
Harvard University
Seorang remaja akhir berusia dua puluh tahun tampak memukul seorang pria yang lebih tua darinya. Remaja akhir bermata biru itu tampak membabi buta memukul pria yang sudah kepayahan.
Tiba-tiba remaja tersebut ditarik oleh dua orang remaja sebayanya yang memiliki mata biru, sama dengan dirinya.
"D ! D ! Sudah ! Dia bisa mati !" teriak remaja yang lebih muda dengan rambut pirang.
"D ! Aku belum bisa membela kamu di pengadilan !" ujar remaja satu lagi dengan rambut agak gondrong dan wajah terlihat keturunan timur tengah.
"Brengseeekkk dia ! Tidak mau bertanggung jawab ! Mau enaknya saja !" teriak remaja yang masih dalam kondisi trance akibat emosi. "Bayi dalam kandungan Susan itu anak kamu a$$ hole ! Dan aku bisa menuntut kamu ! Dasar dosen tidak bermoral ! Hanya modal burung !"
"Mas Duncan !" teriak seorang gadis berambut coklat juga bermata biru dengan wajah mirip remaja yang dipanggil Duncan.
"Sudah ! Jangan berkelahi !" celetuk gadis yang sebaya dengan gadis sebelumnya dengan rambut pirang panjang dan bermata hijau.
"Scarlett, tapi dia... " Duncan menoleh ke arah adiknya.
"Sudah ... Susan sudah tidak apa-apa meskipun keguguran.. " ucap Scarlett.
"Dasar pembunuh !" teriak Duncan yang hampir menerjang pria yang sudah terkapar kalau tidak ditarik dua orang yang memegangnya.
"Mas Aslan, Indy... Bawa mas Duncan menjauh dari Mr Johnson. Biar aku dan Scarlett yang urus..." ucap gadis berambut pirang itu.
Dua remaja yang dipanggil Aslan dan Indy pun menyeret Duncan menjauh dari pria yang dipanggil Mr Johnson itu.
"Kamu mau ngapain Diana ?" tanya Scarlett ke arah gadis berambut pirang yang berlutut dengan kaki satu di sebelah Mr Johnson.
"Intimidasi" jawab Diana tenang. "Halo Mr Johnson, saya Diana Blair Zidane. Pria yang menghajar anda adalah kakak sepupu saya, Duncan Blair O'Grady. Anda pasti tahu kan karena kakak saya adalah mahasiswa senior anda. Lalu yang rambut nya agak gondrong adalah kakak kandung saya, Aslan Blair Zidane, mahasiswa hukum. Yang berambut pirang itu sepupu saya Indiana Blair, sama-sama kuliah di fakultas hukum hanya beda angkatan dan ini adik Duncan, Scarlett Blair O'Grady."
Gadis berambut pirang itu lalu duduk bersila. "Anda tahu kan kenapa mas Duncan berani menghajar anda ? Karena anda terbukti memberikan minuman kepada mahasiswa anda bernama Susan Kerr untuk menggugurkan kandungannya yang merupakan anak anda. Anda tidak mau anak hasil perselingkuhan anda diketahui istri anda yang kebetulan adalah dekan Princeton University, bukan. Eeeiiitttsss jangan bicara apapun !"
Scarlett tersenyum smirk mendengar gaya bicara sepupunya yang mirip dengan sang mommy, Nadya Blair.
"Asal anda tahu, Daddy saya adalah Chief FBI di New York dan saya bisa meminta FBI menyelidiki kasus ini atau, saya panggilkan polisi Cambridge karena opa saya adalah komisaris NYPD dan bisa kemari hanya dalam hitungan menit." Diana tersenyum. "Anda memilih untuk menyerahkan diri atau anda lebih dipermalukan lagi?"
***
Kelima anggota keluarga Blair itu akhirnya disidang di ruang rektor Harvard University. Dan semua orang tua mereka pun datang membuat kelimanya melengos.
"Sekarang Apalagi?" tanya Ajeng ke kedua anaknya yang hanya manyun.
__ADS_1
"Aslan ! Kenapa kamu nggak ikut mukul sih ?" tanya Nadya gemas membuat Aslan dan Diana melongo.
"Kamu nggak ikutan kan Indy?" tanya Marisol.
