
Restaurant Pizza
Bayu menatap Ajeng yang duduk di hadapannya. Gadis itu masih sibuk melihat - lihat menu yang ada di restauran pizza favorit banyak anggota keluarga Bayu.
"Jeng..."
"Ya pak Bayu" sahut Ajeng yang masih membaca buku menu itu. Gadis itu sangat senang melihat buku menu disaat sekarang banyak restauran menggunakan kode QR.
"Kamu pindah sini duduknya, sebelah aku."
Ajeng mendongakkan kepalanya. "Kok? Kenapa saya harus pindah pak?"
"Situ biar tempat Deva dan Aya."
Ajeng pun manggut-manggut karena memang masuk akal. "Oke pak." Gadis itu mengambil tasnya dan berpindah duduk di sebelah Bayu.
Ajeng pun duduk dan mulai membaca buku menunya lagi membuat Bayu seperti dikacangi. "Jeng! Nggak usah dihapalin! Nggak keluar ujian juga!"
"Ish pak Bayu. Saya cuma takjub masih memakai buku menu disaat resto lain sudah pakai kode QR. Dan tampaknya makanannya enak-enak." Ajeng masih menatap gambar-gambar di buku menu itu.
"Disini memang enak..." Bayu menghentikan ucapannya ketika melihat Radeva datang sambil bergandengan tangan dengan seorang gadis yang tampak blasteran Amerika Indonesia itu.
"Akhirnya sampai juga setelah kena macet. Aya, aku perkenalkan ini kakak sepupuku kandung namanya Mas Bayu, dan itu sekretaris recehnya namanya mbak Ajeng. Mas, Mbak ini Ganiya Redford atau biasa dipanggil Aya." Radeva memperkenalkan Ganiya ke kedua orang yang duduk bersisian itu. Bayu dan Ajeng pun berdiri sambil menerima uluran tangan Ganiya.
"Senang bertemu dengan dengan mas Bayu" senyum Ganiya manis dengan bahasa Indonesia. "Mbak Ajeng, akhirnya bisa bertemu langsung. Mas Deva bilang kalau sekretaris di perusahaan nya lucu."
"Lha? Memangnya aku Doraemon lucu kah dik Aya?" cengir Ajeng.
"Kayaknya lucu Doraemon deh. Kalau mbak Ajeng itu ayu" kekeh Ganiya.
"Dik Aya cantik lho. Soalnya kalau nggak cantik, pak Radeva nggak melirik" kerling Ajeng ke Radeva yang melengos dengan pipi memerah.
Ganiya menoleh ke arah Radeva. "Pak?"
"Kalau di kantor kan harus resmi Ya" jawab Radeva sambil menarik kursi dan mempersilahkan gadisnya duduk lalu pria itu duduk di sebelahnya.
"Tapi ini kan sudah diluar jam kantor?" tanya Ganiya bingung.
"Tetap lah dik Aya. Bagaimana pun saya kan masih jadi pegawai PRC Group." Ajeng tersenyum manis ke Ganiya.
"Wah aku jadi awet muda nih, mas Deva dipanggil 'Pak' aku dipanggil 'Dik' sama mbak Ajeng" tawa Ganiya yang membuat Radeva manyun.
"Iya deh!" sungut Radeva. "Sudah pesan kah?"
"Sudah" jawab Bayu pendek.
__ADS_1
Tak lama pelayan pun datang membawakan salad untuk empat orang plus empat gelas, satu pitcher es lemon tea dan empat botol air mineral.
"So dik Aya. Katanya mendapatkan medali perak di olimpiade?" tanya Ajeng sambil memakan saladnya.
"Iya mbak. Padahal aku incar Emas macam mas Deva tapi kalah sama penembak Rusia. Harus puas perak deh" jawab Ganiya sambil tersenyum.
"Kalian satu tim menembak?" tanya Bayu.
"Iya mas Bayu. Saya adik seperguruannya Mas Deva, terus adik kelasnya di NYU. Kalau mas Deva kan ambil arsitek kalau saya ambil art. Rencananya ingin bekerja di galeri" jawab Ganiya.
"Kamu suka art? Lukisan? Patung? Kontemporer?" tanya Ajeng antusias.
"Lukisan dan semuanya yang bergambar termasuk komik dan cerita grafis."
"Paling suka karya siapa kalau mangaka ( komikus Jepang )?" Ajeng menatap Ganiya serius.
