My 100th Secretary

My 100th Secretary
Ajeng dan Radeva


__ADS_3

Ruang Kerja Bayu O'Grady


Ajeng membereskan kertas-kertas bertuliskan klausal kontrak sembari menyusunnya sesuai dengan judul tajuknya ( macam berita saja )dan hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat klausal kerjasama dengan NYPD Precinct Queens terselip disana.


Gimana mau ketemu, mas Kal-el... Wong nyarinya pakai blower! Nyari itu tuh pakai mata bukan pakai angin Lisus! Dasar Bayu! Lagian kenapa sih Mr O'Grady Senior kasih nama Bayu? Tukang angin ribut kan jadi...


"Ketemu Jeng?" tanya Bayu yang masih berkutat dengan MacBooknya di balik meja kerja yang kokoh itu.


"Ketemu Mr O'Grady." Ajeng menyerahkan klausal kontrak itu ke Bayu lalu dia berbalik untuk kembali membereskan semuanya dan mengembalikan ke lemari kabinet sesuai dengan abjad dan isinya. Ajeng memang sudah diajari oleh Gemma soal penyusunan yang sistematis untuk mempermudah mereka dalam mencari berkas.


Memang semuanya sudah terdigitalisasi, disimpan pada folder di semua komputer Bayu dan komputer sekretaris tapi terkadang pria itu lebih suka membaca dari kertas bukan membukanya dari folder yang sudah disimpan oleh para sekretaris sebelumnya.


Bayu memperhatikan bagaimana sekretarisnya sibuk mengembalikan semua hasil kekacauan nya itu sambil tersenyum tipis. Pasti dalam hatinya Ajeng ngedumel tuh! Bayu lalu membaca klausal kontrak itu dan mulai melakukan panggilan melalui ponselnya.


Ajeng hanya mendengarkan percakapan Bayu dan kliennya dengan seksama agar tidak ada yang terlewat karena terkadang Bayu suka membuat pop quiz. Macam mau ujian saja ! Apakah semua makhluk krypton itu seperti mas Kal-el ?


Bayu sudah selesai menelpon bersamaan dengan Ajeng membereskan hasil mahakarya angin ribut. "Jeng..."


"Yes Mr O'Grady?" Ajeng pun menghampiri meja Bayu.


"Lusa saya sudah terbang ke Brussels dan berada disana sekitar tiga - empat hari. Tolong kamu jaga kantor yang baik. Jangan sampai ada yang masuk ke ruangan ini dengan alasan apapun kecuali kamu untuk membersihkan. Sebelum kamu buka mulut, saya tidak mengijinkan pihak office boy untuk membersihkan dan hanya kamu yang boleh masuk kemari ! Paham?" Bayu menatap Ajeng serius.


"Paham Mr O'Grady" jawab Ajeng patuh.


"Bagus. Sudah selesai membereskan semuanya?"


"Sudah Mr O'Grady."


"Thanks Ajeng. Kamu boleh keluar."


Ajeng pun mengangguk. "Permisi Mr O'Grady." Gadis itu keluar dari ruang kerja Bayu.


***


Ajeng memindahkan jadwal pertemuan Bayu dengan beberapa kliennya ke Minggu depan karena bossnya akan pergi selama beberapa hari. Gadis itu pun menelpon ke asisten kliennya tentang perubahan jadwal pertemuan karena adanya acara keluarga.


"Jeng!"


Ajeng pun menoleh dan tampak Radeva berdiri di sebelah mejanya. "Pak Radeva? Kok saya tidak mendengar suara lift ya?" Ajeng pun celingukan bingung. "Apakah Pak Radeva memakai ilmu menembus tembok?"


Radeva melongo. "Memangnya aku hantu?"

__ADS_1


"Siapa tahu pakai ilmu halimun? Aduh!" balas Ajeng yang mendapatkan slentik dahinya dari Radeva yang gemas dengan ucapan receh sekretaris kakaknya.


"Sudah lama aku tidak dengar kata halimun" kekeh Radeva. Halimun berarti kabut. "Aku tadi ada meeting dengan anak-anak di lantai 15 tapi saat aku kemari, kamu tidak ada di kursimu. Memang kamu kemana?" Radeva menarik kursi di depan meja Ajeng.


"Membereskan ruangan Pak Bayu. Habis kena Twister lokal" jawab Ajeng apa adanya.


"Diberantakan sama mas Bayu lagi? Hahahaha... Gemma dan DeeDee juga sudah kena" gelak Radeva. "Tapi sudah beres kan?"


"Sudah, pak Radeva. Benar-benar definisi cari pakai tangan dan mulut bukan pakai mata."


