
Ruang VIP RR's Meal New York
"Ajeng, tidak ada bahasa kalbu!" ucap Gandari gemas dengan gadis di hadapannya.
"Soalnya Titi DJ bilang bisa bahasa kalbu jadi saya berusaha mempelajarinya..."
"Bisa?"
"Gak mempan kalau ke pak Bayu. Sepertinya mulutnya pak Bayu mau ketawa tapi yang keluar malah Omelan..." gerutu Ajeng membuat Gandari cekikikan.
"Ya Allah Jeng, kalau ke Bayu itu tidak bisa pakai bahasa kalbu."
"Benar Bu! Malah tulisan saja mirip Hieroglif di dinding piramid..." adu Ajeng. "Pertama saya dapat tugas dari pak Bayu harus menerjemahkan tulisan yang bisa membuat apoteker dan dokter nangis di pojokan, membuat saya berpikir apakah pak Bayu itu bisa nulis atau nggak..."
"Well Bayu itu memang dari kecil membuat para gurunya sama dengan kamu Jeng, jadi lebih suka melakukan ujian lisan atau mengetik di iPad atau MacBook. Saya sudah mengajari Bayu dari usia dua tahun soal baca tulis tapi memang anaknya super ngeyel!"
"Ibu lho yang bilang, bukan saya, kalau pak Bayu ngeyelan" gelak Ajeng.
"Hei, aku yang bawa dia sembilan bulan jadi hak aku lah ngatain anakku apa saja."
"Hak prerogatif seorang ibu ya Bu Gandari?" senyum Ajeng. "Mirip dengan mama saya. Dulu waktu kecil kalau saya nakal, mama saya bilang, bakalan memasukkan saya ke dalam perutnya lagi biar ga nakal. Dalam hati, mamaku sadiiisss tapi begitu saya kehilangan mama, ternyata yang paling saya rindukan adalah Omelan mama saya karena itu yang paling membekas."
"Jeng, saya akui kamu anak yang kuat meskipun ditinggal oleh kedua orang tua kamu."
"Saya kuat karena terpaksa Bu. Kalau saya tidak kuat, saya bisa berakhir di Canal Street atau Bronx. Saya tidak mau itu Bu! Saya adalah wanita Jawa dan wanita Indonesia. Jika saya mau mencari uang instan, dengan wajah dan fisik yang disukai bule begini, gampang menjadi sugar baby. Tapi saya tidak mau itu! Saya yang punya tubuh, saya yang ngeman tubuh saya. Almarhum papa saya pernah bilang, kalau kamu kepepet tidak punya uang jangan sampai kamu ngelon*te, Itu pekerjaan paling mudah di muka bumi tapi itu pekerjaan yang paling berbahaya juga. Kalau kamu sudah kena penyakit kela*min amit-amit HIV/Aids, kamu sendiri yang merasakan, bukan orang lain. Maka dari itu, saya berusaha untuk mencari pekerjaan yang gajinya sedikit tapi halal bukan pekerjaan yang uangnya instan tapi mematikan."
"Jadi seperti yang kamu bilang tadi, kamu bekerja di 7eleven, diner, butik, kamu lakoni karena itu yang halal?"
"Bukan begitu saja Bu Gandari, karena lamaran saya di beberapa perusahaan tidak diterima meskipun OB sekalipun. Jadi saya merubah description saya dan Alhamdulillah langsung dilirik Gemma. Dan jadilah saya sekretaris pak Bayu."
Gandari mengangguk dan suka dengan prinsip Ajeng yang memilih bekerja di tempat-tempat yang umum daripada harus menjadi sugar baby. Dan gadis ini tidak mudah menyerah ! Ini adalah nilai plus yang membuat aku respek dengan Ajeng. Sudah tahu Bayu tulisannya acak Adul, tapi dia masih bisa bertahan. Dulu beberapa sekretarisnya Bayu langsung keluar hari itu juga akibat tidak bisa membaca tulisannya si angin topan!
Suara ponsel milik Ajeng pun berbunyi dan lagu milik Doja Cat terdengar dengan kata-kata yang membuat Gandari mendelik.
"Eh maaf Bu. Saya terima dulu." Ajeng menatap kikuk ke Gandari.
"I'm a b1tch, I'm a boss? Cocok Jeng" kekeh Gandari sambil menyesap air putihnya.
