My 100th Secretary

My 100th Secretary
Kisah Membagongkan Di Hari Sabtu


__ADS_3

Masih POV Bayu yang muring-muring karena Ajeng disita oleh pihak bank ... Eh ibu Negara ... Hari Jumat


Bayu menatap judes ke Radeva yang ikut bersamanya sholat Jumat sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah lempeng tanpa dosa seolah tidak merasa bersalah menjadikan Bayu bahan godaan para sepupunya.


Abiyasa terpaksa harus duduk diantara dua pria tampan itu agar tidak terjadi huru hara di mesjid New York hanya gara-gara yang satu masih mode senggol bacok, yang satu mode usil tingkat planet Krypton.


"Boys, kalian itu mau sholat Jumat, janganlah ribut di mesjid. Okay?" ucap Abiyasa sambil melirik ke arah dua orang yang berbeda sikapnya satu sama lain.


Radeva hanya tersenyum smirk sedangkan Bayu tampak ingin menghajar adik sepupu kandungnya itu. Sudah dilarang mommy ketemu Ajeng di apartemennya, ini lagi bocil kematian kadal kadut bikin grup chat gegeran pulak!


***


Today Sabtu, Perjalanan Nadya dan Ajeng ke Mansion Blair di Staten Island


Nadya menyetir mobilnya, Subaru Forester, menuju mansion Opa dan Omanya di Staten Island bersama Ajeng. Kedua gadis itu bercerita banyak hal termasuk pria masing-masing.


"Jadi Nadya kepergok Pak Travis, dua kali?" tanya Ajeng tidak percaya.


"Dua kali sama mas Nelson, dua kali sama Daddy. Yang terakhir, aku sampai kena jewer mommy karena Daddy tidak mau main tangan ke aku. Tapi, Daddy meninju Omar sih..." ucap Nadya sambil meringis. "Kamu tahu, sebenarnya aku yang salah tapi Omar menutupinya jadi dia yang kena hajar Daddy lah !"


Ajeng menggelengkan kepalanya. "Kalian berdua memang saling Bucin satu sama lain."


"Well, sebenarnya dulu Omar suka sama kakak sepupuku yang tinggal di Turin, Leia Bianchi Mancini. Hanya saja mbak Leia lebih suka sama bang Dante yang sama-sama panasannya. Jadi Omar sempat mengalami patah hati berkepanjangan..." senyum Nadya.


"Apa yang membuat kalian jadi Bucin?"


"Omar itu gentleman dan pasrah kalau aku hajar... Hahahaha" gelak Nadya durjana. "Aku tidak tahu sejak kapan aku dan Omar saling tertarik tapi segala sesuatu nya mengalir begitu saja. Kami berdua mengalami banyak hal dan satu yang jelas, Omar selalu ada di sebelah aku. Apalagi saat kami dipenjara, dia lah yang paling panik saat aku dipindahkan ke sel wanita bersama Chisato, pacar Wira dan Katrin Jaeger, agen BND dari Jerman."


"Kisah cinta kalian menarik ya?"


"Kisahmu dengan mas Bayu juga Jeng. Bagaimana kakakku satu itu baru kali ini jatuh cinta dengan seorang gadis. Mas Bayu itu tampan, kaya dan baik tapi dia agak menarik diri jika berhubungan dengan wanita karena yang naksir banyak tapi dengan embel-embel apa yang dia punya."


"Aku yang minder saat tahu pak Bayu tertarik sama aku karena siapalah aku... Hanya sekretaris njelehi yang sering membuatnya pusing tiap hari..."


Nadya terbahak. "Itu lah salah satu daya tarik kamu, Jeng. Kamu menganggap mas Bayu ya hanya boss dan kamu menjadi diri sendiri, tidak ada tendensi menarik ataupun mengikat mas Bayu. Justru mas Bayu yang terikat padamu."


"Jadi Nadya, kapan kamu dan Omar?"


"Merit? Aku belum mualaf, Ajeng. Daddy mengirimkan aku ke Jakarta untuk belajar dengan Oma Gendhis dan Oma Danisha. Apalagi kan ada yang bisa mengajari disana. Guru mengaji kelompok pengajian Tante Dhita dan Tante Amara sudah mau kok mengajari aku selama disana. Dan Omar sudah bilang kalau kami menikah, dia yang akan menjadi imam dan membimbing aku."


