
Bergdorf Goodman New York
Ajeng dan Gandari tiba di sebuah departemen store yang terkenal dengan barang branded luxury nya. Kamu cari brand milik siapa, ada disini.
"Kamu sudah pernah masuk sini Jeng?" tanya Gandari.
"Belum, Bu. Jujur saya jarang masuk ke mall brand dan terakhir juga bersama dengan pak Bayu."
"Ngomong-ngomong, anakku bagaimana? Masih modus terselubung?"
Ajeng tertawa kecil. "Bu, maaf. Tapi pak Bayu kalau nggak modus, sepertinya kurang afdol."
"Haaaiissshhh anak itu." Gandari menggandeng tangan Ajeng untuk masuk ke dalam butik Jimmy Choo.
"Welcome Mrs O'Grady. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramuniaga.
"Putriku ingin mencari sepatu atau sandal santai buat musim panas dan sepatu pesta. Bisakah berikan katalog keluaran terbaru?" pinta Gandari membuat Ajeng melongo.
"Tapi Bu..."
Gandari memberikan tatapan 'Jangan banyak komentar '. "Berikan katalognya."
Pramuniaga itu pun membuka iPadnya dan menunjukkan pada Ajeng.
"Pilih saja yang kamu suka Jeng. Ambil satu atau dua. Nanti kita ke tempat lainnya kalau tidak ada yang cocok."
Ajeng menatap Gandari yang dengan cueknya menunjuk sebuah sepatu hitam beludru cantik seolah bodo amat kamu ambil berapa.
Porotin saja Jeng istrinya pak Abiyasa... Entah kenapa suara Bayu yang terdengar di otak dan hatinya. Duh mas Kal-el memang deh...Syaiton krypton !
"Sudah Jeng? Pilih yang mana?" tanya Gandari sambil meminta dibungkus kan sepatu hitam itu.
"Wedges biru Bu" jawab Ajeng.
"Cuma satu?" tanya Gandari.
"Iya Bu." Satu aja sama dengan biaya sewa apartemen aku sebulan sekarang.
"Oke. Nanti kita ke toko lain."
Ajeng dan Gandari pun keluar dari dari butik itu dan berjalan menuju Christian Louboutin. Gadis itu tampak senang bisa masuk ke brand favorit nya.
__ADS_1
"Dah sana Jeng, pilih yang mana. Terserah !"
Ajeng menatap Gandari. "Serius bu?"
"Serius !"
Ajeng pun seperti anak kecil di toko permen. Gadis itu langsung meminta sepatu untuk kerja, sepatu boot sebatas pergelangan kaki, tas Tote dengan dua warna, hitam dan merah.
Gandari tersenyum melihat wajah ceria Ajeng dan langsung mengeluarkan kartu hitamnya untuk membayar semua belanjaan gadis itu. Total dalam waktu kurang dari setengah jam, Ajeng sudah menghabiskan hampir $8,500 di dua toko brand ternama.
"Yuk kita makan siang dulu. Aku sudah lapar." Gandari menggandeng tangan Ajeng. "Kamu tahu Jeng, aku dulu ingin sekali punya anak perempuan, adiknya Bayu tapi kami tidak dikaruniai anak lagi setelah si angin topan itu. Aku dan mas Abi sudah mencoba berbagai metode dan cara bahkan bayi tabung hingga tiga kali. Semuanya tidak ada yang berhasil. Mas Abi tidak mau menggunakan surrogate mom jadi ya sudah, kami terima saja hanya punya Bayu. Ingin punya anak perempuan itu seperti ini Jeng, bisa mother and daughter day. Shopping dan beli barang macam-macam berdua."
Keduanya pun tiba di sebuah restauran Perancis yang high end. Gandari pun mendapatkan meja di sudut apalagi dia adalah salah satu pemilik galeri ditambah istri Abiyasa O'Grady, CEO PRC Group jadi mudah mendapatkan tempat.
Gandari dan Ajeng memilih Ratatouille, beef tartare, coq au Vin dan chocolate puding. Untuk minumnya, mereka memilih Perrier cocktail Nok alcohol dan kopi.
"Jadi pada saat aku dan mas Abi sudah hands up untuk memiliki anak lagi, aku hanya berdoa supaya Bayu mendapatkan calon istri yang baik dan hanya melihat Bayunya bukan Bayu punya apa. Ada ketakutan tersendiri lho Jeng punya anak laki-laki, good looking, cerdas dan kaya" lanjut Gandari usai mereka selesai memesan.
