My 100th Secretary

My 100th Secretary
Mas Kal-el


__ADS_3

Ajeng menatap ketiga pria tampan di hadapannya yang cuek saja mendengar kata skandal. Duh aku lupa! Mereka kan habis gegeran dari Hongkong!! Ajeng menepuk jidatnya. "Hongkong saja kalian cuek ya?"


"Nah!" ucap Radeva sambil tersenyum usil.


"So mbak Ajeng, masih tidak mau menerima kakakku yang sudah mulai kena virus bucin?" goda Devan sambil menatap geli ke Bayu yang masih manyun.


"Sek, ndiaaaaa. Aku ta ambegan sek ( aku mau bernafas dulu ). Alon-alon ( pelan - pelan ) cah!" ucap Ajeng sambil mengangkat kedua tangannya di depan Radeva dan Devan yang sudah ngakak mendengar ucapan gadis Jawa itu.


"Mbak Ajeng mirip Oma Gendhis ya ?" komentar Devan.


"Kalau ketemu Oma Gendhis pasti cocok!" timpal Radeva. "Apa kita bawa saja ke Jakarta biar ketemu Oma Gendhis terus mas Bayu ditinggal di New York sendirian?"


"Heeeiii !!!" protes Bayu.


"Good idea! Aku ada libur Minggu depan ? Gimana kita ke Jakarta bawa mbak Ajeng saja?" Devan mengacuhkan protes Bayu.


"Sek sek sek... Aku arep mbok cangking ke Jakarta ( aku mau kalian jinjing ke Jakarta )?" Ajeng menatap dua saudara sepupu yang wajahnya berubah jahil dalam waktu sekejap. Ganteng sih ganteng tapi kok ya rusuh sih?


"Jeng, kamu sama mas Bayu sudah berapa bulan kerja?" Radeva menatap Ajeng serius.


"Ti...tiga bulan..."


"Minggu depan ada libur kan? Pas Halloween? Gimana kita ke Jakarta bawa Ajeng?" Radeva menatap Devan. "Nggak usah ikut pesta Halloween, nggak penting! Yang penting biar Oma Gendhis ada lawan bicara ngomong Jawa."


"BOYS! Yang benar saja kalian mau bawa Ajeng ke Jakarta!" hardik Bayu kesal merasa diacuhkan oleh kedua adiknya. Dirinya merasa kesal karena pertama Ajeng masih belum menerima pernyataan perasaan nya dan sekarang kedua adiknya berencana membawa Ajeng pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan salah satu Omanya. Yang benar saja!


"Lha mas Bayu kan ada acara disini sedangkan aku dan Devan, bebas! Lagipula kan aku juga pengen lihat keponakan kita di Jakarta. Pengen tahu Aizen ikut Jules atau Romeo" ucap Radeva cuek.


"Tunggu... tunggu... Soal pak Radeva dan dik Devan hendak mencangking saya harap di perhitungkan masak-masak sebab saya tidak bisa menyiapkan peredam kalau tiba-tiba pak Bayu menjadi angin Twister level tujuh!"


"Ajeng, Twister itu memakai skala Fujita dan paling tinggi itu F-5, belum ada yang melebihi dari itu. Jangan kamu tambahkan lagi. Bisa-bisa Ted Fujita bangkit dari kubur protes sama kamu" kekeh Radeva.


Note.


Skala Fujita diciptakan oleh ahli meteorologi, insinyur, dan ilmuwan yang mengklasifikasikan tornado. Skala ini memiliki kategori dari F-0 hingga F-5. Semakin tinggi skala, maka semakin kuat dan semakin besar tingkat kerusakannya.


Sebagai informasi, skala ini diperkenalkan oleh Ted Fujita dari University of Chicago di tahun 1971. Ted Fujita bekerja sama dengan Allen Pearson, kepala Pusat Prakiraan Badai Parah Nasional (NSSFC). Kini, NSSFC berganti nama menjadi Pusat Prediksi Badai (SPC).


Sumber IDNTimes.


"Ah, saya sedikit hiperbola" jawab Ajeng kalem.

__ADS_1


"Eh kita pikirkan lagi deh mas Deva. Lihat, mas Bayu sudah cemberut mukanya" kekeh Devan sambil menunjuk ke arah Bayu yang dari tadi rasanya ingin menghajar kedua adiknya.


"Eh? Waduuuuhhh. Ya sudah deh, kalian selesaikan urusannya. Aku dan Devan jalan lagi. Jeng, nanti kita bahas lagi acara ke Jakarta nya. Okay?" Radeva mengedipkan sebelah matanya.


"DEVA!" bentak Bayu.


