
RR's Meal New York
"Ndari, bulan depan jadi pakai RR's untuk acara pameran karya para pelukis aliran realisme romantisme?" tanya Rajendra.
"Jadi. Bahkan aku mendapatkan pinjaman lukisan dari museum Jakarta untuk dua lukisan Raden Saleh dan Basuki Abdullah selain para pelukis terkenal lainnya." Gandari tersenyum senang karena galerinya mendapatkan kepercayaan memamerkan dua lukisan dari dua pelukis legendaris Indonesia.
"Pengawalan pasti ketat."
"Banget mas. Rencananya David yang akan turun sendiri mengawal perjalanan lukisan itu dari Jakarta ke New York dengan pesawat pribadi milik Giandra. Hoshi sudah kasih ijin."
Ajeng hanya diam saja mengikuti pembicaraan kelas tinggi yang dia tidak paham. Oh iya, Bu Gandari kan kepala galeri di New York. Pantas bahasnya lukisan dan art lainnya.
"Oke kabari saja menunya..."
Suara ringtone Ajeng berbunyi lagi membuat Rajendra menatap gadis itu dengan tatapan geli. "Bayu?"
"Siapa lagi boss b1tch versi Ajeng" kekeh Gandari.
"Maaf pak Jendra, Bu Gandari." Ajeng pun menerima panggilan Bayu. "Ya pak Bayu?"
"Ajeng! Kamu pulang! Ini ada yang salah!" bentak Bayu.
"Eh... tapi pak..."
"Terserah kamu mau pulang naik taksi atau Uber! Kalau mommyku masih mau disana, tinggal saja!" ucap Bayu final.
"Ba...baik pak." Ajeng langsung mematikan ponselnya. "Bu Gandari..."
"Ya sudah kita pulang sebelum anakku jadi Twister level tujuh!" gerutu Gandari kesal dengan mode manja Bayu yang tidak pernah kejadian sebelumnya. Bahkan dengan Gemma pun tidak!
***
Ruang Kerja Bayu O'Grady
Bayu berjalan mondar mandir macam setrikaan tidak jelas menunggu sekretaris nya yang sudah pergi hampir 3,5 jam akibat diculik sang mommy. Beneran deh mommy keterlaluan! Ini kan masih hari kerja! Kenapa nggak hari Jumat saja kesininya? Culik Ajeng pas aku jumatan kan enak!
"Lama banget sih sekretaris njelehi satu itu!" omel Bayu kesal. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pekerjaan Ajeng yang sudah cukup sempurna di mata Bayu hanya saja dia mencoba mencari alasan agar sekretarisnya cepat pulang!
Terdengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya membuat Bayu bergegas duduk di kursi kebesarannya dengan memasang wajah dingin seperti biasanya. Tak lama wajah Ajeng pun muncul dari balik pintu dan tampak raut tidak enak karena meninggalkan bossnya terlalu lama.
Lha aku diculik ibunya pak Boss, masa mau nolak?
"Maaf pak Bayu, saya agak lama perginya. Mana yang salah ? Saya akan coba perbaiki." Ajeng menatap lurus ke Bayu dengan nada suara lembut membuat Bayu melongo.
Pria itu mengira kalau Ajeng akan memberikan alasan ibunya lah yang membuat dirinya lama pergi tapi tidak. Ajeng sama sekali tidak menyalahkan mommy!
__ADS_1
"Ehem... Ini Jeng, harusnya ini masuk ke Giandra dan ini milik Jang Corp! Susun ulang! Saya sudah kasih note nya!" Bayu mengembalikan map beludru hitam itu ke Ajeng.
"Baik pak Bayu." Ajeng menerima map itu. "Permisi." Gadis itu berbalik menuju pintu ruang kerja Bayu.
"Jeng..."
Ajeng pun berbalik. "Ya pak Bayu?"
"Tadi makan dimana?"
"RR's Meal pak."
"Bertemu dengan Oom Jendra?"
"Ketemu pak."
"Ya sudah ! Kamu kerjakan itu dulu!" Bayu pun mulai mengerjakan hal yang lain dan Ajeng hanya tersenyum lalu keluar dari ruang kerja pria itu.
***
Di meja kerjanya, Ajeng mulai mengulang penyusunan list dan melihat memo dari Bayu. Yang membuat Ajeng takjub, tulisannya sangat jelas terbaca dan bukan huruf hanacaraka mix Hieroglif lagi.
