My 100th Secretary

My 100th Secretary
Pembicaraan Aib


__ADS_3

Apartemen Bayu O'Grady di Manhattan New York


Bayu menatap ibunya dengan tatapan memelas. Masa kena sita ibu negara lagi sih? Lama-lama aku curiga, ibu negara merangkap debt collector ini jadinya!


"Mooommm, please jangan bawa Ajeng lagi dong."


"Kan ada Doogie sama Hunter?" sahut Gandari cuek sedangkan Abiyasa hanya tersenyum melihat keributan istri dan putranya.


"Beda lah mom!"


Ajeng sudah kembali duduk di samping Bayu dan melihat wajah kekasihnya tampak memelas membuatnya kasihan tapi juga gemas. Entah kenapa wajah Bayu yang cemberut macam anak kecil, membuat Ajeng ingin mencubit kedua pipinya.


"Bay, apa kamu bisa profesional kalau Ajeng tidak mommy sita?" Gandari menatap tajam ke arah Bayu.


"Bisa. Sumpah Pramuka!"


"Kamu nggak pernah ikut Pramuka, Lisus !" ejek Abiyasa.


"Biarin!"


Ajeng tampak takjub melihat keributan yang tidak ada bedanya dengan Jakarta. Ampun deh ! Aku sudah bengek, ditambah sekarang bersama dengan keluarga yang bikin sesak nafas... Tobyat deh !


"Ajeng..." panggil Gandari.


"Njih Bu?"


"Besok kalau Bayu tidak bisa profesional, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan? Pertama, tusuk pinggangnya, kedua, tendang tulang keringnya, ketiga, telpon saya. Oke?" Gandari mengangguk tegas ke Ajeng yang hanya ikut mengangguk patuh.


Bayu menatap tidak percaya bagaimana bisa ibunya sendiri memberikan semua kelemahannya pada gadisnya? Astaghfirullah! Gue beneran jadi anak tiri merangkap anak adopsi kalau begini !


***


Gandari dan Abiyasa pun pulang menjelang pukul sebelas siang karena hendak ke Staten Island untuk menjenguk Kaia dan Rhett. Reana dan Pandu sudah berangkat terlebih dahulu dan tadinya Gandari hendak mengajak Bayu sekalian tapi malah mereka mendapatkan kejutan.


Bayu pun memilih untuk menikmati acara bersama Ajeng di apartemennya. Kan perjanjian pacaran hanya weekend dan sekarang weekend jadi tidak salah tho?


Ajeng tadi memesan baju lagi yang lebih santai karena Bayu memesankan semalam adalah baju untuk pesta cocktail dan hari ini tidak ada jadwal pesta. Ditambah ini musim dingin, kenapa dipesannya baju yang tidak sesuai? Dasar Mas Kal-el.


Suara bel apartemen Bayu berbunyi dan pria itu membukanya. Tampak penjaga apartemen membawakan pesanan Ajeng yang kemudian diterimanya.

__ADS_1


"Ajeng sayang, bajunya sudah datang nih!" panggil Bayu sambil menutup pintunya.


Ajeng yang masih mengenakan piyama pun berlari menerima paper bag berisikan bajunya.


"Terimakasih mas" senyum Ajeng sambil membawa nya masuk ke kamar Bayu untuk berganti pakaian.


Bayu tersenyum lalu melanjutkan acara menonton olahraga basket NBA yang menyiarkan pertandingan antara New York Knicks dengan Boston Celtics.


"Pak Bayu, nanti sebelum pulang mengantarkan saya, mampir ke kantor dulu ya" ucap Ajeng yang sudah berganti pakaian dengan mengenakan sweater turtle neck pas badan dan celana jeans.


"Ngapain ke kantor Jeng?" balas Bayu tanpa mengalihkan pandangan dari televisi membuat Ajeng kepo dan gadis itu hanya bisa maklum jika Bossnya sangat suka olahraga basket NBA.


"Kan tas baju saya masih di ruangan bapak... eh mas."


"Santai saja Jeng ..."


"Tapi mas... " Ajeng terpekik saat Bayu menarik tangannya hingga terduduk di sofa.


"Jeng, bajumu tidak apa-apa."


"Tapi kan sudah dua hari mas. Harus dicuci lah... Eh ?" Ajeng terkejut ketika Bayu menarik pinggangnya dan membuatnya duduk diatas pangkuan pria itu. Keduanya saling berpandangan. "Mas, jangan aneh-aneh. Saya tidak akan bertanggung jawab kalau pak Abi membajak CCTV apartemen mas terus melihat adegan tidak sopan begini."