Radeva terbahak. "Sangat khas cewek Asia. Kamu tahu, semua Oma dan Tante ku yang orang Indonesia selalu bilang begitu! 'Makanya cari itu pakai mata! Mata itu gunanya buat melihat bukan merem! Kalau taruh barang itu pada tempatnya!' And so on... and so on."


"Kok Pak Radeva fasih sih?" Ajeng cekikikan mendengar ucapan Radeva.


"Kamu belum pernah bertemu dengan Omaku yang di Dubai dan Jakarta. Oma Dina dan Oma Gendhis itu jowo buanget! Kalau sudah ngomel ya begitu..."


"Namanya bagus, Gendhis. Pasti Omanya pak Radeva manis cantik sesuai namanya Gendhis yang berarti gula" celetuk Ajeng.


"Ohya, Oma Gendhis cantik dan super receh. Cuma kalau sudah ngomel-ngomel vibe nya ya so njawani" senyum Radeva.


Ajeng bisa melihat bagaimana wajah dan mata Radeva tampak lembut saat menceritakan kedua Omanya.


"Yup. Acara pernikahan ala India karena sepupuku mendapatkan cowok India."


"Apakah ganteng? Biasanya cowok India ganteng."


"Relatif ya Jeng tapi bang Raj memang menarik orangnya." Radeva mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Gemintang dan Raj saat menghadiri pernikahan Garvita dan Gabriel.


"Saudara nya pak Radeva yang cewek?" tanya Ajeng.


"Yup, namanya Gemintang. Calon suaminya namanya Raj."


"Cakep pak. Cocok dengan mbak Gemintang."


"Saudara ku itu banyak story nya Jeng tapi Alhamdulillah akhirnya happy ending. Bang Raj yang mampu membuatnya bahagia membuat kami bersyukur mbak Mintang mendapatkan calon suami yang baik."


"Alhamdulillah. Allah itu pasti sudah menyiapkan jodoh yang baik meskipun jalannya harus muter terowongan Hudson terus ke terowongan Casablanca baru ke terowongan Tokyo..."


"Adoh men ( jauh amat ), Jeng!" gelak Radeva.


"Jiiaaahh, pak Radeva bisa bahasa Jawa juga? Kirain nggak bisa" seru Ajeng heboh.

__ADS_1


"Sedikit lah aku paham beberapa kata bahasa Jawa. Kamu harusnya melihat para Omaku yang wong Jowo, bisa lho mengobrol dengan tiga bahasa sekaligus, Indonesia - Jawa - Inggris kalau kumpul. Seru!"


"Gitu tuh kalau kebanyakan bisa banyak bahasa!" celetuk Ajeng.


"Belum sepupuku yang di Tokyo. Saking cerdasnya bisa dalam satu kalimat ada bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Korea dan Jerman. Kacau kan?"


"Tapi paham maksudnya?" Ajeng melongo dan tampak berpikir bagaimana bisa menghubungkan dan menggabungkan sekian banyak kata dalam berbagai bahasa dalam satu kalimat. Wong aku dhewe wae ( aku sendiri saja ) terkadang masih harus berpikir kosakatanya!


"Kita semua paham dan sudah hapal dengan kerandoman Shinichi."


"Pak Radeva, apa benar sepupunya pak Radeva namanya Mas Shinichi?" tanya Ajeng dengan wajah serius.


"Beneran. Nama lengkapnya Shinichi Kojima Sky Park. Tapi biasanya kalau memperkenalkan diri selalu Shinichi bukan Kudo."


Ajeng terbahak. "Kayaknya orangnya menyenangkan ya pak."


"Menyenangkan?! Bikin sebal iya!" sungut Radeva.


Suara pintu ruangan Bayu terbuka dan kedua orang itu menoleh. Wajah Bayu tampak tidak bisa terbaca saat menatap kedua orang di hadapannya.


"Deva, kamu tidak ada pekerjaan lain?" tanya Bayu dengan nada dingin.


"Sudah selesai mas Bayu. Lagipula ini sudah jam mau pulang kantor jadi sambil menunggu jam pulang, Nemani Ajeng lah. Kan kita semua mau ke Brussels, jadi biar Ajeng nggak kelayu ( pengen ikut alias nginthil ), aku ajak ngobrol dulu lah!" senyum Radeva.


"Lha? Sopo sing kelayu pak ( siapa yang kelayu pak )? Ngadi-ngadi ih!" gelak Ajeng dengan bahasa Indonesia.


Bayu menatap tajam ke Ajeng. "Jeng, masuk ke ruangan saya. Banyak pekerjaan rumah selama saya tinggal ke Brussels! Deva, kembali ke lantaimu!" Pria itu pun berbalik menuju ruangannya.


Ajeng dan Radeva pun saling berpandangan dengan tatapan bingung.


Kok macam angin Lisus?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2