My 100th Secretary

My 100th Secretary
Tiba di Jakarta


__ADS_3

Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta


Pesawat Gulfstream yang disewa oleh Radeva dan Devan akhirnya mendarat dengan sempurna di Jakarta usai menempuh perjalanan hampir 24 jam. Tiba di Jakarta tengah malam hari berikutnya, ketiganya pun turun sedangkan pesawat mereka akan terbang kembali ke New York usai mengisi bahan bakar.


Ketiganya dijemput oleh dua pengawal milik Ramadhan Securitas yang sudah dipesan ke David Hakim Satrio. Setelahnya mereka diantar ke Mansion Giandra dan Bara yang menunggu cucu-cucunya datang sudah sibuk menelpon Radeva.


"Iya opa Bara. Ini perjalanan" jawab Radeva dengan bahasa Indonesia.


Ajeng sendiri lebih tertarik dengan pemandangan kota Jakarta yang sudah lama tidak dia lihat enam tahun terakhir ini. Wajah gadis itu tampak sumringah apalagi saat mereka melihat Monas yang iconic.


"Mbak Ajeng mau foto di depan Monas?" goda Devan.


"Pengennya tapi kok kayak wong ndeso ora tahu Ning Jakarta ( macam orang kampung tidak pernah ke Jakarta )" gelak Ajeng.


"Mumpung sepi lho. Sekalian saja" ajak Devan.


Radeva yang masih menelpon Bara, hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Dasar!"


Devan meminta sopir merangkap pengawal untuk berhenti depan Monas dan dirinya bersama Ajeng turun sambil foto-foto berdua maupun sendirian. Radeva sendiri usai menelpon Bara pun ikutan foto bareng hingga foto bertiga. Puas foto-foto, mereka pun melanjutkan perjalanan ke mansion.


Setibanya di Mansion Giandra, ketiganya disambut Bara dan Arum yang senang dengan kedatangan cucunya apalagi semenjak Sadawira kuliah di Maryland dan Arka berserta Arabella hanya datang saat weekend, kedatangan Radeva dan Devan membuat ramai Mansion.


"Lho cah ayu Iki sopo Deva?" tanya Arum yang langsung senang melihat wajah ayu Ajeng.


"Namanya Ajeng Pratiwi, Oma. Sekretarisnya mas Bayu yang keseratus" jawab Radeva.


Ajeng langsung mencium punggung tangan Arum dan Bara. "Nyuwun Sewu Oma, Kulo ( saya - kromo Inggil ) ngerepotin... "


"Whoah! Ijih iso ngomong Jowo ( masih bisa ngomong bahasa Jawa )! Kowe asline ngendi nduk ( kamu aslinya mana )?" Arum tampak heboh. Semuanya sedang berada di ruang tengah bahkan Iwan dan Danisha pun ikut menemani.


"Kulo Solo. Solo nipun Mangkubumen, Banjarsari" jawab Ajeng.


"Cedhak pasar Nongko ( dekat pasar Nangka )?" tanya Danisha.


"Leres Oma ( benar Oma )" jawab Ajeng sambil tersenyum.


"Duh rasane pengen gosip tapi kalian pasti capek. Wis istirahat dulu semua, besok kita ghibah!" senyum Arum yang tampak semangat mendapatkan teman baru yang sama-sama wong solo.


***


Ajeng masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan dan Arum pun ikut masuk.

__ADS_1


"Jeng, disini ada banyak baju baru. Kamu pilih saja sendiri. Ada daster, ada piyama... Wis karepmu nganggo sing Endi ( sudah terserah kamu pakai yang mana )" ucap Arum.


Ajeng melongo. "Oma Gendhis... Tapi..."


"Semua kamar tersedia Jeng. Jadi kalau pada menginap disini, pada tidak bawa baju tidur karena sudah tersedia. Ben ora repot ( biar nggak repot ) kamu lupa bawa. Wis nggon wae sing Endi ( sudah pakai saja yang mana ). Nek daster kan all size dadi gampang tho ( kalau daster kan semua ukuran jadi gampang )." Arum memperlihatkan walk in closet yang memperlihatkan tumpukan daster yang masih terbungkus plastik.


"Wuuuiiiihhhh kencana Wungu" seru Ajeng.


"Wong solo mesti paham" kekeh Arum.


"Saya mesti pesan online Oma. Kadang mboten cucuk ( nggak pas ) ongkosnya tapi demi daster, baju kebangsaan" senyum Ajeng.


