My 100th Secretary

My 100th Secretary
Tiga Emir


__ADS_3

Knightswood, Glasgow Skotlandia


Hunter tersenyum melihat adiknya Elizabeth McDouglas atau yang biasa dipanggil Izzy. Bagi Hunter, adiknya adalah miliknya yang paling berharga karena tinggal mereka berdua usai kedua orangtua mereka meninggal dunia.


"Kak Hunter... " senyum Izzy sumringah.


"Halo... " Hunter memeluk Izzy erat. "Kamu sudah liburan ya?"


"Sudah dong kak" senyum Izzy.


"Kamu serius nanti kalau sudah lulus kuliah, mau tinggal disini?" tanya Hunter sambil melihat rumah toko milik keluarganya.


"Toko bunga mommy dan Daddy kan terpaksa tutup dan aku tergantung sama kakak" ucap Izzy sambil merangkul lengan Hunter.


"Tapi apa kamu tidak apa-apa hanya bekerja membuka toko bunga?" Hunter menatap adiknya yang memiliki gigi kelinci.


"Kan sesuai pendidikan aku kak. Kan aku ambil agro bisnis..." senyum Izzy.


"Ya sudah. Kita natalan ngapain ini?"


"Makan enak !" seru Izzy.


***


Malam Tahun Baru... Apartemen Ajeng di Soho New York


Ajeng menikmati pemandangan di luar jendela apartemennya. Malam tahun baru ini, Ajeng ingin sendirian, tanpa ada gangguan atau Bayu disampingnya.


Ajeng sangat suka malam tahun Baru karena pasti meriah dengan banyak pameran kembang api. Gadis itu sudah memesan pizza half and half siang sebelum mereka tutup.


"Ah cantiknya..." ucap Ajeng melihat banyak hiasan disana. Natal dan Tahun Baru adalah season yang paling disukai Ajeng karena di New York, tidak ada perayaan lebaran macam di negara-negara Islam.


Ajeng bahkan memilih mematikan ponselnya karena ingin menikmati kesendiriannya. "Kan insyaallah tahun depan sudah dobel. Jadi nikmati saat-saat kamu masih melajang Jeng."


Gadis itu menyesap hot choconya yang diberikan marshmellow sambil makan pizaanya. Memang tidak menyambung tapi Ajeng sering makan sesuatu dengan minuman yang tidak sesuai dengan pakem.


Suara bel apartemen nya berbunyi terus menerus, membuat Ajeng menoleh ke arah pintu. Perasaan aku nggak nyetel lagu keras-keras deh... Ajeng pun membuka pintu setelah melihat siapa yang datang.


"Lho mas? Ngapa..." suara Ajeng menghilang di pelukan Bayu.


"Kenapa ponselmu tidak aktif? Ipadmu juga. MacBook mu apalagi !" tanya Bayu dengan nada sangat khawatir.


"Masuk dulu mas... " Ajeng menatap Bayu sambil tersenyum tanpa tahu pria dihadapannya galau antara ingin mencekiknya atau menciumnya karena sudah membuat dirinya super duper khawatir.


Ajeng melepaskan diri dari pelukan Bayu dan berjalan masuk ke dalam apartemennya. Bayu pun mengikuti tunangannya dan melihat ada pizza half and half, sebotol coke, poci berisikan hot chocolate yang berada diatas pemanas dan jagung rebus pipilan di mangkuk.


Ini makanan model apa sih Jeng? Bayu tampak bingung bagaimana gadisnya memilih makanan tahun baru yang aneh bin Absurd.


"Kenapa kamu matikan semua Jeng? Bagaimana kalau kamu butuh sesuatu?! Apa kamu tidak memikirkan perasaan aku? Aku tuh sangat khawatir, tahu nggak?" omel Bayu membuat Ajeng berbalik dan mencium bibir pria itu agar diam.

__ADS_1


Bayu langsung memeluk tubuh Ajeng dan membalas ciuman gadisnya.


"Kamu kenapa?" tanya Bayu usai mereka berciuman.


"Hanya menikmati kesendirian saya, mas.."


"Why?" tanya Bayu lembut.


"Karena... " Ajeng merangkul leher Bayu. "Tahun depan, aku sudah menghabiskan malam tahun baru berdua dengan mu mas. Bisa jadi sudah dalam kondisi bertiga jika mas Bayu dan aku benar-benar akan menikah di musim panas tahun depan..."


Bayu menatap Ajeng dengan tatapan penuh cinta. "Jadi itu alasannya... Menikmati saat-saat menjadi wanita lajang begitu Jeng?"


Ajeng mengangguk. "Yah anggap saja ini tahun terakhir saya jadi lajang... "


Bayu semakin erat memeluk Ajeng. "Tapi jangan semua alat komunikasi kamu matikan dong Jeng. Kan aku jadi bingung..."


