My 100th Secretary

My 100th Secretary
Yakin?


__ADS_3

Apartemen Bayu di Manhattan


"BAYU AARAV GIANDRA BLAIR O'GRADY!"


Bayu terbangun mendengar nama lengkapnya diteriakkan oleh wanita yang sudah melahirkannya. Usai ibadah subuh, Bayu memang tidur lagi apalagi ini hari Minggu, bolehlah jadi makhluk paling malas di dunia.


"Mom..."gumam Bayu sambil mencoba menyatukan jiwa dan raga ditambah jantung berdegup kencang serta kepala pusing, membuatnya ngelag.


"Kamu! Itu!" Gandari mengambil bantal dan memukul putranya.


"Aduuuh! Duh! Duh! Mom! What the hell are you doing?" teriak Bayu sambil melindungi kepalanya yang kena pukul bantal.


"Sama mommymu berani what the hell?" bentak Gandari semakin brutal menghajar putra tunggalnya.


"Astaghfirullah! MOM!" balas Bayu sama teriaknya.


Abiyasa masuk ke dalam kamar putranya, hanya bisa menghela nafas panjang melihat istrinya brutal menghajar putra tunggal mereka. Pria berambut pirang itu duduk santai di sofa kamar milik Bayu sambil menyesap kopinya.


"Dad!!! Please! Ini mommy kesurupan!"


"APAAA! BERANI BILANG MOMMY KESURUPAN!!!" Gandari semakin durjana menghajar Bayu dan menjewer telinganya.


"Addduuuhhh! Ya Allah! Moooommmm! Sakiiiittt!" rengek Bayu yang meskipun badannya besar, tetap saja tidak berani melawan ibunya.


"Mas! Marahi dia!" Gandari menatap tajam ke arah suaminya yang santai-santai saja. Wanita cantik itu pun turun dari tempat tidur putranya yang berantakan lalu duduk di sebelah suaminya sambil bersedekap.


Bayu pun bangun dan segera mengambil kaosnya karena dia terbiasa tidur tanpa baju dan hanya mengenakan celana panjang atau pendek.


"Bay..."


"Ya Dad?" Bayu pun duduk di ujung tempat tidur berhadapan dengan kedua orangtuanya.


"Benar kamu bikin Ajeng pingsan kemarin?" Mata coklat Abiyasa menatap tajam mata biru putranya.


"Iya..."


"Kenapa?! Apa yang kamu lakukan? Atau apa yang sudah kamu bilang ke Ajeng sampai dia pingsan?" Abiyasa dan Gandari memicingkan mata ke arah Bayu.


"Aku hanya bilang akan menjadikan Ajeng jadi istri aku kalau kontrak nya sudah selesai."


Abiyasa dan Gandari melongo. Meskipun mereka sudah tahu dari Radeva tapi mendengar dari putranya sendiri yang sering tidak jelasnya kapan punya pacar, tetiba malah macam si Mandra minta kawin sama Munaroh!


"Apa?" bisik Gandari. "Kamu bilang gitu ke Ajeng?"


"Iya. Kan Ajeng mau pulang Solo jadi sebelum dia pergi, mending statusnya aku ganti lah biar nggak ke Indonesia" jawab Bayu kalem.


Gandari berdiri dan menyentuh kening putranya. "Kamu nggak kena virus gendeng ( gila ) kan?"


"Astaghfirullah! Mom! 100 persen waras ini!" sungut Bayu tidak terima dibilang gendeng oleh sang ibu.

__ADS_1


"Bay, wajar kalau Ajeng pingsan ! Wong kamu gedubrakan, grasah grusuh macam Lisus! Mendekati wanita itu tidak seperti itu!" ucap Abiyasa yang mendapatkan lirikan maut dari Gandari.


"Pak, nggak kelingan biyen kepiye ( nggak ingat dulu gimana )?" sindir Gandari.


"Tapi aku kan nggak main klaim macam angin topan anak jalanan ini, Ndari. Kamu kan tahu bagaimana aku cara pedekate sama kamu" senyum Abiyasa.


"Bayu, sekarang jawab mommy. Apa Ajeng juga menerima perasaan kamu?"


"Belum..." jawab Bayu pelan.


"Nah gening belum terima. Mommy yakin Ajeng nggak punya perasaan sama kamu! Kamu tahu kenapa, soalnya mommy sudah lihat sendiri bagaimana sikap Ajeng ke kamu. Murni profesional! Dia bukan tipe sekretaris kamu sebelum-sebelumnya kecuali Gemma dan DeeDee." Gandari mengangkat dagunya yang bagus sebagai tanda bahwa dirinya benar dan putranya ngadi-ngadi.


"Moooommmm..." Bayu menatap ibunya dengan tatapan memelas.


