My 100th Secretary

My 100th Secretary
Ikut Lelang


__ADS_3

Pameran Wine di Ritz-Carlton New York


Ajeng menatap Savrinadeya yang paling kalem sepertinya dengan antusias. "Saya sudah bertemu dengan Tante Astuti dan Oom Rama."


Savrinadeya tersenyum. "Sudah ketemu mommy, Daddy dan Devan ya?" ucapnya dengan nada celad khas tuna rungu.


"Sudah. Duh dik Devan tuh lucu ya" jawab Ajeng. "Oh ya gimana kalian bisa menikah dengan pak Antonio dan pak Alexis?"


Raveena dan Leia melongo. "Pak?"


"Enak panggil gitu kan? Soalnya kalau pakai mister, kepanjangan?" jawab Ajeng kalem membuat Raveena, Savrinadeya dan Leia tertawa geli.


"Lha kamu kapan manggil mas Bayu dengan panggilan 'mas'?" tanya Raveena.


"Nanti ada wayahe ( waktunya )" jawab Ajeng santai.


"Oh astagaaa... Beneran deh ! Kamu memang koplak" cengir Raveena.


"Bagaimana kamu bisa sama pak Alexis, Veena?" tanya Ajeng.


Raveena bercerita saat pertama Kali bertemu dengan Alexis di Los Angeles dan setelahnya akhirnya menikah dengan pria blasteran Italia - Inggris itu. Astuti juga mengetahui bagaimana Savrinadeya dikejar - kejar Antonio Bianchi sejak masih usai 15 tahun padahal selisih usianya lumayan jauh. ( Baca Mengejar Cinta Savrinadeya dan Raveena ).


"Tapi bang Tomat... eh bang Antonio memang baik kok" senyum Savrinadeya malu-malu.


"Sampai ga baik, aku sunat lagi dia, Deya !" umpat Leia. "Kan aku dengan Tomat sepupu kandung."


Savrinadeya menatap horor ke kakaknya yang memang dikenal judes dan brutal.


Jangan dong mbak... Savrinadeya menatap memelas ke Leia.


Wanita blasteran Jepang, Italia, Arab dan Jawa hanya tertawa geli melihat wajah adiknya.


"Mbak Leia bisa bahasa isyarat?" tanya Ajeng.


"Aku lumayan, Veena fasih tapi kalau Deva itu bisa baca bibir berbagai bahasa. Eh tapi Shinichi juga bisa ya?" jawab Leia.


Tak lama, keempatnya menoleh dan melihat Radeva menggandeng tangan seorang gadis manis, membuat Raveena tersenyum lebar melihat saudara kembarnya datang.


"Haaaiii kembaranku yang durjana bin bocil kematian" kekeh Raveena sambil memeluk Radeva erat. Sejak Raveena menikah, mereka jarang bertemu live.


"Hai, si Raul kok mirip bang Alexis sih. Kagak mirip sama elu!" kekeh Radeva. "Halo mbak Leia, Deya..." Radeva memeluk Leia dan Savrinadeya usai berpelukan dengan Raveena. "Hai Ajeng."


Ajeng tersenyum ke arah Radeva.

__ADS_1


"Tahu tuh Raul jadi mirip Alexis." Raveena tersenyum ke arah Ganiya. "Hai Aya, ayo gabung dengan kita, para wanita mantan gadis punya anak satu yang sering lupa kalau punya tanggungan disaat kumpul."


Ganiya tersenyum. "Halo semua, aku Ganiya Redford. Biasa dipanggil Aya." Ganiya mengalami Leia, Savrinadeya dan Raveena.


"So, Aya, aku tinggal dulu ya. Aku cari para pria - pria Mafioso itu." Radeva mencium pipi Ganiya lalu masuk ke bagian pameran.


"Mbak-mbak semua nggak mau lihat pameran?" tanya Ganiya.


"Aya, hidupku sudah berhubungan dengan wine. Soal pameran itu urusan para pria, ghibah urusan kaum wanita" ucap Raveena cuek.


Ganiya dan Ajeng tertawa melihat wajah tengil Raveena yang mirip dengan Radeva.


"Kata Deva, kamu sudah sidang skripsi?" tanya Savrinadeya dengan suara celad dan bahasa isyarat melalui tangannya.


