
Beberapa bulan kemudian..
Anniyah_PoV
*
Tidak terasa hari cepat berlalu. Dan kini aku dan juga Anna telah memiliki pekerjaan lain. Alhamdulillah Mas Anton menanam sayur buncisnya berhasil dan baru saja panen, dan kami mendapatkan pekerjaan untuk menimbang juga membungkus buncis-buncis itu ke dalam plastik untuk di jual ke pasar keesokan paginya.
Ya daripada kami menganggur 'kan lebih baik mencari kesibukan, toch ini juga bisa membunuh kejenuhan kami sembari mengasuh anak-anak juga. Bulan depan si Kakak Zia juga sudah mulai masuk ke sekolah taman kanak-kanak.
Dan kabar baiknya kini aku tengah mengandung anak ketiga dan sudah menginjak usia lima bulan lebih. Sedangkan suamiku Bang Aziz, ia masih menggeluti pekerjaannya bersama teman-temannya di kota dan juga setiap sore ia kembali mengajar di tempat mengajarnya dulu.
Dan kabar buruk juga sedihnya Adikku Anna telah resmi bercerai dengan suaminya Kholil, di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun ia telah menyandang status janda. Dan setiap bulannya Kholil selalu mengirimi uang nafkah untuk putrinya yang lebih dari cukup bagi Anna. Memang kalau di lihat dari luar ia terlihat bahagia namun aku tahu dalam hatintnya ia sedang tidak baik-baik saja.
" Mbak ini sudah di timbang ya?" Tanya Anna tiba-tiba sembari menunjuk ke arah buncis yang ada di sampingnya. Pantes saja dia bertanya, sebab aku meletakkanya agak dekat di kakiku yang jaraknya tidak jauh dari gunungan buncis yang belum di timbang.
" Oh iya, sudah Mbak timbang kok yang itu tinggal di bungkus saja. Sudah penuh ya karungnya, Mbak ambilin karung yang lain kalau gitu." Aku segera beranjak bangun dan mengambil karung kosong di atas dipan.
" Eh jangan Mbak! Biar aku saja yang menggeser karungnya. Kasihan dedeknya, Mbak 'kan lagi hamil. Sudah Mbak duduk saja menimbang lagi, ini aku yang akan mengurusnya." Cegaj Anna saat aku ingin menggeser karung yang telah penuh itu.
" Eh, iya. Mbak sampai lupa Dek. Ya sudah pelan-pelan saja nggak usah di angkat karungnya." Ujarku mengingatkan.
Beberapa saat kemudian pekerjaan kami pun telah selesai menjelang Dzuhur. Rasa lelah juga mengantuk mulai menyerang, di kehamilanku yang ketiga ini agak unik, aku bisa tertidur di sembarang tempat, namun rasa lelahku langsung menghilang saat melihat kedua wajah putriku yang sedang berlepotan, bwgitupun dengan keponakan cantikku Erika.
" Alhamdulillah akhirnya selesai juga Mbak. Kita bisa segera istirahat, lumayan banyak hari ini ya." Seru Anna seraya menggeser karung yang juga sudah penuh.
__ADS_1
" Iya Alhamdulillah, semoga barokah hasil panennya ya An, Aamiin. Ya Allah An, lihat itu anak-anak kita, mereka ini tadi habis mainan apa coba, belepotan kayak gini lho, antara ingin marah tapi juga lucu. Ya Allah Nak-nak..ayo kita bersih-bersih terus makan dan setelah itu kita tidur siang ya.." Ajakku sembari menggandeng tangan kecil Zia dan juga Zaheraa di tangan kanan kiriku.
Zaheera kini sudah bisa berjalan walau masih belum begitu lancar. Tapi setidaknya ia sudah mau berjalan sendiri dan tidak terus minta gendong. Setelah selesai bersih-bersih dan juga menyuapi mereka berdua, aku pun segera mengajak tidur siang, begitupun denganku yang ingin segera beristirahat.
***
Malam pun tiba, terlihat Mas Anton yang tengah sibuk mengikat bagian atas karung-karung tersebut, agar besok pagi hanya tinggal memasukkanya ke ke dalam gerobak yang akan di bawa ke pasar.
Beruntungnya Mbak Najwa memiliki suami yang rajin seperti Mas Anton ini, ya walau wataknya keras, tapi dia sangat penyayang terhadap keluarganya. Pria yang tidak malu berdagang demi memenuhi rasa tanggung jawabnya terhadap istri dan anaknya.
