
Apartemen Ajeng di Soho New York
Ajeng terbatuk-batuk membuat Bayu segera mematikan kompornya dan menuju ke gadis itu lalu menepuk pelan punggungnya. Bayu mengisikan gelas Ajeng dengan air putih baru dan memberikan pada gadis itu.
"Minum dulu pelan-pelan" ucap Bayu sambil mengelus punggung Ajeng lembut sedangkan gadis itu meminum air putihnya.
"Pak...Bayu...bikin perkara!" hardik Ajeng setelah mendingan.
"Kok aku bikin perkara?" tanya Bayu bingung.
"Tadi apaan?! Bikin saya terkejut!" balas Ajeng judes.
"Yang mana?" Bayu kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya.
"Tambahan pernyataan sayang. Please deh pak..." jawab Ajeng. Jujur dia mending melihat Bayu yang dingin, marah-marah atau pun jutek daripada yang sekarang karena lebih bikin merinding macam malam Jumat Kliwon bakar menyan!!
"Memang kenapa Jeng?" sahut Bayu cuek sambil menata piring dan meletakkan dua daging steak disana, plus sayuran dan mashed potatoes ditambah dengan saus putih.
Ajeng melongo melihat hasil masakan Bayu. "Eh serius, bapak bisa masak?" Gadis itu menatap bossnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kalau cuma sekedar steak dan mashed potatoes, aku bisa Jeng. Kan aku sudah bilang. Tapi jangan kamu suruh aku masak masakan Jawa atau Asia yang super ribet! Ogah!" jawab Bayu sambil mengambil air putih untuknya dan juice anggur yang ada di kulkas Ajeng.
Ajeng masih menatap makanan di depannya. "Pak, ini medium rare atau medium atau well done?"
"Sengaja buat kamu well done. Biar gampang ngunyah nya..." jawab Bayu. "Ayo makan."
Ajeng memegang garpu dan pisau nya lalu membaca basmalah. Gadis itu memotong steaknya dan memang empuk lalu memakannya. "Hhhmmmm enak."
"Serius?"
"Hu um. Meskipun masaknya termasuk cepat tapi semuanya serba pas" puji Ajeng yang harus mengunyah sebelah kanan karena sisi sebelah kiri masih senut-senut.
"Kamu bisa mengunyahnya kan? Pasti masih sakit ya..." Bayu menatap Ajeng penuh perhatian.
"Lumayan pak. Tapi masih bisa kuat kok aku. Kan sudah dikasih obat anti nyeri dan radang juga." Ajeng menatap Bayu. "Pak, ceritakan dong soal opa buyut nya ... Edward Blair."
"Mau tahu apa?"
"Soal pernyataan di mobil."
Bayu menatap Ajeng. "Kenapa?"
"Kepo aja sih."
Bayu hanya tersenyum. "Opa buyutku itu dulu taruhan dengan iparnya Opa Mike Cahill. Mobil atau Oma buyutku Yuna Pratomo. Kalau sampai jatuh cinta dengan Oma Yuna, mobilnya melayang. Oma Yuna tidak tahu kalau jadi bahan taruhan dan ternyata dua-duanya jatuh cinta beneran. Pas Oma Yuna tahu kalau jadi bahan taruhan, ngamuk lah terus pergi. Opa Edward mengejar sampai Kairo. Dan katanya main lamar di dalam mobil dengan baju ala kadarnya, bau pasir dan no romantis at all..." ( Baca Love In Bet ).
"Menurut ku itu romantis lho. Melamar dalam kondisi apa adanya. Anti mainstream. Apalagi mengejar sampai Kairo... Memang Omanya pak Bayu arkeolog?"
__ADS_1
"Bukan. Omaku itu kurator museum, Jeng..."
"Oh ya nggak wonder ( heran ) kalau cicitnya nulisnya macam Hieroglif... Wong Oma buyutnya biasa di museum... Aduuuh!" Ajeng memegang keningnya yang kena slentik Bayu kesekian kalinya.
"Kamu tuh! Tulisan saya kan sudah mendingan Jeng!"
"Pak Bayu itu sebenarnya bisa nulis kan?" selidik Ajeng.
"Yup. Tapi sengaja saya samarkan sebab pekerjaan saya kan juga penuh rahasia apalagi yang berhubungan dengan Jang Corp."
"Saya tidak terlalu tahu soal Jang Corp pak. Kalau PRC, MB dan Giandra sudah paham karena bidangnya hampir sama. Jang Corp kan berhubungan dengan law enforcement jadi ya penuh dengan rahasia."
