
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
Bayu menghampiri opa dan Omanya yang sedang menikmati acara minum teh sore lengkap dengan camilan tradisional macam pisang goreng, mendoan dan singkong rebus. Bayu tersenyum melihat bagaimana opa dan Omanya masih saja mesra meskipun sudah usia lanjut.
Apa para buyut juga seperti ini dulunya ya?
"Kamu kenapa Yu?" tanya Bara melihat cucunya tampak melamun.
"Nggak, cuma senang saja melihat opa dan Oma masih saja mesra sampai sekarang. Apa Opa Abi dan Opa Ghani juga sama?" tanya Bayu.
Suara langkah kaki membuat semuanya menoleh dan tampak Ajeng baru saja selesai mandi mengenakan daster sopan yang seperti gaun pergi. Bayu sedikit terkejut melihat sekretarisnya tampak berbeda dengan daster karena biasanya dia melihat Ajeng memakai kaos dan celana panjang atau sebatas lutut. Bahkan tadi Ajeng memakai kaos dan jeans.
"Waaaahhhh singkong rebus!" seru Ajeng sambil duduk di sebelah Bayu yang bisa mencium harum Jasmine dari tubuh gadis itu.
"Kenapa Jeng?" tanya Danisha.
"Pasti singkong indo beda sama ubi yang dijual di Central Park" senyum Ajeng sambil mengambil singkong rebus. "Pak Bayu mau teh atau kopi?"
"Teh dan pisang goreng sama singkong rebus."
Ajeng lalu menuangkan teko teh wasgitel ke cangkir Bayu dan mengambilkan makanan yang dimintanya. Ajeng sangat senang di mansion karena bisa minum teh wasgitel favoritnya dengan komposisi yang pas. Danisha bahkan sudah memberikan dua pak ramuan teh yang sudah diraciknya untuk dibawa pulang Ajeng ke New York nanti. Tentu saja gadis itu senang bukan kepalang sampai memeluk Danisha erat membuat Oma yang lebih terlihat bule dari kakaknya menangis terharu seperti mendapatkan cucu baru.
"Tadi pak Bayu tanya apa Opa?" Ajeng menatap Bara bingung.
"Tanya soal opa buyutnya apa mesra seperti kita" senyum Bara.
"Aku yakin iya" jawab Ajeng sok yakin.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Arum.
"Soalnya opa bara dan Oma Danisha terbiasa melihat opa Ghani dan Oma Alexandra mesra satu sama lain dari kecil jadi kebawa sampai dewasa dan memiliki pasangan. Tanpa sadar tho anak akan mengkopi gaya orang tuanya yang sudah terpatri di otak dari kecil meskipun faktor gen mengikuti juga..." Ajeng terdiam. "Maaf, Ajeng ceriwis..."
Bara terbahak melihat wajah Ajeng yang memerah. "Kamu benar Jeng. Dulu waktu opa kecil dan melihat bagaimana Opa Abimanyu selalu mesra dengan Oma Dara meskipun sudah sepuh, membuat Opa berjanji akan selalu membuat pasangan opa nanti selalu merasa dicintai dan disayangi. Menikah puluhan tahun memang ada pasang surutnya dan bagaimana kamu tetap memupuk perasaan itu tetap terjaga, jangan sampai berkurang atau hilang rasa."
__ADS_1
"Resepnya apa Opa?" tanya Bayu. Baru kali ini Bayu berbicara soal kehidupan dalam pernikahan.
"Tetap mengingat bagaimana kamu awal jatuh cinta dengan pasangan kamu, bagaimana kelebihannya dan kekurangannya yang sudah kamu tahu sebelumnya..m Paling utama, kamu memilih menikah dengannya apalagi kita yang pria, kita yakin dia akan menjadi pendamping kita seumur hidup dan kita meminta dari ayah ibunya, itu yang harus kamu ingat! Kamu meminta anak orang dari orangtuanya yang selama ini melindunginya. Dan saat kamu memintanya, kamu sudah yakin bahwa kamu akan berjalan bersama untuk mendapatkan tujuan utama kamu berumah tangga" papar Bara.