Diteliti lagi ! Jangan sampai salah! - BY
"Lha tumben bisa nulis benar... Sek sek sek... Apa pak Bayu ikut sekolah calistung? Jebule ( ternyata ) bisa nulis dengan baik dan cetha ( jelas )." Ajeng menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bisa dibilang ini salah satu keajaiban dunia dong!"
"Si@lan aku dibilang ikut kelas calistung! Memang aku umur berapa? Dasar Ajeng!" sungut Bayu sambil menatap layar iMac nya.
***
Ruang Kerja Abiyasa O'Grady
Abiyasa melongo mendengar cerita Gandari, istrinya, kalau Bayu sampai dua kali menelpon sekretarisnya. Padahal saat bersama Gemma yang sengaja diculik oleh Gandari, Bayu sama sekali tidak menelponnya.
"Dua kali Ndari?" tanya Abiyasa.
"Dua kali dan yang terakhir bilang tidak perduli dia naik taksi atau Uber, pokoknya harus pulang tanpa harus menunggu aku!" gelak Gandari. "Kamu harus tahu ringtone yang dipakai Ajeng setiap Bayu telepon itu sesuai dengan gelar Bayu."
"Apaan?" tanya Abiyasa yang duduk di sofa bersama Gandari.
"I'm a b1tch, I'm a boss
I'm a b1tch and a boss, I'ma shine like gloss."
Abiyasa tertawa terbahak-bahak. "Cocok buat si angin topan! Sekarang Ajeng dimana?"
__ADS_1
"Sudah kembali ke meja kerjanya."
"Bagaimana penilaian kamu, Sayang?"
"Kalau boleh mas, aku ingin menjadikan Ajeng menantu. Bukan apa-apa, gadis itu punya prinsip dan cocok masuk ke di keluarga kita. Tapi kan semua tergantung Bayu dan Ajeng."
"Bayu sendiri sudah jatuh cinta dengan Ajeng cuma seperti mommy yang zonk soal asmara, anak itu ternyata nurunin. Biarkan Bayu mendekati Ajeng seperti Omar mendekati Nadya."
"Tapi mas Abi, Nadya juga suka dengan Omar. Sedangkan Ajeng, tendensi untuk menyukai Bayu nyaris tidak ada. Yang ada di benaknya hanyalah menyelesaikan kontrak kerja sembilan bulan lagi, mengambil bonus enam digit itu dan kembali ke Solo. Ajeng ingin tinggal disana buat wirausaha."
Abiyasa terkejut. "Ajeng sudah memikirkan hingga kesana?"
"Iya mas. Pas aku tanya kalau Bayu mau memperpanjang kontrak dirinya menjadi sekretarisnya lagi, bagaimana. Dijawab dia belum bisa memutuskan karena yang sudah ada di planning dia, kembali ke Solo tahun depan." Gandari menatap Abiyasa serius.
"Iso Gulung koming Bayu ( bisa jungkir balik )."
Gandari mengangguk. "Ditunggu wae mas. Semoga Ndang sadar si Twister siji Kuwi ( semoga segera sadar si Twister satu itu )."
***
"Ajeng!"
Ajeng terkejut ketika bahunya ditepuk seseorang. Dirinya memang sedang mendengarkan musik sambil menyelesaikan pekerjaannya, apalagi sepuluh menit lagi jam pulang kantor.
"Pak Radeva?" senyum Ajeng sambil melepaskan airpods nya. "Sudah mau pulang pak?"
"Sudah. Eh Jeng, kamu ada acara nggak? Aku mau ajak kamu ketemu dengan Ganiya."
"Mau ketemu mbak Aya?" tanya Ajeng bingung.
"Dik lah. Kan Aya dibawah kamu umurnya. Aya itu ingin ketemu sama kamu soalnya kepo dengan sikap receh kamu. Plus kangen berbahasa Indonesia sama orang diluar aku dan keluarga nya." Radeva menatap serius ke Ajeng. "Mau ya Jeng?"
"No problemo pak Radeva. Lagipula aku sudah selesai kok!" senyum Ajeng.
"Sip. Nanti kita jemput Aya dulu di perpustakaan nasional baru kita kongko dimana gitu ya."
"Oke pak Radeva." Ajeng merasa seperti dapat lotre karena dalam sehari dua kali ditraktir makan enak. Ngimpi apa aku semalam?
Sementara itu di ruang kerja Bayu... Pria itu cemberut melihat sekretarisnya diajak pergi oleh adiknya meskipun untuk bertemu dengan kekasihnya. Tapi kan tidak perlu bawa Ajeng juga cumiii!
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️