif agar anak-anak juga tidak merasa takut nantinya di rumah sendiri.


Malam semakin larut aku segera mengajak anak-anak untuk istirahat, saat semuanya sudah terlelap aku pun ikut berbaring di tengah-tengah mereka. Memang kalau Abinya sedang ke luar kota kami pun tidur bersama di satu ranjang.


Aku tersentak bangun saat mendengar ada suara berisik di dapur, kulirik jam dinding ternyata saat ini sudah pukul satu dini hari. Awalnya aku biarkan saja dan tetap berusaha memejam, namun semakin kesini suara itu semakin berisik saja, seperti berkakas dapur ada yang membantingnya. Lalu kuberanikan diri untuk beranjak walau dalam hati merasa ada rasa takut, namun aku hanya ingin memastikan kira-kira siapa yang merusak barang dapurku?


Aku melangkah perlahan menuju pintu kamar, lalu kubuka sedikit pintunya hanya kepalaku saja yang aku keluarkan sedikit untuk mengintip.


Degh!.


Aku segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan perlahan. Jantungku tiba-tiba berdebar sangat kencang, seluruh tubuh rasanya sudah basah oleh keringat.


Perlahan aku kembali merebahkan diri di atas ranjang, namun aku tidak bisa tidur, aku terus gelisah dan terus membayangkan sesosok wanita misterius tersebut. Baru kali ini aku melihat nyata entah itu makluk ghaib ataukah bukan?


Tetapi rasanya tidak mungkin jika itu orang, sebab semua pintu sudah aku kunci. Memang pintu samping hanya aku tutup saja sebab pintunya terbuat dari bambu yang hanya tinggal di geser saja. Dan rasanya tidak mungkin jika seseorang bisa masuk lewat pintu dapur yang jelas-jelas sudah aku kunci.


Tiba-tiba aku tersentak kembali saat mendengar dengan jelas seperti suara panci yang di pukul dengan sangat kencang. tak hanya panci, semua berkakas dapur serperti di bantik ke lantai. Layaknya orang yang sedang marah besar, tetapi apa salahku disini? Kenapa sosok itu terlihat melampiaskan amarahnya padaku?


Tak begitu lama aku kembali di buat terkejut saat mendengar seperti bak mandi yang di banting di kamar mandi belakang. Ya Allah ada apa ini? Aku terus berdoa meminta perlindungan dari Allah, semoga aku segera tertidur kembali, ku tutup kedua telingaku rapat-rapat agra tidak terlalu mendengar suara-suara tersebut.

__ADS_1


Entah pukul berapa aku bisa tertidur kembali. Keesokkan harinya aku terbangun agak siang, aku berjalan ke belakang, di dapur keadaan bersih seperti keadaan saat sore sbeelum kami masuk ke dalam kamar, juga tidak ada tanda-tanda panci atau berkakas dapur lainnya yang tergeletak atau berceceran di atas lantai, sangat membingungkan sekali, aku segera membuka pintu belakang untuk segera beribadah karena waktunya sudah sangat mepet sekali.


Setibanya di kamar mandi keadaan juga sama, bak air yang biasa buat mandiin anak-anak masih utuh tanpa ada yang pecah, gayung, ember buat cuci baju pun juga sama masih utuh. Lalu kira-kira tadi malam itu suara apa yang di banting?


Tak ingin berlama-lama aku segera masuk dan beribadah, lalu setelah itu segera memasak untuk sarapan anak-anakku. Aku tepiskan dulu kejadian tadi malam yang benar-benar bagiku sangat tidak masuk akal.


Setelah selesai, lalu membangunkan anak-anak dan segera menyuruh mereka untuk mandi agar tidak terlambat ke sekolah.


" Kakak aja yang mandi duluan ya." Ujar Zia mentaap Adiknya Zaheer.


" Nggak mau, aku mau mandi sama Kakak. " Tolak si Adik yang ingin mandi bersama.


" Sudah mandi sama Adik aja Kakak, agar cepat selesai mandinya. Ami juga belum mandi lho ini. " Seruku mengintrupsi keduanya. Tak lama akhirnya kami semua sudah selesai mandi dan juga sarapan seadanya, karena memang aku belum sempat beli sayur tadi.


Kami segera berangkat ke sekolah bersama-sama dengan Zefa yang sedang dalam gendonganku. Setelah mengantar Zia ke depan sekolahnya, kini kami berjalan ke sekolahnya Zaheera. Tak lupa tadi saat di jalan membeli jahanan untuk bekal mereka di sekolah.


Walau sudah aku beri uang saku kepada mereka masing-masing, akan tetapi anak-anakku lebih suka makan jajanan yang aku beli atau aku biat di rumah, dan uang saku yang aku kasih mereka memilih untuk di tabung saja yang memang sudah aku belikan celengan masing-masing di rumah.


" Nanti kalau sudah waktunya pulang tunggu Ami ya kalau Ami belum jemput, tunggu di dalam kelas saja bersama Ibu Guru, Zaheera dengar 'kan yang Ami katakan?!" Ujarku menatap putriku sebelum Zaheera masuk ke dalam kelasnya.


Ia pun mengangguk dan menyalimiku. Memang rencanaku aku mau pulang sebentar memasak sayur untuk mereka, lalu kembali lagi kesini.


Sesampainya di dekat rumah aku melihat ada sepeda motor yang terparkir di halaman rumah, siapa yang datang? Perasaan aku tidak sedang janjian dengan siapa-siapa pagi ini..


~tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2