My 100th Secretary

My 100th Secretary
First Snow


__ADS_3

Mansion Blair Staten Island New York


Ajeng masuk ke dalam rumah dan menuju ke dapur sembari mencari camilan berupa tortilla chips dan mencari mayonaise sebagai saus dipnya.


"Miss Ajeng, apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah seorang pelayan.


"Nope, ini sudah cukup. Terimakasih" senyum Ajeng sambil berjalan dengan membawa chips, piring kecil dan mayonaise.


"Miss Ajeng..."


"Ya?" Ajeng berbalik.


"Jangan lupa ada acara minum teh jam empat sore."


Ajeng tersenyum. "Oke. Terima kasih atas pemberitahuannya." Ajeng pun keluar sembari mengerenyitkan alisnya. Nggak di Jakarta nggak di Staten Island, semua memakai kebiasaan orang Inggris. Apa karena opa Duncan separo Inggirs dan didikan Inggris ya jadi kebawa.


Bayu melihat Ajeng datang sambil membawa dua bungkus tortilla chips, mayonaise dan piring kecil, hanya tersenyum.


"Kamu nggak bawa minum?" tanya Bayu.


"Nggak pak, tanganku cuma dua."


Bayu pun berdiri dan berjalan masuk rumah. "Mau minum apa Jeng?" tanya Bayu sebelum membuka pintu belakang.


"Air mineral saja pak."


Bayu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah sedangkan Ajeng membuka tortilla chips, menuangkan mayonnaise ke atas piring dan mulai memakannya.


Ajeng melihat bagaimana indahnya pemandangan saat hendak musim dingin datang apalagi ini sudah masuk November dan akhir bulan orang sudah mempersiapkan diri untuk Thanksgiving.


Thanksgiving sendiri berawal dari acara mengucapkan syukur atas hasil panen dan biasanya diadakan pada Minggu keempat bulan November dan kalau di Amerika biasanya tanggal 25 November. Tradisi ini dimulai pada tahun 1621, jauh sebelum negara Amerika berdiri. Revolusi Amerika sendiri mulai pada tanggal 22 Maret 1765 dan deklarasi kemerdekaan ( declaration of independence ) tanggal 4 Juli 1776 yang selalu dirayakan setiap tahun sebagai independence day atau fourth of July.


Ajeng tersenyum lebar ketika melihat bulir-bulir salju mulai turun dari langit. Gadis itu pun berjalan menuju pinggir teras dan menengadahkan tangannya sembari merasakan salju itu menyentuh telapak tangannya.


Tiba-tiba dua tangan kekar memeluk Ajeng dari belakang dan tanpa gadis itu menoleh, sudah tahu siapa yang memeluknya.



Macam begini lah kira-kira


"Sudah mulai turun salju ya?" ucap Bayu sambil melihat langit.


"Kalau aku pulang Solo, bakal kangen musim salju..." gumam Ajeng membuat Bayu semakin mengeratkan pelukannya.


"Siapa mengijinkan kamu pulang ke Solo, Jeng?" bisik Bayu sambil mencium pipi Ajeng.

__ADS_1


"Lha kan memang saya mau pulang ke Solo kalau sudah selesai kontrak..." Entah kenapa Ajeng suka sekali membuat Bayu kelimpungan.


Sebagai balasan tulisan acak Adul, tidak percayaan sampai harus kirim Hunter dan tidak bisa profesional di kantor ! Ajeng tersenyum tipis.


"Ajeennggg... Please deh ! Iya deh, aku bakalan profesional di kantor ! Janji Pramuka dan peneliti ! Suwer !" ucap Bayu demi tidak kehilangan sekretarisnya.


"Janji pak?" Ajeng menatap Bayu serius.


"Janji Ajeng. Kapan sih aku tidak pernah menepati janji aku?" cengir Bayu membuat Ajeng melengos.


"Dasar manusia Krypton!" gerutu Ajeng.


"Manusia Krypton ini jatuh cinta sama gadis Jawa yang galak, receh dan Membagongkan tapi semua anggota keluarga manusia Krypton sayang padanya..."


"Oh berarti manusia Krypton cuma jatuh cinta doang?"


"Iiissshh... Jatuh cinta dan sayang setengah mati sama gadis yang super ngeyel. Jeng, serius deh, setelah kontrak kamu selesai bulan Juli, kita segera menikah ya?" Bayu menatap Ajeng. "Bulan madu ke Solo..."


Ajeng melongo. "Whaaaatttt? Bulan madu kok ke Solo? Ya ke Maldives, Raja Ampat, Osaka..."


