My 100th Secretary

My 100th Secretary
Jangan Ada Perang Baratayudha


__ADS_3

Kediaman keluarga Raj dan Gemintang Rao


Bayu dan Raj menikmati teh tarik buatan dokter bedah itu dengan roti canai dan kari kambing. Hazel, asisten dan yang juga merangkap koki rumah Gemintang, sudah pandai membuat berbagai masakan India dari resep yang diberikan Bitti Rao, ibu Raj.


"Enak kari nya Raj" puji Bayu yang sebenarnya dirinya memang pemakan segala tapi harus tetap menjaga shape tubuhnya.


"Resep ibuku. Hazel yang membuatnya berdasarkan resep khas keluarga Rao. Waktu Gemintang hamil triplets, dia ngidam masakan India buatan ibuku dan selama sebulan ibuku disini. Selama itu juga, Hazel belajar memasak sesuai resep ibuku" senyum Raj.


"Tapi memang enak kok" ucap Bayu sembari memasukkan roti canai kuah kari ke dalam mulutnya.


"Syukurlah kalau kamu suka Bay."


"So, bagaimana pekerjaan di Brussels?" tanya Bayu sambil menyesap teh tarik nya.


"Rasanya aku tidak mau pindah lagi, Bayu. Apalagi aku dan Gemintang sudah mapan disini dan ada triplets, membuat kami mantap tinggal di Brussels."


"Apalagi ada bang Sean dan Mbak Zee disini. Setidaknya sedikit nepotisme bisa lah Raj" gelak Bayu.


"Hahahaha... Kamu benar tapi aku dan Gemintang tetap profesional soal pekerjaan, tidak bawa-bawa Mbak Zee atau pun bang Sean. Mereka sudah disibukkan dengan urusan kerajaan jadi buat apa aku dan Gemintang menambah kerepotan? Selama kita bisa menghandle sendiri, why not?" ucap Raj. "Habis dari Brussels, kamu kemana Bay?"


"London dan Manchester. Aku ingin mengajak Ajeng nonton pertandingan pembuka Premiere League Manchester United v Chelsea di Old Trafford."


"Sudah pesan tiketnya? Kayaknya sudah dijual deh pre sale nya."


"Sudah pesan ke Jayde dan sudah dapat juga."


"Kalian benar-benar keliling dunia ya Bay" kekeh Raj.


"Sepuluh tahun aku bekerja dan aku belum mengambil cuti besarku yang diakumulasikan bisa hampir lima bulan. Jadi kenapa tidak aku manfaatkan?" Bayu tersenyum ke arah Raj. "Apalagi aku ingin membawa Ajeng melihat dan lebih dekat dengan semua keluarga aku."


"Kalian pulang bertepatan Nadya dan Omar akan menikah ya?"

__ADS_1


"Yup. Akhirnya bocah mbeling ( nakal ) itu nikah juga dengan pria pujaannya..."


Raj tertawa kecil. "Nadya memang beda."


"Nadya itu tipikal Blair yang sebenarnya. Nggak ada takut-takutnya tapi kalau sudah bucin, dia akan totalitas..."


"Macam kamu kan Bay?" goda Raj.


"Macam aku" kekeh Bayu. "Aku masih ada keturunan Giandra yang kata Oma Kaia memang sama kacaunya dengan Blair. Tapi kalau Nadya, dia pure Blair. Heran aku... Dia, Raveena, Raine ... Sifat Blair nya lebih kuat."


"Aku tidak terlalu paham soal keluarga Blair tapi Gemintang pernah menunjukkan video keluarga kalian generasi kedua hingga ke empat dan memang keluarga Blair dan Reeves paling kacau" kekeh Raj.


"Begitulah... Kalau kamu nantinya terkontaminasi menjadi bobrok... Well, memang sudah semestinya."


Raj terbahak.


***


"Seriously?" Raj menatap Ajeng tidak percaya. "Arsyanendra berpikir seperti itu?"


"Arsya kebawa ajaran Oom trio kampret nya. Semua hal harus dipertanyakan dan dibuktikan secara logika dan ilmiah" jawab Ajeng manyun. "Padahal yang namanya mitologi dan hikayat itu banyak hal yang tidak semuanya ada jawabannya karena semua itu bersifat magical."


