
Mansion Keluarga Blair di Staten Island New York
Ajeng dibawa Bayu ke dalam ruang tengah yang lebih besar dari mansion Giandra. Kalau di Giandra warna-warna yang dipakai disana dominan warna tanah dan hijau tua yang merupakan warna favorit keluarga Giandra, disini lebih menjurus warna emas, biru navy dan beige.
Di ruang tengah terdapat pasangan suami istri yang sudah lanjut usia sepantaran dengan Bara dan Arum tapi versi bule. Ajeng terpesona melihat mata kedua orang itu sangat biru, mirip dengan warna mata Bayu.
"Akhirnya kamu datang juga!" seru wanita cantik yang rambutnya sudah memutih dan Ajeng tahu kalau aslinya rambut wanita itu pirang. Di sebelahnya ada seorang pria dengan mata biru tajam meskipun sudah sepuh, tapi Ajeng bisa merasakan hawa pemimpin disana.
"Halo Oma, Halo Opa" senyum Bayu sambil mencium pipi Kaia dan Rhett. "Perkenalkan, ini Ajeng Pratiwi. Sekretaris aku yang ke seratus dan calon istri masa depan."
Omongan Bayu membuat Ajeng melotot. Pede kali kau bang! Babang Gentolet aja kagak pede macam elu!
"Oh ini yang namanya Ajeng... " Kaia dan Rhett memindai gadis yang berdiri kikuk di hadapan mereka.
"Iya Mr O'Grady dan Mrs O'Grady." Ajeng mencium punggung tangan Kaia dan Rhett seperti kebiasaannya kalau bertemu dengan orang yang lebih tua. Setelahnya Kaia mempersilahkan keduanya duduk.
"Kok mirip Mbak Arum ya?" gumam Kaia ke Ajeng yang duduk bersama dengan Bayu.
"Aku rasa malah mirip Gandari, Z" senyum Rhett.
"Anyway, bagaimana duo bocil kematian kabarnya?" seringai Bayu ke kedua opa dan Omanya.
"Kamu tuh ya ngawur, Bay. Sekarang itu musim gugur, malah kamu suruh kuras kolam renang sama nyapu halaman belakang? Kalau kena pneumonia bagaimana?" omel Kaia.
Kuras kolam renang? Nyapu halaman belakang di musim gugur begini? Kan hawanya mulai dingin. Terus daun pada berguguran... Ya wasallam nyapu tiap hari kagak kelar-kelar kalau manual. Ajeng melirik ke arah Bayu yang santai-santai saja.
"Nggak bakalan kena Oma. Mereka memang patut mendapatkan hukuman yang setimpal!"
Rhett memegang pelipisnya. "Kamu lihat sendiri deh! Sampai-sampai Hunter dan Doogie ikutan mengawasi... Nggak banget deh!"
"Lha Opa, mereka itu sudah ngerjain aku! Mau buat aku dan Ajeng selisih jalan! Kan njelehi! Untung Ajeng baik, jadi memilih tetap stay di Jakarta sedangkan duo kadal kadut pulang ke New York!" eyel Bayu gemas.
"Wis. Besok sudah masuk kantor dan Devan harus kembali ke Massachusetts. Kamu sudah membuat dua anak itu harus bersih-bersih tiap hari..." Kaia tersenyum. "Yang penting kan Ajeng tetap stay di Jakarta jadi kamu nggak usah sampai sebulan marahnya Yu."
"Kamu mau lihat hukuman ke duo kadut?" Bayu menoleh ke arah Ajeng.
__ADS_1
"Memangnya seberapa luas sih halaman belakang?" tanya Ajeng bingung.
"Lihat sana Jeng. Kalau bisa suruh Bayu selesai kan acara hukum menghukum nya" kekeh Kaia.
Bayu lalu menarik tangan Ajeng dan berdiri lalu berjalan ke halaman belakang mansion. Sepanjang perjalanan kesana, Ajeng memperhatikan bagaimana mansion ini hampir sama dengan mansion Giandra. Banyak ornamen Jawa disana. Tidak heran soalnya Oma Yuna Pratomo kan juga njawani.
Ajeng melongo saat melihat halaman belakang mansion yang luas dan tertimbun dengan daun-daun yang gugur. Masyaallah ini halaman atau lapangan bola? Ajeng melihat Devan tampak manyun sambil membawa rake ( garukan sampah ) menyapu banyak daun-daun untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam besar-besar. Tampak Doogie duduk diatas kursi batu sambil bermain ponsel.
