
Di dalam mobil Bayu O'Grady
"Jeng..."
"Ya pak Bayu?" jawab Ajeng sambil mengambil ponselnya karena ada notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.
"Kalau kamu pergi, nanti siapa yang buatkan saya klepon dan poffertjes?"
Ajeng tertegun. "Lha pak Bayu, kan masih sembilan bulan saya terikat kontrak sama pak Bayu. Saya juga nggak pergi sekarang kok. Lha kok kayak wong meteng ya ( macam orang hamil )... Ini nomor siapa?" Gadis itu menatap pesan di ponselnya. "Owalaahhh dik Mamoru tho?"
Bayu menepuk jidatnya. Bocah satu ini peka nggak sih kalau aku sedang membujuk dia supaya nggak pergi? "Kok Moru tahu nomor kamu?"
"Kan kemarin waktu bertemu dengan di restauran pizza, Bu Alea sempat meminta nomor saya. Mungkin dik Mamoru tanya sama beliau. Bentar ya pak Bayu, dik Mamoru minta alamat apartemen saya buat besok kesana." Ajeng mengetik alamat dan pin location nya dan setelahnya memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Pak Bayu bilang apa tadi? Soal makanan kesukaan pak Bayu?"
"Bukan Jeng. Apa kamu tidak ingin perpanjang menjadi sekretaris saya?"
"Bukan begitu pak Bayu. Saya sudah hampir enam tahun di New York semenjak kuliah dan jujur saya kangen Solo. New York menyenangkan tapi Solo lebih enak. Disini cari cabuk rambak, soto Gading, soto Hj Fatimah, ayam goreng widuran, dawet selasih, nasi liwet ... Nggak adaaaa" rengek Ajeng dramatis membuat Bayu menatapnya sebal.
"Dasar tukang makan !"
"Lho tenan ( beneran ) pak. Saya sempat coba bikin cabuk rambak... hasilnya bubar jalan. Bikin soto ala soto gading, nggak ngalor nggak ngidul ( berantakan )... Kan mengsedih! Bagaimana pun enak di tempat asalnya pak. Lagipula, pak disana makanan murah-murah."
"Kamu mau kerja apa disana?" tanya Bayu sambil memutar otak agar sekretaris recehnya tidak pergi.
"Rencananya saya mau wirausaha buka butik baju apalagi saya punya pengalaman di butik jadi kenapa tidak saya buka sendiri? Mungkin memang tidak seberapa hasilnya tapi milik saya sendiri. Saya sudah memperhitungkan modalnya apalagi ada rumah kedua orang tua saya di Solo yang sedang dikontrakkan. Tahun depan habis masa kontraknya jadi pas kan pak, saya pulang sudah ada tempat."
"Kalau saya tidak mengijinkan kamu pergi, bagaimana?" ucap Bayu.
"Kok?! Bapak kok larang saya pergi? Memang saya dimasa pembebasan bersyarat? Aaadduuuhhhh!" Ajeng memegang kepalanya yang kena tepuk Bayu.
"Nggak keras juga kena keplaknya Jeng!"
"Drama sikit lah ( drama sedikit lah )" cengir Ajeng dengan logat Malaysia.
"Ohya ampun!" Bayu menggelengkan kepalanya. "Kamu itu bukan penjahat yang bebas bersyarat. Bisa-bisanya sih kecetus omongan begitu?"
"Habis pak Bayu melarang saya pergi. Saya salah apa pak dilarang pergi sama bapak?"
"Salah kamu adalah, membuat saya tidak bisa jauh dari kamu!" jawab Bayu tegas dan dalam membuat Ajeng melongo.
__ADS_1
"Tapi kenapa pak? Saya kan katanya sekretaris paling njelehi se planet bumi."
"Karena... Meskipun kamu njelehi, tukang ngeyel, keras kepala, menyebalkan..."
"Stop pak! Kok gak Ono sing apik babar blas sih akune ( kok tidak ada yang bagus sama sekali akunya )!" potong Ajeng manyun.
"Justru yang tidak bagus itu yang mengesankan Jeng. Saya tahu kamu itu anaknya cerdas, supel dan menyenangkan. Itu daya tarik kamu Jeng. Bagaimana adik-adik ku langsung akrab denganmu, Aya yang baru pertama kali bertemu langsung cocok. Mommyku juga..."
"Pak Bayu, apa maksud pak Bayu?" tanya Ajeng dengan jantung berdebar-debar.
"Saya tidak mau kehilangan kamu Jeng."
