
Autodrome Dubai
Ajeng masih berdiri dengan tatapan tidak percaya dirinya diajak ngebut di Trak sirkuit tempat balapan internasional diadakan. Bayu yang tidak sabar pun akhirnya membuka pintu mobil dan mendorong Ajeng masuk ke dalam kursi penumpang dan Bayu memutar lalu masuk ke mobil merah itu untuk duduk di kursi pengemudi.
Ajeng melihat interior mobil berlogo kuda jingkrak itu dengan tatapan kagum. Seumur hidupnya, dirinya baru merasakan naik mobil mewah dan pesawat pribadi semenjak bekerja dengan Bayu.
"Pakai sabuk pengaman nya, Jeng."
Ajeng celingukan mencari sabuk pengaman yang seperti biasanya. "Kok gadha mas?"
Bayu terkekeh. "Sorry, lupa kalau ini mobil racing." Pria itu membantu Ajeng mengenakan sabuk pengaman yang berbeda dari biasanya. "Begini caranya Jeng."
Ajeng sampai harus menahan nafas karena begitu dekatnya Bayu saat memasangkan sabuk pengaman.
Suara ketukan di kaca jendela membuat keduanya menoleh.
"Mas, Ferrari adu Ferrari?" senyum pria tampan yang Ajeng tahu kalau dia adalah pembalap F1 yang sedang naik daun.
"Radhi Blair?" pekik Ajeng tertahan.
"Hah? Oh hai mbak Ajeng" senyum Radhi sambil mengulurkan tangannya yang disambut Ajeng sumringah.
"Hai... Aduh selamat ya kemarin juara di Silverstone" ucap Ajeng semangat.
"Thanks. Aku nggak tahu kalau mbak Ajeng pecinta F1..." kekeh Radhi.
Bayu yang melihat interaksi keduanya hanya terbengong bengong. "Aku juga nggak tahu Rad..."
Radhi Blair
Radhi bersiul. "Duh payah deh pacarnya sampai ga tahu kalau gadisnya penggemar F1... Tak patut... Tak patut..."
Ajeng cekikikan melihat wajah Bayu yang cemberut.
"Mbak, mending duduk sama aku di Ferarri F90 punyaku. Kapan lagi bisa bersama pembalap F1? Ya nggak?" goda Radhi membuat Bayu semakin manyun.
"Tawarannya kok menarik ya? Boleh nggak mas?" Ajeng menatap Bayu dengan mengerjap-ngerjap jenaka.
"NGGAK !"
Ajeng dan Radhi sampai terkejut mendengar suara Bayu.
"Sudah mbak, satu putaran dulu deh. Nanti... " Radhi mengedipkan sebelah matanya.
"Oke ! " Ajeng tampak sumringah seolah tidak mengetahui ada angin Twister nyaris ke F-5 gara-gara adiknya menggoda kekasihnya meskipun bukan hal yang membuat harus cemburu berat.
Radhi pun memberikan jempolnya. "Satu putaran mas?"
"Tiga !"
"Oke!" Radhi pun berjalan menuju mobilnya meninggalkan Bayu yang manyun.
"Mas Bayu sih dari tadi aku dikekepi terus jadi belum sempat minta tanda tangan Radhi Blair..." gerutu Ajeng.
"Kamu tuuuuhh... " Bayu menatap gemas ke gadisnya.
"Lha salah mas Bayu punya adik beken !"
Bayu hanya bisa menghela nafas panjang. Syulit...syulit...
__ADS_1
***
Ajeng menjerit heboh ketika Bayu menggeber mobil Ferarri nya untuk salip menyalip dengan mobil Ferarri Radhi.
"Ya ampun maaass... " Ajeng menutup wajahnya karena takut serempetan dengan mobil Radhi.
Duh, kalau serempetan biayanya berapa? Duh kok ya nggak sayang sih? Duh ... aku over thinking maning... Ajeng menatap Bayu yang serius menyetir mobilnya. Dan Ajeng baru bisa bernafas lega setelah mereka masuk finish.
"Oh my God! Serunya !" ucap Ajeng heboh.
Bayu mengusap rambut Ajeng. "Yakin mau duduk bersama Radhi? Dia lebih ngeri lho nyetirnya."
"Kapan lagi mas? Boleh?" Ajeng menatap Bayu penuh harap.
Bayu mengangguk dan Ajeng langsung memeluk pria itu erat. "Terimakasih !"
Keduanya pun keluar dari mobil dan Bayu memanggil Radhi.
"Rad ! Ajeng ingin merasakan disetiri pembalap F1!"
Radhi menyeringai. "Yakin ? Sudah siap mental?"
"Insyaallah..." jawab Ajeng gamblang membuat saudara - saudara Bayu tertawa.
"Yuk Naik ! Tapi kita nggak naik Ferrari aku."
Ajeng terkejut. "Lha terus naik apa?"
"Koenigsegg."
Bayu tertawa. "Nah lho Jeng, mobilnya kencang sangat lho..."
Bayu tertawa. "Jangan sampai lecet lho Rad."
