My 100th Secretary

My 100th Secretary
Dasar Ajeng


__ADS_3

Ruang Kesehatan PRC Group Building Manhattan New York


"Pak Radeva, memang pak Bayu mau apain si bandeng presto?" tanya Ajeng yang sudah mendingan setelah diberikan obat dan kompres es.


"Well, bisa dikirim ke hutan horor, Empang piranha atau pun dihajar" jawab Radeva. "Kamu sudah mendingan? Biar aku antar ke lantai 15."


"Saya sudah boleh kembali ke meja saya, dokter Victoria?" tanya Ajeng ke dokter yang bertugas disana.


"Sudah Jeng. Ini sudah aku berikan salep dan obat penghilang nyeri serta anti radang ya. Jangan lupa habis ini istirahat. Aku bilang sama Bayu nanti supaya kamu bisa pulang duluan." Dokter Victoria memberikan paper bag berisikan obat-obatan untuk Ajeng.


"Terimakasih Dok" ucap Ajeng sambil menerima obatnya.


"Kalau kamu mau yang tradisional, oleskan Aloe Vera atau kompres dengan cuka yang dicampur air. Senyaman nya kamu mau yang mana, karena hasilnya sama-sama untuk menghilangkan memarnya."


"Thanks Dok atas sarannya." Ajeng pun mengangguk sambil masih mengompres wajahnya lalu berjalan keluar bersama dengan Radeva.


***


Ruang Interogasi Keamanan PRC Group


"Bay, sudah! Dia bisa mati!" tarik Doogie dan Hunter melihat Bayu ngamuk. Preston sendiri sudah pingsan dengan wajah babak belur.


Benar-benar definisi wajahnya tidak berbentuk!


"JC!" teriak Bayu.


JC pun masuk ke dalam dan hanya menghela nafas panjang melihat kondisi Preston dan kondisi Bayu yang berantakan dengan buku tangan bernoda darah.


"Yes Mr O'Grady."


"Bawa dia ke rumah sakit! Sebelumnya lucuti semua id card dan semuanya yang berhubungan dengan PRC Group! Dan bilang sama anak buahmu, bereskan mejanya!" perintah Bayu.


"Siap Mr O'Grady!"


Bayu pun keluar diikuti oleh Hunter dan Doogie yang memberikan tepukan di rekan kerjanya.


"You know Mr O'Grady kan JC?" bisik Doogie.


"He loves his secretary, isn't he ( dia mencintai sekretarisnya kan )?" balas JC sambil berbisik juga.


Doogie hanya nyengir lalu meninggalkan JC yang hanya tersenyum. "Akhirnya ada wanita yang bisa membuat Mr O'Grady junior ngamuk selain Mrs O'Grady."


***


Bayu menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya dan melihat ada noda darah di kemejanya yang bewarna putih. Damn! Harus ganti baju! Setelah mencuci tangan, Bayu pun keluar bertepatan dengan ponselnya berbunyi yang masih tersimpan di saku dalam jasnya.

__ADS_1


Hunter mengambil ponselnya dan memberikan pada Bayu yang melihat siapa menelponnya. "Ya Deva?"


"Mas, Ajeng sudah di mejanya. Aku antar pulang atau mas Bayu yang antar?" tanya Radeva. "Soalnya tadi dokter Vicky sudah memberikan surat ijin pulang."


"Aku saja yang antar Deva. Kamu temani Ajeng dulu disana. Sebentar lagi aku sampai di lantai 15" ucap Bayu tegas.


"Oke mas." Radeva pun mematikan panggilannya.


"Kamu butuh kami tidak Bay?" tanya Hunter yang tahu sebenarnya Bayu tidak mau diganggu dengan Ajeng tapi kan dirinya dan Doogie butuh kepastian daripada salah sambung bisa jadi Twister level tujuh!


"No. Nanti biar aku saja yang antar Ajeng pulang, kalian kembali saja ke apartemen" jawab Bayu final.


Hunter dan Doogie saling berpandangan dan tatapan mereka sama. Sudah kuduga!


***


Lantai 15 PRC Group


Ajeng menatap Radeva yang duduk di depan meja nya. Pria yang sebaya dengannya tapi sudah dipanggil 'Pak' olehnya karena kondisi pekerjaan tampak asyik chatting dengan seseorang.


"Pak Radeva chat sama siapa?"