Ajeng melongo. "Hah...? Pak Bayu..."
"Saya sayang kamu Jeng. Kamu boleh percaya atau tidak tapi baru kali ini saya benar-benar tertarik dengan wanita secara serius." Bayu memarkirkan mobilnya di parkiran umum dekat apartemen Ajeng. "Saya tahu ini nggak romantis menyatakan perasaan di dalam mobil ... Well setidaknya nggak macam Opa buyut Edward Blair sih..."
"Pak Bayu ada cerita soal opa buyutnya? Ceritain dong!" potong Ajeng guna menghilangkan debar di jantungnya mendengar pernyataan cinta Bossnya.
"Isshhh! Kamu tuh! Dengarkan dulu..."
"Saya dengar pak Bayu sayang sama saya... Tapi pak..."
"Pakai lah! Pak Bayu yang terhormat, meskipun saya menghormati bapak tapi saya masih belum bisa memastikan perasaan saya ke bapak..." Ajeng menatap Bayu serius.
"Kenapa?"
"Ini terlalu mendadak..." Ajeng memicingkan matanya. "Pak Bayu bilang begini biar nggak kehilangan klepon dan poffertjes kan?"
Bayu tidak menjawab tapi mencium kening Ajeng lembut. "Itu salah satunya tapi yang paling utama, saya tidak bisa pisah sama kamu."
Lidah Ajeng terasa kelu. Ya Allah, ngimpi apa aku semalam? Habis kena gampar malah dapat Boss? Dih, macam judul novel?
"Ayo turun, aku antar kamu ke apartemen kamu." Bayu membuka pintu mobilnya meninggalkan Ajeng yang masih terbengong-bengong.
Aku ngimpi... aku pingsan... ayo Tangi ( bangun ) Jeng. Ini cuma mimpi... Ajeng menoleh ketika pintu mobilnya terbuka dan Bayu mengulurkan tangannya untuk membantu nya turun.
Allahuakbar, macam princess saja aku... Ajeng memegang tangan Bayu dan kemudian keduanya berjalan menuju ke Gedung apartemennya sambil bergandengan tangan setelah Bayu mengunci mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Ajeng hanya diam saja tidak berani membuka mulut karena bakalan keblandrak kemana-mana gara-gara Bossnya lagi mode sok kasmaran jatuh cintrong. Hingga sampai di depan pintu apartemen, Ajeng masih mode diam sambil membuka pintu tempat tinggalnya.
__ADS_1
Gadis itu pun masuk ke dalam diikuti oleh Bayu yang kemudian menutup pintu apartemen gadis itu. Pria itu pun mencari kulkas dan membuka bagian freezer hingga menemukan daging steak beku.
"Pak Bayu mau ngapain?" tanya Ajeng bingung melihat Bossnya membongkar isi kulkasnya.
"Masakin buat kamu lah!" jawab Bayu kalem.
"Pak, yang benar saja! Bapak itu kan... nggak bisa masak?" Mata hitam Ajeng menatap Bayu dengan ketidakyakinan sangat tinggi.
"Yang bilang saya nggak bisa masak siapa? Kalau sekedar steak dan mashed potatoes, bisa lah!"
"Sayur lodeh?" goda Ajeng.
"Cemplang!"
Ajeng terbahak tapi setelahnya mengerenyit kesakitan. "Duh lali nek jek bengep ( duh lupa kalau masih bengap )."
Bayu hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu ganti baju deh atau bersih-bersih gitu biar segar."
"Bapak nggak boleh ngintip lho! Nanti bintilan!" Ajeng menatap judes ke bossnya.
"Astaghfirullah! Siapa juga mau ngintip! Sibuk masak ini!" ucap Bayu kesal.
Ajeng langsung mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Bayu sibuk membuat steak dan mashed potatoes serta sayuran rebus untuk acara makan malam di apartemen Ajeng. Bayu bersyukur semua bumbu di dapur mungil Ajeng lumayan lengkap hingga dia tidak kesulitan membumbui masakannya.
Setengah jam kemudian Ajeng keluar dari kamar mandi dan harum daging dimasak membuat apartemen mungil itu bau masakan enak. Ajeng membuka pintu gesernya yang dekat balkon agar tidak terlalu bau asap.
"Jebule pak Bayu bisa masak ya. Pak, dalam rangka apa masakin buat saya?" tanya Ajeng sambil duduk di kursi makan dan minum air putih.
"Tambahan pernyataan sayang Jeng."
Ajeng langsung tersedak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️