Wajah Ajeng tampak memerah karena mengatai bossnya seperti itu di depan ibunya sendiri pulak! "Ya pak Bayu?" sapa Ajeng sambil menatap tidak enak ke Gandari.
"Kamu masih lama?" hardik Bayu tanpa basa basi membuat Ajeng harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
__ADS_1
"Berikan padaku" pinta Gandari sambil menengadahkan tangannya.
Ajeng pun memberikan ponselnya ke Gandari. "Kenapa Bayu?" tanya Gandari dengan nada dalam dan dingin.
"Mom! Ini sudah jam dua lebih! Kalian mau makan siang sampai jam berapa!"
"Dengar Bayu, suka-suka mommy lah mau ajak Ajeng pergi sampai jam berapa! Biar tidak stress melihat tulisan kamu macam ... Macam apa Jeng?" Gandari menatap Ajeng.
"Hieroglif."
"Nah tuh, Hieroglif!"
"Astaghfirullah! Mommy pun sudah ketularan Ajeng ngatain tulisan aku!" protes Bayu tidak terima.
"Dengar, Bayu. Kamu tanpa Ajeng sehari saja tidak bakalan kacau pekerjaan kamu! Bukankah tadi Ajeng sudah menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi? Sudah kamu periksa belum? Kan ada banyak jadwal pertemuan yang sudah disusun oleh Ajeng dan jadwal Minggu depan di agenda digital kamu di iMac ?"
Ajeng melongo bagaimana Gandari mendengarkan ucapannya ke Bayu sebelum pergi. Memorinya Bu Gandari boleh juga!
"Moooommmm, jangan lama-lama! Ajeng masih harus menyusun jadwal denganku!"
"Menyusun jadwal bisa besok! Sekarang yang menjadi pertanyaan mommy, sudah kah kamu buka map dan agenda digital kamu?"
Bayu terdiam.
Bayu mengumpati Gandari dan Ajeng dalam hati.
"Kalau kamu mengumpati mommy, kualat kamu nanti!" ucap Gandari judes membuat Ajeng nyaris tersedak minuman nya.
Astaghfirullah! Benar-benar khas emak Indonesia.
***
Ruang Kerja Bayu O'Grady
"AAAARRRGGHHHH! Mommy menyebalkan!!!" teriak Bayu kesal.
Pria itu langsung membuka map hitam dengan beludru dan tampak banyaknya permintaan pertemuan dari para klien dan koleganya.
Pak Bayu, Monggo dipilih yang mana mau didahulukan. Sudah saya pilah pilih tujuan pertemuan dengan bapak. Ada di folder masing-masing, mana yang ke PRC, MB dan Giandra.
Bayu tersenyum membaca memo dari Ajeng yang diakuinya sangat sistematis dalam penyusunan data dan schedule.
__ADS_1
"Duh Jeng! Lama banget sih perginya sama mommy!" omel Bayu.
***
Ruang VIP RR's Meal New York
Rajendra akhirnya bergabung dengan Gandari dan Ajeng di ruang VIP itu usai menyelesaikan pekerjaan di dapur.
"Ndari, apa kabar?" sapa Rajendra sambil mencium pipi iparnya.
"Mas Jendra. Kabar baik, Alhamdulillah. Bagaimana mbak Aruna dan Biana?" senyum Gandari.
"Lha yang ditanya malah Biana?" kekeh Rajendra. "Siapa ini Ndari?"
"Oh perkenalkan, ini Ajeng Pratiwi, sekretarisnya Bayu. Jeng, perkenalkan ini Rajendra McCloud, chef RR's Meal."
"Senang bertemu dengan anda Mr McCloud. Saya merasa terhormat bertemu dengan chef terkenal... Tunggu. Apa bapak kakaknya pak Rama?" Ajeng menatap wajah pria campuran Skotlandia, Inggris, Jawa, Amerika itu.
"Iya saya kakaknya Rama. Kamu sudah pernah bertemu dengan adik saya?" tanya Rajendra sambil duduk di sebelah Gandari.
"Sudah pak, dengan Bu Astuti juga" jawab Ajeng antusias.
"Tunggu Ndari, ini bukannya sekretaris Bayu yang ke seratus? Yang diceritakan Gemma?" Rajendra menatap Gandari.
"Yup, ini orangnya."
"Bagaimana? Tabah dengan keponakan aku yang satu itu?" tanya Rajendra.
"Insyaallah pak Rajendra."
"Semoga tabah ya" senyum Rajendra.
"Aamiin."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️