
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
Bayu menatap kedua Omanya dengan tatapan tidak percaya. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun karena dirinya kena prank oleh dua adik dajjalnya. Dirinya jauh-jauh ke Jakarta tapi malah ditinggal? Sumpah, tidak akan selamat dunia akhirat dua bocah kutu kupret itu!
"Mereka...pergi kapan Oma?" tanya Bayu sambil menyesali dirinya tidak memeriksa GPS semua orang.
"Pergi kemarin, Yu. Paling sekarang sudah sampai..." jawab Danisha.
Bayu mengusap wajahnya kasar dan rasanya dia ingin berteriak kesal tapi mengingat kedua Omanya sudah sepuh, Bayu tidak mau menjadi tertuduh yang mengakibatkan Arum dan Danisha terkena serangan jantung. "Apa... Ajeng juga ikut dengan mereka?" tanya Bayu dengan nada lelah.
"Omaaa... Ajeng sudah buat kan kleponnya ini! Semoga suka ya..."
Bayu menoleh kearah pintu rumah yang terbuka dan tampak Ajeng berjalan sambil membawakan piring besar berisikan banyak klepon. Wajah Bayu tampak senang, sedih dan gemas menjadi satu melihat gadis nya masih berada di Mansion Giandra.
"Ajeng..." panggil Bayu penuh perasaan.
"Sek pak Bayu, aku taruh kleponnya dulu, nanti tumpah!" ucap Ajeng yang tahu Bossnya hendak memeluk dirinya. Gadis itu meletakkan piring berisikan klepon diatas meja teras. Arum menepuk lengan Ajeng lembut.
"Ndang, Kowe gawe Bayu kalem ( kamu buat Bayu kalem )" bisik Arum.
"Njih Oma." Ajeng mengangguk lalu menghampiri Bayu yang tidak sabar langsung memeluk gadis itu di depan kedua Omanya.
"Jeng, ajak Bayu ke dalam, makan dulu. Kasihan dia pasti lelah" ucap Danisha yang tersenyum melihat cucunya seolah tidak mau lepas dari Ajeng.
"Maunya... Oma... Tapi ini aku dikekepi begini..." bisik Ajeng dengan nada tercekik karena Bayu sangat erat memeluknya.
"Bayu, kasihan Ajeng gak iso ambegan ( tidak bisa bernafas ). Wis Kono ( sudah sana ), puas-puasin" kekeh Arum.
Bayu melepaskan pelukannya dan segera menarik Ajeng masuk ke dalam Mansion meninggalkan Arum dan Danisha yang hanya tertawa geli.
"Jatuh cinta itu memang luar biasa dampaknya ya Nisha" kekeh Arum sambil mengambil klepon buatan Ajeng. "Hmmm... beneran ini enak! Pantas Mamoru sampai promosi kalau Ajeng bikin kleponnya enak dan beda sama buatan kita."
Danisha mengambil sebuah klepon dan memakannya. "Iya mbak, beda. Gulanya masih bisa utuh tapi begitu kita gigit langsung lumer."
"Ndilalah Bayu sukanya juga klepon jadi pas tenan" senyum Arum. "Untung Ajeng ngeyelan jadi tetap mau tinggal di Jakarta."
"Kalau tidak, Mansion bisa kena angin Lisus mbak" kekeh Danisha.
__ADS_1
***
Bayu menggandeng Ajeng menuju halaman belakang area kolam renang dan setelah tiba di dekat gazebo, Bayu memeluk Ajeng dan menciumi pelipisnya.
"Aku kira kamu sudah pergi bersama duo Dajjal itu..."
Ajeng cekikikan mendengar panggilan Bayu ke duo adiknya yang memang nakalnya keterlaluan. "Tadinya aku hampir pergi, pak Bayu..."
Bayu menatap wajah Ajeng. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak jadi pergi?"
"Pesan dari pak Bayu yang baru saya buka saat masuk ke pesawat. See you in Jakarta. Pesan itulah yang membuat saya memarahi pak Radeva dan dik Devan karena akhirnya saya tahu bapak mau datang tapi kami hendak ka..."
Bayu mencium bibir Ajeng dalam dan penuh kerinduan membuat gadis itu secara instingnya merangkul leher kokoh Bayu. Merasakan lengan halus itu memeluk lehernya, Bayu semakin erat memeluk Ajeng dan semakin mesra dan bahkan lidahnya bermain didalam mulut gadis itu.
