My 100th Secretary

My 100th Secretary
F-1 Twister


__ADS_3

Dalam pesawat Gulfstream yang disewa Radeva dan Devan...


"Pak Radeva, kalau pak Bayu tahu bagaimana? Kan beliau pasang susuk eh... GPS di dompet saya?" tanya Ajeng usai pesawat mereka tinggal landas.


"Biarin saja" jawab Radeva kalem.


"Tapi perjalanan New York ke Jakarta kan butuh 24 jam. Saya kan tidak bisa kembali ke New York hari Selasa nya" jawab Ajeng. Hari ini adalah hari Kamis dan di New York sedang ada libur di hari Jumat dan Senin. Sabtu dan Minggu tidak dihitung.


"Aku sudah bilang ke bagian HRD, kamu ambil cuti hingga Kamis depan. Ada urusan keluarga dan surat nya sudah saya berikan" sahut Radeva.


"Pak Radeva sudah memperhitungkan semuanya ya?" cengir Ajeng.


"Yoi! Dengar Jeng, mas Bayu itu sudah terlalu banyak menanggung beban pekerjaan, menjadi tameng kami saat di Brazil ( Baca My Bodyguard is My Boyfriend ) dan Hongkong ( Baca Jayde and Wira Stories )bersama dengan bang Luke meskipun dia menikmati sih untuk urusan gegeran. Tapi kali ini entah kenapa aku dan Devan ingin usil" cengir Radeva.


"Awas lho nanti Twister F-10 beneran nongol" gelak Ajeng.


"Kan ada mbak Ajeng, pawangnya Twister. Yakin deh, bakalan aman sentosa!" seringai Devan.


"Kalian itu berapa saudara sih? Jujur aku pusing dengan keluarga kalian... Aku baru tahu kalian, Miss Blair..."


"Nadya maksudnya?" potong Radeva.


"Iya... terus dik Mamoru, Mbak Gemintang dan pak Raj, lalu Raja dan Ratu Belgia, Pak Luke Bianchi dan itu pun tahu nya dari tv... Yang di New York saja deh!" Ajeng menatap dua pria tampan di hadapannya.


"New York itu tadinya ada kakakku mbak Deya, nama lengkapnya Savrinadeya dan dia juga tuna rungu seperti mommy. Tapi mbak Deya sudah menikah dengan bang Antonio, sepupunya bang Luke Bianchi. Terus ada mbak Nadira kakak sepupuku, putrinya Oom Rajendra. Kamu sudah ketemu kan dengan Oom Jendra? Nah mbak Dira itu dosen filsafat di Maryland University dan sudah menikah dengan Bang Pedro Pascal, agen FBI sahabatnya Bang Omar Zidane. Sekarang bang Pedro bertugas di BAU Quantico" papar Devan.


"Selain itu ada kembaranku Raveena tapi dia dulu kuliah di psikologi UCLA dan sekarang sudah menikah dengan bang Alexis asistennya bang Antonio. Veena dan Deya tinggal di Turin. Oh ada adik kami Giordano Smith, anaknya Oom Benji dan Tante Moon. Sekarang sih masih junior high school dan tahun depan masuk high school kalau tidak salah" lanjut Radeva.

__ADS_1


"Kalian mencar ya?" tanya Ajeng yang sangat suka mendengar cerita macam-macam.


"Yup. Belum lagi sepupu kami yang Emir Dubai. Pernah dengar nama Radhi Blair? Pembalap muda Ferarri?" tanya Devan.


"Itu saudara kalian?" Ajeng melotot tidak percaya bahwa pembalap tampan itu bersaudara dengan Devan dan Radeva.


"Nama belakang kami sama kok. Radhi dan saudara kembarnya Raine serta mas Damian itu anak Emir dari istana Al Azzam. Mereka bisa punya gelar Emir karena dulu Opa Aidan Blair menikah dengan Oma Thara Al Azzam yang merupakan putri Emir Al Azzam. Karena Eyang Buyut Al Azzam tidak punya anak laki-laki jadi saat Oma Thara melahirkan Oom Direndra, gelar Emir jatuh ke cucunya. Begitu juga saat Oom Alaric lahir. Makanya Damian, Radhi dan Raine punya gelar bangsawan" jawab Radeva. "Dan yeah, mereka, Nadya dan kakaknya Nelson serta aku dan mas Bayu sama-sama keturunan Blair."


