
Ruang Kerja Bayu O'Grady
"Jadi kamu cuma boleh pergi dengan Ajeng pas weekend?" tanya Michel ke arah Bayu.
"Yup. Tapi tidak masalah karena Ajeng kan tiap hari bersama aku di kantor. Aku bisa bertemu dengan nya setiap saat. Modusin dia setiap saat..." cengir Bayu.
"Oh astagaaa... Benar-benar deh kamu sudah jadi bucinnya Ajeng" kekeh Michel.
"Macam kamu tidak dengan Gemini?" ejek Bayu.
"Tapi kamu lebih parah deh Bay. Kamu, Dante dan Raj itu bucinnya minta ampun ! Oh bagaimana dengan Omar dan Nadya?"
"Itu lebih parah Michel. Sering tidak lihat tempat..."
"Kabarnya Nadya mau dikirim ke Jakarta?" tanya Michel.
"Yup. Aku rasa ada baiknya Nadya dikirim ke Jakarta demi segera halal dengan Omar."
Michel mengangguk. "Nelson dan Marisol? Mereka juga serius kan?"
"Tampaknya meskipun tidak separah Nadya dan Omar."
Suara ponsel Michel berbunyi dan pria Italia itu membaca pesannya. "Bay, Dante dan Antonio akan mendarat nanti malam. Mereka mengajak makan siang besok sebelum pameran malamnya."
"Coba aku lihat jadwal aku." Bayu membuka iMac nya dan Michel hanya bisa takjub dengan digital planner milik iparnya yang unyu unyu.
"Ajeng?" kekeh Michel.
"Who else ( siapa lagi )? Dia tidak suka yang monoton." Bayu memeriksa jadwal besok. "Aku kosong dari jam 11 sampai jam 2 siang karena jam 3 sore, aku hendak meeting dengan divisi desain di lantai 15."
"Bisa lah Bay. Kapan lagi kita hangout. Oh Bay, segera halalkan Ajeng."
"Maunya Mike, tapi Ajeng maunya usai selesai kontrak" ucap Bayu manyun. "Maunya sih aku bawa ke Las Vegas, nikah kilat disana."
Michel terbahak. "Kamu bisa digantung di pohon hutan Sandy kalau berani seperti itu."
"Exactly."
***
Menjelang sore pulang kantor, Radeva sudah duduk menunggu Ajeng menyelesaikan tugasnya.
"Dik Aya gimana pak?" tanya Ajeng.
"Aya perjalanan kemari. Tadi katanya sudah naik Uber kemari."
"Dik Aya nggak bisa nyetir mobil?"
"Bisa tapi dia males kena macet. Lagipula kan kita naik mobilku, Jeng. Repot nanti."
"Ah iya ya."
Pintu ruang kerja Bayu terbuka dan tampak pria itu keluar. Michel dan Gemini sudah pulang tadi jam tiga sore.
"Jeng, bisa ke ruangan saya sebentar?" pinta Bayu.
"Baik pak." Ajeng meletakkan tas nya diatas meja dan mematikan semua komputernya. "Pak Radeva, sebentar ya."
"Bentar ya Deva, mau urus jadwal besok." Bayu menghela punggung Ajeng yang berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Mas, jangan macam-macam. Tar Tante Gandari sita lagi lho."
"Urusan pekerjaan Deva." Bayu pun masuk dan menutup pintunya.
__ADS_1
Radeva menggelengkan kepalanya. "Memang nya aku tidak tahu modusmu mas...mas." Pria itu tersenyum ketika membaca pesan dari saudara kembarnya yang akan datang ke New York bersama dengan suaminya dan Raul putra mereka.
"Asyiiik! Kirain nggak jadi datang!" senyum Radeva.
"Apanya yang nggak jadi datang?"
Radeva mendongak dan melihat Ganiya sudah berdiri di hadapannya.
"Hai Sayang, besok Veena datang. Nanti aku kenalkan ke dia, bang Alexis dan keponakan aku, Raul."
"Oh ya? Duh nggak sabar ketemu mbak Veena, bang Alexis dan Raul" senyum Ganiya. "Mbak Ajeng mana?" Gadis blasteran itu celingukan mencari Ajeng.
"Mas Bayu kasih wejangan dulu" jawab Radeva asal.
"Haaahh?" Ganiya menatap kekasihnya bingung.
***
Ruang Kerja Bayu O'Grady
"Ada apa pak Bayu?" tanya Ajeng. "Mau reschedule jadwal?" Gadis itu mengeluarkan ponselnya.
Bayu langsung memeluk Ajeng erat.
"Pak Bayu kenapa?" tanya Ajeng sambil membalas pelukan Bayu.
"Kamu kan mau pergi sama Deva dan Aya, jadi sebelum kamu pergi, aku harus recharge mood aku." Bayu mencium pelipis Ajeng. "Ya sudah. Mood aku sudah membaik." Bayu melepaskan pelukannya lalu memegang dagu Ajeng dan mencium bibirnya lembut.
