
Apartemen Ajeng di Soho.
Bayu mengantarkan Ajeng sampai ke apartemen nya hingga ke depan pintunya. Ajeng membuka pintu apartemennya dan berbalik menatap Bayu yang berdiri di belakangnya.
"Terima kasih pak Bayu sudah mengantarkan saya pulang" ucap Ajeng formal.
"Kamu nggak mengajak saya masuk, Jeng?" tanya Bayu serius. Pria itu sudah melepaskan jasnya meninggalkan kaos polo hitam dan celana abu-abu tua. Tadi Bayu berganti baju sebelum keluar dari ruang kerjanya karena tahu akan pergi dengan Ajeng.
"Bapak mau ngapain masuk ke apartemen saya?" balas Ajeng bingung. Ini sudah jam sepuluh malam, jam tidur aku lah.
"Ngecek coklat nya sudah kamu makan atau belum."
Ajeng melongo. "What? Opo yo kudu diinspeksi tho pak Bayu ( apa ya harus diinspeksi )?"
"Wajib lah!" eyel Bayu.
Ajeng menggelengkan kepalanya, gemas dengan bossnya yang Membagongkan sering berubah arah macam angin tak jelas. "Tapi pak... Ini sudah jam sepuluh malam. Saya sudah waktunya istirahat. Paham ya pak?"
Bayu mengedikkan bahunya. "Oh. Aku tidak tahu kalau sekarang jam sepuluh malam."
Bibir Ajeng menganga mendengar jawaban Bayu yang tidak masuk akal. "Pak, apa jam Patek Philippe bapak mati? Jam larang-larang ( mahal-mahal ) kok ya iso mokat?"
Bayu menatap judes ke Ajeng. "Enak saja bilang begitu! Saya memang tidak memperhatikan jam, Ajeng!"
"Sok atuh dicek heula ( dulu ). Mati atau enteu ( tidak )" cengir Ajeng pakai bahasa Sunda membuat Bayu melotot.
"Jangan bilang kamu bisa bahasa Sunda terus nanti kamu ngomong Sunda juga!"
"Isshhh, nggak terlalu bisa. Dulu waktu saya masih tinggal di Solo kalau ketemu tukang rujak yang beraksen Sunda, sok akrab aja ngajak ngomong pakai bahasa Sunda dan sudah pasti dibanyakin!" gelak Ajeng membuat Bayu tersenyum.
"Jam tangan saya tidak mati ya Jeng. Nih lihat!" Bayu menunjukkan jam tangan mahalnya.
"Ah salah saya bilang jam mahal gampang mati." Ajeng nyengir.
"Sudah, kamu masuk sana. Istirahat." Bayu mengedikkan dagunya memberikan kode ke sekretarisnya untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Oke pak Bayu. Terima kasih sudah mentraktir pizza, bertemu dengan keluarga pak Bayu yang lain dan diantarkan pulang" ucap Ajeng dengan nada takzim.
Bayu tertawa kecil. "Besok jangan terlambat ke kantor" ucapnya sambil mengelus kepala Ajeng lembut.
Ajeng terkejut dengan sikap Bossnya membuatnya menatap Bayu dengan tatapan bingung. "Pak... saya bukan kucing."
Bayu melongo. "Ajeng!"
"Selamat malam pak. Hati-hati pulang nya!" Ajeng pun masuk ke dalam apartemen nya dan mengunci pintunya.
Mendengar suara pintu dikunci, akhirnya Bayu pun pergi meninggalkan apartemen sekretarisnya menuju lift.
Di balik pintu, Ajeng memegang kepalanya yang tadi dielus Bayu. "Apa besok aku bawain kucing Munchkin ya biar pak Bayu ada yang dielus?" gumam gadis itu.
Yang dikira ngelus kucing
__ADS_1
Si Receh sama nggak pekanya
***
PRC Group Building Manhattan New York
Ajeng masuk ke lobby gedung kantornya sambil membawa tas makannya seperti biasanya. Kali ini dia membuatkan makanan yang berbeda untuk Bossnya dengan memanfaatkan coklat yang diberikan dari Brussels.
Saat hendak menunggu lift turun, Preston menghampiri nya dan berdiri menjajari dirinya.
"Hai Ajeng. Good morning" sapa Preston North.
"Hai Preston. Good morning too" balas Ajeng.
"Nanti siang, kita makan siang bersama yuk!"
Ajeng menoleh ke arah Preston. "Aku menunggu jadwal Mr O'Grady dulu."
"Ini kan hari Jumat. Biasanya Mr O'Grady bersama dengan petinggi perusahaan beribadah Jumat di mesjid sana. Jadi sudah pasti kamu bakalan menganggur Jeng."