"Blair itu asalnya dari Skotlandia bukan?" tanya Ajeng.


"Yup. Darah yang mengalir di kami campur aduk. Aku memiliki dari Jawa dari Opa dan Oma Buyut Giandra serta daddyku wong Jowo cuma karena darah bule dari Skotlandia, Inggris dan Irlandia lebih kuat jadinya gini deh. Kami semua lebih ke bule casingnya" kekeh Radeva. "Dan kayaknya makin kesini makin banyak bule karena banyak yang menikah dengan kulit putih."


"Meskipun gitu, keluarga kami secara turun temurun selalu mendidik kami dengan adat Jawa mix ajaran barat. Makanya kami bisa paham bahasa Jawa soalnya akar keluarga kami tidak boleh hilang" lanjut Devan.


Ajeng mengangguk. Mereka memang keluarga Sultan tapi sultan yang humble dan ... jahil. Tak heran aku nyaman dengan mereka karena ajarannya hampir sama dengan aku, cara Jawa.


Gadis itu lalu bertanya macam-macam tentang keluarga klan Pratomo agar nantinya dia tidak bingung jika salah satu dari mereka tiba-tiba muncul di mejanya. Radeva dan Devan dengan telaten memberikan penjelasan dengan foto masing-masing anggota keluarganya di iPadnya.


***


Bayu baru saja selesai acara ramah tamah bersama para kolega bisnisnya di ballroom hotel tempatnya menginap bersama dengan tantenya Jang Geun-moon. Istri Benjiro Smith itu memang dikenal wanita cerdas dan jenius dalam menciptakan berbagai macam alat spionase hingga tidak heran para law enforcement memakai perusahaan nya sebagai produsen alat-alat canggih mereka.


Bayu tadi sempat bertemu dengan Pedro Pascal, kakak iparnya yang mendampingi chief FBI Quantico karena tahu dia masih ada kekerabatan dengan Jang Geun-moon. Dan kini Bayu benar-benar merasakan lelah setelah seharian bersosialisasi. Dirinya ingin berendam air panas dan pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk merelaksasi kan diri.


Hampir satu jam dihabiskan Bayu untuk berendam dan sekarang tubuhnya terasa segar. Pria itu lalu mandi dan keluar dari kamar mandi. Bayu memakai kaosnya dan membuka pintu balkon yang terasa hawa dingin bulan Oktober. Diliriknya jam tangannya yang menunjukkan pukul satu malam dan entah kenapa Bayu ingin menelpon Ajeng.


__ADS_1


Berulang kali Bayu menelpon tapi semuanya langsung masuk ke voice mail.


Hai, ini Ajeng. Leave the message and also pizza for me. Bye.


Bayu bingung karena tumben-tumbennya ponsel Ajeng mati. Sepanjang Bayu tahu, paling banter Ajeng hanya membuat silent ponselnya tapi kalau mati atau offline... nyaris tidak pernah.


Penasaran, Bayu pun membuka MacBook nya untuk melacak keberadaan Ajeng. Mata pria itu terbelalak ketika melihat titik tiga orang yang dikenalnya diatas laut Pasifik.


Radeva ? Devan ? Dan Ajeng?


"What the hell!" teriak Bayu. "Mereka ke Jakarta!"


Bayu langsung menelpon kedua adiknya yang sama-sama mematikan ponselnya.


"AAAARRRGGHHHH! BRENGSEEEKKK MEREKA!!!" umpat Bayu marah. Pria itu lalu melacak kartu kredit Radeva dan menemukan pemesanan penyewaan pesawat pribadi untuk empat hari. Bayu lalu menelpon perusahaan penyewaan pesawat itu dan memberitahukan bahwa memang Radeva Dewanata memesan dua hari keberangkatan dan dua hari penjemputan.


Sialaaaannn! Sialaaaannn!


Bayu membanting asbak di kamarnya dan memilih keluar menuju Gym. Dirinya amat sangat marah karena dia tidak bisa meninggalkan New York secepatnya untuk menyusul tiga anak nakal itu karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


Awas kamu Jeng!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2