"Ternyata punya anak laki-laki juga membuat cemas ya Bu?"
"Mau punya anak laki-laki atau perempuan itu sama saja. Apalagi kita tinggal di New York Jeng, yang kehidupannya... Hadeehhh. Aku bisa menjaga diri, mas Abi juga. Dan aku rasa Bayu juga. Punya anak laki-laki takut kebablasan bikin hamil anak gadis orang, punya anak perempuan takut hamil diluar nikah. Ketakutan yang wajar bagi setiap orang tua."
"Iya sih Bu. Sejujurnya semenjak saya mendapatkan periode yang pertama kalinya, mama saya sudah mulai memperkenalkan edukasi kehidupan dewasa. Dan bukan hanya mama, tapi papa juga mengajari saya dari sudut pandang pria dan dokter."
"Insyaallah cocok Bu... Tapi kalau mama masih ada pasti komentar kalau melihat pak Bayu."
"Memang mamamu bakalan komentar apa?"
"Jeng, itu pacar kamu makan apa badannya bisa segedhe gaban? Macam Hercules saja..."
Gandari terbahak. "Ohya ampun Jeng...Ternyata Bayu tidak salah pilih pasangan. Kamu memang cewek langka Jeng, susah dicari di jaman sekarang."
"Ah saya mah biasa saja Bu. Saya hanya mengingat pesan kedua orang tua saya. Berbaik hatilah kepada setiap orang, karena kita tidak tahu, Allah akan membalasnya seperti apa. Saya tidak tahu saya atau orang tua saya berbuat baik apa selama ini, sampai saya bisa bersama dengan pak Bayu, diterima keluarga besar Bu Gandari dan Pak Abiyasa... diterima para sepupu pak Bayu... Saya... saya merasa sangat beruntung... Saya yang hanya anak yatim piatu, orang tua saya sudah tidak ada, tidak punya keluarga dimana-mana... Malah mendapatkan pengganti keluarga yang... " Ajeng menghela nafas panjang. "Ampun rusuh nya..."
Gandari tertawa. "Kalau soal rusuh merusuh Ajeng, itu sudah turun temurun. Memangnya generasi pak Abiyasa tidak rusuh?"
"Oh soal cincin lamaran yang gelinding itu ya Bu?" cengir Ajeng.
"Nah itu ! Aib seumur hidup pak Abiyasa Giandra Blair O'Grady... Kamu sudah tahu ceritanya?"
"Sudah. Pak Bayu bahkan menunjukkan rekaman saat Pak Abi dan Bu Gandari lamaran..." kekeh Ajeng.
__ADS_1
Gandari menepuk jidatnya. "Bayu itu kadang mirip ayahnya yang memang bukan tipe playboy macam Dewa atau Bagas ayahnya."
"Tapi Dewa sudah tunangan dengan Alina Bu."
"Sekarang saja sudah tobyat dia! Dewa itu mirip dengan Bagas, papanya. Playboy, penganut paham hidup bebas dalam arti sesungguhnya. Tapi saat bertemu dengan Safira, Bagas auto tobyat. Dewa juga begitu karena sudah menemukan pawang yang tepat."
"Pak Bayu memang mirip pak Abi tapi kadang kata Oma Kaia mirip Opa Edward dan Ogan Abi."
"Meh piyeee Jeng, wong pancen turunannya ( mau gimana Jeng, kan memang turunannya )." Pembicaraan mereka pun terhenti saat pesanan makanan datang.
***
PRC Group Building Manhattan New York
Bayu tersenyum melihat banyak nya paper bag yang dibawa Ajeng. Ternyata gadisku mengikuti perintah aku. Morotin Bu Gandari ! Pintar !
"Banyak banget Jeng? Kamu habiskan kartu hitam mommy?" goda Bayu.
"Nggak lah pak, saya masih tahu diri" jawab Ajeng tersipu.
"Habisnya lumayan ya Jeng? Berapa total?" kepo Bayu.
"Iiissshh pak Bayu!" elak Ajeng.
"20? 30?"
"Kurang dari itu pak..."
"Salah kamu Jeng ! Harusnya sekalian 50 ! Uang segitu di Bu Gandari itu macam uang receh ! Kapan lagi kamu dibeliin sama ibu negara?"
"Lha kalau saya nikah sama bapak, kan bakalan sering-sering shopping bareng kan?" balas Ajeng santai.
Bayu terbahak. "Dasar kamu ya ! Cerdas !" Pria itu menepuk kepala Ajeng gemas.
Ajeng hanya memberikan senyuman manis.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️