"Jangan sampai lipstikmu berantakan" bisik Bayu usai mencium Ajeng.
"Pak Bayu..."
"Ya?"
Bayu tertawa. "Sudah... have fun dengan Deva. Oh Jeng, besok siang aku pergi makan siang dengan para mafia ya."
Ajeng melongo. "Mafia?"
"Ipar - ipar aku datang. Jeng. Bukan mafia yang itu."
"Ooohh ... Kirain."
"Sudah sana pergi bersama Deva dan Aya. Yang penting aku sudah dapat mood booster."
***
RR's Meal New York
"Jadi besok para Mafioso pada datang?" tanya Mamoru. "Pameran wine lagi?"
"Iyalah. Mereka kan bisnis nya wine dan anggur" jawab Radeva.
"Mas Bayu nggak papa nih mbak Ajeng dibawa kita?" tanya Mamoru
"Paling mas Bayu udah dapat mood booster dari Ajeng jadi udah aman lah" kekeh Radeva membuat wajah Ajeng memerah.
"Beneran ya mas Bayu itu jatuh cinta setengah mati sama mbak Ajeng." Mamoru menatap gadis yang duduk di sebelahnya.
"Mbak, aku rasa kontrak mu bakalan dipercepat habisnya soalnya aku rasa Mas Bayu sudah nggak sabar pengen halalkan dirimu" celetuk Ganiya.
"Aya, Ajeng itu tipe kalau belum selesai ya nggak bakalan berhenti." Radeva menatap ke gadisnya.
"Iya dik Aya. Saya nggak mau dicap gimana-gimana..." timpal Ajeng.
__ADS_1
"Lha kan mas Bayu memang jatuh cinta sama mbak Ajeng jadi salahnya dimana? Mas Bayu single, mbak Ajeng single. Bukan pelakor atau pebinor..."
"Bukan pekesor juga..." potong Radeva.
"Pekesor?" Ganiya menatap Radeva.
"Perebut Kekasih Orang" jawab Mamoru kalem yang membuat Ajeng terbahak.
"Astagaaa ! Istilahnya" gelak Ajeng.
"Begitulah!" cengir Radeva.
"Anyway, yang jelas besok Desember Sakura akan menikah dengan Alessandro Moretti karena mas Eagle dan mbak Elane harus mundur menunggu nenek mbak Elane selesai kemoterapi" celetuk Mamoru.
"Kamu datang ke Tokyo Moru?" tanya Radeva.
"Tergantung Daddy lah. Desember itu pasti Daddy tidak bisa pergi seenaknya karena natal dan tahu sendiri seperti apa ditambah tahun baru... Alamat aku nggak datang. Menunggu sajalah..." Mamoru tersenyum ke semua orang.
"Iya lah. Kita lihat saja nanti." Radeva menyesap coke nya.
***
Keesokan harinya Ajeng harus ke ruangan Alea Hamilton menjelang makan siang dan meninggalkan Bayu di ruang kerjanya. Kepergian Ajeng ke ruang Alea juga bukan tanpa alasan karena Bayu yang menyuruhnya mengambil berkas disana.
Sepuluh menit Ajeng pergi dengan lift karyawan, lift khusus itu berbunyi dan dari dalam keluar lah tiga pria dengan fisik khas Italia. Kehadiran ketiga orang itu membuat para pegawai lantai 15 langsung heboh.
"Lha Ajeng nggak ada" ucap pria berambut keriwil itu.
"Telpon Bayu saja." Pria yang berwajah dingin langsung menelpon Bayu. "Bay, kita di depan ruangan kamu tapi Ajeng mu tidak ada."
Bayu langsung membuka pintu ruang kerjanya. "Holly smoke ! Kalian datang?!" senyum Bayu saat melihat iparnya datang.
"Apa kabar?" sapa pria berwajah dingin itu sambil tersenyum.
"Baik bang Dante." Bayu tersenyum ke arah pria berambut keriwil. "Bang Tomat."
"Si@lan lu Bay!" gerutunya sambil memeluk Bayu.
"Bang Alexis" sapa Bayu.
"Bay" balas Alexis yang tetap cool.
Tak lama suara lift khusus berbunyi dan tampak Ajeng keluar sambil membawa berkas.
"Pak Bayu, besok lagi kalau pak Bayu ceroboh lagi, saya nggak mau lari-lari begini lho..." omel Ajeng sambil membaca berkas yang terbawa surat keluar ke tempat Alea Hamilton tanpa melihat ke depannya.
"Jeng..." panggil Bayu.
Ajeng mendongakkan wajahnya dan mulutnya ternganga. "Oh my God!" ucapnya tertahan.
Semoga ga pingsan lihat cogan depan mata ya Jeng...
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1