My 100th Secretary

My 100th Secretary
Di Cafetaria


__ADS_3

Ruang Kerja Bayu O'Grady


Bayu keluar untuk menghirup udara segar setelah badannya terasa pegal dipakai duduk terus menerus. Pria berbadan besar itu menutup pintunya yang terkunci otomatis dan menuju lift khususnya. Rasanya ingin menyusul Nadya dan Ajeng tapi nanti bakalan terjadi huru hara karena selama ini, Bayu paling jarang ke cafetaria karena seringnya minta makanan nya dibawa ke ruangannya.


Dilihatnya meja Ajeng kosong dan dia tahu sekretarisnya diseret makan siang oleh Nadya. Bayu pun memutuskan menuju ruangan Radeva yang berada di lantai 11. Radeva juga sama dengan Bayu, paling jarang makan siang di cafetaria perusahaan.


***


Lantai 11 PRC Group Building Manhattan New York


Radeva tersenyum melihat Bayu masuk ke dalam ruangannya. Saudara kembar Raveena itu sedang menikmati makan siangnya dan menawarkan ke Bayu.


"Mas Bayu, mau makan siang? Biar aku pesankan di cafetaria" tawar Radeva.


"Nggak Va, cuma mau lihat kamu ngapain" jawab Bayu sambil duduk di sofa.


"Lha Ajeng kemana? Nggak mesankan makan siang buat mas Bayu?"


"Ajeng diseret Nadya buat Nemani dia makan siang."


Radeva melongo. "Nadya disini? Ada apa?"


Bayu menceritakan apa yang akan terjadi di Brussels saat pernikahan Gemintang Lexington dan Raj Rao.


"Lha Brussels nggak ikutan! Bang Sean dan mbak Zee juga nggak ada ikut campur sama sekali!" protes Radeva. "Kita bahkan tidak melibatkan mereka!"


"Benar tapi kita sepupu dan ipar Bang Sean dan mbak Zee." Bayu menatap Radeva serius. "Itu yang membuat mereka jadi mengawasi kita semua."


"Buang-buang uang pajak saja buat ngawasi kita semua yang nggak ada urusan lainnya setelah Hongkong!"


"Harusnya mereka paham, sudah ya sudah."


"Eh mas, apa ada info baru soal Hongkong? Jujurly, aku tidak terlalu mengikuti setelah terjadi demo besar-besaran para keluarga korban Triad Wong yang meminta perombakan habis-habisan semua jajaran penegak hukum hingga Kejaksaan dan kehakiman."


"Terakhir info dari Sky, semuanya yang terlibat habis dipenjara dan memang terjadi perombakan total. Baguslah!" jawab Bayu.


"Tul! Bikin bete aja!"


Bayu pun berdiri.


"Mau kemana mas?" tanya Radeva.


"Cafetaria!" jawabnya sambil keluar ruang kerja Radeva.

__ADS_1


"Tumben..." gumam Radeva yang melanjutkan makannya lagi.


***


Cafetaria PRC Group


"Kamu sudah dibentak bentak sama mas Bayu sudha berapa kali?" tanya Nadya.


"Baru sekali ini kok nona Blair dan itu murni kesalahan saya yang tidak teliti. Saya tahu maksudnya pak Bayu baik supaya saya lebih berhati-hati agar tidak fatal akibatnya" jawab Ajeng sambil memotong steaknya.


"Gak usah kamu belain pria semena-mena macam kakakku itu!"


"No, nona Blair. Benar tidak apa-apa. Saya yang salah. Apalagi pak Bayu kan mau ke Brussels jadi saya yang harus bertanggung jawab atas semua klien, tamu dan surat keluar masuk via email."


Nadya menatap Ajeng dengan perasaan gemas tapi menghargai bagaimana gadis itu tetap membela Bayu. Setidaknya tidak macam sekretarisnya yang kebanyakan langsung berhenti begitu kena bentak Bayu.


"Jeng, kamu sebelumnya bekerja dimana sebelum terdampar dimari?"


"Saya dulu jaman kuliah mengambil kerja di 7-eleven dekat kampus shift malam..."


"Kamu nggak takut?" tanya Nadya dengan bergidik.


"Saya bawa pepper spray dan alarm yang berbunyi kencang itu nona. Tapi biasanya saya jarang sendiri berjalan dan lebih sering bersama dengan rekan kerja yang tinggal satu asrama."