Ajeng tertawa. "Ya Allah mas Kal-el, itu bukan pelet !"


"Aku tahu, hanya saja... Aku tidak menyangka bisa tergila-gila dengan gadis yang punya pola pikir Absurd... " Mata biru Bayu menatap lembut ke Ajeng yang merasakan bagaimana jantung nya berdegup kencang.


Fix ! Kalau aku terkena stroke, pasti gara-gara mata biru yang membuat aku tidak bisa berpaling ! Bisa jadi terjadi teori terbaru soal stroke, gara-gara terpesona dengan tunangan sendiri. Tunggu! Apa bisa diajukan sebagai studi kelayakan? Ajeng merutuki otaknya yang makin kacau akibat pengaruh Bayu yang membuat dirinya tidak fokus.


"Jeng..."


"Hah?" bisik Ajeng.


"Kamu mau lamaran model apa?"


"Lha semalam udah, mas."


"Bukan... Yang resmi. Oh, apa kamu ada keluarga di Solo? Jadi kan aku sesuai aturan dan pakem... Kamu masih punya eyang atau oom atau Tante?" Bayu melepaskan tangannya dari wajah Ajeng dan memegang pinggang gadis itu.


Ajeng tampak tercenung. "Sejujurnya pak, kedua orang tua saya itu adalah anak yatim-piatu semua yang bertemu di panti asuhan. Entah kenapa papa dan mama yakin mereka memang jodoh jadi berjuang bersama termasuk mencari uang untuk kuliah di kedokteran. Jadi saya tidak tahu apakah masih ada keluarga atau tidak... Karena papa dan mama juga tidak tahu. Yang mereka ceritakan pada saya saat saya menanyakan soal eyang atau oom atau Tante atau pakdhe budhe, ya itu. Mereka bertemu di panti asuhan, dan berdua saling mendukung di bidang akademik, kerja sampingan dan sama-sama mencari beasiswa hingga bisa lulus bersama hingga akhirnya menikah lalu memiliki saya. Mereka sendiri juga tidak tahu siapa keluarga mereka sendiri."

__ADS_1


"Apa kamu mau mencari tahu? Aku punya Oom dan Tante yang bisa melacak keberadaan garis keturunan" tawar Bayu.


Ajeng menggelengkan kepalanya. "Tidak usah mas Kal-el. Saya sudah cukup nyaman hidup seperti ini. Kalau misalnya saya tahu, terus tahu alasan kenapa mereka membuang papa dan mama di panti asuhan, apa saya tidak sakit hati, mas? Orang tua mana yang tega membuang darah dagingnya sendiri dengan alasan apapun ! Jika kamu tidak mau punya anak, ya dijaga badan kamu atau pakai pengaman !"


Bayu sedikit terkejut mendengar amarah dalam nada bicara Ajeng.


"Baiklah Jeng, kita tidak perlu mencari tahu ya?" senyum Bayu menenangkan Ajeng. Bayu tidak mau gadisnya over thinking apalagi dia sudah berjanji untuk menjaga Ajeng.


"Iya pak. Saya sudah nyaman dengan keadaan saya sekarang ini." Ajeng memegang bahu Bayu. "Kalau mas bertanya mau lamaran model apa yang resmi, saya maunya dengan adat Jawa."


"Kamu bakalan pakai kebaya?" Membayangkan Ajeng dengan sanggul dan kebaya, sudah membuat Bayu terpesona apalagi melihatnya sendiri.


Ajeng mengangguk. "Kan saya wong Jowo, wong Solo jadi sudah semestinya saya memakai kebaya untuk acara sakral seperti itu pak..."


"Er Jeng, ada satu hal yang harus aku ceritakan padamu..." Bayu menatap cemas ke Ajeng.


"Apa itu mas?"


"Soal cincin."


"Ada apa dengan cincin ?" tanya Ajeng bingung.


"Jangan kaget kalau nanti pada saat lamaran, ada yang bakalan menyeletuk untuk jangan sampai membuat cincinnya gelinding..."


Ajeng menatap Bayu tidak mengerti apa yang diucapkan tunangannya. "Memangnya ada apa?"


Bayu tersenyum kecut. "Sebenarnya gara-gara Daddy sih jadi aib seumur hidup..."


Ajeng memegang wajah Bayu. "Aku ingin tahu, aib nya seperti apa sih?" cengir gadis itu.


( Baca My Cold Chef edisi Bonchap - Lamaran ).


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2