My 100th Secretary

My 100th Secretary
Diculik!


__ADS_3

Sebuah Restauran Jepang di mall Manhattan


Radeva dan Devan sedang menikmati acara makan siangnya yang terlambat di sebuah restauran Jepang. Kedua sepupu itu tampak memutar otak bagaimana membawa Ajeng ke Jakarta untuk menemui Arum dan Bara tanpa Bayu yang mengintil macam bebek.


"Harus rapih dan terstruktur" ucap Devan.


"Hu um."


"Pakai pesawat pribadi."


"Hu um."


"Jangan pakai pesawat Giandra, Blair atau pun O'Grady."


"Hu um."


"Mas Deva! Jangan hu um saja dong! Mikir!" hardik Devan gemas.


"Tunggu. Kita sewa pesawat, dan membawa Ajeng tengah malam..." Radeva menatap Devan.


"Kita menculiknya?" bisik Devan.


"No! Kita membawa nya pergi!" Radeva menatap Devan sebal. "Kata penculikan itu kesannya kita sangatlah kriminal."



"Bagaimana cara membawa mbak Ajeng pergi? Pesawat done. Kita bisa menyewa dengan mudah. Tapi membawa mbak Ajeng..." Devan mengetuk - ngetuk mejanya dengan jari telunjuk dan tengahnya.


"Kita ajak kemping! Bilang saja kita ajak ke Maine. Aku, kamu dan Aya tanpa mas Bayu! Tapi kita minta Ajeng bawa paspornya karena kita kan akan melewati negara bagian." Radeva tersenyum lebar. "Kita bilang persiapkan baju dan kita jemput menjelang tengah malam, bilang mau lihat sunrise. Gimana?"


"Apakah Aya mau? Diajak kerjasama?" tanya Devan.


"Aya suka acara culik menculik yang Membagongkan" seringai Radeva.


"Deal! Oh jangan lupa, jangan sampai mbak Ajeng keceplosan ke angin Muson itu!" ucap Devan sambil memasukkan sushi ke dalam mulutnya.


Kedua pria muda tampan itu tampak menyeringai usil setelah mempersiapkan rencana matang-matang.


***


Apartemen Ajeng di Soho New York


Bayu mengantarkan Ajeng hingga ke depan pintu apartemennya dan gadis itu tersenyum ke arah pria bertubuh besar itu.


"Pak Bayu, terimakasih sudah mengantarkan saya, membelikan sepatu idaman saya.." Ajeng menatap Bayu lembut.


"Sama-sama Ajeng. Meskipun kamu belum menerima aku, tapi aku senang hari ini" balas Bayu.


"Iya senang! Main cium bibir anak pera..." Ajeng menutup mulutnya takut kebablasan lagi omongannya.


"Percaya kamu masih perawan, Jeng... Addduuuhhh!" Bayu melindungi dirinya dari pukulan Ajeng.


"Shut it Pak Bayu!" bentak Ajeng dengan wajah malu.


Bayu hanya tertawa kecil lalu memeluk Ajeng erat. "Aku akan bersabar sampai kamu katakan 'iya' padaku."

__ADS_1


Ajeng hanya terdiam tapi diam-diam dirinya menikmati pelukan Bayu dan dirinya merasa terlindungi serta nyaman sekali.


Ajeng tersenyum tipis. Ternyata dipeluk beruang Grizzly dari Krypton enak juga. Tunggu, emangnya di planet Krypton ada beruang Grizzly?


"Ajeng... kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Bayu.


"Membayangkan dipeluk Winnie the Pooh..."


Bayu terbahak. "Enak kan dipeluk aku?"


"Enak lah kan pas musim dingin jadi hangat..." gumam Ajeng. Mas Kal-el parfumnya apaan sih? Baunya bikin aku kacau ini.


"Sudah, kamu masuk deh. Bisa Jontor lagi tuh bibir kalau aku khilaf!" Bayu melerai pelukannya dan menunggu sampai Ajeng membuka pintu apartemennya.


"Pak Bayu, hati-hati di jalan" ucap Ajeng sambil masuk ke dalam apartemen.


"Mas Kal-el."


"Hah?"


"Aku mau kamu manggil aku begitu kalau cuma berduaan."


Wajah Ajeng memerah. "Nggak pak. Biarkan panggilan Mas Kal-el kalau saya lagi kesal sama bapak dalam hati! Lagipula pak, apa bapak tabah kalau diejek semua keluarga bapak?"


Bayu tampak tertegun mendengar ucapan Ajeng. Benar juga. Apalagi Devan dan Radeva yang tahu sejarah aku dan Ajeng. "Kalau begitu... panggil aku Mas Bayu."