Ajeng sebenarnya malas dengan kucing garong satu ini yang harusnya dibuang ke pasar Kramat Jati atau pasar Kliwon sekalian tapi dengan wajah dibuat manis, gadis itu menjawab. "Kita lihat saja nanti ya."
"Oke Jeng. You look beautiful today" rayu Preston.
"Thank you" jawabnya datar. Suara lift tiba dan para pegawai pun bergegas masuk. Ketika Ajeng hendak masuk, sebuah suara memanggilnya.
"Ajeng!"
Gadis itu pun menoleh dan tampak Alea Hamilton yang tampil anggun berdiri tidak jauh darinya bersama dengan Magdala.
"Ayo, bareng saja dengan saya" ajak Alea sambil menunjuk lift khusus.
"Baik Mrs Hamilton." Ajeng pun bersyukur tidak satu lift dengan Preston. Magdala tersenyum melihat rekan kerjanya satu lift dengannya.
***
Di dalam lift khusus
"So, Ajeng. Moru tanya apakah besok Sabtu boleh ke apartemen kamu." Alea menatap gadis cantik yang berdiri di belakangnya lewat refleksi dinding lift.
"Dik Moru ke apartemen saya? Ada apa ya Mrs Hamilton?" tanya Ajeng bingung mendengar anak Tante Bossnya.
"Mau ikutan bikin klepon barengan sama Aya. Tumben anak itu mau belajar masak. Padahal kalau diajak belajar sama Oomnya nggak mau."
Magdala yang mendengarkan percakapan Bossnya dan Ajeng, tampak tidak suka melihat kedekatan keduanya. Sampai anak Mrs Hamilton main ke apartemen Ajeng, itu sesuatu yang aneh dan tidak wajar.
"Mungkin karena klepon gampang jadinya dik Moru mau belajar" senyum Ajeng.
"Mungkin."
Suara lift berhenti di lantai 15 pun berbunyi dan Ajeng berpamitan ke Alea dan Magdala karena sudah sampai di lantai tempatnya bekerja.
Gadis itu pun berjalan ke arah mejanya dan memulai rutinitas seperti biasanya, membuatkan kopi dan melekatkan camilan untuk Bossnya yang super Membagongkan.
Tepat jam setengah sembilan, Bayu tiba di ruangannya dan melihat Ajeng sedang meletakkan jadwal pagi ini. Pria itu melihat kopi panas dan camilan sudah tersedia seperti biasanya.
__ADS_1
"Pagi Jeng..." sapa Bayu sambil berjalan menuju capstock untuk menggantung jasnya.
"Pagi pak Bayu. Jadwal bapak pagi ini sudah saya letakkan di meja ya selain ada di digital planner bapak" ucap Ajeng yang berjalan keluar ruangan.
"Ajeng..."
"Ya pak?"
"Apa ini poffertjes?" tanya Bayu sambil menunjukkan camilan asal Belanda itu.
Poffertjes
"Iya pak."
"Saus coklatnya?" Bayu memicingkan matanya karena tahu ini dari mana.
"Coklat dari bapak lah!" cengir Ajeng sambil keluar ruang kerja Bayu dan menutup pintunya.
Bayu menggelengkan kepalanya. Dasar!
***
Ajeng bekerja sesuai dengan rutinitas dan menjelang makan siang, Bayu keluar.
"Jeng, poffertjes nya enak. Saya jumatan dulu ya."
"Iya pak... Eh pak Bayu" panggil Ajeng.
"Yes Ajeng."
" Titip doa."
"Buat?"
"Biar bapak segera dapat pacar" cengir Ajeng.
Bayu hanya menghela nafas panjang. "Aamiin. Insyaallah sekalian calon istri ya Jeng."
"Tul pak. Terutama yang tabah sama bapak."
Bayu tersenyum. "Absolutely." Pria itu pun berjalan menuju lift khusus nya. Setelah Bayu masuk, Ajeng membereskan semua bekas kopi dan piring makan poffertjes lalu mencucinya. Ajeng tidak lupa mengunci ruangan itu dan mengambil dompet serta ponselnya untuk makan siang di cafetaria sebelum nanti melaksanakan sholat dhuhur yang terdapat di ruangan kecil lantai tempat kerjanya.
Sesampainya di cafetaria, Ajeng segera mencari makanan yang diinginkan dan setelah dapat, dirinya melihat Preston tampak merayu seorang gadis yang sedang magang.
Gadis itu hanya tersenyum smirk. "Dasar Mbel*ge*des!"
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️