Arum memeluk Ajeng. "Aku ndelok Kowe kok kayak familiar ( aku lihat kamu kok seperti familiar ). Wis leren dulu, besok sarapan jam delapan ya nduk."


Ajeng membalas pelukan Arum. "Matur nuwun Oma sudah menerima saya disini."


"Asal Kowe ( kamu ) ngerti, tidak sembarang Radeva dan Devan berani bawa orang asing lintas samudra kalau mereka yakin kamu gadis baik-baik. Mereka berdua itu feeling nya kuat. Paham ya nduk?"


Ajeng mengangguk. "Saya sangat tersandung... eh tersanjung Oma."


Arum menepuk pipi Ajeng lembut. "Sekarang bilang sama Oma, Kowe pamitan Karo Bayu ora ( kamu pamitan sama Bayu tidak )?"


Ajeng nyengir dan menggelengkan kepalanya.


***


Washington DC saat Ajeng, Radeva dan Devan perjalanan ke Jakarta


Bayu jauh lebih dingin saat menemui beberapa rekan bisnisnya, bahkan tidak ada senyuman sedikit pun dari wajahnya membuat Jang Geun-moon sedikit bingung dengan keponakannya.


Bayu hanya menjawab seperlunya dengan sopan tapi tidak ada wajah cerah disana. Setelah selesai beramah-tamah, Geun-moon pun menghampiri keponakannya.


"Kamu kenapa Bay?" bisik Geun-moon.


"Tidak apa-apa, Tante GM."


"Bayu! Bilang sama Tante! Ada apa? Apa ada masalah di New York?" tanya wanita berdarah Korea Selatan itu.


Bayu menghela nafas panjang. "Iya Tante..."


"Tapi kan ada mas Abi dan Alea. Lagipula hari ini kan libur jadi... apa masalahnya? Kita saja yang masih bekerja karena paling mudah mengumpulkan semua orang di hari libur sebelum Halloween" ucap Geun-moon bingung.

__ADS_1


"Sekretaris aku diculik.."


Jang Geun-moon melongo. "Apa? Diculik?!"


"Iya Tante... Diculik ke Jakarta sama Radeva dan Devan."


Mulut Jang Geun-moon menganga lebar. "Ke Jakarta?! Astagaaaa Bay, itu bukan diculik! Tapi diajak jalan-jalan!"


"Tanpa seijin saya Tante!" Mata biru Bayu berkilat marah dan rahangnya mengeras.


"Ya ampun Bayu, kamu susul lah ke Jakarta setelah kita pulang dari Washington" kekeh Geun-moon yang sudah berpikir macam-macam.


"Masalahnya, aku tidak bisa kabur ke Jakarta seenaknya! Besok sudah ada acara di kantor, Selasa saya bertemu dengan Oom Bagas."


"Rabunya lah kamu ke Jakarta. Anak dua itu pasti masih disana." Jang Geun-moon menepuk bahu Bayu. "Sekretaris kamu pasti ada surat ijin nya."


"Ada. Dibuatkan oleh Radeva pergi sampai Jumat!"


Geun-moon cekikikan melihat Bayu kesal. "Sekretaris kamu pasti spesial ya Bay."


"Yes Tante."


Geun-moon menepuk pipi Bayu. "Sudah jangan marahi sekretaris kamu. Kalau Radeva dan Devan berani membawa sekretaris kamu, berarti memang dia sepesial itu. Namanya siapa Bay?"


"Ajeng Pratiwi."


"Wanita Indonesia?" tanya Jang Geun-moon sambil mencari informasi tentang Ajeng dari iPadnya. "Kasihan, kedua orangtuanya meninggal saat dia masih kuliah karena wabah."


Bayu membaca informasi yang didapat dari Geun-moon. "Lahir besar hingga SMA di Solo sebelum kedua orangtuanya mendapatkan penawaran kerja di Amerika. Kuliah di New York dan kedua orangtuanya bekerja di Bellevue sebelum menjadi dokter volunteer ke Suriname..."


"Dia gadis yang kuat Bay. Lihat record nya dia selama menjadi warga negara Amerika berkat green card, dia tidak pernah melanggar hukum apapun." Jang Geun-moon membaca pengalaman kerja Ajeng yang cukup banyak dan semua supervisor nya memberikan surat rekomendasi yang baik kecuali tempat kerja terakhirnya di sebuah butik.


"Dia memang tidak melanggar hukum federal apapun, tapi dia sudah melanggar peraturan Bayu O'Grady!" ucap Bayu geram.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2