
Mansion Giandra Jakarta Indonesia
Ajeng keluar kamar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hatinya sangat kacau macam lagu balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Kamarnya di lantai dua dan bisa melihat kolam renang membuat Ajeng melongo melihat mansion yang besar itu. Gadis itu baru bisa memperhatikan bahwa Mansion dua lantai itu sangat kental dengan ornamen Jawa.
Ajeng juga baru teringat kalau semalam dirinya naik ke kamarnya dengan lift bersama dengan Arum. Ajeng pun melihat sekelilingnya dimana banyak foto-foto keluarga besar Giandra. Gadis itu melihat foto besar yang tergantung diatas meja Konsul dekat kamarnya.
Gadis itu membaca tulisan di bawahnya. Abimanyu Giandra, Adara Utari Giandra, Ghani Giandra, Alexandra Giandra, Duncan Blair, Rhea Giandra Blair. Tampak Abimanyu memangku gadis cilik berambut pirang yang Ajeng yakini adalah Kaia Blair, Oma Bayu. Kaia Blair, Aidan Blair dan Sambara Giandra. Ajeng menatap wajah Abimanyu, Dara, Ghani dan Rhea. Pantas turunannya cakep-cakep, wong buyutnya paripurna semua. Ajeng memperhatikan wajah Duncan Blair dan bentuk tubuhnya.
"Pak Bayu banget!" Ajeng cekikikan membandingkan Duncan dan Bayu. "Kalau Pak Duncan masih ada, dijejerkan sama pak Bayu, plus pak Abiyasa... Wis triple Hulk."
"Mas Bayu dengar bisa gegeran lho Jeng" kekeh Radeva yang berdiri di belakang Ajeng.
"Sudah gegeran kok Pak Radeva. Tadi telpon saya marah-marah dan katanya mau marahi pak Radeva dan dik Devan" ucap Ajeng sambil melihat foto-foto yang ada diatas meja Konsul. "Ini siapa saja pak Radeva yang menunjuk ke foto berisikan delapan orang dengan tulisan The Blairs and The Giandras.
"Well ini mas Bayu, aku, ini yang namanya Veena, mas Damian, Radhi, Raine, Nelson dan kamu tahu sendiri kan Nadya" jelas Radeva. "Mas Bayu bilang mau marahi aku dan Devan? Mau kemari memang?"
"Katanya pak. Eh mbak Veena cantik ya. Dik Raine juga. Duh, kalian memang fisik Perfecto" puji Ajeng.
"Fisik okelah, akhlak minus ! Apalagi soal menistakan... Hukum wajib!" gelak Radeva. "Biarin saja mas Bayu kemari. Aku dan Devan sudah ada rencana sendiri."
Entah kenapa perasaan Ajeng tiba-tiba menjadi tidak enak. Apa lagi yang bakal kalian lakukan, wahai adik-adik angin puyuh!
***
Ruang Makan
Ajeng tampak antusias saat melihat menu pagi ini dan nyaris menangis saking terharunya.
"Ya Allah, nasi liwet khas Solo..." ucapnya penuh haru. "Sudah lama nggak makan... Mana pakai daun pisang..."
Nasi Liwet Solo
"Ayo Jeng... Dimakan" senyum Bara yang langsung suka dengan gadis cantik di hadapannya.
__ADS_1
"Dahar ( mari makan ) Opa Bara, Opa Iwan, Oma Gendhis, Oma Danisha, Pak Ega, Bu Anjani, Pak Anarghya, Bu Amaranggana, Pak Radeva, dik Devan..." ucap Ajeng membuat semua keluarga Giandra tersenyum mendengar ucapan gadis itu.
"Dah makan Jeng, nggak usah diabsen" kekeh Iwan.
Ajeng menyuap sesendok nasi liwet lengkap dengan aren dan ayam suwir. Gadis itu langsung menangis saat mengunyah makanan nya membuat semua orang bingung.
"Ajeng? Kenapa? Nggak enak?" tanya Arum panik.
Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Hah? Nggak enak?" tanya Anjani yang bingung karena dirinya dan Amara tadi yang di dapur memasak bersama para pelayan.