"Bayu, kamu serius sama Ajeng?" tanya Abiyasa.


"Serius."


"Kenapa?"


"Dia berbeda. Spesial..." jawab Bayu sambil tersenyum membayangkan gadisnya.


Abiyasa dan Gandari saling berpandangan. "Tenanan Iki senenge mas ( beneran ini senengnya )" ucap Gandari ke Abiyasa.


"Beneran lah mommy! Masa bohongan!" protes Bayu mendengar ucapan ibunya.


Abiyasa tersenyum. "Bay, alon-alon. Jangan sampai Ajeng tidak nyaman dalam bekerja meskipun sekarang sudah tidak nyaman setelah tahu kamu gimana ke dia. Profesional. Okay?"


***


Apartemen Ajeng di Soho New York


Ajeng terbangun menjelang pukul sembilan pagi. Usai ibadah subuh tadi, dirinya hanya menyempatkan minum air putih lalu tidur lagi. Dan sekarang, dirinya merasa segar dan sedikit kelaparan.


"Apa jalan-jalan ke market atau ke mall ya?" gumam Ajeng. "Apapun nanti kata kancing berbisik, yang penting mandi dulu!"


Gadis itu lalu melesat ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Setelahnya Ajeng mengambil tas selempang nya dan memasukkan ponsel serta dompet. Gadis itu pun mengunci apartemennya dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke area Manhattan. Ajeng memilih memakai kereta, apalagi kalau hari Minggu tidak sepadat hari-hari kerja.


Mengenakan kaus leher tinggi putih, Coat hitam, celana jeans dan sepatu boots, Ajeng memutuskan ke area perbelanjaan. Dirinya ingin menikmati brunch ala Asia di sebuah rumah makan Singapura. Tiga bulan bekerja di PRC Group, Ajeng mendapatkan gaji yang lumayan untuk menikmati hidup meskipun untuk membeli sepatu impiannya harus menunggu.


Gadis itu asyik makan laksa Singapura nya yang berbahan seafood dan entah kenapa dia tidak pernah bosan makan masakan khas Singapura dan Malaysia itu.



Ajeng menikmati semangkuk laksa sambil memperhatikan sekelilingnya. Gadis itu melihat sepasang pria dan wanita masuk ke dalam restauran yang sama dengannya. Ajeng terkejut melihat keduanya.


"Miss Nadya Blair!" panggil Ajeng ke gadis itu.


"Ajeng?" seru Nadya ke arah Ajeng yang melambaikan tangannya. "Ayo, OZ! Kita duduk bersama Ajeng saja!" Gadis berambut coklat pirang panjang itu menarik tangan Omar Zidane.

__ADS_1


"Wah, tidak disangka ketemu disini!" seru Ajeng senang. "Halo Agen Zidane."


"Halo Ajeng. Sama siapa?" tanya Omar sambil duduk di hadapan Ajeng bersebelahan dengan Nadya.


"Sendirian. Libur ya dinikmati" jawab Ajeng santai.


"Aku mau laksa macam Ajeng" ucap Nadya ke Omar saat pria itu memanggil pelayan.


"Oke Nad." Omar menyebutkan pesanannya ke pelayan yang kemudian pergi untuk menyerahkan ke dapur.


"So, kamu habis ini kemana?" tanya Nadya ke Ajeng.


"Jalan-jalan mungkin..."


"Tunggu! Apa yang terjadi dengan wajahmu, Jeng?" tanya Omar Zidane yang langsung bersikap layaknya agen FBI.


"Oh. Ini kecelakaan..."


"Mas Bayu mukul kamu? Kalau iya, nggak bakalan selamat!" ucap Nadya geram.


"Eh? Eeeeehhhh? Nggak! Bukaaaaannn!" ucap Ajeng panik karena wajah Nadya tampak menyeramkan. "Ini murni kecelakaan..."


"Ceritakan pada kami" pinta Omar Zidane dengan nada dalam.


Ajeng pun menceritakan kejadian kemarin dan kedua orang dihadapannya tampak lega saat mengetahui Bayu sudah Menghajar si pelaku.


"Harusnya disleding tuh si bandeng presto!" umpat Nadya kesal.


"Tapi kalau sudah dihajar ya sudah..." Omar Zidane menghentikan ucapannya ketika melihat siapa yang datang. Begitu juga Nadya menatap orang yang berdiri di belakang Ajeng.


"Ada apa sih?" tanya Ajeng yang bingung melihat kedua orang itu lalu menoleh. "Pak Bayu...?"


"Kamu pergi kok nggak bilang-bilang?" tanya Bayu dingin.


HAAAAAHHH? Kamu nanyea?



Nanyea ya Jeng?



Yang manyun


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2