
Senin di PRC Group Building Manhattan New York
Seperti biasanya Ajeng datang pukul delapan kurang sambil membawakan camilan untuk Bayu. Kemarin di mansion Blair, dirinya dan Nadya membuat macaroni schotel cukup banyak karena kedua gadis itu hendak memberikan untuk pacar masing-masing.
Nadya berencana hendak ke kantor Omar hari ini sebelum keberangkatannya ke Jakarta awal bulan depan. Dan kini Ajeng sudah menyiapkan kopi seperti biasanya dan potongan macaroni schotel yang sudah dipanaskan di microwave di pantry khusus milik Bayu.
Tepat pukul 8.30, Bayu keluar dari lift khususnya dan Ajeng pun tersenyum formal ke Bossnya itu.
"Good morning Mr O'Grady" sapa Ajeng membuat Bayu menghentikan langkahnya.
"Excuse me? Kamu ngomong apa?" Bayu menatap Ajeng bingung.
"Good morning Mr O'Grady. Apa ada yang salah?" tanya Ajeng polos dengan bahasa Inggris.
"Jeng, mana panggilan kamu yang biasanya?" Bayu tampak tidak nyaman dengan panggilannya kembali ke hari pertama Ajeng kerja solo.
"Lho? Bukannya biasanya juga begini Sir?"
Bayu memicingkan matanya. "Kamu pagi-pagi sudah njelehi!" Pria itu pun masuk ke dalam ruang kerjanya dengan perasaan dongkol.
Ajeng cekikikan karena memang dia harus bersikap profesional dan berarti kembali seperti awal dia bekerja. Manggil mas Kal-el jadi Mr O'Grady.
Bayu baru saja menggantungkan jas nya saat Ajeng masuk membawakan kopi dan camilan untuknya. Gadis itu meletakkan cangkir dan piring berisikan macaroni schotel itu di meja Bayu.
"Jeng... Apa ini?" tanya Bayu.
"Macaroni schotel, Sir" jawab Ajeng kalem.
Bayu menatap tajam ke Ajeng. "Kemana panggilan 'Pak' Jeng?"
"Bukannya anda meminta no Indonesian language dan Javanese language Sir?"
Bayu melongo. What the fluff ! Ini bocah kesambet apa sih? Tiba-tiba jadi balik ke edisi pertama?
Bayu menghampiri Ajeng lalu menyentuh dahinya dengan punggung tangannya. "Jeng, kamu ke dokter Victoria Black deh!"
"Why Sir?"
"Minta obat waras sana!"
Ajeng melongo lalu mengangguk. "Yes Sir. Excuse me." Gadis itu lalu keluar dari ruang kerja Bayu meninggalkan pria itu uring-uringan.
Sesampainya diluar ruang kerja Bayu, Ajeng menggigit bibir bawahnya dan bergegas ke kamar mandi. Disana gadis itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai boss garis miring pacarnya.
"Kita lihat apa mas Kal-el bisa profesional."
***
Ruang Kerja Bayu
Bayu manyun mendapatkan shock therapy melihat gadisnya benar-benar melakukan sikap profesional dan itu membuatnya tidak nyaman. Bayu rindu ucapan receh Ajeng, bukan yang macam awal datang.
__ADS_1
Pria itu melihat layar monitor iMac nya dan tampak Ajeng bekerja seperti biasanya. Bayu benar-benar tidak bisa konsentrasi karena kehilangan panggilan kesayangan.
"Pak Bayu, apa ada yang salah? Pak Bayu membutuhkan sesuatu? Pak Bayu... Pak Bayu... "
Bayu mengusap dagunya. "Jeeenggg, balik kayak biasanya dooonggg !!!" teriaknya. Bersyukur ruang kerjanya kedap suara karena kalau tidak, pasti sudah ada gegeran di Senin pagi akibat Bayu ngomel.
***
"Ajeng !"
Ajeng menoleh dan melihat Radeva di sisi kanannya. "Pak Radeva. Bapak mau macaroni schotel? Saya buat banyak." Gadis itu mengambil kotak aluminium foil dari tas makannya dan memberikan ke Radeva.
"Kapan kamu bikin Jeng? Terimakasih ya" senyum Radeva.
"Kemarin di mansion Blair bersama dengan Nadya."
"Hah! Akhirnya adikku kena hukuman juga!" gelak Radeva. "Terlalu Bucin sih sama bang Omar."
"Tapi katanya Nadya mau dikirim ke Jakarta oleh Mr Blair."