"Nggak, palingan puyeng" cengir Radhi. "Yuk masuk !" Pria itu membukakan pintu mobil Koenigsegg Agera merah yang merupakan salah satu koleksi keluarga Dubai.
Koenigsegg Agera RS
"Yakin Ajeng nggak pingsan diajak ngebut sama Radhi?" kekeh Luke.
"Biarin saja. Dia ternyata fans nya Radhi jadi kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu dengan pembalap favorit nya" jawab Bayu kalem.
"Ajeng penggemar F1 ? Dia suka Radhi?" celetuk Ken. "Wah mas, sainganmu berat... Pertama, mbak Ajeng memang suka duluan sama Radhi. Kedua, Radhi lebih muda dari kamu mas. Ketiga, koleksi mobilnya lebih banyak dari kamu. Keempat, ini nilai lebih, dia pembalap F1 yang disukai Mbak Ajeng, kamu bukan... Addduuuhhh !!!"
Bayu langsung memiting leher Ken yang menjadi kompor bleduk membuat para generasi keenam tertawa.
"Kamu tuh sama saja sama Radeva dan Devan. Bocil Kematian tahu nggak !" hardik Bayu sambil mengacak-acak rambut Ken.
***
Di dalam mobil Radhi
"Sudah siap?" Radhi menatap Ajeng concern.
"Insyaallah..." jawab Ajeng yang tampak senang bisa satu mobil dengan pembalap favoritnya.
"Here we go !" Radhi pun masuk ke dalam Trak dan langsung menggeber Supercar buatan pabrikan Swedia.
Ajeng tampak sumringah mendapatkan pengalaman yang tidak bakalan dia lupakan. Dan dirinya sangat bersyukur diterima bekerja di perusahaan Bayu hingga berkenalan dengan semua anggota keluarganya. Ajeng pun semakin senang apalagi keluarga Bayu juga menerima dirinya dengan tangan terbuka.
__ADS_1
Setelah tiga putaran, akhirnya mobil mewah itu pun masuk ke dalam Paddock. Radhi pun keluar dan membukakan pintu lalu membantu Ajeng keluar.
"Terima kasih Radhi. Pengalaman yang tidak terlupakan" senyum Ajeng sambil memeluk pembalap itu.
"Sama-sama mbak Ajeng "ucap Radhi. "Kalau aku racing di Amerika, datang ya. Nanti aku kirim VIP invitation ke kantor mas Bayu."
"Asyiiik !" seru Ajeng senang. "Kayaknya Juli ya ?"
"Yup. Nanti aku kabari mbak."
***
Bayu menghampiri Ajeng yang tampak bahagia dan langsung memeluk pinggang gadis itu.
"Senang?" tanya Bayu sambil mencium pelipis Ajeng.
"Senang banget ! Makasih mas sudah buat aku senang di Dubai. Bisa bertemu dengan semua keluarga kamu, bisa bertemu dengan pembalap F1 favorit aku... Bahkan disetiri keliling Trak..." Wajah Ajeng tampak merona saking gembiranya.
Bayu tersenyum lembut. Ya ampun sederhana banget tapi bisa membuat Ajeng-ku tampak sangat bahagia. Apapun aku akan selalu membuat kamu seperti ini.
"Yuk duduk dulu..." ajak Bayu sambil duduk di kursi bersama dengan Jayde dan Inggrid.
"Hai mbak Ajeng. Senang disopiri Radhi?" tanya Jayde.
"Senang ! Apalagi dia salah satu pembalap F1 favorit aku" jawab Ajeng sumringah.
"Aku juga suka balapan F1 tapi ... " Inggrid berbisik ke Ajeng. "Favorit aku bukan Radhi, tapi rivalnya, Charles McGregor."
Ajeng tertawa. "Semoga Radhi nggak dengar deh ! Katanya nggak pernah akur ya?"
"Radhi itu Gedhe ambeg. Kalau sudah kepentok, bisa lama mutungnya, macam Oom Alaric" kekeh Jayde.
"Iya kah?" Ajeng baru tahu kalau pria tampan itu juga bisa childish.
"Yup. Tampaknya semua keturunan Blair punya gen macam itu" goda Jayde sambil mengerling ke Bayu.
"Kamu sudah habis stok darahnya, Jayde?" balas Bayu yang membuat Inggrid tertawa terbahak-bahak.
"Stok darah? Memang kenapa?" Ajeng menatap ketiga orang itu bingung.
"Mbak, Jayde itu sering dibilang vampir sama semua saudaranya karena saking dinginnya. Jadi..." Inggrid tersenyum.
"Ooohh i see. Harusnya dikasih garlic bread dong biar nggak macam-macam..." sahut Ajeng cuek membuat Jayde melongo.
"Garlic Bread?" tanya Jayde.
"Lho bukannya vampir takut bawang putih?" Ajeng menatap Bayu dan Jayde bergantian.
Jayde dan Inggrid tertawa sedangkan Bayu hanya menggelengkan kepalanya.
"Nggak harafiah juga Ajeennggg... " Bayu langsung memeluk gadisnya gemas.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1