
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
"Pak Bayu!!!" pekik Ajeng melihat Bayu terjatuh diatas karpet tebal dan gadis itu mencoba membantu pria bertubuh besar bangun.
Bayu pun terduduk dan jujur pinggulnya menatap lantai granit cukup keras. "Aduh pinggul aku..." Bayu pun duduk di sofa sembari mengusap pinggulnya.
"Butuh obat gosok? Parem?" tawar Ajeng.
"Nggak usah Jeng."
"Pak Bayu kenapa bisa jatuh? Makanya punya badan jangan gede - gede, jadi nggak cukup kan Sofanya" ucap Ajeng polos.
"Aku jatuh gara-gara ucapan kamu, Jeng!"
"Hah? Ucapan yang mana?" tanya Ajeng bingung.
"Ganteng macam aku..."
Ajeng melongo. "Gara-gara itu pak Bayu jatuh gelundung? Apa segitu dashyatnya kah? Interesting..." Gadis itu memegang dagunya berlagak macam detektif yang sedang memikirkan sebuah kasus.
Bayu memicingkan matanya ke Ajeng yang masih mode detektif. "Kamu tuh!" ucapnya gemas sambil menepuk pelan kepala Ajeng.
"Pak Bayu, kita kembali kapan? Kan cuti saya habis hari ini..." Ajeng menatap Bayu bingung.
"Astaghfirullah! Saya baru sampai, kamu sudah minta pulang?"
"Lha kan saya tanya kita kembali kapan bukan detik ini balik kandang pak..."
"Nanti lah Jeng" ucap Bayu sambil meletakkan kepalanya di atas paha Ajeng.
"Pak, nanti bapak gelundung lagi... Bobok di kamar gih..."
Bayu memejamkan matanya. "Kamu tuh macam mommyku saja..."
Ajeng tertawa kecil. "Pak, saya bukan Bu Gandari..."
"Memang bukan... Tapi sikapnya mirip mommy..." gumam Bayu yang kemudian terlelap.
Ajeng hanya menghela nafas panjang. Alamat njarem dan semutan deh nih paha aku... Ajeng tidak tahan menahan dirinya untuk tidak mengelus rambut Bayu. Akhirnya gadis itu mengelus kepala dan rambut Bossnya yang ikal itu.
"Duh, ngeranyak ( nggak sopan ) ora Yo? Main usek-usek kepala boss sendiri?" gumam Ajeng. "Tapi salah mas Kal-el dhewe ( sendiri ) yang main taruh kepala di paha aku."
Ajeng memperhatikan wajah tampan Bayu yang tampak damai dan gadis itu bisa melihat kelegaan di Bossnya bisa bersama dengannya. Beneran mas Kal-el di komik Superman. Ajeng menyentuh wajah Bayu dengan jarinya dari dahi hingga ke hidungnya yang mancung.
"Jeng..." gumam Bayu.
"Eh? Kok bangun? Tidurlah.... tidurlah..." bisik Ajeng macam menghipnotis orang.
"Mana bisa tidur kalau kamu usil..." senyum Bayu masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Oke pak. Janji tidak usil. Sumpah tentara Romawi."
Bayu tertawa lalu membuka matanya dan bangun dari paha Ajeng. Tanpa sadar gadis itu mengucapkan hamdalah karena pahanya terasa semutan membuat Bayu tersenyum.
Bayu memindahkan tubuhnya yang besar ke sebelah Ajeng dan mulai rebahan. "Jeng..."
"Ya pak?" jawab Ajeng sambil mengusap-usap pahanya. "Aduh semutan...semutan... " gumamnya.
"Sini..."
Ajeng menatap Bayu bingung. "Sini kemana pak?"
"Sini sama aku..." Bayu menepuk sisi dalam tubuhnya yang kosong karena dirinya tidur miring.
"Hah? Pak, seriously. Sumpek lho." Ajeng tahu sofa keluarga Giandra cukup lebar dan besar tapi tubuh Bayu juga besar.
"Sini... " Bayu menatap serius ke Ajeng membuat gadis itu tampak bimbang. "Cuma tidur."
Ajeng menggaruk kepalanya dan perlahan mendekati Bayu lalu tiduran menyamping berhadapan dengan Bossnya yang langsung memeluknya.
"Pak, nanti bapak semutan lho" ucap Ajeng sambil mendongakkan wajahnya menatap Bayu.
"Bodo amat. Sudah, tidur! Aku baru terasa jetlag sekarang... " gumam Bayu sambil memejamkan matanya.