"Kamu kok ngelunjak?" gerutu Bayu. "Bukannya kamu mau urus rumah kedua orang tua kamu dulu? Soal ke tempat - tempat tadi, gampang lah! Kamu mau kemana aja, tinggal berangkat! Bahkan masuk istana Belgia juga hayuk!"


Ajeng cekikikan. "Pak Bayu..."


Ajeng mencium pipi Bayu. "Thank you."


Bayu melongo mendapatkan ciuman pertama dari Ajeng. "Thank...you buat apa?"


"Terimakasih menyukai dan menyayangi saya meskipun saya beginilah bukan begitulah..."


Bayu tertawa. "Kamu itu lho kalau cari istilah suka aneh-aneh! Jadi... kamu mau jadi pacar dan calon istri aku nanti kan Jeng?*


"Meh piyeee ( mau gimana ) pak, saya jadi tersandung waktu lihat bapak nyusul ke Jakarta..."


"Tersanjung, Jeng...."


"Halah ! Salah sithik ( salah dikit )."


Bayu tertawa mendengar gerutuan khas Ajeng yang selalu dengan logat agak medhok khas Jawa kalau sedang berbicara bahasa Jawa.


Bayu membalikkan tubuh Ajeng dan gadis itu bisa melihat mata biru Bayu penuh cinta untuknya.


Duh Ya Allah, mana kuat aku dipandangi macam begini??? - batin Ajeng sambil menetralisir debaran jantungnya yang bertalu-talu.


"Jadi? Kita resmi pacaran nih?" tanya Bayu sambil membenarkan rambut Ajeng.

__ADS_1


"Yes."


Bayu tersenyum lebar.


"Hanya weekend !" ucap Ajeng tegas. "Hari kerja tidak ada pacar-pacaran ! Tetap profesional pak !"


"Lha? Nggak bisa gitu Jeng !" protes Bayu.


"Bapak nggak bisa profesional, saya pindah ke galerinya Bu Gandari !" seringai Ajeng.


Bayu mengumpat. "Kamu ya ! Sekarang kompak dengan ibu negara ! Mentang-mentang kalian sama-sama wong Solo !"


"Ralat, Bu Gandari wong Semarang pak."


"Semarang Solo dekat lah Jeng ! Via tol juga sejam sampai !"


"Kok bapak tahu?"


"Tahu lah Jeng ! Dua tahun lalu kan aku bersama mommy dan Daddy pulang ke Semarang dan Solo buat nyekar keluarga kami disana. Kami ke Inggris dulu buat ke makam keluarga McGregor dan Blair. Opa dan omaku dimakamkan disana lalu kita ke Jakarta tempat Ogan Abi, Necan Dara, Opa Ghani, Oma Alexandra dimakamkan juga keluarga lainnya. Baru ke Semarang tempat kedua eyang aku dimakamkan terus ke buyut aku di Solo. Dari Semarang ke Solo hanya satu jaman dan kami tiga hari di kota nasi liwet itu."


Ajeng manggut-manggut. "Keluarga pak Bayu mencar-mencar ya jadi kalau lebaran mau nyekar kalau nggak sultan, lumayan biayanya..."


"Yang penting doanya Jeng. Kan terkadang kami juga tidak bisa pulang ke Indonesia apalagi kalau ada acara di New York dengan keluarga yang tinggal disini. Dua tahun lalu, kebetulan semua orang ingin nyekar sana sini jadi kami tidak ada acara kumpul-kumpul di New York, ya sudah, kita kumpul di Jakarta saja."


Ajeng tersenyum. "Saya senang keluarga Pak Bayu bisa menerima saya secara saya kan bukan siapa-siapa dibandingkan dengan keluarga bapak."


"Jeng, kamu bukan orang pertama yang selalu merasa minder masuk ke dalam keluarga aku. Sebelumnya banyak yang dari kalangan biasa juga minder lho. Apa kamu tahu kalau Omanya Valentino dan Juliet itu anaknya penjual sate di Mojosongo?"


Ajeng melongo. "Serius pak?"


"Serius. Eyang buyutnya V dan J itu penjual sate. Ibunya Opa Iwan hanya pemilik toko kelontong di Solo. Tante Astuti dari keluarga broken home. Keluarga kami tidak melihat strata sosial Jeng. Yang dilihat adalah ketulusan hati dan bisa berbaur dengan keluarga. Satu lagi..."


"Apa itu pak?"


"Aku suka kamu nggak ganjen..." Bayu mencium pipi Ajeng yang memerah.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2