Ajeng menggoyangkan tangannya. "Bukan, ini enak banget... Sangat enak... Yang nggak enak, saya nggak lihat ada rawit dua di bawah ayamnya... Ini nangis keceplos lombok..." isaknya.
Semua orang disana melongo lalu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ajeng.
"Astaghfirullah! Ta kiro kenapa... Jebule kepletus lombok tho" gelak Arum yang seolah mendapatkan mood booster melihat gadis kocak itu.
Devan memberikan tissue ke Ajeng yang langsung mengusap hidung dan matanya. Gadis itu tersenyum kikuk ke arah semua orang. Tidak ada yang tahu kalau Ajeng benar-benar menangis terharu bisa makan nasi liwet kesukaannya apalagi dengan cita rasa khas Solo. Dengan alasan kena lombok, adalah salah satu cara Ajeng menutupi isi hatinya yang sangat senang bisa di keluarga yang hangat seperti ini.
***
Usai sarapan, para wanita berkumpul di ruang tengah sedangkan para pria memilih mengobrol di area dekat kolam renang kecuali Ega dan Anarghya yang sudah berangkat ke rumah sakit untuk bekerja sebagai dokter anak dan dokter bedah.
"Jadi rumah kamu dekat pasar Nongko?" tanya Anjani yang juga wanita asal Solo, tapi daerah Colomadu.
"Iya Bu Anjani. Ndilalah rumah orang tua saya pinggir jalan jadi strategis dan sekarang dikontak menjadi rumah makan masakan Jawa. Tahun depan kontraknya habis karena hanya tujuh tahun saja mereka mengontrak nya."
"So, piye rasane dadi sekretarise Bayu ( bagaimana rasanya menjadi sekretarisnya Bayu )?" tanya Arum.
"Roller Coaster Oma" jawab Ajeng apa adanya. "Kalau lagi angin tenang... aman. Tapi kalau keluar Lisus nya... Topan kalah sepertinya."
Danisha tertawa mendengar istilah yang diucapkan Ajeng. "Bayu opo ora bludrek enthuk sekretaris model ngene ( Bayu apa tidak pusing dapat sekretaris model begini )" kekeh Oma cantik yang kelihatan bulenya itu.
"Kethoke malah Ajeng sing luwih bludrek ( kayaknya malah Ajeng yang lebih pusing )" timpal Arum.
__ADS_1
"Ini Bayu nggak menyusul kemari?" tanya Amaranggana.
"Nggak bisa Bu Amara. Jadwal pak Bayu sudah padat. Hari ini pas tanggal 31 Oktober ada pesta Halloween di kantor dan pak Bayu harus hadir. Lalu Senin memang di Amerika ada libur nasional tapi hari Selasa, pak Bayu ada jadwal bertemu dengan pak Bagas Hadiyanto di Kantor" jawab Ajeng.
"Ora kebayang nek Bayu mrono kene terus gegeran nyeret Deva lan Devan Ning Dojo ( tidak kebayang kalau Bayu datang kemari terus gegeran nyeret Deva dan Devan ke Dojo )" gumam Arum.
"Apa bakalan macam mas Hoshi dan mas Bima, mom?" senyum Amaranggana.
"Bisa jadi" cengir Arum.
Ajeng langsung bergidik membayangkan Bayu dengan tubuh besar nya bakalan Menghajar Radeva dan Devan secara badan mereka tidak sebesar Bayu meskipun Radeva termasuk kekar juga.
Duh Mateng Kowe Jeng! Nggarai perkoro gelem wae Melu diculik Ning Jakarta ( bikin perkara mau saja ikut diculik ke Jakarta ). Keringat dingin mulai muncul di dahi Ajeng. Aku harus putar otak biar pak Radeva dan dik Devan nggak babak bunyak.
Sebuah ide terlintas di otak Ajeng tapi setelahnya gadis itu menyesalinya. Soyo ndodro nek mikire tekan Kono ( makin kacau kalau mikirnya sampai sana ).
***
Manhattan New York
Sementara itu Bayu sudah bersiap untuk ikut pesta kostum Halloween dan dirinya mengenakan kostum Sherlock Holmes.
"Sayang Enola Holmes nya masih diculik" senyum Bayu sambil mematut di depan cermin. "Habis ini, Enola akan kembali bersama Sherlock."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1