Ajeng meletakkan kepalanya di dada Bayu yang menimbulkan rasa nyaman dan aman hingga lama kelamaan dirinya pun ikut terlelap.
***
Suara dengkuran halus terdengar dari Bayu dan Ajeng membuat Arum tersenyum karena dirinya pun pernah melakukan nya dengan Bara saat masih ada Papa Ghani Giandra.
Arum pun mematikan televisi lalu menuju dapur untuk memerintahkan kepala pelayan untuk memasakkan menu minum teh nanti jam empat sore dan menu makan malam.
***
Bayu terbangun karena mencium harum teh dan kopi dari ruang makan serta pisang goreng. Pria itu mengerjapkan mata birunya dan melirik kepala berambut hitam yang berada diatas dada bidangnya.
Harum shampoo dan hair tonic yang dipakai Ajeng, membuat bagian tubuh Bayu terasa berdesir. Dilihatnya gadis itu masih terlelap dengan bibirnya sedikit terbuka membuat Bayu gemas ingin menciumnya.
"Yu..." panggil Arum pelan membuat Bayu terkejut dan melihat Omanya sudah berdiri di sebelahnya.
"Ya Oma?" balas Bayu dengan berbisik juga.
"Bangunkan Ajeng. Sudah waktunya minum teh sore... Jangan dengan ciuman!" pelotot Arum membuat Bayu memerah wajahnya.
"Pengalaman pribadi ya Oma?" cengir Bayu membuat Arum menoyor dahi cucunya.
"Jangan keras - keras!" sungut Arum yang kemudian meninggalkan Bayu dan Ajeng.
__ADS_1
Bayu terkekeh melihat Omanya salah tingkah. Pria itu lalu menepuk bahu Ajeng. "Jeng... Jeng, bangun..."
"Hhhmmmm... bentar lagi. Masih pagi..." gumam Ajeng masih belum nyatu.
"Jeng, kalau kamu tidak bangun... Saya pecat kamu..."
Mata coklat Ajeng langsung terbuka dan dirinya terduduk. "Siapa yang mau pecat aku?" Gadis itu celingukan dan melihat Bayu tersenyum menatap dirinya.
"Bangun kan kalau dengar kata dipecat..." kekeh Bayu geli.
"Saya sangat sensitif pak soal pecat dan pemecatan... Astaghfirullah! Jam setengah lima sore? Duh harus bantu Oma buat camilan..." Ajeng bergegas turun dari sofa dan menuju dapur.
Bayu yang masih tiduran di sofa, hanya tertawa melihat kelakuan sekretarisnya. Pria itu pun bangun dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Dirinya merasa bahwa tadi adalah tidurnya yang paling nyenyak meskipun dengan posisi sempit.
Ajeng memang kryptonite aku rupanya.
***
"Omaaaa... Maafkan Ajeng yang kebablasan tidur tadi..." ucap Ajeng memelas ke arah Arum dan Danisha yang sudah duduk manis bersama Bara dan Iwan.
"Nggak papa Jeng, asal jangan diulangi lagi. Oma dan Opa percaya kalian bisa jaga diri tapi alangkah baiknya jika dikurangi bucinnya" kekeh Arum.
"Lha yang Bucin pak Bayu... Saya mah ... Belum..." jawab Ajeng pelan membuat keempat opa dan Oma disana tertawa mendengar ucapan gadis receh itu.
"Dah Jeng, mandi dulu sana. Nanti bergabung dengan kami" perintah Danisha.
"Njih Oma. Ajeng pamit dulu..." Ajeng mengangguk lalu berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Macam kita saja ya Nisha" goda Iwan ke istrinya. "Tapi memang tidur berdua di sofa meskipun tidak nyaman dan sempit, rasanya memang enak dan ayem."
"Soalnya kita sangat dekat mas. Apalagi sama orang yang kita sayang, rasanya tidak ada duanya" senyum Danisha sambil menggenggam tangan Iwan.
"Ya elah, yang namanya mesra-mesraan itu kagak ingat umur ya Dis" gelak Bara melihat adiknya dan suaminya tetap awet mesra macam dirinya dan Arum.
"Justru karena mesra lah, kita awet mas rumah tangganya" balas Arum.
"Alhamdulillah. Semoga cucu kita yang sedang mencari jodoh, akan mengalami kebahagiaan yang sama dengan kita" doa Bara.
"Aamiin."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1