"Exactly, Jeng. Makanya tulisan saya sengaja tidak jelas apalagi kalau sedang menciptakan sesuatu. Hanya aku yang bisa baca." Bayu menatap serius. "Karena banyaknya peralatan yang digunakan buat spionase para agen rahasia jadi hanya sedikit orang yang tahu blueprint nya."
Ajeng manggut-manggut. "Oh pak, si bandeng presto, diapain sama bapak?"
Bayu menatap Ajeng tidak suka. "Masih kamu tanyakan?"
"Lha tadi saya melihat ada noda darah di bahu bapak."
"Aku hajar" jawab Bayu kalem.
"Duh... Tapi nggak sampai gimana-gimana kan pak?"
"Well, babak belur yang jelas."
Ajeng melongo. "Ya Allah pak. Kasihan..."
"Nggak sengaja pak..."
"Tapi dia mau memukul Alesha! Aku melihat semua rekaman CCTV nya! Pria kalau sudah berani main tangan, dia itu banci! Dan aku rasa dia sudah sering melakukannya, main tangan ke wanita. Karena dengan entengnya dia hendak mukul Alesha."
"Terus bapak pecat juga?"
"Iyalah! Dia sudah membuat kamu terluka juga!" jawab Bayu galak.
"Duh pak, ampun galak-galak, medeni ( jangan galak-galak, menakutkan )" ucap Ajeng dengan wajah dibuat bergidik.
"Jeng..."
"Ya pak?"
"Jangan panggil 'Pak' dong..."
"Lha kan saya harus panggil bapak tho?"
"Iiissshh nih anak!"
"Pak Bayu... boleh saya berbicara jujur?"
__ADS_1
Bayu menatap Ajeng dengan hati berdebar. "Mau bicara apa?"
"Pak, saya merasa terhormat karena bapak memiliki perasaan yang saya sendiri tidak menduganya bahkan tidak menyadari nya. Tapi pak... Jujur saya masih harus memastikan perasaan saya juga. Saya tidak menolak bapak tapi ijinkan saya mencari petunjuk dulu. Saya ingin melangkah dengan mantap pak. If bapak memang pria yang ditunjukkan Allah buat saya, setidaknya saya sudah Haqul yakin dengan bapak pada saat itu. Saya tidak mau salah langkah karena patah hati itu nggak enak pak..."
Bayu memegang tangan Ajeng. "Kamu mau meyakinkan hatimu dulu?"
Ajeng mengangguk. "Ini terlalu cepat pak. Saya itu tipenya alon-alon asal kelakon untuk soal beginian pak..."
Bayu mengangguk. "Aku bisa paham Jeng. Tapi aku suka mendengar kamu tidak menolak aku."
"Saya nolak bapak pun pasti bapak menggunakan berbagai macam cara supaya saya tidak bisa menolak kan?" balas Ajeng cuek membuat Bayu terbahak.
"Itulah yang aku suka darimu Jeng. Apa adanya dan kamu tidak ada tendensi mencoba mencari perhatian dan ganjen ke aku."
"Lha meh ganjen piye pak ( mau ganjen gimana pak )? Wong kerjaan akeh ( banyak ), saya lebih pusing dengan ritme kerja bapak. Mana kepikiran ganjen ke bapak? Kalau usil ke bapak mah iya soalnya bapak enak dijahili..." cengir Ajeng.
"Dasar!"
***
Menjelang jam tujuh malam, Bayu memutuskan untuk kembali ke apartemen nya.
"Jam berapa besok Aya dan Moru kemari?" tanya Bayu saat hendak keluar dari apartemen Ajeng.
"Katanya jam sembilan pagi pak. Oh bapak nggak usah kemari ya?" pinta Ajeng membuat Bayu mendelik.
"Kenapa?" tanyanya tidak suka.
"Pak, apartemen saya kecil mung sauprit. Kalau besok ketambahan bapak, bikin sumpek..." senyum Ajeng manis.
Bayu menyipitkan matanya. "Dasar kamu tuh!"
"Lho saya bilang apa adanya pak."
"Iya deh! Sudah kamu istirahat. Minum obatnya jangan lupa."
"Hati-hati di jalan pak." Ajeng mempersilahkan Bayu keluar.
"Cepat sembuh" ucap Bayu sambil mencium kening Ajeng membuat gadis itu tertegun. "Tutup pintunya Jeng."
Ajeng pun mengangguk patuh dan menutup pintu apartemennya lalu menguncinya. Bayu menyentuh pintu itu seolah tidak mau meninggalkan Ajeng sendirian tapi gadis itu harus beristirahat karena terlalu banyak kejadian hari ini.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️