"Nggak pak. Saya panggil bapak tetap pak Bayu agar saya tidak keselip lidah. Tetap profesional pak..." eyel Ajeng.


Bayu hanya mengehela nafas panjang. Gadis satu ini memang syulit! Semua selalu dipikirkan secara realistis! "Iya deh Jeng. Tapi kalau kita menikah nanti, kamu memanggil aku pakai 'mas' ya?"


Ajeng tidak menjawab karena jika ia mengiyakan, berarti dia menerima Bayu. "Pak Bayu..."


"Bersabarlah dengan saya yang terlalu over thinking dan banyaknya perhitungan."


Bayu tersenyum maklum. "I know. Sudah, kamu beristirahat. Sampai bertemu besok di kantor."


"Sampai bertemu besok." Ajeng tersenyum lalu menutup pintu apartemennya dan menguncinya.


Bayu berdiri disana beberapa saat lalu berjalan meninggalkan apartemen Ajeng.


***


Tiga Hari kemudian..


"Ajeng!"


Ajeng yang sedang bekerja menoleh ke arah suara dan tampak Radeva berdiri disana.


"Pak Radeva? Mau ketemu pak Bayu? Eh tapi pak Bayu sedang ke Washington dua hari ini sebelum libur Halloween." Kemarin Bayu memang pergi ke Washington untuk acara pertemuan bisnis disana bersama dengan Jang Geun-moon.


"Nggak. Aku mau ketemu sama kamu. Gini, besok kan libur terus aku dan Devan ingin ke Maine untuk melihat sunrise disana. Kamu mau ikut nggak?" tanya Radeva.


"Ada dik Aya kan?" tanya Ajeng.


"Ada. Karena ini sunrise jadi tengah malam, kamu kita jemput ya? Nggak usah bilang sama mas Bayu. Kan dia ada acara di perusahaan pesta Halloween sedangkan aku paling malas ikut pesta kostum. Gimana? Mau kan Jeng?" Radeva menatap Ajeng penuh harap.

__ADS_1


Ajeng tampak berpikir. Lumayan jalan-jalan ke Maine dan hiking lihat sunrise. "Ikut deh pak!"


Radeva tersenyum lebar. "Jangan lupa bawa Paspor kamu. Kita kan lintas negara bagian."


"Baik pak!" Ajeng menjawab dengan semangat. "Berapa hari disana ?"


"Hitung saja buat dua malam Jeng. Kalau kurang, tinggal beli baju saja disana" jawab Radeva.


"Iya ya. Gampang lah pak" senyum Ajeng.


Radeva mengangguk. Aku ingin tahu bagaimana mas Bayu kelimpungan ditinggal sekretarisnya yang super receh dan Membagongkan. Pasti sangat hilarious!


"Ya sudah Jeng, aku cuma bilang itu. Besok malam aku jemput ya?"


Ajeng mengangguk "Siap pak. 86!"


Radeva tertawa.


***


Apartemen Ajeng besok malamnya...


Bayu menelpon Ajeng pagi dan menanyakan acaranya hari ini dan gadis itu menjawab di rumah saja. Ajeng benar-benar tidak mengatakan bahwa dirinya akan hiking bersama Radeva dan Devan.


Tepat pukul sebelas malam, bel apartemen Ajeng berbunyi dan gadis itu membukanya. Tampak Radeva dan Devan disana yang kemudian membantu membawakan duffle bag milik Ajeng. Keduanya menunggu sampai Ajeng selesai memeriksa apartemennya dan menguncinya.


Setelah nya mereka pun berangkat menuju bandara JFK yang membuat Ajeng bingung.


"Lho pak? Dik Aya nggak dijemput?" tanya Ajeng bingung.


"Kita nggak bawa Aya Jeng" jawab Radeva yang mengemudi mobil Range Rover nya.


"Kok kita ke bandara?" Ajeng bingung melihat papan jalan yang menunjukkan bandara JFK. "Ke Maine kan naik mobil biasanya."


"Karena kita tidak akan ke Maine, mbak" jawab Devan.


"Lha kita kemana?" tanya Ajeng panik. Duh ini penculikan!


"Kamu bawa paspornya kan?" tanya Radeva.


"Bawa. Tapi kita mau kemana pak?" tanya Ajeng panik.


"Jakarta."


Ajeng melongo. "Jakarta? Jakarta?" serunya. "Seriously?"


"Way serious! Sudah kamu diam-diam saja dan nikmati perjalanan menuju Jakarta. Okay?" Radeeva menatap dari kaca spion tengah.


Ajeng tampak antusias. Akhirnya menginjak tanah kelahiran setelah enam tahun... Meskipun tidak di Solo tapi pulang ke Indonesia itu menyenangkan!!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2