"Bagus lah. Ohya jeng, kamu nanti pulang sama aku ya. Aya ingin ketemu kamu dan Mamoru. Katanya kangen ngobrol - ngobrol. Maklum anak tunggal dan gabut karena sudah ujian skripsi tinggal menunggu wisuda."
"Boleh pak. Lha dik Moru?" tanya Ajeng.
"Nanti diantar sama sopirnya Tante Alea. Kita ke RR's Meal aja. Lebih enak ngobrol disana."
"Pak Radeva, yang di dalam sana?" bisik Ajeng dengan jari telunjuk nya mengarah ke pintu ruang kerja Bayu.
"Bukannya kalian pacaran cuma weekend doang? Jadi Senin sampai Jumat, angin mamiri tidak bisa bersama kamu" balas Radeva sambil nyengir usil.
"Memangnya kamu tidak tahu apa CCTV rumah opa Rhett ada dimana-mana?" Radeva mengedipkan sebelah matanya membuat Ajeng melongo.
Mateng aku !
***
Bayu melongo mendengar ajakan Radeva dan yang lebih membuatnya kesal, Radeva dipanggil Pak, bukannya Mr Dewanata!
Bayu pun manyun. Dasar pilih kasih ! Pacarnya Ajeng itu siapa sih! Bayu semakin kesal karena Radeva tahu dirinya dan Ajeng hanya pacaran saat weekend demi keprofesionalan mereka berdua di perusahaan.
"AAAARRRGGHHHH!!! Menyebalkan!!!"
***
Ajeng tersenyum saat masuk ke dalam ruang kerja Bayu bersama dengan klien yang sudah ada janji temu. Dan Bayu meminta Ajeng mendampinginya untuk mencatat semua pembicaraan dengan kliennya.
Bayu melirik bagaimana Ajeng kembali ke mode serius. Duh Jeng mbok balik receh dan Membagongkan.
***
Usai pertemuan dengan kliennya, Ajeng pun berjalan keluar tapi Bayu memegang tangannya membuat gadis itu menatap judes.
"Tutup pintunya Jeng" ucap Bayu dengan nada tidak bisa dibantah.
__ADS_1
Ajeng pun menurutinya lalu menutup pintu dengan tangannya yang bebas.
Bayu menarik tangan Ajeng dan mengajak nya duduk di sofa.
"Ajeng..."
"Mr O'Grady.."
Bayu rasanya ingin mencium bibir Ajeng yang memanggil nya menjadi panggilan formal jaman baheula lagi.
"Ajeng, kembali lah memanggilku Pak Bayu lagi. Jangan Mr O'Grady..."
"Tapi Sir..."
"No Sir juga. Aku sakit hati lho Jeng, Radeva kamu panggil pak, aku dipanggil Mr O'Grady..." Bayu memasang wajah memelas.
yang melow dipanggil bukan seperti biasanya
Ajeng menatap Bayu datar. "Mr O'Grady..."
"Pak Bayu."
"Mr O'Grady..." eyel Ajeng.
"Jeng, sekali lagi kamu panggil aku Mr O'Grady, tidak ada acara pacaran weekend! Bodo amat! Aku bakalan cium kamu sampai kamu memanggil aku dengan panggilan Pak Bayu."
"Isshhh modusnya minta ampun. Pak Bayu..."
Bayu tersenyum senang. "Nah gitu dong Jeng..."
"Pak Bayu, asal bapak tahu, Bu Gandari mengawasi saya dan bapak jadi saya kembali menjadi awal saat saya bekerja karena saya ingin kita tetap profesional. Pak Bayu tidak mau saya diambil Bu Gandari menjadi salah satu tim nya kan?" ucap Ajeng tenang.
"Jeng, kalau memang begitu, lebih baik kamu saya pecat dan segera nikah sama kamu daripada aku ribut dengan mommy. Kalau sudah begitu, mommy kan tidak bisa bilang apa-apa kan? Atau nggak kita nikah saja di las Vegas. Cepat dan sah. Gimana?"
Ajeng melongo. "Dipecat? Saya dipecat?"
"Jeng... Ajeng?" Bayu tampak terkejut melihat wajah Ajeng memucat. "Jeng, kok kamu lebih panik dengar kata dipecat daripada diajak nikah sih?"
"Pak Bayu... "
"Ya Jeng?"
"Bapak waras? Cari pengganti saya tidak mudah !"
Bayu melongo. Apa-apaan gadisku satu ini!
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️