"Ya kalau dinalar juga tidak mungkin satu tulang leher menyangga sepuluh kepala. Harus macam cumi-cumi atau gurita punya tulang sendiri-sendiri" sahut Gemintang.


"Entah kenapa aku membayangkan macam jadi film science fiction... " gumam Bayu. "Bayangkan tulang dada tapi ada banyak tulang leher menyangga sepuluh kepala?"


Raj dan Gemintang tertawa terbahak-bahak membayangkan sesuatu yang tidak masuk akal. "Harus jadi dokter Frankenstein tuh Bay" gelak Raj.


"Kalian kan dokter. Kalau semua dipakai logika, semua mitologi nggak ada yang bisa masuk! Hanya ajarannya yang patut kita ambil yang baik, yang jelek jangan kan?" Bayu menatap ke semua orang di ruang tengah.


"Lha iya. Macam cerita Karna putra Dewi Kunti. Ini versi Jawa yang diadaptasi dari kitab Mahabarata India" ucap Ajeng.

__ADS_1


"Kamu sangat suka perwayangan ya mbak ?" tanya Gemintang.


"Suka banget ! Banyak nama bagus disana, banyak pelajaran yang bisa kita petik, bahkan aku bisa mewek hanya baca cerita menyedihkan..."


"Memang kenapa dengan Karna putra Dewi Kunti? Dia kan anak Dewi Kunti sebelum menikah dengan Pandu gara-gara merapal mantra?" celetuk Bayu.


"Wuuuiiiihhhh mas Bayu tahu juga" seru Ajeng.


"Tahu dikit-dikit Jeng. Kata Oma Kaia, Ogan Abimanyu dan Necan Dara sangat suka buku wayang dan di mansion ada Jeng. Jadi aku baca lah. Nanti kamu ledek lagi, nama Jowo tapi ga tahu wayang" sindir Bayu mengingatkan Ajeng saat awal mereka bertemu membuat Ajeng terbahak.


"Ya ampun. Cerita nya gimana mbak? Aku agak lupa..." pinta Gemintang.


"Di kitab Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, yaitu Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa. Pada suatu hari, Kunti mencoba mantra tersebut setelah melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba berkonsentrasi kepada Dewa Surya, dan sebagai akibatnya, sang dewa matahari tersebut muncul untuk memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun, Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya kembali ke kahyangan setelah memulihkan kembali kepera*wanan Kunti.


Dalam bahasa Sanskerta kata karṇa bermakna "telinga". Hal ini mengakibatkan muncul mitos bahwa Karna lahir melalui telinga Kunti. Namun, Karna juga dapat bermakna "mahir" atau "terampil". Kiranya nama Karna ini baru dipakai setelah Basusena atau Radheya dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna... Dari situ kan kita bisa belajar bahwa jangan macam-macam dengan ilmu pengetahuan yang diberikan..." jelas Ajeng. "Setelah Karna lahir, dia dibuang oleh Dewi Kunti."


"Dan akibatnya, setelah perang Baratayudha pecah, Dewi Kunti meminta anak sulungnya membantu adik-adik tirinya, Yudhistira, Bimasena dan Arjuna tapi Karna sudah bersumpah untuk membela Hastinapura dan diangkat oleh pihak Kurawa menjadi panglima perang yang akhirnya benar-benar terjadi perang saudara satu ibu. Akhirnya Adipati Karna tewas di tangan Arjuna ... Itulah kenapa aku sangat kagum dengan keluarga kalian. Tidak ada perebutan kekuasaan, nama, harta dan wanita ataupun pria... Semuanya harus diselesaikan secara kekeluargaan..." Raj menatap Gemintang dan Bayu.


"Karena, kami semua belajar dari Perang Baratayudha, Raj. Apa hasilnya? Tidak ada kan? Yang ada hanyalah saling membunuh dan penyesalan seumur hidup kehilangan saudara. Prinsip ini sudah diterapkan oleh Opa buyut Arga Pratomo dan Oma Buyut Ajeng Pratomo ke keempat anaknya yang akan menjadi cikal bakal kita semua. Kami Durjana, menistakan satu sama lain, iya. Tapi kami tetap akur dan selalu menolong satu sama lain..." senyum Bayu sambil menggenggam tangan Ajeng.


"Semoga anak - anak kita nantinya akan seperti kita ya mas Bayu" senyum Gemintang sambil memeluk Raj.


"Aamiin."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2