"Saya juga bekerja di diner dekat kampus sebagai pelayan kalau musim panas."


"Kamu double job?"


Ajeng mengangguk. "Saya bukan orang kaya nona Blair. Asuransi kedua orang tua saya sudah saya pakai untuk bayar kuliah tapi saya harus punya tabungan bukan? Jadi sisa uang asuransi, saya simpan sebagai deposito. Dan saya harus bekerja untuk kehidupan sehari-hari. Setelah lulus saya mencoba mencari pekerjaan tapi tidak beruntung jadi saya bekerja di sebuah restauran daerah Queens. Setelah itu saya mencari apartemen yang lebih aman dari Queens dan menemukan di daerah Soho. Disana saya bekerja di sebuah butik tapi akhirnya dipecat karena saya membela harga diri saya."


"Memang kita harus stand up Jeng seperti halnya kamu harus stand up ke mas Bayu!"


"Nona, soal pak Bayu membentak saya itu wajar Karena saya yang salah tapi selama saya tidak melakukan kesalahan, pak Bayu juga tidak pernah marah-marah atau bentak-bentak" jawab Ajeng kekeuh karena bagaimanapun Bayu adalah bossnya. Jika memang patut dibela, dia akan membela Bayu.


Suara lift berbunyi dan Nadya tersenyum siapa yang datang, langsung melambaikan tangannya da. Ajeng pun menoleh.


Lha agen setinggi pemain basket itu datang beneran?


"Hai Nad. Halo Ajeng" sapa Omar Zidane sambil menyalami Ajeng lalu duduk di sebelah Nadya. Ajeng bisa melihat Omar hanya memegang tangan Nadya lembut saat sudah duduk.


Nggak ada cium pipi atau apa kek? - batin Nadya.


"Kamu mau pesan apa? Pesan aja! Ini pakai kartuku" ucap Nadya sambil menyerahkan kartu makan khusus. Sebagai bagian keluarga, Nadya dan Nelson mendapatkan kartu makan khusus yang bisa dipakai di RR's Meal dan cafetaria PRC Group.

__ADS_1


"What? Kenapa harus pakai kartu mu Nad?" tanya Omar.


"Sudah lah! Pakai saja! Cerewet!" omel Nadya sebal.


Omar tersenyum lalu mengambil kartu di tangan Nadya lalu mencium pucuk kepala gadis itu. "Dasar pengacara, tukang ngomel!" Pria itu pun langsung menuju counter makanan yang dicari. Yang membuat banyak orang terutama pegawai muslim sekitar gedung PRC adalah, makanan di cafetaria ini halal hingga mempermudah mereka untuk mendapatkan makanan halal. Harganya pun terjangkau dengan isi dompet mereka.


"Apakah nona Blair dan Agen Zidane berpacaran?"


"Belum. Masih TTM, Teman tapi Mesra."


"Kenapa belum diresmikan?"


"Aku yang belum siap dan belum tahu bagaimana perasaan Omar ke aku. Soalnya dia terkadang masih belum siap move on setelah patah hati dengan kakak sepupuku. Dia dulu naksir kakak sepupu ku tapi kakakku memilih pria lain yang memang sama-sama panasan. Patah hati deh dia!"


Ajeng pun mengangguk. Bisa ya seorang pria patah hati begitu lama...


Omar pun datang dengan membawa satu porsi nasi mandhi lengkap dengan daging kambing, mayonaise, sambal, acar dan bawang Bombay.



"Looks delicious!" seru Nadya.


"Sudah lama aku tidak makan ini Nad, dan aku surprise disini ada!" senyum Omar sambil meletakkan napkin diatas pahanya.


"Kamu beruntung OZ dapat, biasanya menjelang jam dua siang sudah habis tuh nasinya!" celetuk Nadya.


Omar Zidane mengangguk dan setelah mengucapkan basmalah, pria itu menyendok nasinya.


"Umph! Ini enak banget, Nad!" ucap Omar dengan wajah serius.


"Memang..." Suara lift khusus pun berbunyi membuat semua orang menoleh karena jarang-jarang pimpinan turun ke cafetaria meskipun mereka pun terkadang makan di sana.


Tak lama, Bayu O'Grady pun keluar lalu berjalan menuju meja Ajeng, Nadya dan Omar Zidane.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2