Aku bisa bahasa isyarat, mbak Deya. Belajar karena temanku yang pelukis juga tuna rungu. Ganiya tersenyum membuat Savrinadeya terkejut."Aku sudah sidang skripsi, tinggal menunggu wisuda saja."


"Wow..." ucap Raveena, Leia dan Ajeng.


"Kamu jadi mau bekerja di art galeri?" tanya Ajeng.


"Insyaallah jadi mbak Ajeng. Soalnya aku sudah jatuh cinta dengan semua yang berhubungan dengan art" ucap Ganiya.


"Siapa tahu ketemu sama Tante Gandari, ibunya mas Bayu" celetuk Raveena. "Kan dia presiden atau CEO Manhattan Art Gallery kalau nggak salah."


"Iya. Macam Oma buyut Yuna Pratomo. Dulu kata mommy yang diceritakan Oma Kaia, Oma Yuna sering pergi ke banyak museum seluruh dunia. Bahkan kata Mommy, opa Edward melamar di Kairo Mesir." Raveena menatap ke semua orang.


"Aku juga diceritakan soal keluarga Blair. Entah kenapa keluarga Blair aku rasa kacau nya turun temurun ya?" gumam Ajeng.


Keempat wanita menoleh ke arah Ajeng. "Jeng, aku kasih tahu ya, bukan hanya Keluarga Blair yang kacau tapi semua anggota klan Pratomo. Sejak generasi kedua, nggak ada yang beres!" kekeh Leia.


"Nama belakang kamu keren, Giandra, Pratomo, Blair, Reeves, McCloud, Neville, Arata, Al Jordan, Akandra, Bianchi... tapi kelakuan naudzubillah. Contohnya ya macam Deva dan Devan ke mas Bayu" gelak Raveena.


"Ya ampun ! Kalian pada keasyikan berghibah jadi nggak pada dimakan ini camilannya?"


Leia menoleh dan tampak Dante Mancini berdiri di belakangnya. "Halo, sayang." Dante lalu mencium bibir istrinya lembut membuat wanita lainnya hanya tersenyum simpul.


"Yuk masuk. Kita mulai acara lelang wine" ajak Alexis ke Raveena.


"Wine yang mana yang dilelang Al?" tanya Raveena sambil merangkul lengan Alexis.


"Punya Bianchi satu, punya Mancini satu. Masing - masing tahun 1981."


Raveena mengangguk. "Yuk ibu - ibu, kita ke dalam ballroom."

__ADS_1


Bayu melihat Ajeng yang berdiri langsung memberikan tangannya dan Ajeng pun memegang tangan kekar Bayu. Savrinadeya tersenyum ke arah Antonio yang langsung memeluk pinggang wanita manis itu. Radeva langsung menggandeng Ganiya yang tampak antusias ingin melihat acara lelang wine.


"Mas Deva ikut lelang?" tanya Ganiya.


"Belum tahu. Memang kamu mau minum wine kalau aku menang lelang?" balas Radeva.


"Belum tahu."


Bayu menatap Ajeng yang tampak kagum dengan cara penataan dan ramainya para kaum jetset, pengusaha, businessman dan artis yang datang.


"Pak Bayu..."


"Ya Ajeng?"


"Ikut lelang nanti?" Ajeng menatap Bayu.


"Kamu mau wine nya?"


Ajeng menggelengkan kepalanya. "Hanya seru aja kalau ada yang ikutan lelang."


"Kalau kamu mau, aku ikut acara lelang. Gimana?"


"Eh nggak usah pak ! Saya hanya menanyakan" jawab Ajeng panik.


"Yuk duduk sini. Kita nikmati acaranya." Bayu menggandeng Ajeng untuk duduk di kursi nomor dua dari depan dan gadis itu bisa melihat Bayu memegang tongkat dengan angka untuk mengikuti lelang.


Diam - diam Ajeng berdoa Bayu tidak ikut lelang wine.


Aku tahu uangnya mas Kal-el banyak tapi buat apa beli wine?


Bayu tersenyum kearah Ajeng tanpa melepaskan genggaman nya.


Aku kok curigation dengan senyum mas Kal-el ya?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2