"Sama Aya. Katanya ibunya Aya menanam lidah buaya di kebun belakang dan besok mau dibawakan buat kamu Jeng."


Ajeng melongo. "Lha malah ngerepotin."


"Dik Aya itu orangtuanya kerja apa pak?"


"Papanya Aya itu anggota parlemen dan ibunya perawat di rumah sakit. Jadi Aya sudah biasa soal pengobatan. Ini Aya yang bilang karena dia kalau jatuh atau bahunya memar kena tekanan senapan, diobati oleh ibunya pakai Aloe Vera. Kan kamu tahu senapan Laras panjang itu dipakai untuk latihan menembak dan bagian popornya ditahan di bahu. Nah kalau ditembak, ada sentakan. Itu yang sering jadi memar disini." Radeva menunjuk bahunya.


"Oh makanya ibunya dik Aya menanam Aloe Vera ya karena sering memar" gumam Ajeng. "Tapi tanaman Aloe Vera banyak manfaatnya.."


Suara lift khusus berbunyi membuat keduanya menoleh dan tampak Bayu keluar bersama dengan Hunter dan Doogie. Radeva bisa melihat wajah kakaknya sedang dalam kondisi habis menghajar Preston.


Ajeng melihat ada noda darah di kemeja putih Bossnya, hanya bisa melongo.


"Jeng, kamu tunggu sebentar. Saya antar kamu pulang!" perintah Bayu sambil berjalan menuju ruangannya yang membuat Ajeng hanya bisa mengangguk.


Hunter pun ikut masuk ke dalam ruang kerja Bayu menyempatkan diri melihat wajah memar Ajeng yang mulai membengkak. "Seminggu lagi baru hilang tuh Jeng" ucap Hunter sebelum masuk.


"Kata dokter Victoria juga begitu" balas Ajeng.


Doogie ikutan memeriksa wajah gadis itu. "Sudah dikasih salep? Dikompres?" tanya pria Irlandia itu.


"Sudah. Ini dikasih obat juga kok" jawab Ajeng sambil menunjukkan bag obatnya.

__ADS_1


"Yup, seminggu wajahmu mulai normal. Sementara sedikit macam Squidward separo lah" kekeh Doogie membuat Ajeng cemberut.


"Kok Squidward sih!" gerutu gadis itu membuat Radeva cekikikan.


"Lha terus apa? Pho nya kungfu panda?" balas Doogie sambil nyengir.


"Setidaknya Pho lebih menggemaskan daripada Squidward!" Ajeng menatap judes ke Doogie.


"Jeng, ada baiknya barang-barang kamu dibereskan deh sekarang. Soalnya kayaknya mas Bayu sudah bersiap mau antar kamu pulang" ucap Radeva.


Tak lama Hunter keluar sambil membawa tas berisikan baju kotor Bayu yang hendak dibawa pulang untuk di laundry dan kantong kresek berisikan sampah termasuk kemeja putih yang tadi terkena noda darah.


"Kasih aloe vera, cepat sembuh itu Jeng" ucap Hunter.


"Iya, besok mau dibawakan sama pacarnya pak Radeva" jawab Ajeng apa adanya.


"Ah syukurlah. Pacarmu yang cewek cantik jago tembak itu Deva? Yang mendapatkan perak olimpiade?" tanya Hunter.


"Yes."


"Cocok kok. Tampaknya dia gadisnya yang baik. Congratulations buat kamu Deva" ucap Hunter tulus.


"Thanks Hunter."


Bayu keluar dengan mengenakan kaos bewarna biru dan celana gelap. "Kamu sudah selesai beberesnya?" tanya Bayu ke Ajeng.


"Sudah pak." Ajeng pun berdiri dan hendak berjalan masuk ke ruangan Bayu.


"Kamu mau ngapain?" tanya Bayu bingung.


"Memeriksa ulang" jawab Ajeng cuek lalu masuk ke dalam ruang kerja Bayu. "Benar kan? Pak Bayuuu! AC belum dimatiin!" teriak Ajeng yang kemudian menyesali kebiasaannya. "Aduuuh sakit!"


Semua pria disana hanya bisa menepuk jidat masing-masing.


"Astaghfirullah! AJENG!" hardik Bayu kesal.



Sing sabar sama mbak Ajeng


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa wahai para kaum terlisus-lisus ( thanks mbak Ratna Florenzi dan mbak Wonder Mom buat istilahnya )


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2