
Gedung Milik keluarga McGregor dan Blair di Poughkeepsie New York
Ajeng menatap banyaknya senjata api disana dan tak lama Leia, Blaze dan Chisato pun masuk. Keempat wanita itu tampak bingung mau ambil yang mana sedangkan yang lain lebih suka duduk manis sambil ngemil makanan yang disediakan oleh para pengawal.
"Kamu kalau mau belajar, mending pakai ini dulu Jeng" ucap Leia sambil memberikan SIG Sauer P365. "Cocok buat cewek, dia nggak terlalu besar, magazinenya 15+1 dan ukuran pelurunya 9mm."
SIG Sauer P365
"Nggak terlalu berat juga" gumam Ajeng.
"Nggak. Setidaknya nggak seberat AR-15 yang dipegang Chisato" kekeh Leia yang melihat kekasih Sadawira itu sedang memeriksa senjata Laras panjang.
AR-15
"Masih kalah sama baby nya Oma Sabine" cengir Kalila yang ikutan masuk ke dalam vault itu.
"Beda lah Lila" cengir Chisato.
"Yuk keluar. Gantian yang lain." Leia dan Blaze mengambil Springfield Armory Hellcat RDP dan Ruger Max 9.
***
"Kamu ambil apa Jeng?" tanya Bayu setelah istrinya keluar membawa pistol dan kotak peluru.
"SIG Sauer P365. Kata mbak Leia, aku pakai ini dulu buat awal belajar menembak" jawab Ajeng sambil menunjukkan pistolnya.
"Bagus. Yuk sini aku ajari cara memasang magazine dan melepaskan pengaman nya." Bayu dengan telaten mengajari Ajeng cara mengisi peluru di magazine, cara mengunci dan melepaskan kau cara membidik. Pasangan suami istri itu sudah memakai ear Muff khusus untuk menembak dan Ajeng berdiri di depan Bayu yang melindungi istrinya karena tahu untuk pertama kalinya pasti akan kaget dan tersentak ke belakang.
Ajeng pun mencoba menarik pelatuk dan tubuhnya tersentak ke belakang saat menembak pistolnya pertama kali.
__ADS_1
Gadis itu tertawa ke arah belakang sambil tetap mengarahkan pistolnya ke lembar target. "Wow! It's so fun !"
"Seru kan?" senyum Bayu. "Coba kamu fokus untuk bisa mengenai sasaran."
Ajeng pun fokus dan dari 16 peluru dalam magazine SIG Sauer nya, delapan tepat sasaran, membuat Bayu tersenyum senang karena Ajeng memiliki insting natural soal fokus target.
Bayu membiarkan Ajeng menikmati acara tembak menembak hingga habis satu kotak peluru. Setelahnya mereka pun beristirahat dan melihat Chisato, Kalila, Nadya, Leia, Blaze dan Nadira beradu tembak. Para pasangan mereka tampak harap - harap cemas melihat wanita mereka tampak badass.
"Menurutmu siapa yang paling tepat sasaran Wira?" tanya Omar Zidane sambil menatap punggung Nadya.
"Lila. Dia kan sangat persisi. Bukankah begitu Lex?" Sadawira menoleh ke arah Alexander, pengawal Kalila.
"Benar, Mr Wira" jawab Alexander meskipun dirinya juga tahu Chisato dan Nadya juga jago menembak.
"Ladies, are you ready?" tanya Raine yang bertugas menjadi wasit.
"Ready, Raine" jawab keenam wanita cantik itu.
Bunyi tembakan pun terdengar hampir serentak membuat Ajeng menutup telinganya. Dante, Pedro, Sadawira, Samuel, Omar dan Alexander melihat bagaimana mereka tampak badass dan keren.
"Aku jatuh cinta lagi dengan Leia" gumam Dante yang didengar Pedro dan Omar usai keenam wanita itu selesai menembak.
"Wow keren..." ucap Ajeng yang merasakan andrenalin nya terpompa melihat ipar-iparnya tampak cool dan garang menjadi satu.
"Kalau kamu mau belajar Jeng, nanti setiap weekend, kita kemari dan bisa menembak sepuasnya" senyum Bayu.
"Beneran mas?" tanya Ajeng antusias.
"Beneran lah !" jawab Bayu.
Keenam wanita itu menarik kertas target yang kemudian dinilai oleh Raine beserta Arabella.
"Pemenang nya adalah... Kalila !" seru Raine.
__ADS_1
"Ya iyalah ! Secara kan Baby diwarisi ke dia!" sahut Gasendra yang masih kesal karena Sabine lebih memilih Kalila menjadi pemegang baby.
"Yeeee, masih dongkol mas?" goda Kalila.
"Masihlah Bambaaaanngggg !" sungut Gasendra yang mendapatkan tepukan lembut Gemma.
"Dah sekarang yang cowok-cowok. Trio kampret, mas Bayu, bang Lukie, Radeva, Devan, Damian dan Radhi !" ujar Juliet.
"Pakai apa nih Jules?" tanya Luke Bianchi.
"Revolver" jawab Juliet cuek.
"Kita benci Revolver!" teriak ke sembilan pria ke Juliet sebal.
"Justru karena kalian benci Revolver, makanya kupilih itu deh !" cengir Juliet.
Ajeng pun menoleh ke arah Sakura yang cekikikan.
"Kenapa mereka benci Revolver?" tanya Ajeng ke Sakura.
"Karena suaranya lebih berisik dan melengking dari SIG atau Glock. Makanya kami semua tidak terlalu suka Revolver" jawab Sakura.
Dan Ajeng pun jadi tahu kenapa karena Revolver itu memang berisik !
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1