"Mas Bayuuu... Udahan dong hukumannya... Capek ini!" rengek Devan ke arah Bayu yang datang. "Mbak Ajeng, tulungi dong! Tiga hari bersihkan daun ... Mending jadi duit... Ini kagak Bambaaaanngggg!"
"Bodo!" balas Bayu membuat Ajeng dan Doogie cekikikan.
"Aaahhh mas Bayu. Maafkan Devan yaaa... Kan maksud aku dan mas Deva biar mas Bayu kagak kepikiran Hongkong. Eh tapi apa kalian udah pacaran?" Devan melihat Bayu menggenggam tangan Ajeng.
"Udah!" jawab Bayu.
"Belum!" jawab Ajeng.
"Aku belum bilang iya ke pak Bayu" jawab Ajeng tenang membuat Doogie dan Devan menepuk jidatnya.
"Sing ( yang ) sabar mas Angin Ribut... Mbak Ajeng, nunggu apalagi sih? Biar mas Bayu nggak kelimpungan?" sungut Devan gemas dengan Keduanya.
"Lha mau kelimpungan gimana dik Devan? Wong aku nggak kemana-mana. Kan tetap bekerja di PRC Group tho? Pak Bayu kan bisa lihat aku tiap hari" jawab Ajeng polos membuat Devan menepuk jidatnya sedangkan Doogie tertawa terbahak-bahak.
Bayu sendiri hanya tersenyum mendengar ucapan Ajeng yang mengatakan bahwa bisa melihat gadis itu tiap hari. Memang belum bilang mau sama aku tapi bilang seperti itu kan sama saja dengan menyatakan dia bisa menerima aku bukan? - batin Bayu.
"Mas Bayuuu... istirahat ya? Aku besok balik ke Boston soalnya" rengek Devan yang memang capek luar biasa. Mending aku suruh latihan di Dojo deh daripada nyapu daun berguguran yang kagak selesai-selesai!
"Ya sudah, kamu istirahat sana Van" jawab Bayu akhirnya.
"Yes! Alhamdulillah.... Oh mas Bayu, justru dengan begini, mas Bayu tahu kan kalau mbak Ajeng memang memilih mas Bayu. Buktinya dia malah marahi aku sama mas Deva begitu tahu kamu mau datang mas. Mbak Ajeng itu sebenarnya care sama mas Bayu cuma sok gengsi wae..." celetuk Devan sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah.
"Aku juga tahu itu Devan!" balas Bayu sambil berteriak membuat Ajeng terkejut.
__ADS_1
"Have fun kalian berdua! Masa kalah sama Nadya dan Omar?" kekeh Doogie sambil mengikuti Devan. Dirinya sudah tidak sabar menikmati hot chocho dengan marshmellow.
Bayu tersenyum ke pengawalnya yang juga sahabatnya. "Kamu mau tahu hukuman Radeva?" tanyanya ke Ajeng.
"Semoga nggak aneh - aneh deh!"
***
Sisi samping kolam renang Mansion Blair
Ajeng terkejut melihat Radeva menggosok kolam renang yang kosong dari air dengan sikat dan sikat gigi. Tampak Hunter duduk di pinggir kolam renang yang menoleh saat melihat Bayu dan Ajeng datang.
"Ya ampun, ini kolam renangnya kan luas banget?" bisik Ajeng.
"Yang bersih ya Deva!" teriak Bayu membuat Radeva mengangkat wajahnya dari acara menggosok lantai kolam renang.
"Reseh lu mas!" sungut Radeva. "Hai Ajeng. Si Lisus sudah jinak?"
"Memangnya pak Bayu macan?" kekeh Ajeng. Dirinya sudah kasihan melihat Devan, sekarang Radeva lebih kacau lagi.
"Buktinya sudah jadi kucing Munchkin dia" balas Radeva sambil berdiri. Namun dia lupa kalau lantainya licin dan setelahnya Radeva terjatuh akibat terpeleset. "Aduuuuhhhh pantat akuuuu!"
Hunter dan Bayu terbahak. "Kualat lu!" balas Bayu senang.
"Brengseeekkk! Nih udah bersih! Tiga hari berkutat disini bikin senep ( mual )!" Radeva pun bangun dan berjalan pelan-pelan untuk keluar dari kolam renang.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️