"Ih mas Kal-el tuh yaaaa. Aku mematikan hanya malam ini. Besok sudah aku nyalakan..."


"Bilang saja kamu tidak mau diganggu pesan berantai mengucapkan selamat tahun Baru. "


"Itu juga."


Bayu tertawa. "Terus kenapa makanannya kamu amburadul menunya?"


"Isshhh, ya suka-suka aku lah mas. Maunya apa" sungut Ajeng manyun.


Bayu mencium kening Ajeng. "Iya deh. Yang punya rumah juga."


***


Bayu dan Ajeng saling berpelukan menikmati puncak acara malam tahun baru dengan pesta kembang api berbagai warna dan model.


Gadis itu tampak berbinar-binar melihat langit New York yang tampak semarak dan indah dengan berbagai warna. Bayu menatap Ajeng dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di hatinya. Bayu rasanya ingin menangis jika mengingat seperti apa eyang-eyang Ajeng. Apapun aku akan tetap menyimpan rahasia Ajeng sampai kapanpun. Cukup Ajeng mengetahui kalau ayahnya Argono Prawiro dan ibunya Estiningtyas, adalah pasangan suami istri yang terhormat dengan pekerjaan yang mulia bahkan meninggal Sahid karena berusaha menyelamatkan banyak nyawa.


"Pak Bayu kenapa?" tanya Ajeng saat menoleh ke arah Bayu yang menatapnya dengan berbeda.


"Tidak apa-apa..." Bayu memeluk Ajeng erat dan menyembunyikan wajahnya di rambut hitam Ajeng yang harum shampoo dan hair tonic. "Love you Jeng... So much."


"Love you too mas Kal-el" balas Ajeng sambil memeluk tubuh kekar Bayu.


"Don't leave me, Jeng..."


"Mas Kal-el juga. Jangan kembali ke planet Krypton. Wis njebluk ( sudah meledak )" sahut Ajeng sambil cekikikan.


"Kamu tuh..." Bayu mencium kening Ajeng lembut. "Jam satu aku pulang Jeng. Takut kamu disita ibu negara lagi."


Ajeng tertawa. "Iya mas."


***

__ADS_1


Hari-hari pun berlalu dan Ajeng mulai sering bertemu dengan beberapa anggota keluarga Bayu. Seperti Nadira dan Pedro Pascal, Sadawira Yustiono dan si kecil Biana yang cerdas.


Seperti hari ini, Ajeng melongo melihat tiga orang berwajah blasteran tapi memakai kafayeh, baju khas Emir yang menggunakan benang emas.


"Hai, Ajeng. Mas Angin Ribut bin Topan Badai, ada kan?" senyum pria bermata biru itu.


"Maaf anda semua siapa ya?" tanya Ajeng bingung.


"Duh payah deh mas Bayu. Perkenalkan aku Gasendra Al Jordan Schumacher, tunangannya Gemma Bernardi..."


Mulut Ajeng semakin lebar menganganya. "Tunangannya Gemma anda ? Seorang Emir?"


"Fix, mas Bayu nggak cerita apapun. Hai, aku Damian Blair, sepupu kandung Mas Bayu" senyum pria jangkung dengan mata hijau.


"Aku Ken Al Jordan, sepupu kandung Mas Sendra" sambung pria bermata coklat sambil tersenyum.


"Oh my God..." Kaki Ajeng terasa lemas melihat tiga Emir itu berdiri di depan mejanya.


Suara pintu ruang kerja Bayu pun terbuka dan Bayu melihat wajah Ajeng yang tampak bingung melihat ketiga sepupunya.


"Kalian jangan usil sama Ajeng. Kasihan tuh sampai bengong" kekeh Bayu. "Sendra, ada acara apa kemari?"


"Ada urusan bisnis disini sekalian memberikan undangan pernikahan aku dan Gemma" jawab Gasendra.


"Akhirnya kita - kita bertemu juga dengan 'you know who'" kerling Ken Al Jordan ke Bayu.


"Saya bukan Voldemort, Mr Al Jordan" sungut Ajeng sambil manyun membuat tiga pria tampan disana terbahak sedangkan Bayu tertawa kecil.


"Yuk masuk. Jarang-jarang petinggi AJ Corp ke New York. Jeng, minta tolong ya, minuman nya." Bayu tersenyum ke arah Ajeng yang bagaimana pun harus profesional.


"Baik pak Bayu."


Keempat pria itu pun masuk ke dalam ruang kerja Bayu dan Ajeng pun langsung duduk di kursinya karena kakinya sama lemasnya saat dirinya bertemu dengan tiga Mafioso.


Tak lama, rekan kerja Ajeng yang wanita langsung menghampiri mejanya. Para wanita itu tampak kepo binti heboh.


"Siapa mereka Jeng?" tanya mereka.


"Sepupu Mr O'Grady. Para Emir Dubai."


"HAAAAAHHH??!!" seru mereka heboh.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2