"Kabooorrr!" Kedua pria tampan itu pun langsung melesat meninggalkan Bayu dan Ajeng yang masih duduk di kursi taman.


"Astaghfirullah! Kok bisa punya adik macam mereka!" gerutu Bayu kesal.


Ajeng menatap Bayu yang cemberut. "Pak Bayu..."


"Apa?"


"Boleh nggak saya ke Jakarta?" goda Ajeng membuat mata biru Bayu terbelalak.


"NGGAK!" Bayu pun berdiri meninggalkan Ajeng membuat gadis kaget dan bergegas mengikuti pria itu sambil membawa paper bagnya.


"Pak Bayu! Pak!" panggil Ajeng sambil sedikit berlari mengejar Bayu yang melangkah dengan langkah lebar-lebar. Tiba-tiba Bayu berhenti mendadak membuat Ajeng menubruk punggung lebar itu. "Aduuuh! Hidungku mblesek ( masuk ke dalam )!" ucap Ajeng sambil memegang hidungnya.


Bayu berbalik dan tersenyum melihat Ajeng manyun lalu mencium ujung hidung gadis itu. "Dah, sudah aku tiup nggak bakalan mblesek!"


"Pak Bayu!" protes Ajeng.


Ajeng hanya bisa menghela nafas panjang. Mau menolak sampai bagaimana pun, Bayu tetap akan membuatnya menjadi tertarik. Ajeng pun memutuskan mengikuti alur saja sambil dia memastikan doanya kepada Sang Pencipta.


Bayu tampak senang melihat sekretarisnya hanya pasrah digandeng olehnya apalagi wajah Ajeng tidak sejutek tadi. "Enjoy saja Jeng. Kamu akan tahu aku bagaimana kalau sudah suka dan sayang sama seseorang."


"Pak Bayu..."


"Hhhmmmm..."


"Bagaimana dengan Pak Àbiyasa dan Bu Gandari?" tanya Ajeng.


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku tadi pagi." Bayu tersenyum mengingat bagaimana ibunya dengan brutal menghajar nya.


"Memang pak Bayu kenapa tadi pagi?"


"Mommyku datang ke apartemen aku dan langsung menghajar aku gara-gara aku membuat kamu pingsan..."


Ajeng melongo. "What? Bu Gandari kuat menghajar bapak? Whoaaaahhh... Amazing and interesting..."

__ADS_1


"Jeng, aku kasih tahu ya. Semua kaum mommy di keluarga aku, kuat menghajar anak-anaknya sebab di keluarga besar kami, semua boleh debat dan ribut dengan para Daddy tapi tidak dengan mommy. Mau kamu tahu mommymu salah, tetap kamu tidak boleh melawan brutal macam ke Daddy. Untungnya mommy kami jarang salah jadi kami tidak sampai gegeran..."


"Benar-benar definisi melawan mommy berarti kualat?" Ajeng menatap Bayu.


"Yup. Kami semua sayang ke mommy masing-masing. Makanya jika ada seorang pria berani main tangan ke seorang wanita, aku .... dan para saudaraku yang laki sudah pasti Menghajar pria itu! Apa dia lupa kalau dia lahir dari seorang wanita? Memukul wanita sama saja kamu memikul ibumu. Banci lah pria yang berani main tangan ke wanita!" Rahang Bayu tampak mengeras.


"Makanya pak Bayu marah pas tahu saya kena pukul di bandeng presto?" tanya Ajeng.


"Yup. Apalagi kamu yang kena. Amarah saya memuncak Jeng."


Ajeng tersenyum lalu mengelus pipi Bayu. "Untung pak Bayu bukan mas Kal-el jadi si bandeng presto nggak gosong kena pancaran sinar petromax..."


"Sinar laser Jeng..."


"Salah dikit!" balas Ajeng cuek.


"Tadi kamu panggil aku apa?"


Ajeng tertegun. "Yang mana?"


"Mas Kal-el."


Ajeng menggigit bibir bawahnya. Duh! Keceplosan! Mateng Kowe Jeng!


"Ah... bapak salah dengar!" cengir Ajeng sambil menarik tangannya dari pipi Bayu.


"Ajeng, telinga saya masih mendengar dengan sempurna. Apa tadi mas Kal-el?" Bayu menatap geli ke Ajeng yang tampak salah tingkah.


"Memang nggak boleh ya pak? Ya sudah ... Saya..."


Bayu berbisik disisi telinga Ajeng. "Aku suka panggilan itu. Berbeda."


Tiba-tiba tengkuk Ajeng merinding. Opo ya aku kudu manggil sampeyan mas Kal-el?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2