Mas Anton yang dulu mana pernah melakukan hal seperti ini, yang dia lakukan hanya main, nongkrong dengan teman-temannya. Mungkin itulah hikmah bagi seorang pria yang sudah menikah dan menjadi seorang suami sekaligus Ayah.
Subhanallah...
Tak lama terdengar suara ponselku berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk dan segera aku membuka dan sekaligus membacanya sembari menyuapi Zia yang tengah bermain, ternyata pesan itu dari suamiku.
Tulisnya di isi pesan yang ia kirimkan padaku, yang seketika membuatku khawatir juga tersenyum. Ikut khawatir dengan kondisi Zikri yang sedang sakit, dan yang membuatku tersenyum adalah kata-katanya yang sok romantis, tapi juga memperlihatkan sayangnya.
" Kenapa Mbak, kok senyum-senyum sendiri gitu, awas lho hati-hati nanti kesambet.." Celetuk Anna yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
" Kamu An, ngagetin Mbak aja! Ini lho Bang Aziz kirim pesan katanya tidak bisa pulang malam ini, karena putra bungsunya yang sedang sakit." Ujarku memberitahunya agar tidak kepikiran yang tidak-tidak padaku.
" Oh begitu. Eh, Mbak tahu nggak! Mbak ini adalah wanita yang paling super sabar juga paling kuat yang aku kenal selama ini, sama halnya seperti Ibu yang juga penyabar, bahkan takdir pernikahannya juga tidak jauh berbeda dengan Mbak. Semangat terus Mbak, jangan seperti aku, yang lebih memilih menyerah sebelum perang. Aku tidak sekuat dan sehebat Mbak dan Ibu, kalian berdua adalah inspirasiku. Dua wanita yang sangat aku idolakan dalam hidupku, entah bagaimana nasib takdir hidupku nanti. Dan mungkin sepertinya aku harus mencari pekerjaan di luar Mbak, siapa tahu di luar sana aku bisa bertemu dengan jodoh terakhirku." Serunya yang aku tahu dia sedang menghibur diri dan juga merasa kasihan terhadapku, akan tetapi aku sama sekali tidak marah, sebab aku sudah ikhlas menjalani pernikahanku ini.
Aku justru lebih kasihan terhadap dirinya, yang terus saja memperlihatkan kebahagiaannya kepada kami semua, mencoba bertahan demi kami semua. Walau aku tahu dia begitu sangat kesepian, entah dia sungguh sudah move on, ataukah hanya berpura-pura saja.
__ADS_1
" Kamu yakin mau mencari pekerjaan di luar? Mau kerja apa, ijasah kita hanya sampai sd lho, di kota saja jika tidak ada teman yang memasukkan kita, mana bisa kita bisa bekerja di pabrik." Ujarku yang sekedar ingin tahu apa rencananya selanjutnya.
" Sepertinya aku mau masuk yayasan Mbak."
" Yayasan? Yayasan apa An?"
" Mungkin aku akan belajar menjadi baby sitter bayi, atau anak balita yang penting aku bisa mendapatkan pekerjaan untuk biaya Erika kedepannya, walau aku tahu Ayahnya akan terus mengirimi haknya. Namun siapa yang tahu, tiba-tiba Kholil tidak lagi mengirimi uang dan mungkin sudah bahagia dengan istri barunya dan juga anak-anaknya yang lain." Jelas Anna panjang lebar.
Benar juga apa yang Anna katakan, kita tidak bisa menjamin tubuh kita juga akan selalu sehat setiap hari, adakalanya kita sakit, suami kita juga. Maka dari itu kita harus mempunyai uang tabungan atau setidaknya pendapatan tambahan selain dari nafkah suami kita.
" Ya semua terserah kamu saja, mana baiknya. Biar Erika Mbak bantu asuh bersama Ibu. Ayo sebaiknya kita istirahat, sudah malam. Ayo anak-anak bersih-bersih dulu baru setelah itu kita pergi tidur." Ajakku menyemangati ketiganya.
Kurasa Erika juga sudah bisa di tinggal oleh Ibunya, mengingat usianya sudah hampir dua tahun, dan sudah terbantu minum susu formula yang sama dengan anak-anakku. Mudah-mudahan saja ini keputusan yang terbaik juga untuk Adikku.
Bahkan aku sampai lupa belum membalas pesan dari suamiku, nanti sajalah saat anak-anak sudah pada tidur. Jadi kami juga bisa lanjut terus bertukar pesan. Memang sudah hampir lima hari suamiku belum pulang karena tengah pergi keluar kota.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.