"Gambar atau ceritanya mbak? Soalnya aku suka banyak apalagi yang sangat detail."
"Kalau cerita?"
"Aku suka Master Keaton dan Monster."
"Karangan Hokusei Katsushika, Naoki Urasawa, dan Takashi Nagasaki? Tapi mangaka nya Naoki Urasawa kan?" Tampak wajah berbinar-binar Ajeng membahas komik favoritnya dengan orang yang sama pahamnya.
"Iya benar mbak. Gambarnya bukan model tegas ala Aoyama Gosho atau detail macam Eiichiro Oda tapi dari situ kita bisa mendapatkan alur ceritanya yang dalam. Apalagi Monster..."
Buseet! Hal beginian pun Ajeng tahu!
"Oh iya kah mbak? Tapi cerita itu keren! Bagi aku itu cerita psychological yang keren!" ujar Ganiya.
"Kan aku sudah bilang, kamu bakalan cocok sama Ajeng" senyum Radeva.
Tak lama Matteo datang sambil membawa kan pizza half and half ke meja mereka. "Hai Radeva. Siapa Bella Signora ini?" sapa Matteo ke Ganiya.
"Oh ini pacarku Ganiya Redford. Aya ini Matteo, pemilik restauran pizza ini." Radeva memperkenalkan Ganiya ke Matteo dan keduanya saling bersalaman.
"Enjoy the pizza" senyum Matteo sambil meletakkan pizza berbetuk kotak itu yang berupa perpaduan dari pepperoni dan cheese ekstra.
"Oh ini namanya half and half" ucap Ajeng antusias. "Matteo, saladmu enak!"
Matteo tersenyum. "Thanks Ajeng. Bagaimana kalau Sabtu besok kita dinner bareng?"
"NO! Ajeng lembur!" jawab Bayu tegas membuat Radeva, Ajeng dan Ganiya melongo.
__ADS_1
"What?" Ajeng menatap Bossnya bingung. "Lembur apa pak?"
"Kamu tidak baca memo di ponsel kamu?" Bayu mendelik ke arah Ajeng yang tetap memasang wajah bingung. "Ada tambahan bonus!"
Ajeng pun kicep karena tahu Bossnya lagi mode angin sepoi-sepoi menjurus Lisus level tiga. "Saya belum memeriksa ponsel saya" jawab Ajeng pelan daripada terjadi Twister lokal.
"Wah sayang sekali. Rain check?" senyum Matteo.
"Rain..."
"Tidak ada rain check, Matteo!" Mata biru Bayu menatap tajam ke arah pemilik restoran itu.
"Ah, I see Bay. Oke." Matteo tersenyum maklum lalu mengedipkan sebelah matanya ke Radeva yang hanya mengedikkan bahunya. "Enjoy!" Pria Italia itu pun pergi meninggalkan meja keempat orang itu sambil tersenyum usil.
"Pak Bayu!" hardik Ajeng kesal.
"Apa?" sahut Bayu cuek sambil mengambil pizzanya.
Ajeng menggelengkan kepalanya tapi bibirnya manyun tanda dirinya kesal. Radeva dan Ganiya saling berpandangan lalu tersenyum melihat Keduanya.
"Kalau memang ada lembur besok Sabtu, jangan lupa bonus untuk Ajeng, mas" kekeh Radeva.
"Absolutely!" jawab Bayu cuek.
Ajeng pun mengambil pizza nya yang ekstra cheese dan menggigitnya. Terlepas dia merasa dongkol dengan boss Possessive nya, pizza nya ini enak sekali. Ganiya menatap Ajeng yang juga menggigit pizza cheese nya.
"Ya ampun mbak Ajeng, ini pizzanya enak banget!" ucap Ganiya guna menetralisir suasana.
"Beneran kan dik? Selama aku tinggal di New York, baru kali ini memakan pizza endes endulita begini" ucap Ajeng. Kedua gadis itu tampak heboh sendiri membuat Bayu menarik bibirnya keatas nyaris tidak kentara.
"Lho? Bayu? Radeva? Sama siapa?"
Bayu dan Radeva menoleh melihat seorang wanita cantik berdiri disana bersama dengan seorang pria tampan dan remaja laki-laki.
"Tante Alea? Oom Chris? Mamoru?" seru Bayu dan Radeva bersamaan membuat Ajeng dan Ganiya bingung.
Saha deui ieu teh ( siapa lagi ini )?
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️