"Tujuan menikah dalam Islam memiliki arti begitu dalam bagi Allah SWT dan Nabi-Nya. Selain menciptakan generasi yang sholeh dan sholehah, Allah menyampaikan berbagai berkah di balik pernikahan. Meski aktivitas bersama pasangan halal itu dianggap sederhana, namun bernilai pahala dan sedekah" sambung Iwan. "Macam seperti ini saja Bay, sederhana bukan? Tapi maknanya sangat dalam yaitu kamu selalu bersama dengan orang yang kamu kasihi lebih dari separuh hidup kamu."
Ajeng mengambil tissue karena tiba-tiba dirinya merasa terharu mendengar pola pikir opa dan Oma nemunya. Bayu yang melihat Ajeng menangis, tampak bingung kenapa gadis itu sekarang menjadi cengeng.
"Kamu kenapa Jeng?" tanya Bayu.
"Terharu aku pak... Mendengar filosofi opa dan Oma soal berumahtangga dan perasaan saling mencintai beliau... Membuat aku melow...." Ajeng menyusut ingusnya membuat Opa dan Oma serta Bayu berteriak.
"Ajeng! Jorok ih!" gelak Arum yang gemas dengan gadis yang mirip dirinya. Tidak jaim dan selalu mengucapkan apa adanya tanpa dibuat-buat.
Bayu hanya mengehela nafas panjang melihat gadisnya hanya nyengir tanpa dosa membuat semua orang sebal.
"Maaf... Hehehehe."
Allahuakbar... bisa-bisanya nyusut ingus di meja makan!
"Oma Dara itu didikannya bagus ya" ucap Ajeng. "Bisa diambil nanti kalau aku punya anak..."
"Yuk bikin" sahut Bayu tanpa beban membuat Opa dan Omanya mendelik.
"BAYU!" hardik mereka berempat.
"Lha katanya pengen punya anak... Aaadduuuhhhh!" Bayu menatap judes ke Ajeng yang lagi-lagi menusukkan garpu ke lengan kekarnya. "Sakit Jeng!"
"Bapak itu kalau ngomong dipikirkan dulu nggak sih?" hardik Ajeng kesal.
"Nggak!" jawab Bayu cuek.
"Pak! Sing nggenah wae Kowe ( yang benar saja )!" Ajeng menatap galak ke Bossnya.
__ADS_1
"Lha memang mau bikin sekarang? Aku mah hayuk saja..."
"BAYU!!!"
Bayu hanya mengunyah mendoannya. "Enak lho mendoannya. Serius!"
***
Acara makan malam malah semakin ramai saat Bima, Arimbi, Arka dan Arabella datang ke mansion. Arka dan Bima sampai melongo saat mendengar cerita Bayu yang hampir balik ke bandara buat ngejar Ajeng dan duo bocil kematian.
"Terus, kamu mau hukum apa Bay?" tanya Bima. "Kirim saja ke Aokigahara biar kapok!"
"Atau ke hutan Sandy macam Pak Bima?" seringai Arkananta usil yang langsung mendapatkan lirikan judes. Ajeng tertawa terbahak-bahak mengingat saat para sepupu Bayu berkumpul di mansion, memperlihatkan kekacauan keluarga pria itu termasuk saat Bima berteriak kencang di hutan Sandy.
"Jeng, kamu tidak tahu rasanya di hutan itu! Kamu pernah menonton film horor yang settingnya di hutan dengan pohon besar-besar dan rapat? Nah macam itu tapi live Jeng!" ucap Bima dengan wajah memelas.
"Mana Pak Bima ketemu sama Jason, dibacain ayat kursi pulak ! Mana paham hantunya pak Bima! Wong bukan setan jowo" gelak Arkananta semakin durjana menggoda ayahnya.
"Lho? Memang hantu disana nggak mempan dibacain ayat kursi?" tanya Ajeng bingung.
"Ya nggak lah Jeng. Beda keyakinan... itu pun kalau hantu bulenya nggak atheis" kekeh Arkananta.
"Lha terus piyeee Kuwi?" Ajeng semakin penasaran. "Opo ya kudu dibacain Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng ( laksana bunga yang aromanya semerbak abadi )?"
Semua orang di meja makan melongo. "Hantunya bukan orang Jawa Ajeennggg!"
Ajeng hanya manyun. "Mbok menowo saget... ( siapa tahu bisa )."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️