Ajeng menatap Nadya penuh kagum. "Kalian berdua itu memang ya. Hubungan kalian sangat solid satu dengan lainnya."

__ADS_1


"Mungkin karena aku dan Omar memang berjodoh dan katanya bakalan memiliki banyak hal yang membuat kami terikat dengan cara tersendiri dari semesta alam." Nadya tersenyum dan Ajeng bisa melihat bagaimana mata hijau kecoklatan pengacara itu tampak berbinar setiap menyebutkan nama Omar.


Mereka berdua Bucin akut sedangkan aku, mas Kal-el yang keterlaluan bucinnya.


***


Bayu mengacuhkan larangan Gandari untuk tidak menemui Ajeng. Hari Sabtu ini pria berbadan besar itu memilih pergi ke apartemen Ajeng dan sesampainya disana pria itu melongo karena tidak ada orang di apartemen itu.


Bayu tampak berpikir dan baru sadar jika Ajeng pergi bersama Nadya. Damn it Nadya ! Pria itu langsung menelpon Ajeng.


***


Ajeng mendengar suara ponselnya dan tahu siapa yang menelpon, langsung mengambil benda pipih itu. Nadya hanya melirik karena tahu siapa yang menelpon gadis yang duduk di sebelahnya.


"Pagi pak Bayu" sapa Ajeng membuat Nadya terkikik karena terdengar macam di kantor saja.


"Kamu jadi pergi sama Nadya?" tanya Bayu tanpa basa-basi.


"Jadi pak. Ini kami perjalanan."


"GPS kamu tidak muncul Jeng."


"Kan dimatikan sama pak Radeva..." Ajeng menjauhkan ponselnya karena Bayu mengumpati Radeva dengan berbagai bahasa.


"Lho pak, kata Bu Gandari baru boleh ketemu sama saya Senin..." balas Ajeng dengan nada polos.


"AJEENNGGG!"


Ajeng cekikikan mendengar suara Bayu antara gemas dan kesal.


"Saya kan takut sama Bu Gandari pak... Kualat nanti saya..."


"Dah ! Urusan mommy itu adalah urusan aku! Kamu jangan khawatir !"


"Tapi pak, nanti kalau kena jewer lagi gimana?"


"AJEENNGGG! Kamu kok lama-lama njelehi sih!" omel Bayu membuat Ajeng tertawa.


"Njelehi nama tengah saya pak..."


Bayu memutuskan panggilannya membuat Ajeng melongo. "Kok dimatiin?"

__ADS_1


Nadya tertawa terbahak-bahak. "Astaga... Kalian itu lebih kacau hubungannya dibandingkan aku dan Omar."


"Pak Bayu katanya mau menyusul..." Ajeng menoleh ke arah Nadya.


"Haaaiissshhh... Dasar angin puyuh!" umpat Nadya.


Memang panggilan mas Kal-el ada berapa sih? Kenapa setiap keluarga berbeda-beda?


***


Ketika mereka sedang keluar dari exit tol, Omar Zidane menghubungi Nadya. Gadis itu lalu memencet tombol bluetooth mobilnya.


"Kamu dimana Nad?" tanya Omar.


"Kamu yang agen FBI. Find me ( temukan aku )" goda Nadya dengan nada flirting.


"Nadyaaaaaa..."


Ajeng melongo mendengar cara Omar dan Nadya saling berhubungan dengan caranya masing-masing.


"Aku ke Staten Island sayang, ke rumah opa dan omaku. Kenapa? Kamu mau menyusul? Baguslah, karena aku membutuhkanmu untuk mengerem angin yang sering berubah arah."


"Angin?"


"Mas Bayu, Omar. Arti nama Bayu itu Angin. So, dengan adanya kamu, setidaknya kita bisa tag team menghajar si Lisus kalau sudah mereog!"


Ajeng memegang pelipisnya merasa pusing dengan ucapan Nadya yang memprovokasi Omar Zidane yang notabene adalah agen FBI aktif.


"Nadya sayang, memang apa yang terjadi?" tanya Omar bingung.


"Sama dengan yang terjadi pada kita sayang, Twice ( dua kali ), hanya bedanya Ajeng baru sekali ketahuan sama Tante Gandari. Sedangkan kita sudah dua kali" gelak Nadya tanpa beban membuat Ajeng menggelengkan kepalanya.


Astaghfirullah! Kenapa keturunan Blair nggak ada yang beres sih?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2