Ciuman Bayu terhenti ketika pipinya merasakan ada air mata. Bayu mengentikan ciumannya dan menatap Ajeng yang menangis.
"Kenapa Jeng? Tidak suka dicium sama aku?" tanya Bayu bingung.
"Nggak.. Saya minta maaf pak Bayu. Membuat pak Bayu kesal, marah dan ikut terlibat mengerjai bapak..." isak Ajeng yang merasa sangat bersalah ke pria yang benar-benar mencintai dirinya. Kualat kamu Jeng kalau kamu menuruti kemauan duo bocah kematian itu!
Bayu memegang wajah Ajeng. "Jeng, saya memang marah, kesal dan mau muntap ketika mendengar kalian pulang ke New York disaat saya tiba di Jakarta. Saya sudah ingin segera kembali ke New York, mengejar kalian tapi begitu saya melihat kamu masih disini, hati saya langsung bahagia dan bersyukur karena kamu memilih saya Jeng..."
"Astaghfirullah, Ajeng... Nggak papa... Kamu tetap disini saja aku sudah bahagia. Apalagi kamu sudah bisa membalas ciuman aku..." goda Bayu yang membuat Ajeng semakin kencang nangisnya.
"Astaghfirullah! Bayu! Kamu apain Ajeng!"
Bayu melihat ke arah belakang Ajeng dan tampak Bara berkacak pinggang dengan tatapan galak kearahnya.
"Eh Opa... Nggak opa, aku nggak nakalin Ajeng..." ucap Bayu.
"Ajeng yang salah Opa... " isak Ajeng. "Ajeng yang nakalin pak Bayu... Huwaaaa..."
Iwan yang ikut bersama Bara, hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Dinikmati saja mas Bara. Supaya Mansion tetap ramai."
"Ajeng! Sudah nangisnya! Ayo makan dulu!" tegur Bara sambil tertawa geli melihat drama dua orang itu. Setelahnya dua Opa Bayu meninggalkan kedua orang yang masih berada di kolam renang.
"Jeng, sudah dong nangisnya. Kamu itu jarang nangis, kenapa sekarang jadi gembeng ( cengeng ) begini sih?" senyum Bayu sambil mengusap air mata Ajeng yang mengalir di pipinya dengan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
"Saya kan guilty peeling..."
"Feeling Jeng. Peeling beda lagi artinya..." koreksi Bayu sambil tertawa.
"Jadi orang Sunda saya pak. Teu tiasa bedakeun p, f dan v ( tidak bisa membedakan p, f dan v )" balas Ajeng cuek membuat Bayu gemas lalu mencium hidung gadis itu yang merah seperti tomat.
"Kamu itu lhooo... Bikin gemas!"
"Pak Bayu..."
"Apa?"
"Bapak tidak akan pecat saya kan?" Ajeng menatap Bayu takut-takut.
"Tidak, sayang. Aku tidak akan memecat kamu sekarang, tunggu delapan bulan lagi. Kamu saya pecat jadi sekertaris saya!"
"Ah iya kan pas kontrak habis ..." gumam Ajeng sambil mengusap hidungnya dengan punggung tangannya.
"Iya dan saat itu kamu saya angkat jadi pasangan hidup saya..."
"Tapi pak Bayu..."
"Ajeng, apa kamu tidak sadar kalau kamu lebih memilih saya daripada ikut duo bocil kematian itu, merupakan perwujudan perasaan kamu sama saya? Dengar, saya pernah tidak sadar dengan perasaan saya sama kamu dan ternyata itu adalah perasaan cinta serta takut kehilanganmu. Coba kalau kamu tidak ada perasaan dengan saya, kamu pasti sudah terbang ke New York..."
Ajeng menggigit bibirnya. Jujur saat tahu Bayu datang ke Jakarta, jantung nya berdebar debar tidak menyangka jika Bossnya nekad menyusulnya. Bagi Ajeng, itu sesuatu yang sangat spesial dan dirinya juga tidak sabar bertemu dengan Bayu hingga akhirnya dia nekad turun dari pesawat sesaat sebelum tinggal landas dan kembali ke Mansion Giandra. Apakah karena aku juga sudah mulai sayang dengan mas Kal-el?
"Pak Bayu... Bagaimana dengan nasib pak Radeva dan dik Devan?" tanya Ajeng takut-takut.
Bayu hanya tersenyum smirk. Entah kenapa, kali ini Ajeng benar-benar merasa merinding...
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️