"Ehem !" dehem Rektor Harvard University itu."Mr dan Mrs O'Grady, Mr dan Mrs Zidane serta Mr dan Mrs Blair... Saya tahu Mr Blair dan Mrs Zidane adalah alumni Harvard University, Mr O'Grady dari MIT dan Mrs Blair dari Princeton University. Saya berterimakasih anak-anak anda memilih kuliah di Harvard University tapi ... Mereka lebih parah dari anda-anda jaman kuliah dulu."
Bayu, Nelson dan Nadya hanya saling berpandangan satu sama lain.
"Duncan, apa yang melatarbelakangi kamu menghajar Robbie Johnson?" tanya Rektor itu.
"Susan adalah teman satu tim debat dan saya tahu dia punya hubungan dengan Mr Johnson. Saya tidak perduli perselingkuhan mereka tapi saat Susan dinyatakan hamil, Mr Johnson - tipikal - menjauh dan akhirnya Susan bercerita pada saya kalau Mr Johnson tidak mau bertanggung jawab. Saya bilang sama Susan kalau itu semua adalah konsekuensinya dan Susan memilih untuk membesarkan anaknya. Tapi Mr Johnson berpikiran lain. Saat saya dan Susan sedang berdiskusi untuk tema debat, Mr Johnson mendatangi kami dan memberikan juice alpukat untuk Susan. Saat minuman tinggal separuh, Susan mengeluh perutnya sakit dan tak lama darah mengalir dari bawah tubuhnya. Kami membawa Susan ke rumah sakit dan disana dokter mengatakan bahwa Susan meminum obat penggugur kandungan."
"Dan satu-satunya orang yang memberikan minuman adalah Robbie Johnson" sambung Aslan.
"Barang bukti juga sudah saya amankan" timpal Indiana.
"Dan mas. Duncan menghajar Mr Johnson karena tidak mau bertanggungjawab atas pembunuhan janinnya" tutup Scarlett.
"I have nothing to say ( aku tidak ada yang harus diucapkan ) sebab aku sudah mengatakan semuanya ke Mr Johnson." Diana menatap serius ke Rektor itu.
Rektor Harvard University hanya bisa memegang pelipisnya. Memang kelima mahasiswa di hadapannya salah tapi juga tidak bisa menyalahkan seutuhnya apalagi mereka semua memiliki orang tua yang bisa dibilang keluarga terpandang.
"Bapak ibu sekalian, saya tahu anak-anak anda hanya ingin melakukan yang benar tapi dengan cara yang salah. So, dengan berat hati, kalian semua diskors selama dua Minggu."
"Yes Mr Blair."
"Kami semua ?" tanya Aslan.
"Yes Mr Zidane."
"Hanya dua Minggu?" tanya Duncan.
"Apa mau saya tambah?"
"Jangan ! Aku harus menyelesaikan tugas !" potong Scarlett.
"Dua Minggu cukup lah buat nonton Netflix tanpa memikirkan tugas" sahut Diana cuek membuat keempat saudaranya menoleh sebal. Diantar kelima Blairs, Diana paling seenaknya sendiri dan paling santai. Mirip dengan ibunya, Nadya Blair.
"Bapak ibu, apakah ada keberatan?" sang Rektor menatap ke arah orang tua kelima remaja tersebut.
"Nope. Kami tidak ada masalah" ucap Bayu tegas.
__ADS_1
"Tapi tetap, saya ingin menyelidiki kasus ini" sambung Omar Zidane.
"Dan kemungkinan Susan Kerr akan menuntut Robbie Johnson dan saya akan membelanya... Pro Bono" timpal Nelson Blair.
***
Kelima remaja itu pun keluar dari ruang rektor dengan tatapan tajam para orang tua mereka.
"Astaghfirullah ! Kalian berlima itu ! Iya benar kalian berusaha membela korban kejahatan, tapi nggak gini juga !" bentak Ajeng kesal.
"Tapi Ma ..."
"Duncan Abimanyu Giandra Blair O'Grady ! Pulang ke New York dan kamu harus mencuci mobil Papamu dan membersihkan kamar mandi selama kamu diskors !"
"Maaaaa !"
"Kamu pilih itu atau mama kirim kamu ke mansion Blair buat nyapu sana ?" balas Ajeng galak.
Duncan pun manyun. "Di apartemen saja."
"Aku ikut prihatin bro..." ucap Aslan sambil menepuk bahu Duncan.
"Jangan dikira kamu akan lolos hukuman juga Aslan!" Nadya menatap tajam ke arah putranya.
"Alamat deh ..."
***
Kelima Blairs akan ada di novel mereka sendiri yaaaa ...
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️